Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Badai yang Berkumpul di Puncak Teratai
Tiga minggu berlalu seperti embusan angin musim dingin yang mematikan. Di mata murid-murid Sekte Pedang Awan, Li Jian seolah menghilang ditelan bumi setelah insiden hancurnya gubuk kayunya.
Namun, di kedalaman Gua Es Seribu Tahun yang terletak di sisi tebing terlarang gunung sekte, seorang pemuda tengah menjalani penyiksaan yang disebut latihan.
TRANG! TRANG! TRANG!
Suara benturan logam tumpul menghantam dinding es bergema tanpa henti. Bergelimang keringat yang langsung membeku menjadi kristal di kulitnya, Li Jian mengayunkan Gerhana—pedang hitamnya yang seberat batu pualam—untuk yang kesepuluh ribu kalinya hari itu.
"Lebih cepat! Ayunanmu masih memiliki keraguan fana!" bentak Yueyin dari dalam ruang kesadarannya. "Jika pedangmu tidak bisa membelah air terjun es ini tanpa memercikkan setetes air pun, kau hanya mengayunkan sepotong besi rongsok!"
Li Jian menggertakkan gigi, tidak membantah sepatah kata pun. Enam puluh lima batu spiritual yang ia kumpulkan telah habis menjadi debu dalam waktu dua minggu, semuanya diserap untuk memperkuat fondasi Dantian-nya.
Metode kultivasi Seni Bintang Pemakan Langit benar-benar rakus. Untuk menembus dari Kondensasi Qi Tingkat Satu ke Tingkat Tiga puncak, Li Jian membutuhkan sumber daya sepuluh kali lipat dari kultivator biasa. Namun hasilnya sepadan. Qi perak di Dantian-nya kini sedemikian padat hingga menyerupai raksa. Otot-ototnya ramping, namun menyembunyikan daya ledak seekor naga banjir.
Li Jian menarik napas dalam, memutar pinggulnya, dan menyalurkan Qi peraknya ke dalam Gerhana. Pedang tumpul itu mendengung pelan, memancarkan kabut beku.
SYAAAT!
Satu tebasan horizontal meluncur. Tanpa suara ledakan, air terjun es yang membeku di hadapannya terbelah menjadi dua dengan potongan yang sangat mulus, seolah cermin yang diiris sutra.
"Cukup," ucap Yueyin, nadanya akhirnya melembut, menyembunyikan kekagumannya pada daya tahan pemuda ini. "Kultivasimu stabil di Tingkat Tiga puncak. Dengan kemurnian Qi dan kekuatan fisikmu saat ini, bahkan kultivator Tingkat Lima biasa akan kesulitan menahan satu ayunan penuh darimu. Saatnya keluar. Hari ini adalah ujian sekte."
Li Jian menyarungkan Gerhana ke punggungnya dengan lilitan kain kain hitam yang tebal, menyembunyikan bentuk aslinya. Ia berjalan keluar dari gua es, menatap ke arah Puncak Teratai Luar yang kini diselimuti cahaya fajar kemerahan.
"Saatnya menagih hutang," gumam Li Jian dingin.
Alun-alun utama Puncak Teratai Luar sudah dipenuhi oleh ratusan murid berpakaian putih. Udara berdengung oleh bisik-bisik tegang dan antisipasi. Hari ini adalah Ujian Kenaikan Sekte, satu-satunya jalan bagi murid luar untuk menjadi murid dalam dan mengubah nasib mereka.
Di bagian depan kerumunan, berdiri sebuah kelompok yang otomatis dihindari oleh murid-murid lain. Di tengah kelompok itu, duduk seorang pemuda dengan jubah putih bersulam awan perak di tepinya—tanda kebesaran murid Sekte Dalam. Wajahnya tampan namun memancarkan arogansi yang kental. Ia adalah Zhao Tian.
Di sebelahnya, berdiri Zhao Feng yang wajahnya pucat pasi. Tangan kanannya masih dibungkus perban tebal, tergantung tak berdaya di lehernya akibat radang dingin permanen dari Qi Li Jian tiga minggu lalu.
"Kakak, kau harus membunuhnya hari ini. Jika bukan karena aturan sekte yang melarang tetua turun tangan untuk masalah murid luar, aku sudah memotongnya menjadi ribuan bagian!" bisik Zhao Feng penuh kebencian. Matanya liar menyapu kerumunan, mencari sosok Li Jian.
