NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Penuh Doa

Langkah Fariz semakin cepat.

Pandangannya terus menatap ke depan tapi telinganya tetap terbuka lebar untuk menangkap suara langkah di belakangnya. Gemerisik daun semakin cepat. Anak buah Darma Wijaya tetap mengekor dari belakang.

Lalu akhirnya ia sampai di jalan alternatif yang Rahman katakan.

Tanpa ragu Fariz langsung menerobos semak belukar. Membungkuk di kegelapan. Kakinya tersangkut akar hingga tubuhnya doyong ke samping dan akhirnya jatuh terlentang.

"Argh... di mana dia?!"

Suara anak buah Darma Wijaya dari balik semak-semak, keras, tidak lagi mencoba sembunyi-sembunyi.

Fariz bergerak perlahan. Mundur dengan kedua tangannya sambil berusaha mengangkat kaki yang terhalang oleh batang pohon kecil. Napasnya tertahan, dadanya naik turun tapi ia tidak berani mengeluarkan suara.

"Cil, cepet cari dia! Jangan sampai kehilangan jejak!"

Salah seorang terdengar semakin meninggi suaranya sambil menebas beberapa daun yang tinggi.

Setelah Fariz berhasil mengeluarkan salah satu kakinya, ia bergerak tiarap. Meraba tanah di depannya untuk mencari jalan keluar dari tempat ini. Tangannya menyentuh batu, akar, lumpur. Tubuhnya terseret perlahan, tidak berani berdiri.

"Hilang!"

"Argh... ayo kita cari tempat lain."

Langkah itu terdengar menjauh. Fariz mengangkat kepalanya sedikit dari semak-semak. Tidak ada cahaya. Tidak ada lagi bayangan orang yang mengikutinya.

Tapi ia tidak langsung bergerak. Menunggu beberapa detik lebih lama. Memastikan mereka benar-benar pergi.

Lalu ia merasakan sesuatu di tangan kanannya.

Kosong.

Peta pemberian Rahman terjatuh.

Fariz meraba-raba tanah di sekitarnya, mencoba mencari kertas kecil itu di kegelapan. Tapi tidak ketemu. Sudah terlalu gelap. Dan ia tidak bisa membuat suara atau cahaya untuk mencari.

Ia menarik napas panjang. Lalu bangkit perlahan dan mulai menyusuri jalan berbatu yang ada di hadapannya.

Cahaya bulan purnama tepat di atas kepala Fariz ketika ia sampai di sebuah persimpangan kecil.

Di sana, ia melihat pohon besar dengan cabang yang bengkok ke kanan. Seperti yang Rahman gambar di peta. Dan di sebelahnya, pagar bambu yang beberapa batangnya dicat putih di ujung atas.

Tanda yang Rahman sebutkan.

Fariz menarik napas lega. Lalu berjalan mengikuti arah pagar bambu itu sampai ia melihat sebuah rumah kecil dengan lampu pijar berwarna kuning menyala remang dari dalam.

"Mungkin ini tempatnya."

Ia berjalan mendekat, mengawasi sekeliling. Tidak ada yang mengikuti. Tidak ada bayangan selain bayangannya sendiri yang jatuh panjang di tanah.

"Permisi, Assalamualaikum!"

Ia mengetuk pintu. Menunggu.

Tidak ada yang menjawab.

"Assalamualaikum!"

Masih tidak ada.

Fariz memberanikan diri bergerak ke samping. Ia melihat satu pintu kecil yang tidak tertutup rapat. Mendorongnya perlahan.

"Assalamualaikum."

Ia masuk ke dalam lorong belakang rumah.

Di sana, beberapa bahan baku seperti sayuran, beras, dan alat masak tersusun rapi di rak kayu. Tidak banyak, tapi cukup lengkap untuk beberapa hari. Sayurannya masih segar. Berasnya baru. Seperti baru disiapkan tidak lama ini.

Fariz terus masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam. Tapi masih saja tidak ada yang menjawab.

Rumah ini kosong. Tapi tidak benar-benar ditinggalkan. Ada yang merawatnya. Ada yang menyiapkan semua ini.

Rahman.

Fariz mengerti sekarang. Ini rumah yang Rahman jaga sebagai amanah dari Kyai Salman. Tempat persembunyian untuk murid-murid yang membutuhkan.

Dan sekarang untuk Fariz.

Langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah ruangan dengan pintu setengah terbuka.

Di dalamnya, lembaran kertas berceceran di lantai. Beberapa tergeletak di dekat meja, beberapa lagi di pojok ruangan seperti terjatuh atau dibuang dengan terburu-buru.

Fariz masuk perlahan.

Lalu ia melihatnya.

Bercak darah yang sudah mengering di lantai kayu.

Tidak banyak. Tapi cukup jelas. Warnanya sudah cokelat kehitaman, menyerap ke dalam serat kayu. Dan dari bercak itu, ada jejak tetesan kecil yang mengarah ke pintu lain di seberang ruangan.

