SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ROMI ARYA WISESA
Angin berhembus perlahan di awal tahun, membawa kesegaran yang baru setelah musim kemarau panjang. Tepat pada hari itu juga, Romi Arya Wisesa genap berusia 6 tahun – seorang bocah cilik dengan badan ramping tapi penuh energi, selalu ceria dan suka menolong siapapun yang membutuhkan. Di pipinya yang kecil selalu ada senyuman hangat, dan matanya yang cerah selalu penuh rasa ingin tahu tentang dunia di sekitarnya.
"Emaaak... emaaak!" panggil Romi dengan suara riuh sambil berlari menyusuri gang semen kecil yang menghubungkan rumah mereka dengan jalan utama. Kakinya terkadang terpeleset di tanah yang sedikit licin akibat embun pagi, tapi dia tetap berlari dengan cepat.
"Emaaak di sini, Rom! Di dapur ya nak!" jawab ibunya yang bernama Susi dari dalam rumah, sambil mengocok-ngocok adonan yang ada di dalam baskom besar. Tangan Susi yang kasar akibat sering bekerja keras terlihat sedang sibuk mengolah bahan makanan untuk bekal Romi besok.
Romi melesat masuk ke rumah, lalu dengan sopan mendekati ibunya yang sedang berdiri di depan kompor tanah. Dia mengangkat kedua tangannya dengan penuh hormat lalu mencium tangan kanan Susi yang masih terbakar hangat dari panas kompor.
"Hee, nak! Kalau mau masuk rumah, salam dulu ya, bukan cuma teriak-teriak begitu dari jauh! Sudah emaak bilang berulang-ulang, anak yang baik harus tahu sopan santun," ucap Susi dengan nada sedikit tegas tapi tetap penuh kasih. Rambutnya yang kusut karena sering disikat kasar tampak menutupi dahinya yang berkeringat.
"Ya, emaaak. Romi minta maaf. Tadi Romi terlalu senang karena udah berhasil jual semua es mambo yang dibikin kemarin sore," jawab Romi sambil menunduk sedikit. Bocah cilik itu kemudian merogoh saku celananya yang sudah lusuh, lalu mengeluarkan sekelompok uang koin dan beberapa lembar uang kertas yang sudah kusut. Uang itu hasil jerih payahnya menjual es mambo di depan pasar kecil selama hampir tiga jam kemarin sore.
Ibunya mengambil uang tersebut pelan-pelan dengan tangan yang gemetar. Air mata bahagia jelas terlihat mengalir di kedua mata Susi, membentuk jalur basah di wajahnya yang sudah mulai keriput akibat sering terpapar panas matahari. Dia mengusap air matanya dengan bagian lengan bajunya yang sudah pudar warnanya. "Kamu sungguh akan menjadi anak soleh, Romi. Kamu sudah bisa membantu emak dari usia yang masih sangat muda seperti ini. Insya Allah suatu hari nanti kamu akan menjadi seorang ustadz besar yang bisa membimbing banyak orang, sama seperti yang emak impikan," ucap doa Susi sambil mencium kepala Romi dengan penuh cinta.
"Aamiin ya Robbal Alamiin," jawab Romi dengan suara yang jelas dan penuh keyakinan.
"Terima kasih banyak ya, Romi kecilku. Kamu sudah sangat membantu emak dan bapak. Jangan lupa ya besok pagi sekali kamu harus bangun lebih awal untuk bantu emak berjualan di pasar. Bahkan kita harus berangkat sebelum fajar, agar bisa dapat tempat yang bagus dan tidak tergeser sama pedagang lain," tanya Susi sambil menatap Romi dengan tatapan yang tegas tapi penuh harapan. Matanya yang lelah tetap bersinar dengan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya.
"Ya, emaaak. Romi akan bangun pagi kok. Romi juga akan bantu emak mengemas sayuran dan menyusunnya rapi di gerobak kita nanti," ucap Romi dengan suara cemprengnya yang menggemaskan. Dia kemudian berlari ke kamar kecil mereka untuk mengambil sapu dan mulai membersihkan halaman rumah dengan penuh semangat.
