Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22
Suasana restoran malam ini sangat eksklusif. Denting piano yang dimainkan secara live di sudut ruangan mengiringi gumaman percakapan rendah para pebisnis. Di meja utama Papa dan Ayah Tomi duduk sebagai bintang malam ini.
Mereka dikelilingi oleh tiga atau empat rekan bisnis inti yang juga ikut andil dalam kesuksesan proyek baru ini.
"Luar biasa, Gunawan. Strategi penggabungan modal ini benar-benar jitu," ucap salah seorang pebisnis paruh baya sambil mengangkat gelasnya ke arah Papaku.
Papa tersenyum bangga sesekali melirikku.
"Ini juga berkat bantuan tim internal saya, termasuk putri saya, Hana, yang menangani operasionalnya."
Aku tersenyum sopan dan mengangguk kecil setiap kali namaku disebut atau saat rekan bisnis Papa menyapaku. Di tengah obrolan berat tentang valuasi perusahaan dan ekspansi pasar aku merasa bangga, namun juga ada rasa canggung karena aku adalah salah satu yang termuda di meja ini.
Tomi duduk tepat di sampingku, Meski dia juga sesekali ikut menanggapi pembicaraan ayahnya dengan sangat cerdas dan berwibawa aku bisa merasakan perhatiannya tetap tertuju padaku.
"Makanannya tidak cocok?"
bisik Tomi pelan hampir tak terdengar oleh yang lain, saat melihatku hanya memutar-mutar garpu di atas piring wagyu steak-ku.
"Cocok kok, Tom. Cuma... aku sedikit merasa 'kecil' di antara orang-orang hebat ini," jawabku jujur dengan suara rendah.
Tomi terkekeh pelan, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke arahku.
"Hana, mereka itu membicarakan masa lalu dan masa sekarang. Tapi kamu? Kamu adalah masa depan bisnis Papa kamu. Jangan merasa kecil. Kamu punya kapasitas yang mungkin belum mereka miliki di usiamu."
Dukungan Tomi selalu datang di saat yang tepat. Dia membuatku merasa tidak sendirian di tengah pembicaraan formal yang terkadang membosankan ini.
Beberapa saat kemudian Ayah Tomi mengangkat gelasnya untuk melakukan toast.
"Untuk keberhasilan proyek kita, dan untuk masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak kita!"
Semua orang di meja mengangkat gelas, termasuk aku Kata-kata
"masa depan anak-anak kita"
terasa memiliki makna ganda yang membuat pipiku sedikit memanas.
Aku melirik Tomi, dan pria itu sedang menatapku dengan senyum tipis yang penuh arti.
Setelah sesi makan utama selesai, beberapa pengusaha mulai berdiri untuk saling bertukar kartu nama atau mengobrol dalam kelompok kecil. Tomi kemudian berdiri dan memberi isyarat padaku.
"Ayo, kita cari udara sebentar ke balkon. Papa dan Ayah kelihatannya akan sibuk membahas rencana teknis dengan Pak Surya selama setengah jam ke depan," ajak Tomi.
Aku mengikuti langkahnya menuju balkon restoran yang menghadap langsung ke arah pusat kota. Angin malam menyapu wajahku, membawa rasa lega setelah duduk tegap selama hampir dua jam.
Angin malam berembus lembut membawa aroma tanah basah dan kesejukan yang menenangkan. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana tampak seperti hamparan permata yang tumpah berkilauan cantik menembus kegelapan.
Aku menyandarkan lenganku di pagar balkon, membiarkan mataku dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa indah ini.
Aku sempat melirik Tomi yang duduk di kursi rotan di sampingku. Dia tidak menatap ke arah kota. Dia justru sedang menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kekaguman dan keraguan yang tertahan.
Hening menyelimuti kami selama beberapa saat, hanya terdengar suara samar musik piano dari dalam restoran. Sampai akhirnya, Tomi berdehem pelan.
"Han,"
panggilnya, suaranya kini terdengar lebih rendah dan sangat tenang.
"Ya, Tom?"
aku menoleh, mencoba memberikan senyum terbaikku meski jantungku mulai berdebar tak karuan.
Tomi menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang paling besar dalam hidupnya.
"Sepertinya suasana di bawah sana tadi cukup menjelaskan posisi keluarga kita sekarang. Papa kamu, Ayahku... mereka sudah sangat kompak. Tapi buatku, ini bukan soal bisnis atau kesepakatan orang tua."
