Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Matahari sudah mulai merayap naik, sinarnya hangat menyinari kamar rawat itu melalui celah tirai yang tersibak sebagian. Suasana di dalam kamar terasa begitu damai. Raya tengah duduk bersandar di tempat tidur, mengenakan daster rumah sakit berwarna lembut, dengan bayi mungil di pelukannya. Sementara Arya duduk di sampingnya.
Pak Harun dan Bu Atika duduk di sofa kecil dekat jendela, menikmati pemandangan yang begitu menyejukkan anak dan menantu mereka kini menjadi orang tua.
Bu Atika tiba-tiba angkat suara. Suaranya lembut, namun penuh rasa penasaran yang manis.
"Jadi... kalian sudah putuskan belum, nama apa untuk cucu Mama ini?"
Raya dan Arya saling pandang. Senyum kecil tersungging di bibir keduanya. Ada binar hangat di mata mereka seakan pertanyaan itu memang sudah mereka nantikan, namun belum sempat dibahas karena semua terjadi begitu cepat.
Arya memiringkan kepala, lalu menatap wajah Raya "Kamu mau kasih nama apa untuk anak mu?"
Raya tertawa kecil. "Aku tidak tahu, belum aku siapkan karena yang aku tahu anakku perempuan."
Arya mengangguk, masih dengan senyuman di wajah.
"Terus gimana?"
"Kamu aja Mas, yang beri kan nama untuk baby boy, bolehkan?"
Mata Arya membulat. Wajahnya seperti anak kecil yang diberi mainan baru.
"Aku? serius?" tanyanya memastikan.
"Iya Mas, cepat mikir sebelum aku berubah pikiran."
Pak Harun ikut tertawa.
"Tapi jangan kasih nama yang aneh-aneh, ya, Arya. Papa gak mau cucu Papa dipanggil dengan nama aneh di sekolah nanti."
"Tenang Pa, akan ku beri nama yang bagus. Gak kayak namaku hanya empat huruf. Mama dan Papa niat nggak sih ngasih nama aku?"
"Eh jangan salahin Mama. Kan yang kasih nama itu Papa kamu."
"Tapikan ada Atmajayanya."
"Terserah Papa lah."
Bu Atika tersenyum geli. "Oh iya, kalau mau ngasih nama, pilih nama yang bermakna baik, yang membawa berkah. Jangan karena kamu suka film Korea, kamu kasih nama anakmu Ji Hoon segala!"
"Emang aku suka Drakor? Yang ada juga Mama tuh yang suka nonton."
"Eh..iya iya? Mama yang suka nonton.. heheheh."
Arya menghela napas melihat tingkah Mamanya. "Tenang...tenang beri waktu aku untuk berpikir sejenak," ucap Arya dengan wajah serius.
Ia lalu kembali menghela napas pelan, kemudian menatap wajah kecil di pelukan Raya dengan penuh cinta. Suasana mendadak jadi khidmat. Semua mata kini menatap Arya yang tampak sedang berpikir dalam-dalam.
"Nama..." gumam Arya pelan, seperti mengeja makna di dalam hatinya.
"Aku ingin nama yang... kuat tapi lembut. Nama yang bisa menjadi doaku untuk hidupnya."
Ia mengangkat kepalanya dan menatap semua orang di ruangan.
"Namanya adalah... Khalif Azka."
Raya mendongak, matanya melebar. Bu Atika dan Pak Harun saling pandang, seolah memastikan mereka mendengar dengan benar.
"Khalif Azka?" tanya Raya pelan.
Arya mengangguk pelan, suaranya lembut namun mantap.
""Khalif' artinya pemimpin. 'Azka' artinya suci, murni. Jadi... arti nama lengkap anak kita adalah 'Pemimpin yang berhati suci'. Aku ingin dia jadi orang kuat yang bisa memimpin, tapi juga punya hati yang bersih dan tulus dalam setiap langkah hidupnya."
Suasana ruangan mendadak hening. Pak Harun menyandarkan punggung ke sofa, wajahnya terlihat takjub.
Bu Atika memejamkan mata sebentar, lalu mengangguk pelan, menyeka sudut matanya yang mendadak basah.
"Masya Allah..." ucap Bu Atika lirih.
"Indah sekali, Arya. Nama itu seperti doa yang lengkap... bijak dan penuh makna."
Raya pun tak kuasa menyembunyikan air matanya. Ia menunduk, mencium kening bayinya.
"Khalif Azka... nama yang indah sekali. Terima kasih... terima kasih udah kasih dia nama seindah itu."
Arya mencium ubun-ubun bayi Raya dengan penuh kelembutan.
"Semoga dia tumbuh jadi anak yang tangguh, penuh kasih, dan gak pernah takut berdiri di jalan yang benar."
Pak Harun mengangguk tegas.
"Amin. Dan Papa akan bantu membimbing dia jadi pria sejati."
Bu Atika menambahkan dengan senyum bangga.
"Dan Mama akan ajarkan dia jadi lelaki yang tahu bagaimana menghormati perempuan. Seperti Papanya sekarang."
Arya menggenggam tangan mungil itu erat-erat, lalu menatap putra kecilnya.
"Selamat datang ke dunia, Khalif Azka.
Perjalananmu baru dimulai. Tapi percayalah, kamu punya keluarga yang akan selalu jadi pelindungmu."
