Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Cambridge, Massachusetts, menyambut Archelo St. Clair dengan udara musim gugur yang tajam dan tumpukan daun-daun kering yang berguguran di Harvard Yard. Di sini, ia bukan lagi penguasa malam New York, ia hanyalah satu dari ribuan mahasiswa baru yang membawa beban ekspektasi setinggi langit. Namun, statusnya sebagai seorang St. Clair tidak bisa benar-benar lenyap. Kepintarannya membawanya ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis, gedung megah yang akan menjadi saksi bisu transformasinya—atau justru kehancurannya.
Archelo baru saja menyelesaikan sesi orientasi asrama ketika ia melangkah keluar dari gedungnya, Wigglesworth Hall. Ia bermaksud mencari udara segar, mencoba mencerna nasihat ibunya yang terus berputar di kepalanya. Namun, saat ia menoleh ke arah gedung asrama di sebelahnya, langkahnya terhenti seketika.
Di bawah pohon ek besar yang berdiri di antara dua gedung asrama mereka, ia melihat sosok yang paling tidak ingin ia temui di seluruh dunia. Florence Edison.
Gadis itu sedang tertawa lepas, memanggul tas ransel kanvas yang terlihat berat, dikelilingi oleh beberapa mahasiswa baru lainnya. Ia tampak begitu kontras dengan mahasiswa lain yang terlihat tegang; Flo terlihat seperti dia memang pemilik tempat ini. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan celana kargo, masih dengan aura pemberontak yang sama yang Archelo temui di markas Hernand.
Archelo mencoba mengabaikannya dan berjalan melewatinya dengan tatapan lurus ke depan, berharap kacamata hitamnya bisa melindunginya dari radar Flo. Namun, seolah memiliki indra keenam untuk mendeteksi musuh, Flo menoleh tepat saat Archelo berada beberapa meter di depannya.
"St. Clair? Kau benar-benar datang?" suara Flo yang lantang memecah konsentrasi Archelo.
Archelo berhenti, namun tidak berbalik. "Ini universitas publik, Edison. Siapa pun yang punya otak bisa masuk."
Flo berjalan mendekat, melingkari Archelo seperti pemangsa yang sedang memeriksa mangsanya. "Oh, jadi kau memilih Ekonomi? Klise sekali. Mau belajar cara mencuci uang hasil pesta teman-temanmu atau belajar cara menumpuk kekayaan agar bisa membeli kelab malam sendiri?"
Archelo akhirnya menoleh, menatap Flo dengan mata dinginnya. "Aku di sini untuk kuliah, bukan untuk mendengarkan ocehan mu. Dan sepertinya kau juga di sini. Jangan bilang kau mengambil Jurusan Hukum hanya untuk memenjarakan orang seperti aku?"
Flo tersenyum manis, namun matanya tetap tajam. "Kriminologi dan Psikologi Forensik. Gedungku hanya sepelemparan batu dari gedung Bisnis-mu yang membosankan itu. Jadi, bersiaplah, Pangeran. Aku akan ada di mana-mana untuk memastikan kau tidak membawa botol vodka ke dalam perpustakaan."
Hari-hari berikutnya menjadi ujian kesabaran bagi Archelo. Ia baru menyadari betapa buruknya keberuntungan yang ia miliki. Bukan hanya gedung asrama mereka yang bersebelahan, membuatnya sering melihat Flo sedang berolahraga atau membaca di balkon asramanya, tetapi rute menuju kelasnya juga mengharuskannya melewati gedung fakultas Flo.
Setiap pagi, saat Archelo berjalan dengan kemeja rapi dan tas kulit mahalnya, ia akan melihat Flo sedang duduk di kafetaria terbuka yang terletak tepat di perbatasan antara gedung Ekonomi dan Hukum. Flo biasanya sedang mendebat sesuatu dengan dosennya atau teman-temannya dengan suara yang sangat meyakinkan.
Suatu sore, saat Archelo baru saja keluar dari kelas Mikroekonomi dengan kepala yang cukup penat, ia melihat Flo sedang berdiri di dekat gerbang fakultasnya, tampak sedang menunggu seseorang.
"Masih belum mabuk hari ini, St. Clair?" goda Flo saat melihat Archelo lewat.
