NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Katak di Dasar Sumur

​Kepingan es seukuran jarum melayang lambat di udara ruang kerja lantai 88 Menara Emerald. Ling Jian berdiri dengan tangan di belakang punggung, tatapannya penuh kebosanan. Di kakinya, Han Shixiong terengah-engah, menahan hawa dingin yang mulai membekukan aliran darahnya.

​"Sembilan menit lima puluh detik," gumam Ling Jian, melirik jam antik di dinding yang kacanya telah retak. Bibirnya melengkung membentuk seringai kejam. "Tampaknya majikanmu tidak lebih dari seorang pengecut. Sayang sekali, anjing tua. Waktumu habis."

​Ling Jian mengangkat telunjuknya. Pedang kristal es yang melayang di udara seketika bergetar hebat, memancarkan niat membunuh yang pekat, bersiap meluncur memenggal kepala Han Shixiong.

​Namun, tepat di detik kesepuluh.

​TRANG!

​Bukan suara daging yang terpotong, melainkan suara kaca tebal yang pecah berkeping-keping. Bukan dari jendela, melainkan dari udara itu sendiri.

​Suhu ruangan yang tadinya berada di bawah titik beku mendadak melonjak drastis. Es yang menyelimuti karpet dan dinding mencair dalam sekejap, menguap menjadi kabut putih. Pedang kristal es kebanggaan Ling Jian berhenti di udara, bergetar hebat seolah sedang ketakutan, sebelum akhirnya retak dan hancur menjadi debu salju tanpa ada yang menyentuhnya.

​Mata Ling Jian membelalak. Ia terhuyung mundur satu langkah, merasakan tekanan spiritual yang begitu purba dan berat menghantam dadanya layaknya godam tak kasat mata.

​Dari balik kabut putih yang menguap di ambang pintu, terdengar suara langkah kaki yang teratur. Santai, tanpa terburu-buru.

​Sosok Arya muncul dari balik kabut. Ia mengenakan celana jeans dan jaket katun biasa, matanya segelap langit malam tanpa bintang. Ia bahkan tidak melirik Ling Jian, melainkan berjalan lurus menghampiri Han Shixiong.

​Dengan satu jentikan jari, seberkas energi keemasan yang hangat menyusup ke dalam tubuh Han, seketika mengusir sisa hawa dingin yang merusak organ dalamnya.

​"Maafkan hamba, Guru Besar," batuk Han Shixiong, wajahnya memerah kembali. "Hamba gagal menahan tamu tak diundang ini."

​"Berdirilah di belakang, Han. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik," ucap Arya tenang.

​Ling Jian yang tadinya terkejut kini kembali mendapatkan kesombongannya. Ia memindai tubuh Arya dari atas ke bawah menggunakan indra spiritualnya, mencari fluktuasi Qi. Namun, ia tidak merasakan apa-apa. Di matanya, Arya tidak lebih dari seorang manusia fana biasa, atau paling banter seorang seniman bela diri duniawi yang kebetulan menggunakan artefak pelindung.

​"Jadi kau yang bernama Arya?" Ling Jian mendengus, tawanya memecah keheningan. "Kupikir kau adalah kultivator sakti yang bersembunyi di kota ini. Ternyata hanya sampah tanpa akar spiritual yang kebetulan memegang pusaka penangkal es."

​Arya perlahan membalikkan badannya. Matanya akhirnya menatap Ling Jian. Tatapan itu tidak memuat kemarahan, tidak juga kebencian. Hanya kehampaan absolut, seolah ia sedang menatap seekor semut yang tak sengaja merayap di sepatunya.

​"Kondensasi Qi tingkat tiga," suara Arya mengalun datar, menguliti rahasia terbesar kultivasi Ling Jian hanya dengan satu pandangan. "Fondasi yang goyah, sirkulasi meridian yang tersumbat racun pil murahan, dan pemahaman elemen air yang lebih dangkal dari genangan lumpur. Butuh berapa lama kau berlatih untuk mencapai tingkat menyedihkan ini? Sepuluh tahun?"

​Wajah Ling Jian seketika berubah merah padam. Kesombongannya tertusuk tepat di titik paling rapuh. "Tutup mulut kotor fana-mu! Beraninya kau menghina ajaran Sekte Pedang Awan!"

​Ling Jian meraung. Ia merentangkan kedua tangannya. Udara di sekitarnya berputar membentuk pusaran angin beku. Dari dalam lengan jubahnya, melesat sebuah pedang sungguhan—bukan terbuat dari es, melainkan logam perak berukir pola awan. Itu adalah senjata spiritual tingkat rendah!

​"Tebasan Awan Pembeku!"

​Ling Jian melesat ke depan, tubuhnya menyatu dengan pedang peraknya. Kecepatannya meninggalkan bayangan buram, mengarah tepat ke jantung Arya. Serangan ini memuat seratus persen tenaga Qi miliknya. Ia berniat membekukan darah Arya dan menghancurkan tubuhnya menjadi serpihan es dalam satu tebasan.

​Han Shixiong menahan napas, tanpa sadar memejamkan mata.

