NovelToon NovelToon
Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.

Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.

Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.

Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam

Shafira berdiri di depan bangunan yang mulai terbentuk. Dulu, rumah ini hanyalah rumah reyot peninggalan kedua orang tuanya, tapi kini perlahan mulai berdiri kokoh kembali.

Tidak ada yang tahu bahwa selama ini ia bekerja keras menulis online dan berjualan online untuk mewujudkan semuanya.

Tidak ada yang tahu bahwa selama ini ia bukan sekadar 'istri yang bergantung pada suami'.

Ia mengamati para tukang yang sibuk bekerja, memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana.

"Shafira, coba kamu cek, ini warna cat yang kemarin kamu pilih." ucap suaminya Bi Sari sambil menunjukkan sampel warna dinding.

Shafira tersenyum.

"Iya, paman. Sudah sesuai."

Seorang tukang lain mendekat.

"Bu, jendela kamar utamanya tetap pakai model yang ini?"

"Iya, jangan diubah." jawabnya tegas.

Ia ingin rumah ini sempurna. Rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya ketika ia akhirnya pergi dari rumah mertua yang selama ini memperlakukannya seperti pembantu.

Ketika ia akhirnya meninggalkan Aris.

Ia tidak butuh suami yang pelit dan tukang selingkuh. Ia hanya butuh kebebasan.

Senyumnya melebar saat membayangkan wajah Aris dan keluarganya saat mereka tahu bahwa 'wanita miskin' yang selama ini mereka rendahkan ternyata mampu membangun rumah sendiri.

'Sabar.' batinnya. Semua akan terbongkar pada waktunya. Untuk sekarang, ia hanya perlu bermain cantik.

Shafira baru saja pulang dari lokasi pembangunan rumahnya ketika melihat Bu Ratna dan Tia sedang bersantai di ruang tamu.

Begitu melihatnya masuk, Bu Ratna langsung mengerutkan dahi.

"Dari mana aja? Lama banget!" tanyanya dengan nada tajam.

Shafira tersenyum santai.

"Jalan-jalan, Bu. Nyari udara segar. Capek juga kerja terus di rumah ini."

Bu Ratna mendengus.

"Perempuan itu gak perlu jalan-jalan. Tugasnya ya di rumah, ngurus suami!"

Shafira mengangkat alis.

"Ya bedalah, jaman dulu kala dengan yang sekarang. Ibu waktu masih muda, mungkin gak pernah ngerasain jalan-jalan. Ya kan?" ucap Shafira dengan santai.

Tia yang sedang makan keripik langsung tersedak, sementara Bu Ratna mendelik tajam.

"Apa kamu bilang?! Hey kamu sadar diri, kamu ini seorang istri, bukan anak gadis yang bebas ke mana-mana!"

"Iya, iya... Shafira ngerti kok."

"Bagus kalau kamu ngerti. Sekarang kamu setrika baju Aris, jangan sampai dia pakai baju kusut saat kekantor."

Shafira terkekeh.

"Oh, jangan khawatir, Bu. Aku bakal setrika rapi. Biar wangi juga. Kan kasihan, kerja keras cari duit banyak, biar keperluan ibu terpenuhi." ujarnya, lalu langsung melenggang kedalam kamarnya.

Sedangkan Bu Ratna sudah mendelik, siap mengeluarkan kata-kata mutiaranya.

Di kamarnya, Shafira membuka ponsel dan melihat deretan bukti perselingkuhan Aris.

Fotonya dengan Fela, rekaman suara, chat mereka, semuanya sudah lengkap.

Tinggal menunggu waktu yang tepat.

Sementara itu, rumah barunya juga hampir selesai. Ia sudah mulai memilih perabotan yang sesuai dengan seleranya.

Sebentar lagi, ia akan benar-benar bebas.

Shafira tersenyum sinis sambil berbisik,

"Bersiaplah, Aris. Aku akan menunjukkan siapa yang sebenarnya kalian remehkan."

Aris duduk di sebuah warung pecel lele sederhana, mengaduk-aduk es teh di depannya sambil sesekali melirik ke arah perempuan yang duduk di seberangnya.

Fela tersenyum manja.

aku?" "Mas, kok diem aja? Gak senang ya bisa ketemu

Aris tertawa kecil.

"Ya senang lah, sayang. Tapi aku lagi mikir kerjaan juga."

"Mikir kerjaan apa mikirin istri di rumah?" ucap Fela cemberut.

Aris langsung mendecak.

"Udahlah, jangan bahas dia. Aku kan di sini sama kamu."

Fela tersenyum puas. Ia memang suka saat Aris memperlakukannya seolah-olah hanya ia satu-satunya perempuan dalam hidup laki-laki itu.

Aris kemudian mengeluarkan dompetnya, memeriksa isinya. Ia mengerutkan dahi. Uang cashnya tinggal sedikit.