Fariz berlutut. Mengangkat salah satu kertas yang berceceran di dekat bercak darah.

Tulisan tangan. Tinta hitam yang sudah sedikit memudar. Kalimat-kalimat yang ia kenali.

"Mereka sudah tahu. Tapi aku tidak akan berhenti."

Napas Fariz tertahan.

"Ini tulisan Kyai Salman." Ia mengangkat kertas lain. Membaca baris demi baris dengan tangan yang mulai gemetar.

"Kalau aku tidak sempat menyelesaikan, semoga ada yang melanjutkan."

Fariz menatap sekeliling ruangan. Kertas-kertas ini, bercak darah ini, semuanya di tempat yang sama.

"Ini... ini kamar Kyai Salman."

Suaranya keluar pelan, hampir seperti bisikan.

Ia berdiri. Mengikuti jejak tetesan darah yang mengarah ke pintu seberang. Lalu membukanya.

Kamar mandi kecil. Bak air di pojok. Ember tergeletak miring.

Dan di lantai, jejak darah berhenti. Tidak ada lagi setelah itu. Hanya noda yang sudah mengering, pola percikannya tidak seperti darah dari luka biasa. Lebih seperti sesuatu yang dimuntahkan.

Fariz berdiri di situ cukup lama, menatap noda itu.

Ada yang tidak beres.

Kyai Salman tidak mati dengan tenang. Ada sesuatu yang terjadi di ruangan ini. Sesuatu yang membuat ia terburu-buru ke kamar mandi, meninggalkan kertas-kertas berceceran, meninggalkan jejak darah yang tidak wajar.

Tapi Fariz tidak tahu apa.

Belum.

Ia kembali ke ruang tengah. Meletakkan tasnya di lantai. Merebahkan tubuh di atas lantai kayu yang dingin.

Matanya menatap langit-langit.

Lalu ia menutup mata.

Dan merasakan sesuatu.

Rasa hangat di dadanya. Seperti yang ia rasakan sejak malam Kyai Salman meninggal. Tapi kali ini lebih jelas. Lebih nyata.

Seperti ada tangan yang menyentuh dahinya.

Hangat. Lembut. Seperti cara Kyai Salman dulu memberkatinya setelah selesai belajar mengaji. Tangan yang sama yang dulu mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.

Rasa hangat itu menyebar dari dahi ke seluruh tubuh. Ke dada, ke tangan, ke kaki. Membuat tubuhnya terasa ringan. Tapi membuat matanya semakin berat.

Fariz tidak melawan.

Ia membiarkan rasa hangat itu membawanya.

Dan akhirnya, ia tertidur.

MIMPI

"Bapak!" Fariz memanggil.

Di hadapannya, Sucipto berdiri bersama Ratna. Menggendong dirinya sewaktu kecil dengan penuh sukacita. Senyum lebar di wajah mereka. Mata yang berbinar.

Fariz melihat sekeliling.

Para warga begitu gembira. Berkumpul bersama keluarga. Beberapa ada yang membawa kendaraan dan berbagi uang kepada orang-orang yang lewat. Anak-anak berlarian dengan tawa yang riang. Wanita-wanita membawa keranjang penuh makanan.

Desa yang makmur. Desa yang bahagia.

Lalu suara itu datang.

"SEMUA INI SEMU!"

Keras. Menghantam telinga Fariz sampai ia menunduk sambil memegangi telinganya dengan kedua mata tertutup.

Suara itu bukan suara manusia. Lebih dalam. Lebih tua. Seperti datang dari dalam tanah atau dari langit sekaligus.

Saat ia membuka kedua matanya kembali, semuanya berubah.

Rumah warga sudah ditutupi oleh lumut dan debu. Mata mereka kosong menatap Fariz. Mulut terbuka tapi tidak ada suara. Kulit kering dan retak-retak seperti tanah yang kehilangan air.

"Bapak... Ibu!"

Fariz berlari ke arah rumahnya.

Pintu terbuka. Ia masuk.

"I... Ibu!"

Ratna tergeletak di lantai. Tubuhnya bengkak. Penuh dengan benjolan besar yang bergerak-gerak di bawah kulitnya seperti ada sesuatu yang hidup di dalam. Matanya terbuka tapi tidak fokus.

Di sampingnya, Sucipto sedang menangis. Tapi ia tidak bisa bergerak. Lehernya terikat oleh rantai besi yang membelenggu ke dinding. Tangannya mengulur ke arah Ratna tapi tidak sampai.

"Pak... ini aku, Pak!"

Fariz berusaha mendekat tapi ia tidak bisa masuk lebih jauh. Seperti ada dinding tak terlihat yang menghalanginya. Suaranya pun seperti tertahan sesuatu. Keluar dari mulutnya tapi tidak sampai ke telinga mereka.

Lalu suara itu datang lagi.

Eraman. Suara wanita. Tapi bukan suara manusia biasa.

"INI SEMUA GARA-GARA KAMU!"

Tubuh Fariz terpental ke belakang. Terhempas keluar dari rumah itu.