Dia menjeda kalimatnya, lalu menatap tepat ke mataku.
"enam bulan ini aku mencoba bersabar. Aku mencoba ada di sampingmu tanpa menuntut apa-apa karena aku tahu kamu butuh waktu untuk bernapas setelah kelulusanmu. Tapi setiap kali aku melihatmu, perasaanku tetap sama Han. Bahkan makin kuat."
Aku tertegun. Lidahku mendadak kelu.
"Dulu aku pernah mengatakannya di kampus, dan jawabannya mungkin saat itu 'belum'. Tapi malam ini, aku mau mengatakannya lagi," lanjut Tomi dengan nada yang tulus.
"Aku sangat menyayangimu, Hana. Aku nggak mau cuma jadi rekan bisnis atau sekadar teman diskusi. Aku ingin jadi orang yang berhak menjaga kamu, yang mendukung semua mimpi kamu dari baris paling depan."
Tomi menggeser duduknya sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan.
"Aku nggak butuh jawaban yang sempurna sekarang, tapi aku cuma ingin kamu tahu kalau tempat ini di sampingku selalu terbuka buat kamu. Aku serius ingin menjalani masa depan bareng kamu."
Mendengar itu, aku kembali menatap hamparan lampu kota. Rasanya ada sesuatu yang hangat menjalar di dadaku, tapi di saat yang bersamaan, bayangan masa lalu yang kelam itu kembali melintas.
Rasa "tidak pantas" itu mencuat lagi. Aku merasa seperti sebuah buku yang sudah robek beberapa halamannya, sementara Tomi adalah buku baru yang sangat indah.
"Tom..."
suaraku bergetar.
"Kenapa aku? Kamu punya segalanya. Kamu bisa mendapatkan siapa pun yang jauh lebih baik, yang nggak punya... masa lalu yang rumit."
Tomi tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat menenangkan.
"Karena aku nggak sedang mencari masa lalu, Han. Aku sedang mencari Hana yang berdiri di depanku sekarang. Hana yang tangguh, yang hebat, dan yang hatinya sangat lembut. Kamu lebih dari pantas untuk mendapatkan kebahagiaan."
Aku tertegun, menatap jemariku yang saling bertautan di atas pangkuan. Kata-kata Tomi barusan terasa seperti selimut hangat di tengah dinginnya angin malam, namun di saat yang sama, ada ketakutan yang mendadak mencengkeram dadaku.
Senang? Tentu saja. Bohong jika aku bilang jantungku tidak berdegup kencang karena bahagia.
Selama enam bulan ini, perhatian dan kebaikan Tomi perlahan-lahan mulai meruntuhkan tembok pertahanan yang kubangun setinggi langit.
Aku sadar, aku juga mulai memiliki perasaan yang sama padanya.
Tapi... ada satu tanya yang menyumbat tenggorokanku.
Kamu belum tahu apa-apa tentang aku, Tom bisikku dalam hati.
Aku menoleh padanya, menatap matanya yang begitu tulus.
"Tom... aku sangat menghargai semua yang kamu katakan. Tapi, ada satu hal yang terus menggangguku."
Tomi mengernyitkan dahi sedikit, namun senyumnya tidak hilang.
"Apa itu, Han?"
"Kamu hanya mengenal Hana yang sekarang. Hana yang sudah menjadi Manajer, Hana yang lulusan terbaik, Hana yang berdiri di depanmu dengan gaun cantik ini,"
suaraku mulai bergetar.
"Tapi kamu belum tahu masa laluku. Kamu belum tahu seberapa hancurnya aku tujuh tahun lalu. Kamu belum tahu luka-luka yang pernah kusembunyikan rapat-rapat."
Aku menjeda napas, mencoba menahan air mata yang mulai mengenangi pelupuk mataku.
"Pertanyaanku cuma satu... kalau nanti kamu tahu semuanya, kalau kamu tahu bagian terburuk dari hidupku yang bahkan nggak ingin aku ingat lagi... apakah kamu akan tetap bertahan? Apakah rasa sayang kamu itu nggak akan berubah jadi rasa kecewa?"
Tomi terdiam.
Suasana balkon mendadak menjadi sangat sunyi, hanya deru angin yang mengisi celah di antara kami. Aku takut melihat reaksinya. Aku takut jika dia tahu aku pernah mencintai orang lain begitu dalam hingga hancur, dia akan memandangku berbeda.
Aku takut dia merasa aku 'cacat' secara emosional.
