Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kekuatanku Bukan dari Teknologi
Matahari sudah mulai meninggi, menyinari tumpukan puing-puing dengan cahaya yang menyilaukan, ketika suara langkah kaki sepatu bot berat kembali terdengar mendekat. Seorang anggota pasukan pemusnah monster yang sedang melakukan patroli ulang tertuju pada sosok Heras yang masih sibuk berlatih di tengah reruntuhan. Gerakan Heras yang melompat-lompat dan mengeluarkan cahaya samar dari kakinya terlihat sangat aneh dan tidak wajar di mata anggota itu.
Anggota itu mendekat dengan waspada, namun saat melihat wajah Heras yang kotor oleh debu dan tubuhnya yang tampak lelah tak berdaya, ia menurunkan kewaspadaannya.
"Hei, anak muda! Kau masih di sini? Kau korban bencana semalam, bukan?" seru anggota itu dengan nada yang ramah namun tegas. Seragamnya yang berwarna abu-abu gelap dengan lambang pasukan di dada terlihat rapi, dan senjata besar yang tersandar di punggungnya membuat Heras seketika menegang.
Heras segera menyembunyikan kakinya di balik puing, berusaha menampilkan wajah yang menyedihkan. "Iya... Pak... Saya terjebak di sini semalam," jawabnya pelan, memainkan peran sebagai korban yang ketakutan.
"Ayo ikut saya. Kami sudah mendirikan pusat evakuasi tidak jauh dari sini. Di sana ada makanan, obat-obatan, dan tempat istirahat yang layak," ajak anggota itu sambil mengulurkan tangan.
Heras menggeleng cepat. "Tidak... Terima kasih. Saya bisa pulang sendiri. Saya hanya perlu istirahat sebentar lagi." Ia berusaha menolak sekuat tenaga, takut jika ikut dengan mereka, identitasnya sebagai Penyatu akan terbongkar.
Namun, tubuhnya tidak bisa membohongi keadaan. Energi yang ia habiskan untuk berlatih semalaman sudah benar-benar habis. Saat ia mencoba berdiri untuk menjauh, kakinya tiba-tiba lemas tak berdaya. Pandangannya menggelap, dan ia terjatuh ke depan.
"Woi! Hati-hati!" Anggota itu sigap menangkap tubuh Heras sebelum wajahnya menabrak tanah keras. Melihat Heras yang sudah pingsan karena kelelahan, ia tidak punya pilihan lain. Ia menggendong tubuh Heras yang ringkih dan membawanya menuju pusat evakuasi.
Ketika Heras terbangun, ia mendapati dirinya berbaring di atas kasur lipat yang empuk di dalam sebuah tenda besar yang didirikan di lapangan terbuka. Suasana di dalam tenda cukup ramai namun tenang. Sebagian besar pengungsi masih tertidur lelap, kelelahan akibat kejadian semalam. Namun, ada beberapa orang yang sudah bangun, duduk di dekat pintu keluar tenda sambil menghirup udara segar pagi, berbisik-bisik satu sama lain.
Heras duduk perlahan, matanya menyapu sekeliling. Jantungnya berdegup kencang saat melihat beberapa anggota pasukan pemusnah monster yang berpakaian seragam lengkap, bersenjata lengkap, sedang berpatroli di sekitar area tenda. Pemandangan senjata-senjata itu memicu trauma lama di dalam dirinya—ingatan akan rasa sakit dan ketakutan yang pernah ia alami akibat serangan senjata. Ia menarik selimut hingga ke dada, merasa cemas dan ingin segera pergi dari sana.
Namun, sebelum ia sempat bergerak, dua orang anggota pasukan mendekatinya dengan senyum ramah. Mereka meletakkan nampan berisi roti hangat dan segelas susu di samping tempat tidurnya.
"Wah, akhirnya bangun juga! Ayo makan dulu, kau pasti sangat lapar," kata salah satu anggota yang berbadan tegap dengan wajah ceria. Namanya Rian.
Teman di sebelahnya, seorang wanita berwajah lembut bernama Sari, menambahkan, "Iya, makanlah. Tenang saja, di sini aman. Kami akan menjaga kalian semua."
