🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Harga Sebuah Dominasi
...Bab 8: Harga Sebuah Dominasi...
Aula besar itu membeku. Han Feng masih tersungkur di lantai, tubuhnya gemetar hebat karena bayangannya sendiri melilit lehernya seolah-olah bayangan itu memiliki kehendak bebas.
Di depan semua orang, Han Feng yang dianggap jenius kini terlihat seperti anjing yang sedang dipaksa berlutut oleh tuannya.
Penatua Lin berdiri dari kursinya, aura pedangnya yang tajam menekan seluruh ruangan hingga beberapa pengawal kota terbatuk darah.
Namun, tatapannya tidak lepas dari Han Xuan. Ia melihat pemuda itu tidak gemetar sedikit pun di bawah tekanan tingkat Spirit Foundation miliknya.
"Kau tahu rahasia lukaku dan kau berani menyerang anak ketua klanmu di depanku?" suara Penatua Lin bergetar, antara amarah dan rasa ingin tahu yang besar.
Han Xuan merasakan sensasi terbakar di dasar perutnya. Menggunakan Dao Bayangan di depan seorang ahli tingkat tinggi saat tubuhnya masih di realm Mortal Tempering adalah tindakan gila. Ia bisa merasakan meridian di lengannya mulai retak perlahan, darah mulai merembes dari pori-pori kulitnya yang tertutup lengan baju.
"Saya tidak menyerangnya Penatua" sahut Han Xuan dengan nada yang sangat tenang, meski penglihatannya mulai sedikit mengabur karena beban mental.
"Bayangan hanyalah cermin dari kegelapan di dalam hati seseorang. Tuan Muda Han Feng terlalu banyak menyerap energi yang tidak murni, sehingga bayangannya menjadi berat."
Han Xuan melangkah maju, mendekati Penatua Lin tanpa rasa takut. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak kaki yang sedikit lembap karena darah yang mengalir di balik sepatunya.
Inilah harga dari kekuatannya: tubuhnya tidak sanggup menahan beban dari hukum yang ia panggil.
"Tentang luka jiwa Anda" lanjut Han Xuan sambil menatap langsung ke mata Penatua Lin. "Anda terluka saat mencoba menembus Domain Manifestation di wilayah yang terkontaminasi oleh energi kuno. Setiap kali Anda menggunakan Qi, jiwa Anda terasa seperti sedang dikuliti oleh ribuan pisau kecil, bukan?"
Lin Xi, yang duduk di samping ayahnya, berdiri dengan wajah pucat. Ia menatap batu yang diberikan Han Xuan kemarin, lalu menatap ayahnya.
Ia mulai menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukan sekadar murid klan kecil, melainkan seorang ahli strategi yang sedang memegang leher sekte mereka.
"Bawa Han Feng keluar" perintah Penatua Lin pada pengawalnya, suaranya kini melunak namun penuh kewaspadaan. "Dan kau Han Xuan, katakan apa yang kau inginkan sebagai imbalan untuk informasi ini."
Han Xuan tersenyum tipis. Di dalam batinnya, ia merasakan gelombang rasa sakit yang luar biasa. Ia baru saja kehilangan kemampuan untuk merasakan suhu panas di tangan kanannya secara permanen sebagai tumbal untuk penglihatan jiwanya tadi.
"Saya tidak butuh uang" ucap Han Xuan sambil menyeka darah yang mulai mengalir dari sudut matanya. "Saya ingin Sekte Pedang Awan memberikan hak monopoli distribusi batu roh di wilayah selatan kepada toko HKBKAL. Dan saya ingin Anda menjadi pelindung resmi bagi satu orang di klan Han."
Penatua Lin mengernyit. "Siapa? Kau?"
"Bukan" jawab Han Xuan datar. "Seorang pelayan bernama Xiao Mei. Jika satu helai rambutnya hilang, maka rahasia tentang luka jiwa Anda dan kelemahan pertahanan Sekte Pedang Awan akan tersebar ke seluruh wilayah kekaisaran dalam satu malam."
Ini adalah momen pertama di mana Han Xuan menunjukkan keraguan kecil dalam logikanya yang dingin.
Mengapa ia melindungi Xiao Mei? Apakah karena kegunaan Spirit Eye gadis itu, atau karena ada fragmen memori masa lalu yang mengingatkannya pada seseorang yang gagal ia lindungi sebelum ia dihukum Langit?
Lin Xi menatap Han Xuan dengan campuran rasa benci dan kekaguman. "Kau sedang melakukan bunuh diri secara politik Han Xuan. Kau baru saja mengancam faksi yang jauh lebih kuat darimu."
"Kekuatan adalah ilusi Nona Lin" sahut Han Xuan sambil berbalik arah, berjalan menuju pintu keluar aula. "Seorang raksasa bisa mati hanya karena satu duri kecil di kakinya yang terinfeksi. Saya adalah duri itu."
Saat Han Xuan sampai di luar aula, ia langsung menyandarkan tubuhnya ke tembok bangunan yang dingin. Ia memuntahkan darah hitam dalam jumlah banyak. Tubuhnya bergetar hebat, dan pusaran hitam di telapak tangannya berdenyut dengan warna merah yang mengerikan.
[Realm: Mortal Tempering - Level 3 Puncak (Kondisi: Meridian Retak)]
Ia telah berhasil mengamankan jalur ekonomi dan perlindungan bagi "matanya", namun ia tahu bahwa ia telah menarik perhatian entitas yang lebih besar. Di langit yang cerah, ia bisa melihat sebuah kilatan petir tanpa suara. Langit mulai menghitung keberadaannya kembali.
Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di sampingnya. Itu adalah Wei, pemilik toko HKBKAL, yang menatapnya dengan rasa ngeri yang tidak ditutup-tupi.