​Namun, Arya bahkan tidak mengubah posisinya. Saat ujung pedang spiritual itu berjarak kurang dari satu inci dari dadanya, Arya mengangkat tangan kanannya.

​Ia tidak menghindar. Ia tidak memanggil senjata. Ia hanya mengulurkan dua jarinya—telunjuk dan jari tengah—dan menjepit bilah pedang perak tersebut.

​Deng!

​Suara logam beradu bergema ke seluruh penjuru ruangan. Waktu seolah berhenti.

​Ling Jian membelalakkan matanya hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Serangan terkuatnya, yang didorong oleh Qi spiritual dan senjata pusaka sekte, dihentikan secara mutlak! Bukan hanya dihentikan, niat pedangnya hancur berantakan tepat ketika menyentuh kulit jari Arya.

​"B-bagaimana mungkin..." bibir Ling Jian bergetar. Ia mencoba menarik pedangnya, namun benda itu seolah terjepit di antara dua gunung raksasa. Tidak bisa bergerak satu milimeter pun.

​"Kau berani menyebut istrimu dengan mulutmu yang bau kotoran ini," bisik Arya, suaranya kini sedingin neraka es terdalam. "Lalu kau bertanya padaku bagaimana mungkin?"

​Arya memutar pergelangan tangannya sedikit.

​KRAK!

​Pedang spiritual berukir awan itu patah menjadi dua bagian semudah mematahkan ranting kering.

​Dampak dari hancurnya senjata spiritual yang terhubung dengan jiwanya membuat Ling Jian memuntahkan seteguk darah segar. Namun, mimpi buruknya baru saja dimulai.

​Sebelum Ling Jian sempat mundur, tangan kiri Arya melesat membelah ruang dan mencekik leher kultivator arogan itu. Arya mengangkat tubuh Ling Jian dari lantai dengan satu tangan, persis seperti mengangkat seekor ayam yang siap disembelih.

​Baru pada saat itulah Arya sedikit melepaskan segel auranya. Kekuatan murni dari Pembangunan Fondasi Tingkat Lima yang didorong oleh Sembilan Transformasi Naga Langit meledak. Tekanan spiritual yang pekat berwarna keemasan menyelimuti seluruh ruangan.

​Di bawah tekanan itu, Ling Jian merasa jiwanya remuk. Perbedaan kekuatan ini bukanlah antara anak kecil dan orang dewasa, melainkan antara setetes air hujan dan samudra tak bertepi.

​"P-pembangunan F-fondasi..." Ling Jian tersedak darahnya sendiri, matanya memancarkan teror absolut. Pemuda di depannya bukanlah manusia fana! Dia adalah seorang monster sejati! Bahkan Penatua Bai di sektenya baru mencapai Puncak Kondensasi Qi!

​"Aku sudah bilang," Arya menatap lurus ke dalam mata Ling Jian yang dipenuhi keputusasaan. "Aku datang untuk mencabut lidahmu."

​"T-tunggu! J-jangan bunuh aku!" Ling Jian meronta putus asa. "G-Guruku adalah Penatua Bai dari Sekte Pedang Awan! J-jika kau membunuhku, sekte kami akan memburumu sampai ke ujung dunia! I-istrimu, keluargamu—"

​Kata-kata ancaman itu adalah kesalahan terbesar dan terakhir Ling Jian.

​Mata Arya menyipit. "Ancaman yang membosankan."

​Arya melepaskan patahan ujung pedang perak dari tangan kanannya, membiarkannya melayang di udara, lalu dengan jentikan jarinya, patahan pedang itu melesat... tepat menembus mulut Ling Jian, menghancurkan deretan gigi dan memotong lidahnya hingga pangkal.

​Jeritan tertahan yang mengerikan terdengar dari tenggorokan Ling Jian saat darah segar membanjiri dadanya.

​Namun Arya belum selesai. Ia meninju perut bagian bawah Ling Jian dengan kepalan tangannya yang diselimuti api keemasan.

​BOOM!

​Dantian Ling Jian, pusat energi spiritualnya yang telah ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun, hancur lebur seketika menjadi debu. Seluruh Qi di tubuhnya bocor dan menguap ke udara.

​Kultivator arogan dari atas awan itu kini resmi menjadi manusia cacat yang bisu.

​Arya melepaskan cekikannya, membiarkan tubuh Ling Jian jatuh ke lantai marmer layaknya karung rongsokan. Pemuda itu kejang-kejang, tak mampu lagi berdiri, apalagi memanggil es.

​Arya mengeluarkan sapu tangan putih dari sakunya, mengelap tangannya yang sebenarnya tidak kotor sama sekali, lalu menjatuhkan sapu tangan itu tepat di atas wajah Ling Jian.

​"Pulanglah dengan merangkak ke gunungmu," ucap Arya datar, suaranya bergema seperti titah dewa kematian. "Bawa pesan ini untuk gurumu dan seluruh tetua di Sekte Pedang Awan: Jika ada satu orang lagi dari atas gunung yang berani turun dan mengganggu ketenangan kota ini..."

​Arya berbalik, berjalan menuju pintu yang hancur.

​"...Aku akan naik ke atas awan, dan meratakan sekte kalian hingga tak tersisa sebutir debu pun."

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!