Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Setelah menandatangani perjanjian itu, Raya masih belum sepenuhnya percaya dengan keputusannya. Ia menatap kertas yang telah ia tandatangani dengan tatapan kosong. Baru saja ia menyegel nasibnya dengan seorang pria yang nyaris tak ia kenal.
"Sekarang bersiaplah. Kita akan pulang," kata Arya dengan nada tenang namun tegas.
Raya menoleh cepat. "Pulang?" tanyanya dengan alis bertaut.
"Ya, pulang. Ke rumah orang tuaku," jawab Arya santai sambil memasukkan tangan ke dalam saku celananya.
Seketika, dada Raya berdebar. Pertemuan dengan keluarga suaminya dulu selalu berakhir dengan kehancuran, hinaan, dan cemoohan. Kini, ia harus menghadapi keluarga lain yang bahkan lebih kaya dan lebih berpengaruh? Ia tidak yakin bisa menghadapi ini.
"Aku..." Raya menggigit bibirnya. "Aku tidak yakin."
Arya memperhatikan kegugupan di wajah Raya. Ia menghela napas, lalu mendekat dan menepuk pundaknya dengan ringan. "Jangan khawatir. Orang tuaku bukan tipe yang menilai orang dari harta.
Mereka akan menerimamu dengan baik."
"Tapi tetap saja..." Raya menunduk, meremas jemarinya sendiri.
Arya tersenyum tipis. "Jika mereka tidak menerimamu, aku sendiri yang akan menghadapi mereka. Tapi percayalah, mereka akan menyukaimu."
Setelah beberapa saat berpikir, Raya akhirnya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju rumah Arya. Raya berusaha menenangkan dirinya, namun jantungnya terus berdegup kencang. Perjalanan itu terasa panjang baginya, dan setiap detik yang berlalu hanya membuat kecemasannya semakin menjadi-jadi.
Ketika mobil berhenti di depan rumah Arya, Raya terdiam. Matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka. Rumah? Tidak, ini bukan rumah biasa. Ini lebih mirip istana!
Bangunan besar dengan arsitektur modern yang mewah berdiri megah di hadapannya. Halamannya luas, dengan taman yang begitu indah dan air mancur besar di tengahnya. Tiang-tiang tinggi menopang balkon besar yang menghadap ke gerbang utama. Setiap sudutnya terlihat sempurna, seolah-olah bangunan itu diciptakan langsung dari dongeng.
Raya menelan ludahnya dengan susah payah. Ada perasaan aneh yang menyelimutinya. Entah kenapa, rumah ini terasa familiar. Seakan ia pernah melihatnya sebelumnya. Namun, ia mengabaikan perasaan itu.
"Turunlah," kata Arya sambil membuka pintu mobil untuknya.
Raya menatap Arya sejenak sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang dan melangkahkan kaki keluar dari mobil.
Di depan pintu besar rumah itu, sudah berdiri sepasang pria dan wanita paruh baya dengan ekspresi menunggu. Orang tua Arya.
Di samping mereka, beberapa pelayan berjajar rapi, siap menyambut tamu istimewa ini.
Saat mereka mendekat, Arya hendak meraih tangan Raya, namun dengan cepat wanita itu menepisnya. "Jangan sentuh aku," katanya tajam. "Belum muhrim."
Arya menghela napas panjang sambil berbisik, "Wanita galak."
Raya melirik sekilas, tetapi tidak menanggapi. Ia berusaha menampilkan senyum terbaiknya saat berdiri di hadapan kedua orang tua Arya. Namun, alih-alih langsung berbicara, Bu Atika dan Pak Harun hanya menatapnya tanpa berkedip.
"MasyaAllah... Bidadari." Suara Bu Atika terdengar lirih, matanya berbinar seolah melihat sesuatu yang luar biasa.
"Sempurna." Pak Harun menimpali dengan ekspresi tak kalah kagumnya.
Arya mendengus pelan, lalu menjentikkan jarinya di depan wajah kedua orang tuanya. "Halo? Kalian sadar tidak?"
Keduanya seketika tersadar dan saling bertukar pandang sebelum akhirnya tersenyum hangat pada Raya.
"Selamat datang, Nak," ujar Pak Harun lembut.
Raya menyalami mereka dengan takzim. Begitu tangannya lepas dari genggaman Raya, Bu Atika langsung mengulurkan tangan dan mengelus perut Raya dengan mata berkaca-kaca.
"Cucuku..." bisiknya penuh haru.
