Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 debu di atas tulang dan aroma teh herbal
Tiga hari telah berlalu sejak insiden di gerbang utama. Langit di atas Makam Bintang Agung kembali kelabu, tertutup awan mendung abadi yang seolah menjadi atap bagi dunia kematian ini. Tidak ada sorak sorai kemenangan, tidak ada pesta pora. Hanya keheningan yang semakin dalam, diselingi suara angin yang bersiul melewati celah-celah nisan batu.
Di dalam gubuk kayu sederhana yang menjadi kediaman sementara Xing Shenyuan, aroma obat-obatan herbal yang tajam memenuhi udara.
Xing Shenyuan duduk bersila di atas ranjang batunya. Wajahnya tidak lagi sepucat tiga hari lalu, namun butiran keringat dingin masih membasahi pelipisnya. Di depannya, Lentera Abadi melayang rendah, apinya berkedip lemah, seirama dengan detak jantung tuannya.
Ia sedang melakukan proses yang menyakitkan: Rekonstruksi Meridian.
Memaksa menggunakan Bendera Formasi Penekan Gravitasi untuk menahan seorang ahli Ranah Transformasi Roh dengan tubuh Inti Emas adalah tindakan nekat. Meridian di lengan kanannya mengalami keretakan mikro yang serius. Jika tidak ditangani dengan hati-hati, ini akan menjadi cacat permanen yang menghalangi jalannya menuju keabadian.
"Tuan, minumlah ini dulu."
Suara lembut Su Yan memecahkan konsentrasi Shenyuan. Wanita itu masuk membawa mangkuk keramik berisi cairan hijau pekat yang mengepulkan uap hangat. Gaun putihnya yang biasanya rapi kini sedikit kusut, dan ada lingkaran hitam samar di bawah matanya—tanda bahwa ia tidak tidur demi menjaga api tungku obat tetap stabil selama tiga hari tiga malam.
Shenyuan membuka matanya, menatap Su Yan dengan rasa bersalah yang tersembunyi. "Kau seharusnya beristirahat, Su Yan. Ramuan ini butuh pengawasan api spiritual tingkat tinggi. Kau memaksakan diri."
Su Yan tersenyum tipis, duduk di tepi ranjang dan menyendokkan cairan itu ke bibir Shenyuan. "Dibandingkan rasa sakit Tuan saat menahan beban langit untuk kami, kelelahan ini tidak ada artinya. Lagipula, saya menemukan resep ini di catatan lama sekte Anda yang terbengkalai. Ini disebut Sup Tulang Giok Pemulih Jiwa."
Shenyuan menerima suapan itu. Rasanya pahit, namun seketika menyebar menjadi kehangatan yang menjalar ke seluruh tulang rusuk dan lengannya.
"Di mana Xiaoyue?" tanya Shenyuan setelah mangkuk itu kosong.
"Dia sedang menjaga pintu masuk perpustakaan bawah tanah," jawab Su Yan sambil menyeka sudut bibir Shenyuan dengan sapu tangan sutra. "Anak itu merasa bersalah karena apinya tidak cukup kuat untuk membantumu bertarung kemarin. Dia bersikeras ingin menjadi penjaga agar tidak ada tikus tanah yang mengganggu meditasi Tuan."
Shenyuan menghela napas. "Dia terlalu keras pada dirinya sendiri. Panggil dia masuk nanti. Kita akan bergerak ke bawah tanah."
Login Harian: Bukan Kekuatan, Tapi Pengetahuan
Sebelum Su Yan pergi, Shenyuan memejamkan mata sejenak. Di retina matanya, antarmuka sistem yang minimalis kembali muncul.
[Sistem Login Harian Makam Bintang]
[Lokasi: Gubuk Penjaga Makam (Area Dalam)]
[Status: Siap untuk Check-in.]
"Check-in," batin Shenyuan.
[Ding! Check-in berhasil.]
[Hadiah Harian: "Minyak Lampu Cendekiawan Kuno" (x1 Botol) dan "Kunci Perunggu Berkarat".]
