NovelToon NovelToon
Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.

Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.

Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Sampai Kota Qingshui

Hari ketiga perjalanan mereka diawali dengan kabar baik: kabut yang selama ini menyelimuti hutan mulai menipis.

Semakin dekat mereka ke batas barat Hutan Kabut Abadi, kabut itu semakin jarang terlihat. Cahaya matahari kini menembus lebih jelas di antara pepohonan, membuat arah perjalanan jauh lebih mudah.

“Kita hampir sampai,” ujar Zhou Ming sambil menunjuk ke depan. “Lihat itu? Pohon-pohonnya sudah mulai jarang. Itu tanda kita sudah mendekati wilayah kehidupan manusia.”

Memang benar. Pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi perlahan tergantikan oleh pepohonan yang lebih kecil. Tanah di bawah kaki mereka pun berubah, dari tanah hutan yang lembap dan lunak menjadi permukaan yang lebih kering serta padat.

Lin Feng juga merasakan perubahan pada aliran Qi di udara. Tidak lagi liar dan kacau seperti di kedalaman hutan, melainkan lebih stabil. Qi yang telah lama dipengaruhi oleh keberadaan manusia.

“Berapa lama lagi?” tanya Yue Chen, yang kondisinya sudah jauh membaik meski masih terlihat sedikit pucat.

“Sekitar dua jam,” jawab Chen Hao sambil melirik posisi matahari. “Itu pun kalau kita terus berjalan tanpa berhenti.”

“Ayo kita percepat,” kata Yue Lian dengan nada bersemangat. “Aku sudah tidak sabar tidur di kasur dan makan makanan yang enak..”

Kelompok itu tertawa. Bahkan Lin Feng tak bisa menahan senyum kecilnya.

Mereka mempercepat langkahnya, semangat baru mengalir seiring harapan akan kota yang sudah begitu dekat.

Tak lama kemudian, Kota Qingshui muncul di kejauhan, berkilau seperti permata di tepi Danau Giok.

Lin Feng berhenti sejenak di puncak bukit terakhir sebelum menuruni dataran kota. Pandangan di hadapannya membuatnya terdiam.

Kota itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Tembok batu setinggi hampir sepuluh meter mengelilinginya, kokoh dan tegas, dengan menara penjaga berdiri di setiap sudut. Gerbang utama terbuat dari kayu tebal yang diperkuat formasi. Bahkan dari kejauhan, Lin Feng masih bisa merasakan aliran qi yang mengalir di dalamnya.

Di balik tembok, bangunan-bangunan berjajar rapi, rumah-rumah penduduk, toko-toko, paviliun, serta beberapa gedung besar yang kemungkinan milik klan atau sekte. Dan di balik semuanya itu, terbentang luas Danau Giok.

Danau raksasa dengan permukaan air berkilau seperti giok di bawah sinar matahari. Perahu-perahu nelayan mengapung tenang, sementara dermaga kayu memanjang dari tepi kota menuju danau. Di tengah danau, berdiri sebuah pulau kecil dengan pagoda tinggi yang memancarkan cahaya spiritual lembut.

“Indah bukan?” kata Yue Lian sambil berdiri di samping Lin Feng. “Aku sudah beberapa kali ke Kota Qingshui, tapi pemandangan ini tidak pernah membosankan.”

“Pagoda itu,” ujar Lin Feng sambil menunjuk ke pulau di tengah danau. “Apa fungsinya?”

“Pagoda Cahaya Giok,” jawab Zhou Ming. “Ikon kota ini. Konon dibangun seribu tahun lalu oleh seorang ahli formasi untuk melindungi kota dari banjir danau. Sekarang menjadi tempat kultivasi bagi kultivator tingkat tinggi yang mendapat izin khusus.”

“Dan juga tempat favorit para pengunjung,” tambah Xu Ling sambil tersenyum. “Banyak yang datang hanya untuk melihatnya dari kejauhan dan mengabadikan pemandangan.”

Lin Feng tidak benar-benar memahami maksud ‘mengabadikan’, namun ia tidak bertanya. Perhatiannya sudah terserap sepenuhnya oleh kota di hadapannya, dan langkah berikutnya yang harus ia ambil.

Setelah memasuki kota, seharusnya ia berpisah dari mereka. Itulah rencana awalnya. Namun kini, setelah tiga hari bersama, gagasan itu terasa aneh. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Jangan terlalu dekat, ia mengingatkan dirinya sendiri. Ini hanya sementara. Mereka punya jalan hidup mereka. Aku punya misiku sendiri.

“Ayo,” kata Chen Hao. “Kita masih harus melewati pemeriksaan di gerbang.”

Gerbang Kota Qingshui dijaga oleh enam prajurit berzirah ringan dengan tombak panjang di tangan. Mereka bukan kultivator hanya prajurit biasa, namun jelas terlatih dan selalu waspada.

“Berhenti,” perintah salah satu dari mereka ketika rombongan mendekat. “tunjukan Identitas dan apa tujuan kalian.”

Zhou Ming melangkah ke depan dan menunjukkan token giok dengan lambang Kuil Cahaya Suci. “Kami dari Kuil Cahaya Suci. Baru kembali dari misi di Hutan Kabut Abadi.”

Prajurit itu memeriksa token tersebut dengan saksama, lalu mengangguk. “Kuil Cahaya Suci dikenal di kota ini. Kalian boleh masuk.” Pandangan prajurit itu kemudian beralih ke Lin Feng yang berdiri sedikit terpisah. “Kalau dia?”