Raya tertegun. Ada kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak ia hamil, ada seseorang yang menyambut kehadiran bayinya dengan kebahagiaan, bukan cemoohan atau penolakan.
Ia mencoba menahan air mata yang tiba-tiba ingin jatuh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak sendirian.
Bu Atika lalu menggandeng tangan Raya, membawanya masuk ke dalam rumah dengan penuh kehangatan. Begitu memasuki rumah, lagi-lagi Raya terperangah. Interior rumah ini lebih dari sekadar mewah, semuanya tampak seperti di istana. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit, karpet tebal yang begitu nyaman di kaki, serta dekorasi klasik yang terlihat begitu elegan. Selama hidupnya, ia tidak pernah membayangkan bisa berada di tempat seperti ini.
Mereka lalu duduk di ruang tengah. Raya merasakan empuknya sofa di bawah tubuhnya. Ia menekan-nekan sandarannya, merasakan kenyamanannya. Rumah Dafa juga punya sofa bagus, tapi tidak seempuk ini, pikirnya sambil tersenyum miris.
Bu Atika menggenggam tangan Raya dengan penuh kelembutan. "Nak, aku ingin meminta maaf atas kelakuan putraku. Seharusnya dia bertanggung jawab sejak awal," ucapnya tulus.
Pak Harun mengangguk. "Kami akan bertanggung jawab. Arya harus menikahimu."
Raya hanya tersenyum. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kebahagiaan yang kini mengisi hatinya terasa begitu mendadak, seolah hidupnya baru saja diubah oleh takdir.
Bu Atika kemudian berdiri dan menggandeng tangan Raya lagi. "Ayo, Nak. Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Mereka berjalan ke lantai atas, melewati lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan indah. Pak Harun dan Arya mengikuti di belakang.
Begitu sampai di depan sebuah kamar, Bu Atika membuka pintunya dan tersenyum lebar. "Ini kamarmu, Nak."
Raya membelalakkan matanya. Kamar ini begitu luas, dindingnya dihiasi wallpaper berwarna pastel yang lembut. Ranjang besar dengan kelambu putih menjuntai di sekelilingnya. Ada lemari besar, meja rias dengan cermin besar, serta balkon dengan pemandangan taman yang indah.
Arya juga ikut melongok ke dalam kamar.
Seketika wajahnya berubah aneh. "Tunggu... kenapa kamarnya sebagus ini?" tanyanya protes.
Pak Harun menatapnya sekilas. "Memangnya kenapa?"
Arya menunjuk ke arah ranjang besar itu. "Kasurnya lebih empuk dari kasurku."
Bu Atika menghela napas, melipat tangan di dada. "Tentu saja. Dia mengandung cucuku. Dia harus nyaman."
Arya menyipitkan mata. "Lalu kenapa kamar aku nggak pernah direnovasi seperti ini?"
"Karena kamu laki-laki. Tidak butuh ranjang besar dengan kelambu putih," jawab Bu Atika enteng.
Raya menahan tawa melihat ekspresi Arya yang seolah tidak terima.
Pak Harun menepuk pundak putranya sambil tersenyum. "Kalau kamu mau kamar baru, nikahilah Raya secara sah dan buat dia tetap di sini selamanya."
Arya mendecak pelan dan menggeleng. "Astaga, ini nggak adil."
Raya yang sejak tadi hanya diam, akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Melihat pria berwibawa seperti Arya ngedumel seperti anak kecil benar-benar menggelitik. Siapa sangka pria setajam dan sedingin dia bisa sekecewa ini hanya karena kamar?
Bu Atika merangkul Raya. "Sudahlah, Nak. Anggap saja rumah ini rumahmu. Mulai sekarang, kamu bagian dari keluarga kami."
Raya tersenyum haru. Ia tidak menyangka akan mendapat penerimaan sebaik ini. Di rumah mantan mertuanya dulu, ia hanya dianggap pembantu. Tapi di sini, ia diperlakukan seperti bagian dari keluarga.
Sementara itu, Arya masih berdiri di ambang pintu, melirik kamar itu dengan tatapan tidak terima. "Aku tetap merasa dikhianati."
Pak Harun hanya tertawa. "Anggap saja ini hukuman kecil karena selama ini kau terlalu santai."
Raya menatap Arya yang masih menggerutu dan semakin geli. Siapa sangka pria dingin ini ternyata bisa sekekanak-kanakan ini ketika menyangkut hal-hal remeh? Ia mengira hidup di rumah ini akan penuh tekanan, tetapi sepertinya, justru akan lebih berwarna dari yang ia bayangkan.