Suara adzan subuh berkumandang merdu dan nyaring dari menara masjid yang terletak tidak jauh dari rumah mereka, terbawa lembut oleh hembusan angin sepoi-sepoi dan titik-titik rintik hujan yang baru mulai turun. Suara adzan itu seolah membangunkan seluruh makhluk hidup di kampung itu, memanggil orang-orang yang sedang terlelap dalam tidur mereka untuk bangun dan menjalankan ibadah yang paling utama. Romi Arya Wisesa sudah bersiap dengan rapi untuk berangkat ke masjid terdekat di kampungnya – dia sudah mengenakan baju koko putih yang sedikit terlalu besar baginya, sarung yang sudah dipakai oleh bapaknya dulu, dan peci hitam yang sudah cukup tua.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya dengan suara yang jelas sebelum melangkah keluar rumah. Kaki kecilnya berjalan lincah dan penuh semangat di antara tanah rerumputan yang sudah basah lembap karena hujan ringan. Air hujan menetes dari dedaunan pohon pepaya yang tumbuh di halaman rumah mereka, jatuh ke tanah dengan suara pelan "tik... tik... tik...".
Peci hitam usangnya yang telah memerah karena sering dicuci dan terpapar sinar matahari dengan gigih menahan titik-titik air hujan yang jatuh dari langit kelabu. Sarung yang dikenakannya tampak memudar warnanya dan sudah mulai lusuh di bagian ujungnya, namun tetap terlihat rapi karena selalu dirawat dengan baik oleh ibunya. Disertai pula sepasang sandal capit yang sudah aus di bagian tumitnya tapi tetap setia menemani bocah cilik itu dalam setiap langkahnya.
Saat Romi tiba di depan masjid yang dindingnya terbuat dari bata merah yang sudah menguning akibat usia, tepat pada saat bapaknya Pak Bayu baru saja selesai mengumandangkan adzan. Pak Bayu berdiri gagah di atas menara kecil masjid, dengan baju koko hitamnya yang selalu rapi dan pecinya yang selalu bersih. Romi merasa sangat senang melihatnya, karena suara bapaknya memang benar-benar merdu, panjang, dan kuat – mampu membuat hati setiap orang yang mendengarnya menjadi tenang dan penuh kebahagiaan. Beberapa warga kampung yang baru saja datang ke masjid juga berhenti sejenak untuk memuji suara adzan yang keluar dari bibir Pak Bayu.
Setelah selesai dari masjid dan menjalankan sholat subuh berjamaah dengan khusyuk, Pak Bayu menghampiri anaknya yang sedang bermain-main dengan beberapa teman sebaya di halaman masjid. Dia menggendong Romi dengan lembut, menyentuh pipi anaknya dengan tangannya yang besar tapi lembut. "Rom! Ayoo, cepat jalan kita pulang ya nak. Emakmu pasti sudah menunggumu di rumah dan sudah siapin sarapan pagi yang hangat. Kamu juga harus istirahat sebentar sebelum berangkat ke pasar nanti," ucap Pak Bayu dengan suara yang lembut.
"Baik, Bapak. Romi juga ingin cerita sama emak tentang bagaimana sholatnya tadi dan bagaimana Romi bisa mengikuti imamnya dengan baik lho," jawab Romi dengan suara penuh semangat. Romi kemudian turun dari gendongan bapaknya dan mempercepat langkahnya – bahkan mulai berlari kecil melewati jalan tanah yang penuh dengan genangan air akibat hujan, menuju rumah sederhana mereka yang terletak hanya beberapa ratus meter dari masjid.
Romi dan ibunya berangkat ke pasar dengan menggunakan angkot pedesaan yang selalu datang tepat waktu setiap pagi hari. Angkot itu berwarna biru tua yang sudah mulai pudar, dengan kursi kayu yang cukup nyaman jika duduk bersama-sama. Dalam perjalanan menuju pasar, Romi melihat berbagai pemandangan khas pedesaan – sawah yang luas dengan para petani yang sudah mulai bekerja, pepohonan kelapa yang tinggi menjulang ke langit, dan beberapa anak-anak lain yang sedang berangkat ke sekolah dengan membawa tas ransel yang penuh buku.
Sesampainya di pasar yang sudah mulai ramai dengan aktivitas pedagang dan pembeli, ibunya langsung menghampiri sebuah truk sayuran besar yang selalu menjadi tempat dia membeli barang dagangannya. Truk itu milik Pak Rokib, seorang pedagang besar yang sudah lama berjualan sayuran di pasar itu.
