"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31. Sisa Debu di Atap Sekolah
Langkah kaki Hana Tanaka terdengar sangat pelan saat dia memasuki gerbang utama sekolah pada Senin pagi yang sangat dingin. Matahari musim gugur bersinar dengan sangat terang namun cahayanya tidak mampu memberikan kehangatan bagi tubuh Hana yang kurus.
Dia merapatkan jaket seragamnya yang sudah mulai menipis di bagian siku karena terlalu sering dicuci secara manual. Aroma cairan pembersih lantai yang sangat menyengat langsung menusuk hidung Hana saat dia melewati koridor utama. Beberapa siswa menatap Hana dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan oleh pikiran Hana saat ini.
Mereka tahu bahwa Hana adalah gadis yang baru saja mengguncang sistem pendidikan melalui keberaniannya di pengadilan. Namun suasana di sekolah sama sekali tidak terasa seperti suasana kemenangan yang penuh dengan pesta pora.
Hana merasakan sebuah beban yang sangat berat kembali menghimpit pundaknya saat dia melihat papan pengumuman sekolah yang besar. Di sana tertempel sebuah selebaran resmi dari kementerian pendidikan mengenai pemotongan anggaran kegiatan ekstrakurikuler.
Pemerintah pusat memutuskan untuk mengalihkan dana pendidikan bagi remaja untuk membiayai layanan kesehatan warga lansia. Fenomena demokrasi perak ini benar-benar terasa sangat nyata dan juga terasa sangat menyakitkan bagi masa depan Hana.
Dia menyadari bahwa kemenangan hukum kemarin hanyalah sebuah goresan kecil di atas tembok kekuasaan yang sangat tebal. Struktur masyarakat Jepang tetap lebih memihak pada mereka yang sudah tua dan memiliki kekuatan finansial yang besar. Hana menundukkan kepalanya dan dia terus berjalan menuju kelasnya dengan perasaan yang sangat hampa dan juga sunyi.
Pelajaran sosiologi di jam pertama terasa sangat membosankan dan juga terasa sangat menyesakkan dada Hana pagi ini. Sang guru menjelaskan tentang teori mobilitas sosial dengan nada suara yang sangat datar dan juga tidak memiliki semangat.
Hana hanya menatap buku teksnya tanpa ada niat untuk mencatat satu kata pun ke dalam buku tulisnya. Dia melihat ke arah jendela dan dia melihat beberapa burung gagak sedang bertengger di atas dahan pohon sakura yang kering. Burung-burung itu terlihat sangat tenang seolah-olah mereka tidak memiliki beban hidup seperti yang dirasakan oleh para remaja.
Hana merindukan saat-saat di mana dia bisa tertawa lepas tanpa harus memikirkan harga sepotong roti untuk makan malam. Dia merasa bahwa sistem gacha kehidupan ini sedang mencoba untuk menelan seluruh impian yang selama ini dia bangun.
Bel istirahat pertama berbunyi dengan suara yang sangat melengking dan juga sangat mengganggu pendengaran setiap siswa di sana. Hana segera bangkit dari tempat duduknya dan dia berjalan menuju pintu belakang kelas dengan gerakan yang sangat cepat.
Dia ingin segera sampai di atap sekolah untuk menghirup udara segar yang bebas dari bau debu ruangan kelas. Pintu besi menuju atap sekolah mengeluarkan suara decit yang sangat nyaring saat Hana menarik gagang pintunya yang berkarat. Di sana dia menemukan Kaito Fujiwara yang sedang berdiri membelakangi pintu sambil menatap ke arah pemandangan kota.
Kaito terlihat sangat kuyu dan juga terlihat sangat berantakan dengan seragam yang sengaja tidak dia kancingkan. Dia tidak lagi terlihat seperti seorang pangeran sekolah yang memiliki segalanya di dalam genggaman tangannya.
"Dunia ini ternyata tidak berubah sedikit pun meskipun kita sudah berjuang sampai berdarah," ujar Kaito dengan nada suara yang sangat parau.
Hana berjalan mendekati pagar kawat dan dia berdiri tepat di samping Kaito tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia bisa mencium aroma asap rokok yang sangat tipis dari arah baju Kaito yang berwarna biru tua. Kaito menceritakan bahwa ayahnya masih terus mencoba untuk mengendalikan hidupnya dari balik jeruji besi penjara.