[Deskripsi Item:]
* Minyak Lampu Cendekiawan Kuno: Saat dibakar di dalam Lentera Abadi, akan meningkatkan kejernihan pikiran pengguna sebesar 50% dan mempercepat pemahaman terhadap teks kuno selama 4 jam. Tidak memiliki efek tempur.
* Kunci Perunggu Berkarat: Kunci fisik untuk membuka salah satu peti di "Arsip Terlupakan".
Shenyuan mengangguk puas. Sistem ini konsisten. Ia tidak memberinya pedang dewa atau pil kenaikan tingkat. Ia memberinya alat untuk belajar. Ini mengonfirmasi dugaannya: Makam Bintang ingin dia menjadi penguasa yang paham, bukan sekadar penguasa yang kuat.
"Ayo," Shenyuan turun dari ranjang. Kakinya masih terasa sedikit lemas, tapi tekadnya sekeras baja. "Waktunya kita melihat apa yang ditinggalkan para leluhur di bawah sana."
Perpustakaan Bawah Tanah: Labirin Debu
Mereka bertiga—Shenyuan, Su Yan, dan Xiaoyue yang baru saja dipanggil masuk—berdiri di depan sebuah pintu batu besar yang terletak di balik dinding palsu di belakang gubuk.
Lorong itu gelap gulita, lembap, dan berbau kertas tua.
Shenyuan menuangkan Minyak Lampu Cendekiawan Kuno ke dalam lenteranya.
Wusss...
Api lentera berubah warna dari ungu redup menjadi putih jernih. Cahaya itu tidak hanya menerangi fisik lorong, tetapi entah bagaimana membuat pikiran mereka bertiga terasa lebih tajam dan fokus. Rasa kantuk Su Yan menghilang, dan kegelisahan Xiaoyue mereda.
"Ini... Perpustakaan Bawah Tanah Tingkat Satu," gumam Shenyuan saat mereka sampai di aula luas yang dipenuhi ribuan rak kayu lapuk.
Tidak ada kemewahan di sini. Hanya ribuan gulungan bambu, kulit binatang, dan kertas yang mulai menguning. Ini adalah tempat di mana teknik-teknik dasar dan menengah dari zaman kejayaan Dinasti Bintang disimpan—teknik yang dianggap "sampah" oleh standar zaman sekarang karena terlalu sulit atau terlalu lambat untuk dipelajari.
"Cari apa pun yang berhubungan dengan Pemadatan Inti," perintah Shenyuan. "Aku tidak akan mencoba menembus ke Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) dalam waktu dekat."
Xiaoyue terkejut. "Tapi Guru, dengan kekuatan Guru sekarang, bukankah Guru bisa langsung menerobos? Kenapa menunda?"
Shenyuan berjalan mendekati sebuah rak, jarinya menyapu debu tebal di atas gulungan bambu.
"Xiaoyue, lihat bangunan ini," Shenyuan menunjuk pilar batu yang menopang langit-langit gua. "Pilar ini sudah berdiri sepuluh ribu tahun. Kenapa? Karena ia padat. Ia tidak berongga."
"Inti Emas-ku saat ini memang kuat, tapi masih memiliki celah mikroskopis. Jika aku memaksakan diri naik ke Jiwa Baru Lahir sekarang, celah itu akan menjadi jurang yang mematikan di masa depan. Aku ingin mencapai Inti Emas Sempurna (Flawless Golden Core). Sesuatu yang hanya ada dalam legenda."
Xiaoyue terdiam, matanya berbinar penuh kekaguman. Ia mengangguk mantap. "Aku mengerti, Guru! Aku akan mencari setiap catatan tentang itu!"
Mereka pun berpencar.
Proses Belajar: Kesabaran di Tengah Kesunyian
Suasana di perpustakaan itu menjadi hening, hanya terdengar suara gemerisik kertas yang dibalik.
