Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Sarung Naga Putih dan Lautan Gletser Utara
Ye Chen melangkah keluar dari Gua Bintang Jatuh, meninggalkan Leluhur Bintang yang kembali tertidur dalam meditasinya. Di tangannya, dia memegang Sarung Pedang Putih yang terbuat dari Tulang Naga Langit dan Sutra Awan.
Sarung itu terasa dingin namun lembut, memancarkan aura suci yang menenangkan jiwa. Kontras sekali dengan Pedang Naga Hitam di punggungnya yang selalu haus darah dan memancarkan aura pembunuhan.
"Yin dan Yang. Hitam dan Putih," gumam Ye Chen. "Keseimbangan."
Dia mengambil Pedang Naga Hitam-nya (dalam ukuran normal). Pedang itu bergetar liar, seolah menolak untuk dimasukkan ke dalam sarung yang memancarkan aura "baik".
"Masuk," perintah Ye Chen, menyalurkan Qi Tulang Emas-nya untuk menekan pemberontakan pedang itu.
Dia menyarungkan pedang hitam itu ke dalam sarung putih.
KLIK!
Suara kunci yang memuaskan terdengar.
Seketika, aura mengerikan di sekitar Ye Chen lenyap total. Tekanan berat, hawa dingin, dan niat membunuh yang biasanya membuat orang di sekitarnya sesak napas, kini terserap habis oleh sarung putih itu.
Ye Chen sekarang terlihat seperti seorang cendekiawan muda atau pendekar pedang dari sekte lurus yang tampan dan bersih. Tidak ada jejak Asura.
"Penyamaran sempurna," Ye Chen tersenyum. "Dan sarung ini... dia menekan energi pedang, memampatkannya. Saat aku mencabutnya nanti, ledakannya akan dua kali lipat lebih kuat."
Ye Chen menuruni Puncak Terlarang, kembali ke Arena Meteor di mana Lilith menunggunya dengan cemas.
"Tuan!" Lilith berlari menghampiri, matanya membelalak melihat penampilan baru Ye Chen. "Aura Anda... hilang? Anda terlihat seperti... orang baik?"
"Jangan tertipu bungkusnya," kata Ye Chen. "Ayo pergi. Kita tidak punya waktu untuk merayakan kemenangan ujian ini. Kita ke Utara Jauh."
Ye Chen tidak pamit pada Tetua Jian Gu atau peserta lain. Dia dan Lilith langsung melesat meninggalkan Gunung Meteor, menuju hamparan es abadi di ujung cakrawala.
Lautan Gletser Utara (Northern Glacier Ocean).
Dua hari perjalanan tanpa henti membawa mereka ke ujung benua. Di sini, daratan berakhir dan digantikan oleh lautan yang membeku total.
Es di sini bukan lapisan tipis. Ini adalah benua es yang mengapung di atas samudra hitam. Gunung-gunung es bergerak lambat seperti raksasa yang bermigrasi. Angin di sini mengandung Qi Es Absolut, mampu membekukan Nascent Soul dalam hitungan jam jika tidak melindungi diri dengan Qi.
Ye Chen dan Lilith mendarat di atas sebuah gunung es yang hanyut.
"Dingin sekali," Lilith menggigil, memeluk tubuhnya sendiri. Sebagai ras Iblis (elemen gelap/api), tempat ini adalah neraka baginya.
Ye Chen menyalurkan sedikit Api Ungu ke tubuh Lilith untuk menghangatkannya.
"Bertahanlah. Kita mencari Leviathan Es Purba. Menurut Leluhur Bintang, dia menjaga Inti Roh Bulan."
Ye Chen mengeluarkan peta yang diberikan Leluhur (lewat telepati). Lokasinya ada di Palung Mata Beku (Frozen Eye Trench).
Namun, saat mereka mendekati koordinat tersebut, Ye Chen melihat sesuatu yang mengganggu.
Di kejauhan, di atas hamparan es putih yang luas, terlihat noda-noda hitam yang bergerak.
Kapal-kapal perang hitam. Bendera tengkorak bertanduk tiga.
Pasukan Kuil Dewa Iblis.
"Mereka sudah di sini," desis Ye Chen. "Dan jumlahnya banyak."
Ada sekitar sepuluh kapal perang yang mendarat di sekitar sebuah lubang besar di lapisan es—pintu masuk ke Palung Mata Beku. Ribuan prajurit iblis sedang mendirikan formasi sihir di sekitar lubang itu.
Dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pemimpin.
Bukan Mo Luo (karena dia sudah mati).
Melainkan seorang wanita jangkung dengan kulit biru pucat, rambut yang terbuat dari es cair, dan mengenakan zirah kristal transparan.
Jenderal Iblis Es: Bing Sha (Ice Fiend).
Tingkat Kultivasi: Spirit Severing Tingkat 5.
