Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DAPUR YANG TERLALU PANAS
Sore itu dapur terasa lebih hangat dari biasanya.
Matahari yang mulai turun masuk lewat jendela kecil di atas wastafel, memberi cahaya keemasan di ruangan. Rumah sunyi. Dari kamar hanya terdengar napas halus Ziyo yang masih tertidur pulas setelah seharian bermain.
Anela berdiri di depan meja dapur, masih memegang gelas air.
Ia bahkan belum sempat meminumnya ketika Rico mendekat dari belakang.
Langkah pria itu pelan… tapi penuh niat.
Ketika Rico berhenti tepat di belakangnya, Anela sudah bisa merasakan panas tubuhnya bahkan sebelum disentuh.
“Dia tidur?” bisik Anela tanpa menoleh.
“Pulas.”
Sunyi sejenak.
Lalu tangan Rico perlahan menyentuh pinggangnya.
Sentuhan itu ringan… tapi membuat napas Anela langsung berubah.
“Rico…” bisiknya pelan, setengah peringatan, setengah menyerah.
Namun Rico tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya menarik tubuh Anela sedikit ke belakang sampai punggungnya bersandar ke dada Rico.
Bibir pria itu menemukan leher Anela.
Ciuman pertama sangat pelan.
Hampir seperti uji coba.
Namun ketika Anela menghela napas panjang dan sedikit memiringkan kepalanya… Rico tahu ia tidak perlu berhenti.
Ciuman berikutnya lebih lama.
Lebih hangat.
Bibirnya menyusuri lekuk leher Anela dengan perlahan, membuat perempuan itu tanpa sadar mencengkeram pinggir meja dapur.
“Rico…” napasnya terdengar lebih berat sekarang.
Rico mengangkat wajahnya sedikit, menatap Anela yang sudah setengah memejamkan mata.
“Aku sudah terlalu lama menahan diri,” gumamnya rendah.
Anela tidak menjawab.
Ia hanya menoleh sedikit… cukup untuk memberi ruang ketika Rico kembali mendekat.
Ciuman di lehernya berubah lebih dalam, lebih lama, membuat tubuh Anela merinding.
Rico kemudian memutar tubuhnya perlahan sampai mereka saling berhadapan.
Jarak mereka nyaris tidak ada.
Tatapan mereka bertemu sejenak… sebelum Rico kembali menciumnya.
Kali ini lebih dalam.
Lebih penuh.
Anela menariknya lebih dekat, seolah tidak ingin memberi jarak lagi.
Rico mengangkatnya duduk di atas meja dapur, Anela sempat tertawa pelan karena meja itu sedikit bergeser.
“Pelan…” bisiknya sambil menahan napas.
“Kalau Ziyo bangun—”
Rico menempelkan jarinya ke bibir Anela.
“Tenang.”
Namun justru ketegangan itu yang membuat semuanya terasa lebih panas.
Rico berdiri di antara kedua kaki Anela.
Tangannya bergerak naik ke punggungnya, menarik tubuh Anela lebih dekat ke dadanya.
Ciuman mereka terputus ketika Rico menundukkan wajahnya lagi ke leher Anela.
Napas hangat pria itu membuat kulit Anela merinding sebelum bibirnya kembali menyentuh kulitnya.
Anela memejamkan mata.
Tangannya berpindah ke rambut Rico.
Ketika Rico menurunkan wajahnya lebih jauh, Anela menarik napas pelan yang hampir berubah menjadi desahan—lalu buru-buru menutup mulutnya sendiri.
Rico tertawa kecil di sela napasnya.
“Pelan,” bisik Anela.
“Kamu yang membuatnya sulit,” jawab Rico rendah.
Ia mengangkat wajahnya lagi, menatap Anela beberapa detik… seolah menikmati ekspresi perempuan itu yang sudah kehilangan ketenangan biasanya.
Jari Rico menyentuh dagunya lembut.
“Sekarang kamu tidak mau menyuruhku berhenti?” tanyanya.
Anela menatapnya balik.
Matanya sedikit gelap… tapi juga hangat.
“Kalau kamu berhenti sekarang…” bisiknya pelan.
“…aku mungkin akan marah.”
Rico tersenyum tipis.
Kalimat itu cukup untuk membuat semua sisa kesabarannya hilang.
Ia menarik Anela ke dalam pelukan lagi, mencium bibirnya dengan lebih dalam.
Dapur yang sunyi itu kembali dipenuhi napas yang saling bertabrakan dan tawa kecil yang tertahan—karena setiap beberapa detik mereka masih ingat bahwa seorang anak kecil sedang tidur tidak jauh dari sana.
Dan justru karena harus menahan suara itulah…
semuanya terasa jauh lebih panas.