Tomi perlahan mengulurkan tangannya, ragu sejenak, namun akhirnya dia menyentuh punggung tanganku dengan sangat lembut. Sentuhannya hangat, seolah ingin menyalurkan kekuatan.
"Han, dengar aku," ucapnya pelan namun tegas.
"Masa lalu itu seperti bayangan. Dia ada di belakang kita karena ada cahaya di depan kita. Aku nggak tertarik mengejar bayangan itu, aku lebih tertarik berjalan menuju cahaya itu bareng kamu."
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
"Apapun yang pernah terjadi tujuh tahun lalu, itu yang membentuk kamu jadi Hana yang hebat seperti sekarang. Aku nggak minta kamu jadi sempurna tanpa cela. Aku cuma minta izin buat jadi orang yang ada di samping kamu, baik saat kamu merasa hebat, atau saat kamu merasa hancur karena ingatan masa lalu itu."
Mendengar itu, pertahananku runtuh.
Aku belum sanggup menceritakan soal Wira, soal anak yang tak pernah lahir, atau soal rasa sakit yang luar biasa itu sekarang. Tapi, jawaban Tomi memberiku sedikit harapan bahwa mungkin... mungkin kali ini aku benar-benar boleh bahagia.
Tapi sedetik kemudian entah mengapa aku merasa Kata-kata manis Tomi seharusnya menjadi obat tapi bagiku, itu justru terasa seperti cuka yang menyiram luka menganga.
Di balik senyum tulusnya dan genggaman tangannya yang hangat, ada sebuah kenyataan pahit yang terus menghantam dinding kesadaranku.
Aku tidak suci lagi. Aku sudah rusak. Aku bahkan sudah pernah bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak.
Bagaimana bisa aku menerima cinta pria sebersih Tomi dengan membawa raga yang sudah hancur ini? Aku tidak ingin membangun sebuah hubungan di atas pondasi kebohongan.
Jika aku menerimanya sekarang, aku harus jujur. Dan jika aku jujur, apakah dia benar-benar sanggup menerima kenyataan bahwa wanita yang dia puja ini punya masa lalu sekelam itu?
Pikiranku mendadak bising. Bayangan tujuh tahun lalu, rasa sakit saat bersalin sendirian, dan hancurnya harapanku saat bayi itu tak selamat, semuanya berputar hebat di kepalaku.
Dadaku sesak, oksigen seolah hilang dari balkon mewah ini.
Tomi masih menatapku, menanti jawabanku dengan binar harapan yang begitu terang. Dan binar itu... justru membuatku merasa semakin kerdil.
"Han? Kamu nggak apa-apa?" tanya Tomi cemas saat melihat wajahku mendadak pucat pasi.
Aku menarik tanganku dari genggamannya dengan cepat, seolah sentuhannya membakar kulitku. Aku menggeleng lemah, mencoba mengatur napas yang memburu.
"Maaf, Tom... maaf,"
suaraku serak, hampir pecah oleh tangis yang kutahan di kerongkongan.
"Hana? Ada apa? Apa aku salah bicara?"
Tomi berdiri, tampak sangat panik melihat perubahanku yang drastis.
"Nggak, Tom. Kamu nggak salah. Aku yang salah... aku..." Aku memegang pelipisku yang tiba-tiba berdenyut hebat.
Rasa sakit fisik ini nyata, tapi rasa sakit di hatiku jauh lebih menyiksa.
"Kepalaku... kepalaku sakit sekali, Tom. Aku... aku nggak sanggup. Maaf, aku harus masuk sekarang."
Tanpa menunggu balasannya, tanpa berani menatap matanya yang terluka, aku berbalik dan setengah berlari meninggalkan balkon. Aku melewati meja makan di mana Papa dan Ayah Tomi masih tertawa, mengabaikan panggilan mereka yang bingung melihatku pergi dengan terburu-buru.
Aku terus berlari menuju toilet mengunci pintu, dan luruh di sana. Aku menangis tanpa suara, meratapi nasibku yang seolah tidak pernah diizinkan untuk bahagia.
Jujur aku sangat mencintai Tomi, aku bahkan merasa sangat nyaman saat ada Tomi tapi rasa tidak pantas ini jauh lebih besar dari cintaku padanya.
Aku tidak sanggup menghancurkan hidup Tomi dengan kekuranganku. Aku lebih baik menghilang daripada harus melihat tatapan jijik atau kecewa darinya nanti.