Dia sedang menyiksa seekor Beruang Kutub Roh raksasa untuk memaksanya menunjukkan jalan aman ke sarang Leviathan.
"Katakan! Di mana jalan masuknya?!" teriak Bing Sha, menusukkan tombak es ke bahu beruang itu.
Beruang itu meraung kesakitan.
Ye Chen mengamati dari balik bukit es.
"Mereka memblokade jalan masuk. Kita tidak bisa menyelinap," kata Lilith. "Dan Bing Sha... dia terkenal kejam. Dia membekukan musuhnya hidup-hidup lalu memecahkannya menjadi serpihan."
Ye Chen memegang gagang pedang putihnya.
"Kalau tidak bisa menyelinap, kita ketuk pintu depan."
"Tuan, jumlah mereka ribuan!"
"Mereka hanya melihat seorang pendekar sekte lurus yang lewat," Ye Chen menyeringai. "Mereka akan meremehkanku."
Ye Chen berjalan keluar dari persembunyian. Dia berjalan santai menuju kerumunan pasukan iblis itu, jubah putihnya (dia mengganti jubah hitamnya agar sesuai dengan sarung pedang) berkibar anggun.
"Berhenti!" teriak penjaga iblis. "Manusia? Di sini?"
Pasukan iblis mengepung Ye Chen. Mereka tertawa melihat penampilannya yang "bersih" dan "lemah".
"Lihat ini! Ada domba tersesat!"
"Hei, Bocah! Kau mau mati beku atau mati dimakan?"
Bing Sha menoleh. Dia melihat Ye Chen. Dia tidak merasakan aura Asura atau Naga. Sarung pedang putih itu menyembunyikan segalanya dengan sempurna. Dia hanya melihat seorang kultivator Spirit Severing Awal manusia yang bodoh.
"Bunuh dia," perintah Bing Sha bosan. "Jangan buang waktuku."
Sepuluh prajurit iblis elit (Nascent Soul Puncak) menerjang Ye Chen sambil tertawa.
Ye Chen tidak berhenti berjalan. Tangannya tetap di gagang pedang.
"Domba?" gumam Ye Chen.
Saat prajurit terdepan mengayunkan kapaknya...
Ibu jari Ye Chen mendorong pelindung pedang.
KLIK.
Sarung putih terbuka sedikit.
Teknik Cabut Pedang: Kilatan Bintang Putih!
SHIIING!
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada aura merah mengerikan.
Hanya seberkas cahaya putih yang sangat tipis dan sangat cepat, melintas horizontal setinggi leher.
Ye Chen menutup kembali pedangnya.
KLIK.
Dia terus berjalan.
Sepuluh prajurit iblis di sekelilingnya tiba-tiba berhenti bergerak. Senjata mereka jatuh.
Lalu, kepala mereka jatuh menggelinding di atas es.
Darah hitam menyembur, menodai salju.
Tawa pasukan iblis lainnya mati seketika.
Bing Sha terbelalak. "Apa? Dia membunuh sepuluh elit dalam satu detik tanpa mengeluarkan Qi pembunuh?"
Ye Chen berhenti lima puluh meter dari Bing Sha.
"Aku mencari jalan ke bawah," kata Ye Chen sopan. "Kalian menghalangiku."
"Siapa kau?!" Bing Sha menghunus tombak esnya. Aura Tingkat 5-nya meledak, menciptakan badai salju lokal.
"Namaku Ye Chen. Tapi kalian mungkin mengenalku dengan nama lain."
Ye Chen memegang gagang pedangnya lagi. Kali ini, dia melepaskan penyamaran auranya.
BOOOOOM!
Aura merah-hitam Asura meledak dari tubuh Ye Chen, menghancurkan citra "pendekar suci" tadi. Sarung putih itu bergetar, menahan kekuatan pedang hitam di dalamnya yang meraung ingin keluar.
"ASURA?!" teriak Bing Sha kaget. "Itu dia! Target utama Kuil!"
"Semua pasukan! Serang! Bentuk Formasi Pembeku!"
Ribuan iblis menyerbu.
Ye Chen tersenyum.
"Akhirnya. Pemanasan."
Ye Chen mencabut pedangnya sepenuhnya.
Pedang Naga Langit terbebas. Energinya yang tertahan di dalam sarung meledak keluar seperti bendungan jebol.
Teknik Pedang Asura: Tebasan Gelombang Naga!
Ye Chen mengayunkan pedangnya. Gelombang energi hitam berbentuk naga raksasa meluncur, memakan semua iblis yang ada di jalurnya.
Perang di atas es dimulai. Dan di bawah sana, di kedalaman laut yang gelap, Leviathan yang tidur mulai membuka matanya, terganggu oleh getaran kematian di atasnya.
(Akhir Bab 19)