Zhao Tian menyesap teh dari cangkir porselennya dengan tenang. "Tenanglah, Adikku yang bodoh. Berapa kali kubilang, jangan biarkan emosi merusak aliran Qi-mu. Hanya karena kau dikalahkan oleh sampah yang menggunakan trik kotor, bukan berarti ia layak membuatku marah."
Zhao Tian meletakkan cangkirnya, matanya menyipit sinis. "Aku sudah mengatur semuanya dengan Diaken Penilai. Di ronde pertama, Ujian Tekanan Spiritual, ia akan ditempatkan di zona paling berat. Jika ia selamat dari sana, di ronde kedua, ia akan berhadapan langsung dengan algojoku, Sun Lie. Si sampah bernama Li Jian itu tidak akan pernah berjalan turun dari gunung ini."
Tepat saat Zhao Tian menyelesaikan kalimatnya, kerumunan murid di pinggir alun-alun tiba-tiba terbelah. Suara obrolan mendadak hening, digantikan oleh tatapan terkejut dan ngeri.
Seorang pemuda berjubah abu-abu usang berjalan santai membelah kerumunan. Di punggungnya, terikat sebuah benda panjang yang dibalut kain hitam pekat. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, seolah ia sedang berjalan-jalan di taman belakang rumahnya sendiri.
Ia tidak memancarkan aura Qi yang meledak-ledak. Faktanya, ia menekan kultivasinya sedemikian rupa sehingga ia terlihat persis seperti Li Jian si 'Akar Terkutuk' yang biasa—lemah dan tak berdaya. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Dingin. Mematikan.
Mata Zhao Feng membelalak lebar. "I-Itu dia! Kakak, itu Li Jian!" teriaknya histeris, tanpa sadar mundur selangkah saat mengingat hawa dingin yang menghancurkan tangannya.
Mendengar nama itu, Zhao Tian perlahan berdiri. Ia menatap Li Jian dari kejauhan. Aura Kondensasi Qi Tingkat Tujuhnya sedikit bocor, menciptakan hembusan angin yang menekan dada murid-murid di sekitarnya.
Li Jian terus berjalan hingga ia berhenti hanya beberapa puluh meter dari kelompok Zhao Tian. Keduanya saling bertatapan. Yang satu memancarkan niat membunuh yang menyala-nyala seperti api, yang satu lagi menatap sedingin dasar jurang es.
"Jangan terprovokasi," bisik Yueyin di kepala Li Jian. "Bocah sombong itu berada di Tingkat Tujuh. Kau bisa membunuhnya jika mengorbankan separuh esensi darahmu, tapi itu tidak sepadan. Ikuti aturan main sekte ini untuk sementara waktu."
Li Jian menyeringai tipis, mengangguk pelan tak kasat mata. Ia memalingkan wajahnya dari Zhao Tian, sepenuhnya mengabaikan murid Sekte Dalam tersebut, dan berjalan menuju barisan pendaftaran.
Pengabaian total itu membuat urat di pelipis Zhao Tian menonjol keluar. Baginya, diabaikan oleh seekor semut adalah penghinaan terbesar.
"Bagus... kau punya nyali," desis Zhao Tian, mengepalkan tangannya hingga berderak. "Kita lihat apakah kau masih bisa mempertahankan wajah dingin itu saat tulang-tulangmu dihancurkan di Arena Tekanan."
Tiba-tiba, suara dentangan lonceng perunggu raksasa bergema tiga kali ke seluruh penjuru gunung, menggetarkan awan di atas mereka.
Di atas panggung batu giok tinggi di depan alun-alun, tiga orang Tetua Sekte berpakaian abu-abu turun dari langit dengan mengendarai pedang terbang. Kehadiran mereka membawa tekanan spiritual yang membuat seluruh murid luar langsung berlutut serentak. Seluruhnya, kecuali Li Jian, yang hanya menundukkan kepalanya sedikit berkat perlindungan jiwa Yueyin.
"Ujian Kenaikan Sekte Pedang Awan, resmi dimulai!" suara menggelegar Tetua Utama menyapu alun-alun. "Ronde Pertama: Lorong Tekanan Seribu Gunung!"
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