aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume I — The Day the World Fell Chapter 1 — A Normal Day
Daniel selalu berpikir bahwa hidupnya akan berjalan lurus—membosankan, stabil, dan tidak akan pernah tercatat dalam sejarah siapa pun.
Pagi itu dimulai seperti biasa.
Alarm ponselnya berbunyi pukul enam tepat, suara digital yang terlalu datar untuk disebut menjengkelkan, namun cukup untuk menariknya keluar dari tidur setengah sadar. Daniel meraih ponsel tanpa membuka mata, menekan tombol matikan, lalu menatap langit-langit kamar kosnya yang sudah mulai mengelupas di beberapa sudut.
Kamar itu kecil.
Sederhana.
Dan sepenuhnya mencerminkan hidupnya.
Satu meja belajar penuh buku, laptop yang kipasnya berbunyi lebih keras dari seharusnya, secangkir kopi sisa semalam yang sudah dingin, dan jendela kecil yang menghadap ke jalan sempit tempat mahasiswa lalu-lalang setiap pagi.
Ia bangun, meregangkan tubuh, dan untuk sesaat—hanya sesaat—ia merasa kosong.
Bukan sedih.
Bukan pula senang.
Hanya… datar.
Daniel adalah mahasiswa tahun kedua di salah satu universitas negeri di Aethoria. Jurusan yang ia ambil tidak buruk, tapi juga bukan impiannya. Ia masuk karena “cukup masuk akal,” seperti kebanyakan keputusan dalam hidupnya.
Ia bukan anak bermasalah.
Namun juga bukan seseorang yang menonjol.
Nilainya cukup.
Lingkar pertemanannya kecil.
Namanya tidak pernah disebut dalam rapat penting atau percakapan besar.
Daniel ada… dan itu saja.
Ia mandi cepat, mengenakan jaket hitam favoritnya—jaket yang sudah mulai usang tapi entah kenapa selalu ia pakai—lalu memasukkan buku ke dalam tas. Sebelum keluar, ia melirik cermin kecil di dinding.
Wajah biasa.
Mata lelah.
Seseorang yang tidak terlihat seperti orang yang akan mengubah dunia.
“Semoga hari ini cepat selesai,” gumamnya pelan.
Di luar, udara pagi Aethoria terasa sejuk. Langit cerah, berwarna biru pucat tanpa awan. Kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang berjalan berkelompok, tertawa, mengeluh tentang tugas, atau sekadar menatap ponsel mereka sambil berjalan.
Daniel membeli kopi di kios kecil dekat gerbang kampus. Penjualnya, seorang pria paruh baya, mengenalnya cukup baik untuk mengangguk tanpa banyak bicara.
“Kopi hitam, tanpa gula?” tanya pria itu.
“Iya,” jawab Daniel.
Ia menerima gelas kertas hangat itu dan melanjutkan langkah menuju gedung fakultas. Hari ini ada kuliah teori panjang—jenis kuliah yang membuat sebagian besar mahasiswa menyesal datang tepat waktu.
Di ruang kelas, Daniel duduk di bangku belakang seperti biasa. Dari sana, ia bisa melihat seluruh ruangan tanpa harus menjadi pusat perhatian. Ia mengeluarkan buku catatan, membuka halaman kosong, lalu menunggu dosen datang.
Suara-suara kecil memenuhi ruangan.
Obrolan ringan.
Tawa.
Keluhan tentang kurang tidur.
Semua terasa… normal.
Dosen masuk, kelas dimulai, dan waktu berjalan perlahan. Daniel mencatat tanpa benar-benar memikirkan apa yang ia tulis. Pikirannya melayang—tentang tugas, tentang masa depan yang terasa jauh dan samar, tentang pertanyaan yang sering muncul di benaknya akhir-akhir ini.
Apakah hidup memang sesederhana ini?
Bukan dalam arti buruk.
Tapi juga bukan sesuatu yang membuat jantungnya berdebar.
Saat jam kuliah hampir selesai, sesuatu berubah.
Awalnya sangat halus.
Lampu di langit-langit kelas berkedip sekali.
Beberapa mahasiswa mengangkat kepala, mengira itu masalah listrik biasa. Dosen berhenti bicara sejenak, lalu melanjutkan kembali.
Namun Daniel merasakan sesuatu yang lain.
Udara.
Rasanya… berat.
Seperti sebelum hujan, tapi berbeda. Lebih menekan. Lebih dalam. Seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengawasi dari kejauhan.
Ia menoleh ke arah jendela.
Langit masih biru.
Terlalu biru.
Tidak ada awan, tapi entah kenapa warna langit terlihat… salah. Seperti lukisan yang dicat terlalu tebal.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara retakan.
Bukan dari dalam gedung.
Bukan dari tanah.
Melainkan dari atas.
Suara itu seperti kaca raksasa yang diremas perlahan.
Seluruh kelas terdiam.
“Apakah ada yang dengar itu?” seseorang berbisik.
Daniel berdiri sedikit dari kursinya, menatap keluar jendela dengan lebih fokus.
Dan untuk sepersekian detik—hanya sepersekian detik—ia melihatnya.
Sebuah garis hitam tipis di langit.
Seperti retakan.
Lalu sirene kampus meraung.
Suara nyaring, panjang, dan asing. Bukan alarm kebakaran. Bukan latihan evakuasi.
Wajah dosen berubah pucat.
“Semua tenang—” katanya, tapi suaranya tenggelam oleh jeritan pertama dari luar gedung.
Teriakan itu bukan teriakan kaget.
Itu teriakan ketakutan.
Mahasiswa mulai berdiri, beberapa berlari ke pintu. Daniel merasakan dadanya mengencang. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Ia tidak tahu apa yang terjadi.
Namun satu insting muncul dengan jelas di kepalanya.
Ini bukan sesuatu yang biasa.
Ketika ledakan terdengar dari kejauhan dan kaca jendela bergetar hebat, satu pemikiran melintas di benak Daniel—pemikiran yang ironis dan terlambat:
Seandainya aku tetap di kamar hari ini.
Dan di luar sana, tanpa sepengetahuannya, dunia sedang bersiap runtuh.