Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Jauh, Sahara!
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
Ya Tuhan, apa sih yang aku pikirin?
Aku enggak mikir.
Itu masalahnya.
Sama kayak tiap aku melihat Farris, aku langsung kayak terhipnotis sama tuh cowok. Daya tarik yang dia punya enggak mungkin bisa diabaikan.
Begitu dia menyentuhku, aku tahu bakal susah nolak apa pun yang dia mau, dan saat dia cium aku, aku langsung sakau.
Sial, aku benar-benar kena.
Kalau aku enggak hati-hati, aku bakal jatuh cinta sama bos aku sendiri, dan itu bakal jadi bencana. Orang kayak dia enggak akan bergaul sama orang kayak aku.
Tapi tetap saja.
Saat dia cium aku. Saat aku merasakan titid kerasnya lewat kain mahal celananya itu. Titid tuh cowok jelas besar banget, dan aku tahu bakal sakit kalau sampai dia jebol keperawananku.
Waktu aku tarik napas, aroma parfumnya yang membuatku ketagihan. Rasanya memabukkan sekali sampai aku enggak tahu lagi arah aku.
Berhenti, Eva.
Dia hampir saja dapatkan kamu malam ini. Kamu lebih butuh duit daripada seks yang enggak ada artinya.
Mungkin saja itu bakal jadi seks terbaik dalam hidup aku, tapi itu enggak bakal bayar tagihan.
Saat aku ke studio, aku kira dia sudah pergi. Aku bahkan menunggu lima belas menit buat memastikan aman.
Aku sudah coba menghindari dia, tapi kalau begini terus aku harus relakan tiga puluh menit curian aku di studio.
Sambil terus menyedot debu di auditorium, pikiranku malah beralih dari bagaimana cara menghindari Farris ke bagaimana rasanya cium dia.
Hantaman lidahnya yang kuat.
Merasakan napasnya di bibirku.
Jari-jarinya yang kuat menggenggam tengkuk aku.
Tubuhnya yang padat itu menempel ke tubuh aku.
Titid keras dan tebalnya ....
Panas banget, anjirrrrrrrrr.
Aku tarik napas dalam-dalam, memaksa ingatan itu tenggelam biar aku bisa fokus bekerja, tapi dengan sisa rasa Farris yang masih menempel di mulutku, itu mustahil.
Harusnya aku biarkan saja dia meniduriku. Setidaknya aku enggak bakal merasa sekesepian ini sekarang.
Aku mengeluarkan napas panjang dan geleng-geleng sendiri.
Sambil bersihkan meja, aku melihat keluar jendela, ke hujan yang turun.
...જ⁀➴୨ৎ જ⁀➴...
Kedai ini sudah sepi, saat aku selesai, aku ke meja kasir dan ambil secangkir kopi.
"Poppy bilang kita boleh makan pai kemarin." kata Lulu. "Tuangin aku kopi, biar aku potongin dua buat kita."
"Oke." Aku duduk di meja kasir, dan saat Lulu taruh pai apel di depan aku, aku langsung gigit.
"Jadi, apa kabar barunya?" tanyanya sambil duduk di sebelahku.
Aku sama Lulu sudah paling lama kerja di Burger Bangor. Dia itu seseorang yang paling tegar dan cantik yang aku kenal. Tiap kali kehidupan memukul dia, dia balikkan dua kali lebih kuat.
"Enggak banyak." Aku jilat remah yang menempel di bibirku lalu mengaku, "Kamu tahu aku kerja shift malam di Delaney Opera Ballet, kan?"
"Iya."
"Pemiliknya itu ...." Aku mengeluarkan napas penuh lamunan. "Ganteng banget, anjing!"
Alisnya langsung naik waktu dia kasih aku tatapan penasaran. "Ooooh."
Aku enggak bisa berhenti senyum kayak orang bego saat aku mengaku, "Kita ciuman."
Lulu langsung cekal lenganku sambil condong ke depan buat dengar gosipnya. "Terus? Gimana rasanya? Kalian pacaran?"