"Bang Rokib, mana pesananku ya? Tadi kemarin kan sudah aku pesenin 5 karung sayuran campuran – ada bayam, kangkung, sawi, dan juga kol kan?" tanya Susi dengan suara yang penuh harapan, sambil menyisir rambutnya yang sudah berantakan akibat angin yang bertiup kencang di pasar.
"Waduuh, maaf ya Mpok Susi. Sayuran yang kamu pesenin itu sudah habis semua lho. Tadi pagi saja udah langsung di borong habis sama Mpok Wati dari lapak sebelah. Dia bilang mau buat pesanan besar untuk acara hajatan di rumahnya," ucap Pak Rokib dengan nada sedikit malu, sambil mengusap keringat di dahinya yang banyak dengan saputangan yang sudah kotor. Tangannya yang penuh dengan kotoran tanah dan jus sayuran menunjuk ke arah lapak Mpok Wati yang sudah sangat ramai dengan pembeli yang datang satu per satu.
"Lah, Bang Rokib, jadi gimana dong ini? Aku kan kalau tidak dapat sayuran dari kamu, nggak bisa dagang banget. Modal aku cuma cukup buat beli dari kamu saja, karena harga kamu yang paling murah dan bisa aku jual lagi dengan untung yang sedikit. Tolong dong bilang ke Mpok Wati jangan terlalu serakah ya, biar berkah yang dia dapatkan tetap bisa mengalir ke orang lain juga," ucap Susi dengan nada kesal yang jelas terlihat. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak penuh kekhawatiran.
"Ya tidak bisa begitu juga dong Mpok Susi. Namanya aku seorang penjual, kan siapa saja boleh dan bebas beli sayuranku selama mereka mau bayar dengan harga yang sudah kita sepakati. Kalau kamu memang perlu sayuran, mendingan kamu beli saja ke Mpok Wati deh. Mungkin dia masih punya sisa yang bisa kamu beli," ucap Pak Rokib dengan nada yang pasrah.
"Lalu sekarang kenapa kamu tidak dapat jatah sayuran dari si Rokib itu ya Mpok? Apakah ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kesepakatan yang sudah kalian buat sebelumnya?" tanya Bedil sambil melotot ke arah Rokib, membuat pria itu semakin takut dan tubuhnya semakin mengecil.
"Begini sebenarnya Bang Bedil. Jatah sayuranku yang biasanya disisakan oleh Bang Rokib itu tadi pagi dibeli sama Mpok Wati dengan harga yang sedikit lebih mahal. Padahal biasanya dia sudah mendapatkan 20 karung sayuran yang cukup banyak untuk dagangannya, sedangkan aku hanya mendapatkan 5 karung saja yang memang sudah menjadi kesepakatan kita selama bertahun-tahun," ujar Susi dengan nada memelas dan mata yang sudah mulai berkaca-kaca karena merasa tidak adil.
Tiba-tiba Bedil mengangkat suaranya dan berteriak sangat keras. "Mpoook Susiiiiii!!! Kamu dimana? Cepat datang ke sini sekarang juga!" jerit Bedil dengan suara yang sangat keras dan menggema hingga ke seluruh area blok sayuran, membuat beberapa pembeli yang sedang berbelanja sedikit terkejut dan berhenti sejenak dari aktivitas mereka.
Seorang wanita yang sedang sibuk mengatur sayuran di lapaknya langsung terkejut mendengar suaranya. Dia segera meletakkan barang yang sedang dipegangnya dan berlari kecil menghampiri Bedil dengan wajah yang penuh ketakutan. "Aku... ak... aku di sini Bang Bedil. Ada apa ya Bang memanggil nama aku dengan suara begitu keras?" tanya Mpok Wati sambil wajahnya tertunduk ke bawah dan kedua tangannya saling merapat di depan dadanya seperti seorang anak yang sedang menyalahkan diri.
"Kamu adalah Wati yang selalu membeli sayuran dari Rokib ya?" tanya Bedil sambil memperhatikan wajah Wati yang terus menunduk dan tidak berani melihat ke atas. Matanya yang tajam mengamati setiap gerakan tubuh Wati dengan cermat.