Berkat efek Minyak Lampu Cendekiawan, Shenyuan bisa membaca dengan kecepatan luar biasa. Matanya memindai baris demi baris aksara kuno yang rumit. Ia tidak mencari teknik serangan yang mematikan. Ia mencari filosofi. Ia mencari pemahaman tentang bagaimana para pendahulu mengelola energi Chaos di dalam tubuh mereka.
Satu jam berlalu. Dua jam.
Shenyuan menemukan sebuah gulungan kulit manusia yang sangat tipis, terselip di antara buku sejarah. Judulnya samar: "Catatan Harian Tabib Gila: Teori Meridian Terbalik."
Ia membacanya dengan teliti.
"...Energi dunia mengalir dari langit ke bumi. Tapi tubuh manusia adalah wadah yang terbatas. Untuk menampung lautan di dalam cangkir, kau tidak memperbesar cangkirnya, tapi kau memadatkan airnya menjadi es..."
Mata Shenyuan membelalak. Ini dia.
Teori ini mengajarkan cara memutar aliran Qi di dalam Inti Emas secara berlawanan arah jarum jam untuk menciptakan gaya sentripetal yang ekstrem, membuang setiap ketidakmurnian hingga yang tersisa hanyalah esensi murni.
Namun, risikonya sangat tinggi. Jika gagal, Inti Emas akan meledak dan menghancurkan Dantian.
"Sistem, analisis tingkat keberhasilan teknik 'Meridian Terbalik' dengan kondisi tubuhku saat ini," batin Shenyuan.
[Analisis Sistem:]
[Kondisi Tubuh: Cedera Ringan (Pemulihan 80%).]
[Tingkat Keberhasilan: 15%.]
[Saran: Butuh katalis eksternal berupa 'Darah Esensi' dari kultivator Ranah Transformasi Roh untuk menstabilkan tekanan.]
Shenyuan menutup gulungan itu. Senyum dingin tersungging di bibirnya.
"Darah Esensi ahli Transformasi Roh... Kebetulan sekali kita punya 'tamu' di penjara bawah tanah."
Interogasi Dingin: Tamu di Sel Nomor Satu
Shenyuan meninggalkan Su Yan dan Xiaoyue yang masih asyik belajar. Ia berjalan menuju bagian yang lebih dalam dari kompleks bawah tanah, menuju area penjara.
Di dalam sel yang lembap dan gelap, Jian Chen dirantai ke dinding dengan rantai besi meteor yang menyerap Qi. Pria tua yang dulu sombong itu kini tampak menyedihkan. Rambutnya acak-acakan, jubahnya robek, dan wajahnya pucat pasi.
Ketika Shenyuan masuk, Jian Chen mengangkat kepalanya dengan lemah.
"Kau... bocah iblis..." desis Jian Chen. "Bunuh saja aku. Sekte Pedang Langit tidak akan membiarkanmu hidup."
Shenyuan tidak menjawab. Ia menarik sebuah kursi kayu tua dan duduk tepat di depan Jian Chen. Ia meletakkan Lentera Abadi di lantai, cahayanya menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding.
"Membunuhmu?" Shenyuan menggeleng pelan. "Itu pemborosan sumber daya. Di makam ini, bahkan sampah pun bisa didaur ulang."
Shenyuan mengeluarkan sebuah jarum perak panjang dari lengan bajunya.
"Aku sedang mempelajari teknik kuno untuk memurnikan Inti Emas-ku. Teknik itu membutuhkan sedikit... donasi," ucap Shenyuan datar.
Mata Jian Chen membelalak ketakutan. "Apa yang kau inginkan? Darahku?"
"Bukan darah biasa. Darah Esensi. Sumber kehidupanmu."
"Kau gila! Mengambil Darah Esensi akan menurunkan kultivasiku secara permanen! Aku bisa jatuh kembali ke Ranah Jiwa Baru Lahir!" teriak Jian Chen, memberontak pada rantainya.