Beberapa kolega politik ayahnya bahkan mulai mengintimidasi keluarga Kaito agar mereka tetap bungkam mengenai rahasia aliran dana gelap. Kaito merasa sangat lelah karena dia harus menanggung dosa-dosa yang sebenarnya dilakukan oleh orang tuanya sendiri.
Dia merasa bahwa dia lahir dari undian gacha kehidupan yang sangat salah dan juga sangat terkutuk. Hana memegang tangan Kaito yang terasa sangat dingin untuk memberikan sedikit kekuatan batin bagi sahabatnya tersebut.
Tak lama kemudian Akane Sato dan juga Ren Ishida muncul dari balik pintu atap sekolah dengan wajah yang sangat serius. Akane membawa ponsel pintarnya dan dia menunjukkan sebuah tren baru yang sedang berkembang di media sosial Twitter.
Banyak warga senior yang memberikan komentar negatif terhadap aksi protes remaja yang dianggap tidak menghormati tradisi lama. Mereka menuduh generasi Hana sebagai generasi yang sangat lemah dan juga generasi yang hanya bisa mengeluh saja. Ren Ishida menggebrak pagar kawat dengan tangan kanannya hingga menimbulkan suara dentuman besi yang sangat keras.
Lutut kiri Ren mulai berdenyut sakit kembali karena dia terlalu banyak berdiri selama jam pelajaran olahraga tadi pagi. Dia merasa sangat marah karena impian atletiknya hancur di tengah sistem yang tidak memberikan kesempatan kedua bagi mereka.
Yuki Nakamura datang paling terakhir dengan membawa sebuah laptop kecil yang tersembunyi di dalam tas ranselnya yang besar. Dia duduk di lantai semen yang berdebu dan dia segera membuka laptop tersebut untuk menunjukkan sebuah data rahasia.
Yuki berhasil meretas server internal sekolah dan dia menemukan daftar siswa yang akan mendapatkan pengurangan beasiswa prestasi. Nama Hana Tanaka berada di urutan teratas dalam daftar tersebut karena latar belakang ekonominya dianggap tidak stabil. Pihak sekolah lebih memilih untuk memberikan beasiswa kepada siswa yang berasal dari keluarga yang memiliki koneksi politik kuat.
Hana merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat setelah dia membaca namanya di layar laptop milik Yuki. Dia merasa bahwa kerja kerasnya selama ini untuk mendapatkan nilai sempurna telah dikhianati oleh birokrasi yang korup.
Akane Sato segera mengambil foto daftar tersebut dan dia berencana untuk mengunggahnya ke aplikasi BeReal miliknya. Dia ingin menunjukkan sisi kusam dari kehidupan sekolah yang selama ini dianggap sangat adil dan juga sangat harmonis.
Akane ingin dunia melihat bahwa kecurangan sistem gacha kehidupan masih terus berlangsung di bawah meja para pejabat. Namun Kaito Fujiwara segera menahan tangan Akane agar Akane tidak melakukan tindakan yang sangat gegabah tersebut sekarang. Dia mengingatkan bahwa mereka sedang diawasi dengan sangat ketat oleh pihak keamanan sekolah yang baru saja diperketat.
Jika mereka salah langkah sedikit saja maka mereka semua akan langsung dikeluarkan dari sekolah tanpa ada ampun. Mereka harus menyusun sebuah strategi yang jauh lebih matang agar serangan mereka kali ini bisa benar-benar mematikan.
Suasana di atap sekolah menjadi sangat tegang dan juga menjadi sangat sunyi selama beberapa menit yang terasa sangat lama. Mereka berlima hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan penuh rasa putus asa yang sangat mendalam.
Angin musim gugur bertiup semakin kencang dan juga membawa aroma hujan yang akan segera turun membasahi bumi. Hana menatap langit yang berwarna abu-abu dan dia merasa bahwa hidupnya sedang berada di ujung tanduk yang tajam. Dia harus segera mencari cara untuk mempertahankan beasiswanya agar dia bisa tetap melanjutkan sekolah ke tingkat universitas.
Dia tidak ingin berakhir menjadi pekerja kasar di jalanan seperti yang dialami oleh banyak remaja di distrik Shinjuku. Perjuangan mereka kali ini bukan lagi tentang menjatuhkan satu orang tetapi tentang melawan seluruh sistem yang ada.