Rico menciumi Anela dengan begitu rakus, seperti bertemu makanan yang telah lama tak ia lihat. Kini leher Anela menjadi sasaran favorit Rico. Ia menikmati setiap lekukan leher Anela, terus kebawah hingga sampai tempat favorit Rico lainnya. Anela begitu menikmati sentuhan itu sehingga membuatnya tak sadar menggeliat dan membusungkan dadanya. Dua bukit kembar itu tampak penuh dan seakan menantang untuk dimainkan.
Rico tak lagi mampu menyembunyikan tatapannya.
Tangannya naik perlahan, menyusuri garis bahu Anela sebelum berhenti di tepian kain yang membatasi kulit dan hasrat. Dengan gerakan pelan, ia mulai menyingkap bagian atas pakaian Anela.
Anela tidak menghentikannya.
Kain itu terangkat, menyisakan bra berwarna merah terang sexy.
Dua bukit kembar dengan lekuk indah itu pun tersingkap dalam balutan renda yang masih setia memeluknya. Rico menurunkan bagian cup bra Anela ke bawah. Menampilkan dua bukit kembar yang ujungnya menantang. Bukannya terbuka sepenuhnya, justru setengah tertutup seperti itu membuatnya semakin menggoda—ditopang lembut oleh bra yang kontras dengan kulitnya.
Rico menghela napas pelan.
“Anela…” suaranya berubah berat.
Tatapannya bukan hanya penuh hasrat—tapi juga kagum melihat dua bukit kembar yang indah menantang dihadapannya.
Anela merasakan panas menjalar ke pipinya. Namun alih-alih menutup diri, ia justru mengangkat dagunya sedikit, seolah menantang pria di hadapannya untuk melanjutkan.
Rico tersenyum tipis.
Tangannya belum menyentuh lebih jauh, tapi jemarinya sudah bergerak perlahan di tepi kain, mengusap ujung bukit kembar itu perlahan. "Emhhhh...." desahan nikmat itu lolos begitu saja, Sentuhan ringan dengan ritme yang pas itu justru lebih menyiksa—lebih membuat napas Anela tak teratur.
Kini wajah Rico mendekat dan tak sabar langsung menangkup salah satu ujung bukit kembar itu dengan mulutnya, memainkannya dengan ritme taratur, membuat pemiliknya benar-benar kehilangan kendali.
Setiap desah yang hampir keluar langsung ditekan kembali. Anela menggigit bibirnya saat Rico memainkan kedua bukit kembarnya dengan lebih intens, menghisapnya sesekali. Anela refleks menutup mulut dengan tangan sesaat, berusaha menelan suara yang hampir lolos.
Sentuhan Rico semakin berani.
Jemarinya bergerak pelan, teratur, menguji batas kendali Anela. Desahan kecil lolos sebelum sempat ia tahan. Napasnya mulai tidak beraturan, dadanya naik turun cepat.
“Rico…” bisiknya, setengah peringatan, setengah permintaan.
Rico mendekat, wajahnya tenggelam di lekuk tubuh Anela. Ia tidak tergesa—justru menikmati setiap reaksi kecil yang ia ciptakan. Setiap getar napas, setiap gerakan refleks yang tak bisa disembunyikan.
Anela menggigit bibirnya keras-keras agar tidak bersuara.
Di ruang sebelah, Ziyo masih tertidur.
Itu yang membuat semuanya terasa lebih gila.
Lebih panas.
Rico mengangkat wajahnya sebentar, matanya gelap oleh keinginan. Tangannya meluncur turun, memastikan apa yang sudah ia rasakan dari getaran tubuh Anela.
“Nel…” suaranya berat.
Anela hanya bisa menatapnya dengan mata yang sudah setengah kehilangan fokus.
Ia tahu ini berisiko. Ia tahu ini nekat.
Tapi tubuhnya sudah terlalu jauh untuk mundur.
Rico mulai menurunkan celananya, dalam satu hentakan, dan memperlihatkan miliknya yang sudah tegang sempurna. Ia lanjut menarik Anela lebih dekat, dan perlahan menarik kain segitiga tipis yang menghalangi. Gerakannya cepat tapi tetap hati-hati. Tidak ada pakaian yang benar-benar dilepas sepenuhnya—semuanya serba setengah, serba terburu, serba diam-diam.
Dan justru itu yang membuat darah mereka berdesir lebih kencang.
Rico menyentuh lutut Anela untuk membuka pahanya lebih lebar, dia tau Anela siap menerimanya.