Awalnya Heras merasa canggung dan waspada, tapi keramahan mereka begitu tulus. Perlahan, tembok pertahanan di hati Heras mulai runtuh. Mereka mengajaknya mengobrol, bercerita tentang kesulitan mereka bertugas, tentang ketakutan mereka menghadapi monster, namun juga tentang harapan mereka untuk bisa melindungi orang-orang seperti Heras. Mereka bercerita seolah Heras adalah teman lama mereka sendiri.
Heras pun mulai terbuka, meski ia masih menyembunyikan identitas aslinya. Ia mendengarkan mereka curhat, tertawa kecil mendengar lelucon mereka, dan perlahan merasa nyaman. Mereka mengajaknya minum teh hangat, menyodorkan makanan tambahan, hingga akhirnya rasa kantuk mulai menyerang Heras lagi karena perutnya yang kenyang dan suasana yang tenang. Ia pun tertidur kembali dengan damai.
Saat sore hari, ketika Heras sudah benar-benar segar, Rian dan beberapa anggota lain kembali mendatanginya. Kali ini pembicaraan mereka mengarah ke hal yang lebih serius.
"Dengar, Heras," kata Rian sambil duduk bersila di hadapannya. "Kau lihat sendiri kan, dunia sekarang sudah tidak aman. Monster muncul di mana-mana. Kalau kau sendirian, kau akan sulit melindungi dirimu sendiri. Bagaimana kalau kau bergabung dengan pasukan kami?"
Heras menggeleng segera. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya... saya tidak punya kemampuan untuk bertarung."
"Ah, tidak perlu khawatir soal itu!" Rian tertawa renyah. "Kalau soal kemampuan fisik, kami punya solusinya. Kami bisa memberimu mecha kaki—sebuah alat bantu mekanik canggih yang bisa membantumu bergerak cepat, bahkan melompat tinggi dan bertarung. Dengan itu, kekurangan fisikmu tidak akan jadi masalah lagi. Itu standar peralatan untuk anggota baru, lho."
Heras tetap menggeleng tegas. "Terima kasih atas tawarannya, tapi saya tetap tidak bisa. Saya ingin menjalani hidup saya sendiri."
Rian tampak berpikir sejenak, lalu tiba-tiba menyenggol bahu temannya yang perempuan—Sari—yang duduk di sebelahnya dengan siku. Wajahnya menyeringai jahil.
"Yah, kalau alasanmu karena merasa kesepian atau butuh teman, tenang saja! Lihat nih, Sari di sini juga masih single lho. Dia cantik, pandai merawat orang, dan jago masak juga. Kalau kau bergabung, kalian bisa sering-sering bertugas bareng, siapa tahu bisa jadi pasangan serasi, kan?" goda Rian sambil mendorong tubuh Sari sedikit ke arah Heras.
Sari langsung memerah padam, memukul lengan Rian pelan. "Heh, Rian! Jangan ngomong sembarangan dong!" Namun, ia pun menoleh ke arah Heras dengan senyum malu-malu. "Jangan didengar dia, Heras. Dia memang suka menggoda orang."
Meskipun godaan itu membuat suasana menjadi cair, dan tawaran mecha serta kehadiran teman-teman yang ramah sangat menggoda, Heras tetap pada pendiriannya. Ia tahu jalannya berbeda. Kekuatannya bukan berasal dari teknologi buatan manusia, melainkan dari Luminar dan energi yang ia latih sendiri.
"Maaf sekali," ucap Heras dengan sopan namun tegas, menatap mata Rian dan Sari bergantian. "Saya sangat menghargai kebaikan kalian dan tawaran yang sangat menarik ini. Tapi saya harus menolak. Saya punya alasan sendiri dan jalan yang harus saya tempuh sendiri. Mohon pengertiannya."
Melihat keteguhan di mata Heras, Rian akhirnya menghela napas dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Yah, ya sudah. Kalau itu memang keputusanmu, kami tidak akan memaksamu. Tapi ingat, kalau suatu saat kau berubah pikiran atau butuh bantuan, pintu pasukan kami selalu terbuka untukmu, oke?"
Heras mengangguk pelan, tersenyum penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak."
Bagaimana dengan detail kejadian di Bab 12 ini? Apakah interaksi antar karakternya sudah tergambar dengan jelas sesuai keinginanmu?