Archelo berhenti, ia merasa sudah cukup dengan sindiran gadis ini. "Kenapa kau begitu terobsesi denganku, Flo? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengawasi apakah aku sampah atau bukan?"
Flo menyilangkan tangannya di dada, matanya memandangi penampilan Archelo dari atas ke bawah. "Aku tidak terobsesi padamu. Aku hanya benci melihat potensi yang disia-siakan. Aku melihatmu di markas itu, Archelo. Kau sadar sepenuhnya, kau tidak memakai barang itu, dan kau punya mata yang sebenarnya cerdas. Tapi kau memilih untuk diam dan menonton teman-temanmu hancur. Bagiku, itu lebih buruk daripada menjadi pecandu. Itu adalah dosa keangkuhan."
Archelo terdiam. Kalimat Flo selalu punya cara untuk menguliti lapisan egonya yang paling dalam.
Meskipun mereka saling melempar kata-kata tajam, ada sebuah chemistry aneh yang mulai terbangun di antara mereka.
Sebuah ketegangan yang membuat mahasiswa lain tidak berani menyela saat mereka sedang berdebat di tengah taman kampus. Archelo yang biasanya dingin dan tertutup, mendapati dirinya selalu punya jawaban untuk setiap tantangan Flo.
Di sisi lain, Flo yang sangat disiplin dan membenci anak-anak kaya yang manja, mulai menyadari bahwa Archelo tidak seperti yang dia bayangkan. Archelo tidak pernah memamerkan kekayaannya di kampus.
Pria itu selalu berada di perpustakaan sampai larut malam, dan meskipun ia terkadang masih terlihat membeli sebotol alkohol di toko terdekat, ia melakukannya sendirian, dalam keheningan, bukan dalam kegaduhan pesta.
Suatu malam yang hujan, mereka bertemu lagi di lobi asrama yang saling terhubung oleh jembatan kaca. Archelo sedang duduk di sofa, menatap hujan dengan segelas kopi pahit di tangannya.
Flo masuk dengan rambut yang sedikit basah karena air hujan. Ia tidak langsung menghina Archelo kali ini. Ia duduk di kursi di seberangnya, memperhatikannya diam-diam.
"Pesan ibumu... aku mendengarnya saat kau di bandara kemarin," ucap Flo tiba-tiba, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Archelo tersentak. "Kau menguping?"
"Aku punya telinga yang tajam, St. Clair. 'Hargai dirimu sendiri'. Itu nasihat yang bagus," lanjut Flo. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Archelo.
"Apa kau sudah mulai melakukannya? Atau kau masih merasa lebih nyaman menjadi sampah seperti yang kau katakan malam itu?"
Archelo menatap mata Flo, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kebencian di sana, melainkan sebuah tantangan yang tulus. "Aku sedang mencoba, Edison. Dan kehadiranmu yang menyebalkan di setiap sudut kampus ini tidak membantu sama sekali."
Flo terkekeh, suara tawa yang kali ini terasa hangat, bukan mengejek. "Bagus kalau begitu. Karena aku tidak akan berhenti menyebalkan sampai aku melihatmu benar-benar pantas menyandang nama St. Clair tanpa harus bersembunyi di balik botol minuman."
Archelo hanya bisa menghela napas, namun di dalam hatinya, ada percikan semangat yang tidak pernah ia rasakan di markas Hernand. Keberadaan Flo yang terus-menerus mengawasinya, mengkritiknya, dan menghinanya, justru menjadi jangkar yang mencegahnya kembali ke dunianya yang gelap.
Ternyata, di Harvard yang megah ini, guru terbaiknya bukanlah profesor ekonomi pemenang Nobel, melainkan seorang gadis dari keluarga polisi yang menyebutnya sampah setiap kali mereka bertemu.
Archelo menatap punggung Flo yang berjalan menuju kamarnya di gedung sebelah. Ia tahu, tahun-tahun di Harvard ini akan menjadi tahun yang sangat panjang, melelahkan, dan penuh dengan perdebatan, namun entah kenapa, ia tidak ingin berada di tempat lain selain di sini, di bawah pengawasan tajam Florence Edison.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