Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Gacha Brutal dan Pil Pembersih Tulang 2
Pukul dua dini hari.
Kamar sewaan Ye Xuan sangat sempit. Hanya ada satu kasur tipis di lantai, sebuah lemari kayu reyot, dan kamar mandi kecil berukuran satu meter persegi yang pintunya sudah lapuk. Dindingnya penuh dengan bercak jamur hitam karena kelembaban yang buruk.
Ye Xuan duduk bersila di atas kasurnya. Dia sudah melepaskan seragam sekolahnya yang basah oleh keringat, hanya menyisakan celana pendek. Tubuh remajanya terlihat sangat kurus, tulang rusuknya menonjol, sama sekali tidak mencerminkan mentalitas baja yang ada di dalam kepalanya.
Di telapak tangannya, tergeletak sebuah pil berwarna seputih salju sebesar kelereng. Pil itu memancarkan aroma herbal yang sangat pekat dan menyegarkan, membuat udara di kamar kumuh itu terasa sedikit lebih bersih.
"Menurut ingatan Tabib Dewa, proses pengeluaran kotoran sumsum tulang akan sangat menyakitkan bagi tubuh biasa," gumam Ye Xuan pada dirinya sendiri. Dia menatap pil itu. "Tapi rasa sakit apa yang belum pernah kurasakan di kehidupan remajaku yang hancur dan saat kematianku di bawah ban mobil malam itu?"
Tanpa ragu sedikit pun, Ye Xuan memasukkan pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya.
Pil itu langsung meleleh saat melewati tenggorokannya, berubah menjadi aliran panas yang sangat luar biasa. Rasanya seperti menelan cairan lava gunung berapi.
"Ughhh...!"
Ye Xuan mengerang tertahan. Rahangnya mengeras seketika. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Aliran panas itu menyebar ke seluruh aliran darahnya dengan kecepatan yang gila. Sensasi terbakar mulai menusuk setiap inci ototnya. Namun yang paling mengerikan adalah rasa sakit di tulang-tulangnya. Rasanya seperti ada ribuan semut baja yang sedang menggigiti dan mengikis sumsum tulangnya dari dalam.
Tubuh Ye Xuan mulai gemetar hebat. Keringat yang keluar dari pori-porinya bukan lagi air bening, melainkan cairan kental berwarna abu-abu kehitaman yang berbau sangat amis dan busuk. Itu adalah kotoran, racun sisa makanan murah, dan polusi yang menumpuk di tubuhnya selama tujuh belas tahun.
"Hahhhh... haahhh..." napas Ye Xuan putus-putus. Matanya memerah karena menahan rasa sakit yang melampaui batas toleransi manusia normal. Jika itu remaja biasa, mereka pasti sudah pingsan atau bahkan mati disebabkan oleh syok karena rasa sakit ini.
Namun, pengalaman sebagai pria paruh baya yang terbiasa dihancurkan oleh realita kehidupan membuat Ye Xuan menahan semuanya dalam diam. Dia tidak berteriak. Dia hanya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, membiarkan pil itu bekerja membongkar dan membangun ulang fondasi fisiknya.
Proses penyiksaan itu berlangsung selama satu jam penuh.
Ketika aliran panas itu akhirnya mereda, Ye Xuan langsung jatuh tengkurap di atas kasurnya. Dia terengah-engah hebat. Seluruh tubuhnya tertutup oleh lapisan lendir hitam pekat yang baunya seperti bangkai tikus busuk. Kasur tipisnya hancur oleh noda kotoran tersebut.
"Sialan... baunya benar-benar membuatku mual," rutuk Ye Xuan dengan suara serak.
Dia memaksakan diri untuk berdiri. Ajaibnya, meski baru saja melewati rasa sakit yang luar biasa, dia merasa tubuhnya seringan kapas. Rasa lelah kronis yang selalu menghantuinya sejak dia menjadi kuli angkut di masa lalu... lenyap tak berbekas.
Ye Xuan berjalan ke kamar mandi sempitnya, menyalakan keran air dingin, dan mulai menggosok tubuhnya dengan sabun batangan murah berkali-kali hingga lapisan hitam itu bersih sepenuhnya.
Setelah membilas tubuhnya, Ye Xuan berdiri di depan cermin kecil yang retak di dinding kamar mandi.
Dia tertegun sejenak.
Bayangan di cermin bukan lagi remaja kurang gizi yang rapuh. Meski tubuhnya tidak membesar menjadi penuh otot seperti binaragawan, struktur fisiknya telah berubah drastis. Bahunya terlihat sedikit lebih lebar dan tegak. Otot-otot di perut dan lengannya kini tercetak dengan definisi yang tajam, sangat padat dan ramping, seperti kawat baja yang dipilin sempurna. Kulitnya yang tadinya kusam kini terlihat bersih dan sedikit lebih cerah.
Namun yang paling berubah adalah sorot matanya. Mata gelap itu kini memancarkan kejernihan dan ketajaman yang mengerikan, menyembunyikan kekuatan ledakan mematikan di balik tatapan yang tenang.
"Hahhhhh..." Ye Xuan menghela napas panjang, mengusap air dari rambutnya yang basah ke belakang. "Fondasi awal telah terbentuk. Fisik ini... setidaknya sudah cukup untuk membunuh tiga atau empat preman jalanan dengan tangan kosong tanpa perlu menggunakan jarum perak."
Dia mengepalkan tinjunya. Sebuah kekuatan yang solid mengalir di lengannya.
Malam ini adalah malam yang panjang. Dia telah menipu kematian, mempermainkan keluarga konglomerat, membakar empat puluh juta yuan, dan terlahir kembali secara fisik. Besok, dia harus kembali ke realita sekolah sebagai seorang yatim piatu miskin, menyembunyikan cakar naga di balik seragam sekolahnya.