Dan ia terbangun.

MIMPI BERAKHIR

Fariz duduk terbangun dengan napas terengah.

Keringat bercucuran di wajahnya, membasahi baju. Suasana rumah terasa panas tidak karuan meski di luar masih gelap.

Ia bangkit dari lantai. Berjalan ke ruang tamu. Melirik jam dinding yang masih berdetak pelan.

Pukul 4.30.

Waktu Subuh akan segera masuk.

Ia beranjak ke kamar mandi. Menurunkan ember ke dalam sumur.

Saat ember itu terisi air dan ia angkat kembali, bau busuk menyerang hidungnya. Luar biasa. Seperti sesuatu yang sudah membusuk berhari-hari di dalam air itu.

Fariz langsung menuangkan air itu kembali ke sumur. Tidak bisa dipakai.

Ia berlari ke dapur. Membuka bejana besar yang ada di pojok.

Air di dalamnya berubah warna. Sedikit lebih gelap dari biasanya. Tapi tidak berbau. Masih bisa dipakai.

Fariz mengambil wudhu dengan air itu. Cepat. Seperti takut air itu akan berubah kalau ia terlalu lama.

"Ada apa ini?"

Gumamnya pelan saat selesai wudhu.

Suara binatang terdengar saling bersahutan dari luar. Tidak seperti suara biasa. Lebih seperti jeritan. Lolongan. Eraman yang tidak wajar.

Diiringi desir angin yang cukup kencang. Dan aroma busuk yang menyengat di setiap sudut ruangan.

Fariz segera mengambil sajadah dari dalam tasnya. Menggelarnya di ruang tengah. Lalu melaksanakan shalat Subuh sendirian.

Setiap gerakan terasa lebih berat dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang menekan dari atas. Tapi ia tidak berhenti. Terus sampai salam.

Setelah selesai, ia tidak langsung berdiri.

Duduk di atas sajadah. Tangan di pangkuan. Kepala tertunduk.

Mencoba bernapas dengan teratur. Mencoba menenangkan diri.

Tapi rasa tidak nyaman itu tidak hilang.

Fariz beranjak keluar.

Angin kencang dari arah timur menabrak wajahnya. Membawa hawa kering yang membuat kulit serasa tertusuk oleh sesuatu. Seperti jarum-jarum kecil yang tak terlihat.

Matahari mulai naik semakin tinggi.

Dan di cahaya pagi itu, Fariz dapat melihat beberapa pohon yang ada di sampingnya.

Layu.

Daun menguning. Beberapa sudah rontok dan berserakan di tanah.

Lalu saat sinar matahari menyentuh salah satu daun yang masih menggantung di dahan, daun itu berubah.

Menghitam.

Bukan pelan-pelan. Tapi langsung. Seperti terbakar dari dalam tanpa api.

Fariz mundur selangkah. Napasnya tertahan.

Ia menatap pohon-pohon lain di sekitarnya. Satu per satu, daun yang terkena sinar matahari berubah hitam. Lalu rontok. Jatuh ke tanah seperti abu.

"Fariz!" Suara Rahman dari belakangnya. Datang dengan napas terengah, seperti baru saja berlari jauh.

Fariz berbalik. "Ada apa ini, Man?"

Rahman tidak langsung menjawab. Ia menatap pohon-pohon yang menghitam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar sedikit di sisi tubuh.

"Sudah dimulai." Suaranya pelan. Gemetar.

Lalu ia menatap Fariz.

"Kamu harus lihat ini."

Rahman membawa Fariz menyusuri jalan kecil yang sering ia lewati bersama Kyai Salman untuk memantau para warga desa.

Dari balik semak, Fariz melihat beberapa kambing warga.

Bertingkah aneh. Gelisah. Berputar-putar di kandang seperti mencari jalan keluar. Beberapa menabrakkan kepalanya ke pagar sampai berdarah. Tapi tetap tidak berhenti.

Di dalam rumah, beberapa orang tampak tergeletak. Menggigil dengan wajah pucat dan rambut kusut. Mulut terbuka tapi tidak ada suara keluar.

Rahman terus berjalan. Fariz mengikuti.

Di rumah berikutnya, anak-anak terkapar di atas tanah. Tubuh kejang. Mata terbuka ke atas. Tidak berkedip.

Fariz berhenti. Dadanya sesak.

"Apa yang terjadi dengan desa ini, Man?" Bisiknya.

Rahman menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Wabah." Suaranya retak. "Seperti dua puluh tahun lalu. Tapi kali ini... lebih cepat."

Fariz menatap warga yang tergeletak itu.

Baru kali ini ia melihat akibatnya di warga. Bukan hanya di dirinya sendiri. Bukan hanya di sawah atau di mimpi.

Tapi di depan matanya. Nyata. Tidak bisa disangkal lagi.

Dan ia tahu sekarang.

Ini bukan lagi tentang perjanjian yang tersembunyi.

Ini tentang desa yang sedang sekarat.

Dan ia tidak tahu bagaimana menghentikannya.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!