"Pilihan ada di tanganmu," Shenyuan memainkan jarum itu. "Berikan secara sukarela dan aku akan memberimu makanan yang layak serta sel yang lebih kering. Atau... aku akan membiarkan Lentera Abadi menyedotnya secara paksa. Cara kedua jauh lebih menyakitkan, dan mungkin akan membuatmu menjadi idiot karena kerusakan jiwa."
Keheningan mencekam mengisi ruangan itu. Jian Chen menatap mata Shenyuan. Ia tidak melihat keraguan sedikit pun di sana. Pemuda ini bukan lagi pangeran yang naif; dia adalah monster yang dibentuk oleh kegelapan makam.
"Baik..." Jian Chen menunduk, air mata kehinaan menetes. "Aku... aku akan memberikannya."
Shenyuan mengangguk. Ia tidak menikmati penyiksaan ini, tapi ia tahu dunia kultivasi tidak memberi tempat bagi belas kasihan. Ia membutuhkan kekuatan untuk melindungi Su Yan dan Xiaoyue. Jika harga untuk itu adalah menjadi penjahat di mata musuhnya, ia akan membayarnya dengan senang hati.
Shenyuan menampung tiga tetes Darah Esensi yang bersinar merah keemasan ke dalam botol kecil. Hanya tiga tetes, tapi energinya begitu padat hingga botol itu bergetar.
"Terima kasih atas kontribusimu, Leluhur," ucap Shenyuan dingin, lalu berbalik pergi, meninggalkan Jian Chen yang terengah-engah dalam kegelapan.
Momen Kehangatan: Teh dan Harapan
Kembali ke Perpustakaan, Shenyuan menemukan pemandangan yang menghangatkan hati.
Su Yan tertidur di atas tumpukan buku dengan posisi duduk, kepalanya terkulai. Di sampingnya, Xiaoyue sedang menyelimuti bahu Su Yan dengan jubah luarnya sendiri, gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.
Shenyuan berhenti sejenak, mengamati mereka. Inilah alasannya. Inilah kenapa ia harus menjadi kuat, kenapa ia harus memeras darah musuhnya. Untuk menjaga momen-momen rapuh seperti ini tetap ada.
"Guru?" bisik Xiaoyue saat melihat Shenyuan kembali.
Shenyuan meletakkan jari di bibirnya, memberi isyarat agar tetap tenang. Ia berjalan mendekat, duduk di antara mereka.
"Kau menemukan sesuatu?" bisik Shenyuan.
Xiaoyue mengangguk antusias, memperlihatkan sebuah buku yang hampir hancur. "Teknik Pernapasan Api Biru. Ini mengajarkan cara mengontrol suhu api, bukan hanya meledakkannya. Jika aku menguasai ini, aku bisa memasak teh untuk Guru tanpa membakar tekonya!"
Shenyuan tersenyum tulus, mengacak rambut Xiaoyue. "Itu teknik yang sangat berguna. Lebih berguna daripada teknik pembunuh mana pun."
Shenyuan mengeluarkan botol berisi Darah Esensi Jian Chen, lalu menyimpannya. Malam ini, ia tidak akan melakukan terobosan. Malam ini, ia akan menjaga tidur kedua wanita ini.
"Tidurlah, Xiaoyue. Aku yang jaga malam ini."
"Tapi Guru..."
"Ini perintah."
Xiaoyue akhirnya menurut. Ia meringkuk di sisi kaki Shenyuan seperti kucing kecil.
Di tengah kesunyian perpustakaan bawah tanah, dikelilingi oleh ribuan tahun sejarah yang terlupakan, Shenyuan merasa damai. Namun, di dalam dirinya, rencana besar sedang disusun.
Dengan teknik Meridian Terbalik dan Darah Esensi di tangan, ia siap untuk menempa ulang fondasinya. Bukan untuk menjadi yang tercepat naik ranah, tapi untuk menjadi yang tak tergoyahkan.
[Sistem: Waktu hingga Login berikutnya: 04 jam 12 menit.]
Shenyuan menatap angka itu. "Perlahan tapi pasti," gumamnya. "Langkah demi langkah."