Rico mulai melakukan penyatuan, menusuknya perlahan dan hati-hati. Perbedaan tubuh mereka cukup terasa—Anela yang kecil dan mungil, sementara Rico tinggi dan atletis. Karena itu ia menahan diri, menyesuaikan setiap gerakan agar Anela tidak merasa tertekan oleh ukuran tubuhnya.
Saat milik Rico benar-benar menyatu dengannya, Anela menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara yang hampir pecah. Suara yang berasal dari kenikmatan saat penyatuan baru dimulai memang tidak tertahankan. Kepalanya sedikit terangkat, punggungnya melengkung, menyesuaikan milik Rico yang sudah sepenuhnya masuk. Rico mulai bergerak, Anela mulai menikmati ritme yang Rico berikan—cepat tapi terkontrol.
“Pelan…” bisiknya terputus-putus.
“Kalau pelan kamu makin berisik,” jawab Rico lirih, hampir tertawa.
Anela memukul bahunya pelan, tapi tubuhnya justru mengikuti setiap gerakan. Ritmenya semakin intens, semakin dalam, namun tetap tertahan. Setiap hentakan kecil disertai napas yang ditelan paksa.
Milik Anela terasa penuh dengan milik Rico.
Anela baru benar-benar menyadari sesuatu ketika tubuhnya mulai terbiasa dengan kedekatan itu. Sensasi penuh yang ia rasakan membuatnya sempat membuka mata perlahan.
Ia melirik Rico yang berada sangat dekat dengannya—bahu lebar, tubuh tinggi dan kuat yang selama ini hanya ia lihat sebagai sosok atlet di lapangan. Baru sekarang ia benar-benar merasakan betapa besar dan kuatnya pria itu. Di dalam hatinya Anela hampir tertawa kecil.
Pantes saja kemarin sempet bikin agak ngilu, pikirnya. Ternyata… segede itu.
Namun bukannya takut, kesadaran itu justru membuat Anela semakin menyadari sesuatu yang lain—Rico sejak tadi begitu hati-hati. Setiap gerakan pria itu terasa ditahan, seolah ia benar-benar berusaha menyesuaikan diri dengan tubuh Anela yang jauh lebih kecil.
Rico menatap wajahnya, seakan bisa membaca perubahan ekspresi itu. “Kenapa?” tanyanya pelan.
Anela tersenyum tipis. “Jangan ditahan,” gumamnya pelan, sedikit malu.
Rico semakin meningkatkan tempo gerakan penyatuan, maju mundur, membuat meja dapur kembali berderit.
Keduanya membeku sepersekian detik.
Sunyi.
Tidak ada suara dari ruang tamu.
Rico menunduk, keningnya menempel di bahu Anela, mencoba mengatur napas. Tapi Anela justru menariknya kembali.
“Jangan berhenti,” bisiknya hampir tanpa suara.
Kalimat itu cukup untuk membuat Rico kehilangan sisa kontrolnya.
“Kamu yang minta,” gumamnya.
Ia kemudian memeluk Anela lebih erat, menjaga tubuh mungil wanita itu tetap stabil di depannya. Gerakan mereka kembali menemukan ritme—lebih hidup dari sebelumnya, namun tetap berhati-hati agar suara mereka tidak terlalu terdengar.
Tangan Anela mencengkeram bahunya, kukunya sedikit menekan kulit, menahan diri agar tidak bersuara keras.
Ketegangan itu akhirnya pecah dalam gelombang yang membuat keduanya hampir tak mampu berdiri.
Anela menahan teriakannya dengan menggigit bibir Rico.
Rico memejamkan mata, napasnya berat, tubuhnya gemetar menahan suara.
Beberapa detik kemudian, mereka terdiam.
Hanya suara napas yang masih tersisa.
Lalu—
Mereka saling menatap. Milik mereka masih menyatu. Dan itu tampak... Sexy.
Dan tiba-tiba tertawa tertahan.
“Ini gila,” bisik Anela, wajahnya memerah.
“Banget,” jawab Rico, masih terengah.
Anela menyandarkan dahinya di dada Rico. “Kalau Ziyo bangun tadi…”
“Aku langsung lari lewat jendela,” sahut Rico cepat.
Anela terkekeh pelan, masih menahan napas.
Sudah lama ia tidak merasakan sesuatu seintens ini. Bukan cuma secara fisik—tapi juga rasa hidup yang tiba-tiba kembali menyala.
Rico mengusap pipinya lembut.
“Worth it?” tanyanya pelan.
Anela tersenyum tipis, mata masih berkilat.
“Setimpal.”
Dan di dapur kecil itu—dengan risiko, tawa tertahan, dan jantung yang masih berdebar—keduanya tahu, ini bukan sekadar pelarian.
Ini candu.
Dan mereka sama-sama tidak benar-benar ingin berhenti.
---------