“Teman kami,” jawab Yue Lian cepat. “Dia menolong kami di hutan.”

Prajurit menatap Lin Feng dengan tatapan curiga. “Token identitas?”

Lin Feng menggelengkan kepalanya. “Aku kultivator bebas. Tidak berafiliasi dengan klan atau sekte mana pun.”

“Kultivator bebas dikenakan biaya masuk,” kata prajurit itu datar. “Sepuluh batu roh.”

Sepuluh batu roh?

Lin Feng langsung mengernyit. Ia tidak memiliki batu roh sebanyak itu. Seluruh miliknya hanyalah beberapa batu roh kecil yang tersisa di kantong penyimpanannya, hasil “pinjaman” dari akademi, jumlahnya bahkan tidak mencapai lima.

Sebelum ia sempat membuka mulut, Yue Lian sudah mengeluarkan kantongnya dan menyerahkan sepuluh batu roh kepada prajurit itu.

“Aku yang membayarnya,” katanya tanpa ragu.

“Yue Lian...” Lin Feng hendak menyela.

“Kau menyelamatkan nyawa kami semua,” potong Yue Lian tegas. “Sepuluh batu roh tidak sebanding dengan itu. Anggap saja ini cicilan awal dari hutang nyawa.”

Prajurit menerima batu roh itu, memeriksa keasliannya lalu mengangguk. “Kalian boleh masuk. Tapi ingat, tidak boleh bertarung di dalam kota, dan tidak boleh merusak properti. Pelanggaran akan dihukum berat.”

“Mengerti,” jawab Zhou Ming.

Gerbang besar itu terbuka dengan bunyi derit berat. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Lin Feng melangkahkan kaki ke sebuah kota yang sesungguhnya.

Suasana di dalam Kota Qingshui sangat berbeda dari Hutan Kabut Abadi.

Jalan-jalan dipenuhi manusia, pedagang berteriak menawarkan dagangannya, anak-anak berlarian sambil tertawa, kultivator berjalan dengan langkah angkuh, sementara orang-orang biasa menunduk hormat saat mereka lewat.

Aroma makanan memenuhi udara, roti hangat, daging panggang, sup yang mendidih. Toko-toko berjejer di kedua sisi jalan: pakaian, senjata, ramuan, bahkan toko yang menjual artefak dan harta langka.

Lin Feng menatap sekeliling tanpa henti. Semuanya terasa ramai. Sepuluh tahun di akademi yang relatif sunyi, ditambah tiga hari di hutan yang senyap, membuatnya nyaris asing dengan keramaian seperti ini.

“Pertama kali masuk kota besar ya?” tanya Xu Ling sambil tersenyum melihat ekspresinya.

“Ya,” jawab Lin Feng jujur. “Aku lebih terbiasa dengan tempat yang sepi.”

“Kau akan terbiasa,” kata Xu Ling ringan. “Kota Qingshui sebenarnya tidak terlalu besar. Ini hanya kota menengah.”

Hanya kota menengah?

Lin Feng tak bisa membayangkan seperti apa rupa kota besar yang sesungguhnya.

“Kita harus ke gedung Kuil Cahaya Suci dulu,” ujar Zhou Ming. “Melaporkan misi dan menangani sisa sisa luka.”

“Kalian punya gedung di sini?” tanya Lin Feng.

“Cabang kecil,” jawab Yue Lian. “Sembilan klan besar semuanya punya perwakilan di kota-kota penting. Kota Qingshui berada di jalur perdagangan utama antara utara dan selatan.”

Mereka pun melangkah menyusuri jalanan ramai, menuju distrik para kultivator di bagian timur kota. Di sana, bangunan-bangunan tampak lebih megah dan teratur, masing-masing memajang lambang klan atau sekte dengan kebanggaan yang jelas terlihat.

1
Green Boy
lanjut lagi thor
Green Boy
semangat thor💪💪💪
Green Boy
semangat thor💪💪💪💪
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
Arinto Ario Triharyanto
Yoi, MC terlalu naif, kyknya kalahan ini mah kalo tarung, apalagi sama cewek, Cemen 😄
rozali rozali
lanjut thor.
💪💪💪💪
Muh Nasrun
Thor, kenapa harus mencuri pil hanya utk meningkatkan kultivasinya, ini ga benar, kalaupun bisa tambah kuat tapi dgn cara yg tdk benar.
Arinto Ario Triharyanto
kebanyakan mikir lu Feng 🤣
Celestial Quill: masih belum pede dengan kekuatannya.😄
total 1 replies
Muh Nasrun
Tingkatan ke 3 tetapi bisa bertarung dgn level 8, apa2an ini, terlalu sekali, lebih baij tdk perlu ada level thor, tdk berguna level,kalau di cerita silat yg lainnya itu spt semut ketemu gajah, terlalu jauh rananya.
Celestial Quill: saya luruskan sedikit ya, Zhao Ming yang Lapisan Ketiga kenapa bisa bertarung dengan lapisan keenam atau Kedelapan bukan karena Lapisannya, melainkan karena teknik tempur nya kuat, tetapi ia tidak bisa bertarung dengan lama melawan lapisan yang lebih tinggi, karen Qi yang di milikinya terbatas berbeda dengan Lapisan yang lebih tinggi.🙏
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
bagus, lanjutkan
Celestial Quill: Siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!