Pagi itu di rumah keluarga Hartawan tidak sehangat biasanya. Udara di kamar Laras dan Daffa terasa tegang, dipenuhi suara tangisan bayi yang tak kunjung reda. Laras, yang terlihat kelelahan dengan rambut terurai dan wajah pucat, sedang berusaha menggendong bayinya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
"Daffa, tolong... belikan susu buat anak kita. ASI-ku belum keluar juga sejak semalam, dia terus menangis... aku nggak tega liat dia kayak gini," ucap Laras dengan suara lirih, bergetar karena kelelahan dan emosi.
Daffa yang tengah rebahan di ranjang, menghela napas keras, lalu membuka matanya setengah.
"Jangan biasain anak itu minum susu formula terus, Laras. ASI itu yang terbaik! Kamu sebagai ibu harusnya berusaha dong, bukan nyerah kayak gini," balasnya ketus.
"Kamu pikir aku nggak berusaha?! Setiap malam aku susui, tapi nggak keluar, Daffa! Kamu nggak ngerti gimana rasanya... dan sekarang kamu malah nyuruh aku memaksa bayi kita kelaparan?!" suara Laras meninggi, hampir menangis.
Tangisan bayi makin kencang. Laras mulai panik.
"Daffa... plis... aku cuma minta kamu ke minimarket sebentar. Kamu capek? Aku juga! Tapi sekarang bukan waktunya egois!"
Daffa bangkit dari tempat tidur, berdiri dengan wajah kesal.
"Aku ini juga manusia, Laras! Aku butuh istirahat! Semalam aku kerja sampai pagi, sekarang kamu mau nyuruh aku ke luar lagi cuma buat beli susu? Kamu pikir uang gampang? Susu bayi itu mahal, Laras! Jangan manja!"
Tiba-tiba suara tangisan bayi dan pertengkaran mereka menarik perhatian Bu Rina yang tengah berada di ruang tengah. Ia segera menuju kamar mereka.
"Eh, ini ribut-ribut kenapa sih? Anaknya nangis kenceng banget dari tadi!" seru Bu Rina sambil membuka pintu kamar tanpa mengetuk.
Melihat bayinya terus menangis, Bu Rina segera menghampiri dan mengambil cucunya dari gendongan Laras.
"Sini... sini, Nenek bantu gendong ya, sayang..." ucap Bu Rina lembut pada sang bayi, lalu menoleh ke Laras dan Daffa.
"Ini ada apa lagi sih pagi-pagi udah ribut?"
Laras mengelap air matanya.
"Mama, aku cuma minta tolong Daffa beliin susu, ASI-ku nggak keluar, anak ini dari tadi nangis terus..."
Daffa segera menyela.
"Dia itu nggak becus jadi ibu, Ma! ASI-nya nggak keluar, terus maunya serba instan, beli susu mahal! Kita ini harus hemat! Jangan karena punya anak terus jadi boros. Perusahaan juga lagi banyak pengeluaran."
Bu Rina mendesah berat, mengelus kepala cucunya pelan agar tangisnya reda.
"Kalian ini... punya anak tapi masih kayak anak-anak. Daffa, kamu suami, kamu yang harusnya sigap. Anak itu nangis, bukan buat gaya-gayaan, dia butuh susu. Kalau ASI belum keluar, ya bantu carikan solusi. Jangan cuma nyalahin istri terus!"
Laras langsung menatap Daffa tajam.
"Lihat, Mama aja bilang begitu! Udah sebulan ini kamu bahkan nggak kasih uang belanja. Aku harus ngatur semuanya sendirian. Kalau nggak ada uang, aku juga nggak bisa beli susu. Kamu pikir ini aku yang salah?!"
Daffa mengangkat tangan, menunjuk ke arah Laras.
"Aku selalu kasih uang! Kamu aja yang boros! Semua dihambur-hamburkan! Belanja ini-itu yang nggak penting. Beda banget sama Raya. Dia itu tahu cara mengelola uang. Setiap bulan aku kasih uang, dan dia selalu cukup. Bahkan bisa nabung!"
Ucapan itu seperti menyulut api dalam dada Laras. Matanya memerah.
"Kamu... kamu bandingkan aku dengan dia?! Daffa, kamu keterlaluan! Aku istrimu! Aku yang ngandung dan ngelahirin anak kamu! Tapi kamu malah muji-muji perempuan itu di depan aku?"
Daffa menggeleng, ekspresinya dingin.
"Aku cuma bilang kenyataan, Laras. Dia lebih baik daripada kamu."
Tanpa menunggu reaksi Laras yang mulai terisak, Daffa berjalan ke arah pintu, membuka dan membantingnya keras sebelum pergi, meninggalkan Laras yang terduduk lemas di pinggir ranjang.
Bu Rina hanya bisa menghela napas panjang. Ia menatap Laras yang menggigit bibir menahan tangis, sementara bayi di pelukannya sudah mulai terdiam dalam dekapan neneknya.
"Sudahlah... jangan dipikirin dulu omongan Daffa. Mama bantu beliin susunya, ya? Tapi kamu juga harus kuat. Kamu sekarang ibu, kamu nggak boleh lemah karena anakmu butuh kamu."
Laras hanya mengangguk pelan. Air matanya masih menetes, tetapi dalam hatinya sudah mulai tumbuh benih luka... dan juga amarah.