"Tuan, Anda baru saja mengguncang fondasi wilayah ini" bisik Wei. "Tapi Anda sekarat. Mari saya bawa Anda ke tempat yang aman sebelum Han Feng bangun dan membawa ayahnya."
Han Xuan menatap Wei dengan mata yang kini berwarna perak redup. "Jangan ke toko. Bawa aku ke wilayah kumuh. Aku butuh energi dari jiwa-jiwa yang sudah putus asa untuk menambal meridianku."
Di tengah rasa sakitnya, Han Xuan tidak merencanakan pemulihan yang damai. Ia berencana untuk menelan kegelapan di sudut kota yang paling kotor untuk membangun kembali kekuatannya.
Wei memapah tubuh Han Xuan yang terasa sedingin mayat menuju lorong-lorong sempit di distrik bawah Kota Azure. Di sini, cahaya matahari seolah enggan menyentuh tanah yang selalu basah oleh limbah dan keputusasaan.
Tempat ini adalah rumah bagi mereka yang dibuang oleh sistem kultivasi. Para pecandu serbuk batu roh yang gagal(nar####), pengemis dengan meridian hancur, dan kriminal yang bersembunyi dari hukum sekte.
Han Xuan bisa merasakan setiap denyut dari jiwanya yang retak. Rasa sakitnya bukan lagi seperti sayatan, melainkan seperti sesuatu yang sedang mencoba meledak dari dalam dadanya.
"Di sini... cukup" bisik Han Xuan sambil melepaskan pegangan Wei.
Ia duduk bersandar pada tumpukan kayu lapuk di sebuah gang buntu. Di depannya, beberapa sosok manusia kurus dengan mata cekung sedang meringkuk dalam kegelapan.
Mereka menatap Han Xuan dengan pandangan kosong, tidak peduli apakah pemuda itu sedang sekarat atau tidak.
Han Xuan memejamkan mata. Ia memanggil Hukum Devour dengan sisa kesadarannya.
Biasanya, ia mencari energi yang murni. Namun sekarang, dalam kondisi darurat, ia butuh massa energi yang besar tanpa peduli seberapa kotor esensinya.
"Maafkan aku" gumam Han Xuan pelan.
Bukan permintaan maaf kepada orang-orang di depannya, melainkan kepada bagian dari dirinya yang masih memiliki sisa kemanusiaan. Ia tahu bahwa setelah malam ini, bagian itu akan terkikis lebih dalam lagi.
Pusaran hitam di tangannya mulai berputar.
Udara di gang itu mendadak menjadi sangat berat. Bayangan dari tembok-tembok di sekitar mulai memanjang dan merayap menuju sosok-sosok malang yang ada di sana.
Han Xuan tidak membunuh mereka secara langsung. Ia menarik "esensi kehidupan" mereka sebuah energi dasar yang membuat manusia tetap hidup meski tanpa Qi.
Satu per satu, pengemis di depannya tertidur selamanya dalam keheningan. Kulit mereka tidak mengering seperti korban sebelumnya, namun pancaran kehidupan di wajah mereka padam seketika.
Energi itu masuk ke dalam tubuh Han Xuan. Dingin, kotor, dan penuh dengan emosi negatif berupa kesedihan serta keputusasaan.
Argh!
Han Xuan mencengkeram kepalanya. Ribuan memori tentang kelaparan dan penghinaan dari jiwa-jiwa yang ia serap mulai menghantam dinding mentalnya.
Harga yang ia bayar kali ini sangat brutal. Untuk menambal meridiannya yang retak, Han Xuan harus merelakan kemampuannya untuk merasakan rasa kantuk. Ia ditakdirkan untuk selalu terjaga, dihantui oleh bayang-bayang kegelapan selamanya.
[Realm: Mortal Tempering - Level 4 Awal]
Meridiannya kini tidak lagi berwarna merah darah, melainkan berwarna hitam pekat seolah-olah terbuat dari batuan obsidian. Luka-lukanya menutup, meninggalkan garis-garis samar yang menyerupai rajah kuno di seluruh tubuhnya.
Wei berdiri beberapa meter jauhnya, gemetar melihat transformasi itu. "Tuan... Anda..."
Han Xuan berdiri. Gerakannya kini jauh lebih halus dan berbahaya. Ia tidak lagi terlihat seperti murid luar yang lemah, melainkan seperti predator yang baru saja berganti kulit.
"Wei" suara Han Xuan kini memiliki gema ganda yang aneh. "Katakan pada Lin Xi bahwa aku akan menemuinya di makam klan Han besok malam. Bawa dia sendirian."
Han Xuan menatap tangannya yang kini tidak lagi bisa merasakan suhu. Ia tahu bahwa setiap kali ia menambal tubuhnya dengan cara ini, ia semakin jauh dari definisi manusia.
Di kejauhan, ia bisa merasakan aura Han Feng yang sedang mengamuk di kediaman klan. Han Feng sedang mencarinya dengan niat membunuh yang meluap-luap.
Han Xuan tidak takut. Justru sebaliknya, ia merasa lapar.
"Pion sudah bergerak" gumam Han Xuan sambil menatap langit malam yang mulai memerah. "Sekarang saatnya pemain melakukan langkah pertama yang sesungguhnya."
Namun, di balik kegelapan itu, sebuah mata raksasa di awan seolah menatapnya sejenak sebelum menghilang. Langit telah mencatat kenaikan tingkatnya yang tidak wajar.
...........
Apakah Han Xuan sanggup menghadapi konfrontasi dengan Han Feng yang kini juga sedang berubah menjadi monster, atau ia akan terjebak dalam perangkap yang disiapkan oleh ayah Han Feng?
<>Cerita Bersambung