Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Panggilan dari Masa Lalu
Malam itu, hujan turun membasuh desa dengan derasnya. Suara rintik yang menghantam atap seng kedai menciptakan irama yang menenangkan, namun tidak bagi pikiran Gia. Ia masih duduk di depan buku catatan utangnya, bukan untuk menghitung kerugian, melainkan untuk mencoret-coret nama "Rian" dengan lingkaran besar.
“Ada orang yang harus 'mati' di satu tempat supaya bisa tetap 'hidup' di tempat lain.”
Kalimat Rian tadi sore terus berputar di kepalanya. Siapa yang ingin membunuh pria sebaik itu? Atau lebih tepatnya, kesalahan sebesar apa yang pernah dilakukan seorang pria cerdas seperti Rian sampai ia harus mengubur dirinya di desa terpencil sebagai kuli bangunan?
Gia menghela napas, ia bangkit untuk menutup jendela yang sedikit terbuka. Namun, gerakannya terhenti saat melihat sebuah siluet di bawah pohon beringin seberang kedai. Di tengah hujan lebat, seseorang berdiri mematung di sana.
Itu Rian.
Pria itu tidak memakai payung. Ia hanya berdiri mematung sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Ekspresi wajahnya yang tertangkap cahaya lampu jalan yang remang tampak sangat berbeda. Tidak ada senyum jail, tidak ada binar mata jenaka. Yang ada hanyalah rahang yang mengeras dan tatapan mata yang sedingin es.
Gia memberanikan diri sedikit membuka jendela untuk mencuri dengar, meski suara hujan hampir menelan segalanya.
"... Aku sudah bilang jangan hubungi aku lagi, Danu," suara Rian terdengar berat dan penuh penekanan. "Proyek itu sudah selesai. Aku sudah melepaskan semuanya. Aku bukan lagi bagian dari firma itu."
Ada jeda sejenak, seolah Rian sedang mendengarkan lawan bicaranya dengan geram.
"Katakan pada mereka, kalau mereka mencoba mencariku ke sini, aku tidak akan segan-segan membongkar semua dokumen audit tahun lalu. Biarkan aku hidup tenang sebagai orang biasa. Aku tidak butuh takhta yang dibangun di atas darah orang lain!"
Rian langsung mematikan ponselnya dengan kasar. Ia meremas ponsel itu seolah ingin menghancurkannya, lalu menunduk dalam, membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak memikul beban yang sangat berat.
Gia merasa jantungnya seolah diremas. Ia ingin berlari keluar, memberikan payung, atau sekadar memeluk pria itu. Namun ia tahu, ada batas yang belum boleh ia lewati. Rian sedang berdiri di benteng pertahanannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Rian tampak menarik napas panjang, mengusap wajahnya, dan mulai berjalan menuju kedai. Gia buru-buru menjauh dari jendela dan berpura-pura sedang sibuk mengelap gelas.
Tok! Tok!
Pintu kedai terbuka. Rian masuk dengan kondisi basah kuyup. Air menetes dari rambut dan kaus oblongnya, menciptakan genangan kecil di lantai semen.
"Waduh, Neng, hujannya nggak kira-kira. Boleh numpang neduh sebentar? Saya janji nggak bakal bikin lantai kamu kotor-kotor amat," ujar Rian dengan suara yang tiba-tiba kembali ceria—sebuah perubahan topeng yang sangat cepat hingga membuat Gia ngeri sekaligus kagum.
Gia tidak menjawab. Ia mengambil handuk bersih dari bawah bar dan melemparkannya ke wajah Rian. "Keringkan badanmu. Kamu bisa paru-paru basah kalau kayak gitu terus."
Rian menangkap handuk itu, terkekeh pelan. "Perhatian banget. Jangan-jangan utang saya mau dihapus semua ya?"
"Jangan bercanda, Rian," suara Gia terdengar serius, membuat tawa Rian perlahan memudar. Gia berjalan mendekat, menatap mata Rian yang masih menyisakan sisa-sisa kesedihan dari telepon tadi. "Tadi aku lihat kamu di bawah pohon. Siapa Danu? Dan apa maksudnya 'firma'?"
Rian membeku. Ia tidak menyangka Gia akan mendengar percakapannya. Ia mengusap rambutnya dengan handuk, mencoba mencari alasan, tapi kali ini ia tampaknya kehabisan kata-kata bohong yang kreatif.
"Neng... ada hal-hal yang lebih baik tetap jadi rahasia," jawab Rian pelan.
"Niko sudah mulai menyerangku, Rian. Dan kamu membantuku tanpa pamrih. Aku merasa jahat kalau aku membiarkanmu menghadapi masalahmu sendirian sementara aku cuma bisa terima bantuan kamu," Gia memegang lengan Rian yang dingin karena air hujan. "Siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu seorang arsitek? Atau pengacara? Dan kenapa kamu bersembunyi?"
Rian menatap tangan Gia di lengannya, lalu beralih menatap mata gadis itu. Ada keheningan panjang yang hanya diisi oleh suara hujan.
"Nama lengkapku Rian Ardiansyah," bisik Rian akhirnya. Nama yang terdengar begitu formal dan berbeda dari panggilan "Rian Tukang Utang". "Aku dulu salah satu arsitek utama di sebuah firma besar di ibu kota. Kami menangani proyek-proyek triliunan. Sampai suatu hari, aku sadar kalau firma tempatku bekerja melakukan korupsi besar-besaran yang membahayakan nyawa banyak orang karena material bangunan yang disunat habis-habisan."
Gia menutup mulutnya dengan tangan.
"Aku mencoba melaporkannya, tapi mereka terlalu kuat. Rekan kerjaku... sahabatku sendiri, Danu, memilih berkhianat. Aku difitnah, namaku diblacklist dari seluruh industri arsitektur, dan aku hampir saja masuk penjara kalau aku tidak segera menghilang," Rian menarik napas pendek. "Aku datang ke desa ini untuk melupakan bahwa aku pernah punya mimpi. Aku ingin jadi orang kecil saja, Gia. Karena orang kecil nggak punya beban untuk jatuh dari tempat tinggi."
Gia merasa matanya memanas. "Jadi itu sebabnya kamu paham hukum pertanahan? Itu sebabnya kamu bisa gambar sketsa dengan sempurna?"
Rian mengangguk lemah. "Aku nggak punya apa-apa lagi sekarang, Gia. Cuma kaus oblong ini dan... dan mungkin, secangkir kopi amarah buatanmu setiap pagi."
Gia tidak tahan lagi. Ia maju selangkah dan memeluk Rian. Ia tidak peduli bajunya ikut basah karena air hujan dari tubuh pria itu. "Kamu nggak sendirian, Rian. Kita berdua sama-sama orang yang 'dibuang' oleh kota. Kalau kamu bisa jadi tameng buat aku, kenapa aku nggak bisa jadi rumah buat kamu?"
Rian tertegun. Tangannya yang kasar perlahan membalas pelukan Gia, merengkuh gadis itu dengan sangat erat seolah takut jika ia melepaskannya, ia akan kembali menjadi bayangan yang kesepian.
Namun, di balik jendela kedai, sebuah kamera kecil dari ponsel seseorang yang bersembunyi di balik kegelapan malam, baru saja menangkap momen tersebut. Sebuah foto yang akan menjadi senjata baru bagi Niko untuk menghancurkan mereka berdua.