Aku tertawa kecil. "Ciumannya luar biasa, tapi enggak, kita enggak pacaran. Enggak bakal pernah juga. Malah sekarang aku lagi hindarin dia."
"Kenapa?" Dia geleng-geleng ke aku. "Harusnya kamu jalanin aja."
Aku kasih dia tatapan enggak percaya. "Dia tajir banget dan aku miskin banget."
"Terus kenapa?"
Aku mengeluarkan napas sambil mencabik pai apel pakai garpu. "Dia bos aku dan aku enggak bisa ambil risiko buat kehilangan pemasukan."
Bahunya langsung turun, dia angkat mug lalu bergumam, "Nyebelin banget sih."
"Iya." Aku makan sedikit lagi sebelum bertanya, "Hidup kamu gimana?"
"Jauh lebih baik. Oppay akhirnya dapet kerjaan."
"Keren banget." Aku kasih dia senyum senang. "Aku senang keadaan kamu mulai membaik."
Seseorang masuk ke tempat makan dan langsung menarik perhatian kita. Saat aku lihat itu Sahara, aku langsung berdiri dari bangku.
"Keluar, Saharaaaaa!!!!" perintahku sambil jalan ke arahnya.
"Gini cara kamu memperlakukan Mama kamu?" gumamnya, enggak sebegitu mabuk atau teler kayak biasanya.
Rambut hitamnya berantakan dan dia kotor banget. Cuma Tuhan yang tahu kapan terakhir dia mandi.
Dia masuk ke sebuah booth dan bilang, "Setelah semua yang aku lakuin buat kamu."
"Kamu enggak pernah ngelakuin apa pun buat aku!" kataku sambil tertawa enggak percaya. "Keluar. Ini tempat kerja aku!"
Dia mengangkat dagu dan mengeluarkan uang kertas sama koin kusut dari sakunya. "Aku pelanggan, aku bayar."
Sialan.
Perempuan ini nyebelin banget.
"Biar aku yang catat pesanannya," kata Lulu.
Aku kasih Sahara tatapan tajam sebelum melirik Lulu dengan rasa terima kasih. "Makasih. Aku utang sama kamu."
Saat aku menjauh, Sahara bilang, "Berhenti ngunci aku di luar apartemen. Aku juga tinggal di sana."
Emosiku langsung naik waktu aku memutar badan. "Apaan sih yang kamu lakuin! Aku yang bayar semua tagihannya!!"
"Kita keluarga." bantahnya. "Kalau bukan karena aku, kamu bahkan enggak bakal hidup!"
"Astaga." Aku mendengus, menjatuhkan kedua tangan. "Aku enggak berutang apa pun ke kamu cuma karena kamu ngelahirin aku, dan hubungan darah enggak berarti apa-apa." Aku tunjuk dia, kata-kataku pendek waktu aku bilang, "Jauhin apartemen aku, dan kalau kamu nyuri barang aku lagi, aku bakal telepon polisi!"
Sahara berdiri dan menusuk dadaku pakai jarinya. "Kamu enggak bakal berani."
Aku condong lebih dekat sampai bisa cium bau alkohol basi dari napasnya, lalu aku bilang, "Aku bakal lakuin. Minggat dari hidup aku!"
"CUKUP!" Suara Poppy tiba-tiba memotong kita. "Tobias, usir Sahara!" perintahnya ke koki, yang badannya juga cocok jadi satpam.
"Aku punya uang," bantah Sahara. Saat dia mau duduk lagi, Tobias langsung tarik lengannya dan seret dia keluar dari tempat makan.
Poppy kasih aku tatapan keras, "Jangan bawa masalah pribadi kamu ke restoran aku."
Walau aku merasa ini bukan salah aku, aku cuma mengangguk dan mulai bersihkan meja tempat pantat kotor Sahara tadi.
Aku terus melihat keluar jendela ke arah Sahara yang lagi nyender di dinding di bawah kanopi. Harusnya dia jalan jauh saja di tengah hujan. Setidaknya itu bakal membersihkan kotorannya.
JD penasaran Endingnya