NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakek Soedjoyo Sekarat

Mata Renatta hampir melotot keluar. Ia lebih terkejut daripada malu karena Hans bisa mengetahui begitu banyak tentang kondisi kesehatannya hanya dengan melihat lidahnya. Mulai dari migrain hingga diare, semuanya tepat.

Apa pria itu memang sehebat itu, atau hanya kebetulan menebak dengan benar?

“Ada banyak hal yang bisa kamu ketahui tentang seseorang cuma dengan melihatnya,” kata Hans santai.

“Sekarang kamu percaya, Renatta?” Maureen tersenyum. Dalam hati ia juga menghela napas lega. Syukurlah Hans benar-benar tahu apa yang dia lakukan.

“Dia cuma lagi hoki!” Renatta menolak kalah.

“Maaf, Tuan Rinaldi, dia memang keras kepala. Tolong abaikan saja,” kata Maureen dengan nada menyesal.

“Gak apa. Kita mulai saja?”

Hans tidak mempermasalahkan sikap Renatta. Ia berjalan ke arah Soedjoyo dan memeriksanya dengan saksama. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui apa yang terjadi. Jelas sekali lelaki tua itu telah diracuni.

Racunnya cukup kuat. Untungnya ditemukan lebih awal, jadi masih bisa diselamatkan. Seandainya terlambat satu atau dua hari lagi, ia sudah terbaring di kamar mayat.

“Nona Wiraningrat, bisa minta jarum akupunktur perak?” tanya Hans.

“Tentu.”

Maureen memberi isyarat tangan. Salah satu pengawalnya segera keluar. Lima menit kemudian, ia kembali membawa satu set jarum akupunktur.

“Terima kasih.”

Hans mengangguk, lalu mulai membuka kemeja lelaki tua itu. Ia lebih dulu mengetuk perutnya dengan kuku jari untuk memastikan titik yang tepat, lalu mulai menancapkan jarum pada titik tekanan yang benar.

Gerakannya ringan namun mantap, tangannya bergerak cekatan. Dengan keahliannya, pasien tidak akan merasakan sakit.

Melihat itu, Maureen terkejut.

“Dia hebat.”

Ia tidak terlalu memahami akupunktur sebagai praktik medis, tetapi ia mengenal beberapa ahli di bidang itu. Dari apa yang dilihatnya, para ahli tua itu tidak ada apa-apanya dibanding Hans.

Gerakannya menunjukkan pengalaman dan bakat seorang tabib yang telah bertahun-tahun berlatih. Ia jadi penasaran dengan pria ini.

Setelah keenam belas jarum terpasang, Hans menghela napas lega. Sudah lama sejak terakhir kali ia melakukan akupunktur, tetapi untungnya ia masih terbiasa.

“Cuma segitu? Gak ada yang berubah!” Renatta tampak bingung.

“Kakek kamu diracuni. Butuh sekitar dua jam untuk menguras racun dari tubuhnya. Jangan cabut jarumnya sebelum dua jam selesai, atau bisa muncul efek samping serius.”

Renatta mengerucutkan bibir. “Kenapa aku harus percaya sama kamu?”

“Renatta!”

Maureen menatap tajam adiknya.

“Aku ke kamar mandi sebentar. Tolong jaga dia,” kata Hans sebelum keluar ruangan.

Tak lama setelah ia pergi, sekelompok dokter masuk dengan tergesa. Mereka adalah beberapa dokter paling terampil di rumah sakit itu. Seorang pria botak memimpin rombongan.

“Hei! Kalian siapa?” Renatta menyilangkan tangan.

“Nama saya Setto. Saya direktur eksekutif rumah sakit sekaligus dekan fakultas kedokteran. Saya datang atas perintah untuk merawat Tuan Wiraningrat,” pria botak itu memperkenalkan diri.

“Oh, Anda Dokter Setto yang terkenal itu? Dokter terbaik di Jakarta!” Renatta tampak sangat gembira.