Hana Tanaka memutuskan untuk pulang lebih awal dengan alasan sakit kepala yang sangat hebat kepada wali kelasnya. Dia berjalan menyusuri jalanan distrik Shibuya yang sangat ramai dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Dia melihat banyak iklan besar yang menampilkan wajah-wajah politisi tua yang menjanjikan kemakmuran bagi rakyat Jepang. Hana merasa sangat mual saat melihat senyuman palsu para politisi tersebut di atas layar reklame yang sangat terang. Dia memilih untuk masuk ke dalam sebuah gang sempit yang menuju ke arah kedai ramen langganannya yang sangat murah.
Di sana dia bertemu dengan seorang remaja perempuan yang sedang duduk sendirian sambil memegang sebuah botol minuman keras. Remaja tersebut terlihat sangat kotor dan juga memiliki tatapan mata yang sangat kosong seperti orang yang kehilangan jiwa.
Hana memberikan sepotong roti melon yang baru saja dia beli kepada remaja perempuan tersebut dengan gerakan yang sangat sopan. Remaja itu menerima roti tersebut dengan tangan yang gemetar dan dia langsung memakannya dengan sangat rakus sekali.
Hana menyadari bahwa dia sedang melihat cermin dari masa depannya jika dia tidak segera melakukan sebuah tindakan nyata. Masalah gacha kehidupan ini telah menciptakan jurang pemisah yang sangat lebar antara mereka yang berkuasa dan mereka yang tertindas. Hana merasa bahwa dia memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan penderitaan para remaja yang selama ini dibungkam.
Dia mengambil ponselnya dan dia mulai menuliskan sebuah draf surat terbuka untuk seluruh siswa di sekolahnya. Dia ingin mereka semua sadar bahwa mereka sedang dipimpin oleh orang-orang yang hanya peduli pada kepentingan pribadi saja.
Malam itu Hana tidak bisa tidur karena pikirannya terus melayang memikirkan nasib beasiswanya yang sedang berada di ujung tanduk. Dia duduk di depan meja belajarnya yang kecil sambil terus menuliskan setiap poin kecurangan yang ditemukan oleh Yuki. Dia merasa bahwa dia sedang menyusun sebuah bom waktu yang akan meledakkan kedamaian semu di sekolahnya nanti.
Hana menatap foto ayahnya yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya dan juga ibunya yang sangat renta. Dia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menyerah pada keadaan yang sangat sulit ini.
Dia akan terus berjalan maju meskipun dia harus melewati jalanan yang penuh dengan duri dan juga penuh dengan rintangan. Cahaya lampu dari luar apartemennya menciptakan bayangan panjang di atas dinding kamarnya yang sangat kusam dan berlumut.
Pagi berikutnya Hana sampai di sekolah dengan tekad yang jauh lebih kuat dan juga jauh lebih bulat dari sebelumnya. Dia berjalan menuju area loker sepatu untuk mengganti sepatunya sebelum dia masuk ke dalam area koridor kelas.
Saat dia membuka loker sepatunya Hana menemukan sebuah amplop berwarna merah darah yang terselip di antara sepatu olahraganya. Tidak ada nama pengirim di bagian depan amplop tersebut namun ada sebuah stempel resmi dari komite sekolah. Hana membuka amplop itu dengan tangan yang sangat gemetar karena dia merasa ada sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.
Di dalam amplop tersebut terdapat sebuah surat panggilan resmi dari kepala sekolah untuk menghadap ke ruang sidang disiplin. Surat itu menyatakan bahwa Hana dituduh telah melakukan pencurian data rahasia milik kementerian pendidikan secara ilegal.
Hana merasakan lututnya menjadi sangat lemas dan dia hampir saja jatuh tersungkur ke atas lantai semen yang dingin. Dia melihat ke arah ujung koridor dan dia melihat wali kelasnya sedang berdiri bersama dua orang petugas keamanan sekolah.
Mereka menatap Hana dengan tatapan yang sangat dingin dan juga tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun. Hana menyadari bahwa pihak sekolah telah mengetahui rencana mereka untuk membongkar kecurangan beasiswa tersebut lebih awal. Seseorang di antara mereka berlima mungkin telah mengkhianati kepercayaan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah.
Hana menatap surat merah itu dengan penuh rasa takut yang sangat hebat dan juga rasa tidak percaya. Dia tidak tahu apakah dia akan bisa keluar dari situasi yang sangat berbahaya ini dengan selamat.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