Anastasya atau biasa dipanggil Ana, seorang wanita berusia 24 tahun yang tengah mengejar gelar S1.
Pertemuan pertamanya dengan seorang laki laki membuat hidup Ana berubah. Nathaniel Francisco, seorang dosen berusia 30 tahun yang terobsesi dengan dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Ana dan Fitri tengah duduk bersama di kampus, Fitri yang tengah menyantap sarapan sedangkan Ana yang tengah memainkan ponselnya.
Tiba tiba saja Ana teringat oleh Nathan.
" Kemarin Jeremy ke cafe gue Fit "
" Oya ? Terus dia ngapain? Dia pasti minta balikan "
" Hemm, dia mohon sama gue buat balikan sumpah ga ada malunya tuh cowok "
" Terus Na, dia ga macem macem kan ? "
" Engga, kebetulan aja ada Pak Nathan. Ya gue bilang kalau Pak Nathan itu pacar gue "
" Waahh terus terus gimana ? Dia percaya kan ? "
" Entah, semoga aja dia percaya Fit "
" Yaudah sana pacaran beneran aja gih, kayaknya Pak Nathan suka sama lo Na "
" Fit gue ga suka sama Pak Nathan, lagian juga temboknya terlalu tinggi. "
" Maksudnya? Ooohh beda agama ? "
" Hemm " Ana mengangguk
Saat keduanya tengah asik berbincang, terdengar desas desus para mahasiswi yang tengah membicarakan Nathan.
" Padahal hari ini pengen banget ketemu sama Pak Nathan, eh malah ga masuk sakit " ucap salahsatunya
" Iyah nyebelin banget " ucap lainnya
Ana sedikit menoleh, Ana berpikir sakitnya Nathan karena ia tak tidur semalam.
" Pak Nathan sakit apa yah Na " ucap Fitri
" Kayaknya gara gara gue deh Fit, jadi kemarin gue ketiduran di mobil dia dan dia ga tidur karena jagain gue. Jadi ga enak gue Fit "
" Yaudah lo jenguk lah Na, kasian tau "
" Temenin yu Fit "
" Ga bisa gue Na, ada janji sama Mas Angga. Udah lo jenguk sana gih "
Ana berpikir sejenak, apakah ia harus menjenguk Nathan atau tidak.
....
Di apartemen Nathan tengah berbaring sambil memainkan ponselnya, saat ini ia tengah berbalas pesan dengan seseorang.
" Rencana gue berhasil " ucapnya sendiri
Nathan juga mendapatkan kabar jika Ana akan menjenguk dirinya, Nathan pun merapikan penampilannya.
Ana pun sempat bertanya mengenai tempat tinggal dirinya melalui pesan singkat, dengan senang hati Nathan memberikan alamat beserta akses untuk Ana masuk.
Nathan menunggu kedatangan Ana, rasanya Nathan benar benar tak bisa menahan perasaannya kepada Ana.
Ditengah dirinya menunggu, ponsel Nathan berdering panggilan masuk dari Ana.
" Ya Hallo An.. " ucap Nathan dengan suara yang ia buat lemas
" Bapa dimana ya ? Ini saya udah didepan unit Pak Nathan "
" Masuk aja An, saya di kamar "
" Ga apa apa nih pak saya langsung masuk ? "
" Ga apa apa An.. "
Panggilan pun berakhir, Nathan langsung menjalankan sandiwaranya
" Permisi Pak.. " ucap Ana dengan hati hati
" Ya An, masuk " saut Nathan
Ana pun masuk kedalam kamar Nathan, Nathan sangat senang melihat Ana.
" Pak Nathan sakit? " ucap Ana
" Cuma ga enak badan aja An.. "
Dengan hati-hati Ana memegang kening Nathan.
" Anget sih " kata Ana dengan raut wajah yang tak bisa Nathan artikan
" Cuma ga enak badan biasa, kamu kesini sama siapa ? "
" Sendiri, Fitri ada janji sama suaminya. Oiya pak, ini saya ada buah sama kue dimakan ya "
" Waduh kamu repot banget An.. "
" Pak Nathan udah makan ? Saya bawa bubur kalau bapa belum makan "
" Belum sih, habis lemes "
" Bapa bisa makan sendiri atau mau saya bantu? "
" Kalau kamu ga keberatan, saya boleh minta bantuan? "
Ana mengangguk, ia mengeluarkan bubur yang ia beli.
Nathan memposisikan dirinya duduk, sedangkan Ana ia duduk dipinggir ranjang Nathan.
Ana mulai menyuapi Nathan dengan hati-hati, Nathan pun merasa senang mendapatkan perhatian dari Ana.
" Na, makasih ya " ucap Nathan dengan tersenyum
" Tadi An sekarang Na, labil banget "
" Kalau sayang aja gimana ? "
" Itu namanya modus banget "
Nathan terkekeh begitu juga dengan Ana, Nathan terus memperhatikan Ana yang tengah menyuapi dirinya.
" Lain kali istirahat yang cukup ya pak " ucap Ana
" Iyah sayang " jawab Nathan
" Pak Nathan... "
" Apa sayang ? "
" Sekali lagi manggil sayang, saya pulang aja deh "
" Iyah iya engga Na, jangan marah "
Ana mengangguk dan menyuapi bubur itu hingga habis.
" Na.. Kalau mantan kamu masih ganggu kamu bilang sama saya yah "
" Biar Jeremy urusan saya pak, lagian saya juga bukan siapa siapa Pak Nathan "
" Yaudah kalau gitu kita pacaran biar bisa jadi siapanya kamu Na "
Ana menghembuskan nafasnya kasar, ia meletakan bekas bubur diatas meja nakas.
" Pak Nathan itu ga ngerti, ga paham. Saya baru di khianati sama orang yang saya percaya pak, 3 tahun saya jalanin hubungan dan berakhir sia sia. Sekarang Pak Nathan yang belum saya kenal tiba tiba ngajak saya pacaran, bahkan rasa sakit saya aja belum hilang pak. Bapa ga pernah ngerasain di posisi saya, disaat udah sayang sama orang ternyata malah disakitin kayak gini "
" Kata siapa Na ? Na, saya juga pernah di posisi kamu Na. Saya melihat pacar saya tidur sama laki laki lain, dan yang lebih sakit laki laki itu sahabat saya sendiri Na. Saya udah kasih semua yang dia minta, tapi balasannya apa. "
" Saya tau Na kamu dan saya belum saling kenal, maka dari itu izinin saya buat kenal kamu lebih jauh dan biarkan kamu mengenal saya lebih jauh Na "
" Pak Nathan, bukan cuma itu pak. Kita beda pak, bapa paham kan ? "
Nathan mengangguk, ia paham apa yang Ana maksudkan
" Ya paham Na saya sangat paham, tapi kita bisa jalanin dulu Na. Kasih saya waktu Na, kasih saya kesempatan. Kita jalanin dulu ya, saya ga maksa kalau memang kamu tidak punya perasaan kepada saya "
Ana terdiam ia bingung harus menjawab apa, namun di sisi lain memang tak ada salahnya memberikan kesempatan kepada Nathan.
" 2 bulan, saya rasa cukup pak " ucap Ana
" Baik 2 bulan, kalau dua bulan saya gagal saya akan mundur Na "
Nathan percaya jika ia bisa mendapatkan perasaan Ana, dan ia juga bisa meyakinkan Ana.