“Lebih tepatnya salah satu yang terbaik,” kata Dr. Setto dengan bangga. “Tapi benar, saya orangnya.”

“Senang bertemu dengan Anda, Dokter Setto. Tolong selamatkan kakek saya.”

Renatta segera menyingkir memberi jalan. Jelas ia lebih percaya pada Dokter Setto dibanding pria muda seperti Hans.

“Tentu.” Dr. Setto mengangguk. Namun saat mendekati tempat tidur, ia mengernyit. “Jarum-jarum ini apa? Omong kosong apa ini?”

Sambil berbicara, ia hendak mencabut jarum-jarum itu.

“Tunggu!” Maureen segera menghentikannya.

“Apa lagi?” tanya Dr. Setto kesal.

“Dokter Setto, saya sudah memanggil tabib lain. Dia bilang kakek saya diracuni. Jarum-jarum ini tidak boleh dilepas sebelum waktunya karena bisa menimbulkan efek samping serius.”

“Omong kosong!” Dr. Setto mendengus meremehkan. “Kalau jarum bisa menyembuhkan penyakit, untuk apa ada dokter?”

“Betul!” sahut Renatta. “Maureen, Hans itu kelihatan masih dua puluh tahun. Mana mungkin dia tabib hebat? Jangan bilang kamu percaya sama omongan ngawurnya.”

“Terus kamu jelasin gimana dia bisa tahu kamu lagi diare cuma dengan melihat lidahmu?” balas Maureen.

“Itu … itu cuma kebetulan!” kata Renatta cepat.

“Nona Wiraningrat, semua dokter terbaik di Jakarta ada di sini. Saya tidak tahu siapa orang yang Anda panggil tadi, tapi saya yakin dia hanya menipu Anda. Apa Anda benar-benar mengira dokter-dokter terlatih secara profesional kalah dari orang sembarangan di jalanan?” ujar Dr. Setto. “Saya paham Anda khawatir pada Tuan Wiraningrat, tapi jangan percaya takhayul seperti ini. Itu hanya akan memperburuk keadaan.”

“Benar! Dokter Setto sudah menyelamatkan banyak orang. Tenang saja, Tuan Wiraningrat pasti aman di tangan beliau!” para dokter lain ikut menyahut.

Keyakinan mereka membuat tekad Maureen mulai goyah. Namun ia tetap berkata, “Kita tunggu sampai Tuan Rinaldi kembali.”

“Ngapain nunggu dia?” potong Renatta. “Siapa tahu dia sudah kabur, Maureen!”

“Nona Wiraningrat, saya orang sibuk. Saya tidak akan membuang waktu lebih lama lagi di sini. Kalau saya cabut jarum-jarum ini dan terjadi sesuatu pada Tuan Wiraningrat, biar saya yang tanggung.”

Tanpa menunggu persetujuan, Dr. Setto langsung mencabut semua jarum.

Begitu jarum terakhir terlepas, sesuatu yang aneh terjadi.

Tubuh Soedjoyo tiba-tiba kejang. Wajahnya berubah menghitam, darah menyembur dari hidung dan mulutnya. Mesin-mesin di samping ranjang mulai berbunyi nyaring.

“Apa yang terjadi?” Dr. Setto terkejut melihat perubahan mendadak itu.

“Ini apa, Dokter Setto?” Maureen mengernyit.

“Ini aneh … tadi dia baik-baik saja .…” Suara Dr. Setto terdengar tidak yakin.

“Dok, pasiennya henti jantung!”

“Cepat, siapkan alatnya!”

Tanpa menunda, Dr. Setto segera melakukan resusitasi darurat. Namun meski sudah berusaha keras, kondisi Soedjoyo tidak membaik. Justru tanda-tanda vitalnya terus menurun tanpa kendali. Kepanikan mulai terlihat jelas di wajah Dr. Setto.

“Nona Wiraningrat, saya rasa … saya rasa Tuan Wiraningrat … sekarat .…”

“Apa?” Maureen dan Renatta sama-sama terkejut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!