NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06.TEMPA'AN SANG VOID KING

Matahari mulai tergelincir di cakrawala Hutan Kelam. Di sebuah kliring hutan, suasana justru semakin panas. Lima bangkai Shadow Wolf tergeletak, namun Arka tidak menunjukkan ekspresi bangga. Lompat dari atas pohon dan Ia berdiri dengan tangan bersedekap, menatap tajam ketiga muridnya yang masih terengah-engah.

"Kalian pikir kalian hebat?" suara Arka dingin, memotong kegembiraan mereka. "Kalian menang hari ini karena senjata yang aku berikan, bukan karena kemampuan kalian. Tanpa besi itu di tangan, kalian hanyalah santapan serigala."

Ketiganya tertunduk. Kata-kata Arka menghujam ego mereka tepat di sasaran.

"Buang waktu luang kalian. Kita mulai latihan yang sebenarnya. Sekarang."

Pelatihan Dua Jam di Neraka akhirnya dimulai

Arka menunjuk Elara. "Habiskan seluruh manamu ke langit. Terus tembakkan sihirmu sampai kau tidak bisa berdiri!"

Elara mengerahkan segalanya. Cahaya biru meluncur ke angkasa hingga wajahnya pucat pasi, dan ia jatuh berlutut, nyaris pingsan karena kekosongan mana. Arka melangkah maju, memaksanya meminum ramuan penyembuh tingkat tinggi untuk mengurangi effect sakit dari apa yang akan di lakukan arka, lalu arka meletakkan tangannya di punggung Elara.

Wush!

Arka menyuntikkan mana murninya yang masif, memaksa sirkuit mana di tubuh Elara melebar secara paksa. Rasa sakitnya luar biasa, tapi kapasitas mananya kini berlipat ganda. Hal itu dilakukan berulang kali hingga Elara merasa tubuhnya menjadi wadah yang jauh lebih besar.

Kepada Jiro, Arka memberikan perintah berat. "Tebas udara dengan pedang itu. Seribu kali. Jangan berhenti sampai ototmu berteriak!"

Jiro mengayunkan Greatsword Obsidian hingga otot lengannya robek dan bergetar hebat. Setiap kali Jiro ambruk, Arka menyiramnya dengan ramuan penyembuh legendaris. Otot-otot yang rusak pulih seketika, namun tumbuh lebih kencang, lebih padat, dan lebih kuat dari manusia biasa.

Sementara Kael, Arka memintanya menghilang. "Bersembunyilah. Hapus keberadaanmu dan panah aku dari sudut mana pun."

Kael bergerak di antara bayangan, melepaskan anak panah angin bertubi-tubi. Arka hanya menepisnya dengan jari sambil terus menyuntikkan mana dan memberikan ramuan saat Kael kehabisan tenaga. Kael dipaksa untuk tetap tidak terlihat dalam kondisi kelelahan ekstrem.

Dua jam berlalu. Ketiganya berdiri dengan tubuh bergetar, namun aura mereka telah berubah. Arka berdiri di depan mereka, wajahnya tanpa emosi.

"Berdiri tegak. Tatap mataku. Jangan berpaling, jangan berkedip selama satu menit," perintah Arka.

Ketiganya mematung. Perlahan, Arka menyentuh cincin perak di jarinya dan melepas cincin.

Klik.

Arka melepaskan 1% Intimidasi Void King.

Dalam sekejap, dunia seolah kehilangan warnanya. Langit terasa runtuh menimpa pundak mereka. Oksigen seakan menghilang, digantikan oleh hawa murni kematian yang mencekam. Jiro, Kael, dan Elara merasa seolah-olah mereka sedang menatap lubang hitam yang siap menelan jiwa mereka. insting mereka berteriak untuk lari menjauh dengan Keringat dingin mengucur, tapi mereka bertahan, mengingat instruksi Arka: Jangan berpaling.

Setelah satu menit yang terasa seperti seribu tahun, Arka menutup kembali auranya.

"Itu adalah niat membunuh yang murni," bisik Arka, suaranya kini kembali santai. "Simpan sensasi maut itu dalam diri kalian. Mulai sekarang, tidak akan ada intimidasi di dunia ini yang bisa membuat kalian gentar."

Arka berjalan menuju gerobak kayu tua pinjaman Guild yang terparkir di pinggir hutan. Dengan kekuatan yang tidak masuk akal, ia mengangkat bangkai-bangkai serigala raksasa itu ke atas gerobak hanya dengan satu tangan.

"Naiklah," kata Arka pendek.

Murid-muridnya yang sudah lemas tak bertulang merangkak naik ke atas tumpukan bangkai serigala itu. Arka merogoh *Inventory*-nya dan mengeluarkan beberapa kotak makanan hangat—ayam panggang madu dan roti mentega dari restoran terbaik di kota yang ia simpan dalam kondisi beku waktu.

"Makanlah. Kalian butuh tenaga untuk menghadapi serangga-serangga di Guild nanti," Arka tersenyum tipis, senyuman pertama yang tulus hari ini.

Arka memegang gagang gerobak, menariknya dengan santai meskipun beratnya mencapai ratusan kilogram. Di atas gerobak, di antara tumpukan monster, ketiga muridnya makan dengan lahap sambil tertawa kecil, saling bercanda tentang betapa mengerikannya wajah Arka saat marah tadi.

Dalam perjalanan pulang di bawah sinar rembulan, mereka bukan lagi sekadar guru dan murid, melainkan sebuah keluarga kecil yang baru saja melewati gerbang neraka bersama-sama.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!