"Duh, Fela, kita makan di sini aja ya, jangan di tempat mahal. Aku lagi banyak pengeluaran buat di rumah."

Fela tertawa pelan.

"Gak apa-apa, mas. Aku mah gak nuntut makan mahal, yang penting bisa bareng sama kamu."

Aris tersenyum lega. Ini yang ia suka dari Fela.

Berbeda dengan Shafira yang menurutnya terlalu serius dan entah kenapa, kadang terasa seperti beban.

Fela lebih santai, lebih menyenangkan.

Apalagi, tidak seperti Shafira, Fela tidak pernah menuntut apa pun darinya.

"Kalau nanti kita serius, kamu mau gak jadi ibu rumah tangga?" tanya Aris tiba-tiba.

Fela tertawa.

"Loh, mas Aris mau nikahin aku? Niat cerai sama istri?"

Aris menghela napas.

"Belum tahu, sih. Tapi kalau sama kamu, aku ngerasa lebih bebas."

Fela tersenyum puas.

Sementara itu, Aris sebenarnya merasa tidak yakin dengan keputusannya. Ia menatap Fela yang masih sibuk dengan ponselnya.

Jujur saja, ia masih mencintai Shafira.

Istrinya memang sering membantah, terutama kalau sudah berurusan dengan ibunya. Tapi di luar itu, Shafira tetap istri yang patuh. Apa pun yang dimintanya, Shafira pasti melakukan.

Beda dengan Fela yang lebih manja, lebih mengerti cara merayunya.

Tapi di mata Aris, justru karena perbedaan itu ia ingin memiliki keduanya. Shafira yang setia, yang mengurus rumah dan dirinya dengan baik. Dan Fela yang lebih bebas, lebih ringan, dan tidak membebaninya secara finansial.

Ia sudah lama berpikir, kenapa harus memilih salah satu kalau bisa punya dua-duanya?

Kalau ia bisa menikahi Fela, hidupnya pasti lebih sempurna.

Ia tetap punya Shafira di rumah, istri yang patuh. Dan ia juga punya Fela, perempuan yang tidak akan membebaninya soal uang karena Fela bekerja dan menghasilkan sendiri.

Aris tersenyum tipis. Membayangkan betapa bahagia dirinya jika nanti sudah beristri dua.

Sambil senyum-senyum, ia mengaduk es tehnya, pikirannya melayang sudah melayang. Seolah bangga dengan ide briliannya

"Mas, kok senyum-senyum sendiri?" goda Fela.

Aris tersadar, lalu terkekeh.

"Gak, cuma mikir aja."

Fela memiringkan kepala.

"Mikirin aku, ya?"

Aris tersenyum samar.

"Iya. Dan masa depan kita."

"Masa depan?" ucap Fela menaikkan sebelah alisnya.

Aris mengangguk.

"Mas pengen kita bisa bareng terus, dan mas udah mikirin semuanya."

Fela tertawa kecil.

"Dan caranya?"

Aris menatapnya penuh keyakinan.

"Mas akan menikahimu."

Fela terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar.

"Mas serius?"

Aris mengangguk mantap. Ia yakin ini keputusan terbaik.

Aris melirik jam di pergelangan tangannya.

Sudah hampir jam sembilan malam.

Fela yang duduk di sebelahnya tersenyum kecil.

"Mas, sebelum pulang, mampir dulu ke tempatku, yuk."

Aris menoleh, menatapnya dengan dahi berkerut.

"Mampir ke tempatmu?"

Fela mengangguk, menggigit bibir bawahnya sedikit, seolah menggoda.

"Iya. Aku punya sesuatu buat mas. Hadiah."

Aris menelan ludah. Ia bukan anak kecil. Tentu saja ia mengerti maksud dari ajakan itu.

"Hadiah apa?" tanyanya hati-hati.

Fela tersenyum semakin lebar.

"Rahasia dong. Pokoknya spesial buat mas."

Aris menghela napas pelan. Ia boleh saja berselingkuh, boleh saja menikmati kebebasannya dengan Fela, tapi tidak sampai sejauh itu.

Ia masih takut dengan yang namanya zina.

Lagipula, kalau sampai ibunya tahu, dia bisa habis.

Bu Ratna memang mengizinkan dia punya wanita lain selain Shafira, tapi kalau sampai ketahuan tidur dengan perempuan sebelum resmi menikah. Itu beda lagi!

Bu Ratna bisa mengomelinya habis-habisan.

"Gak, deh. Udah malam, Mas harus pulang." ujarnya.

Fela mengerucutkan bibir, jelas kecewa.

"Mas, sebentar aja. Aku udah nyiapin sesuatu buat mas."

Aris menggeleng.

"Gak bisa, Fel. Lain kali aja, ya."

Fela mendesah, tapi tidak memaksa lagi.

Dalam hati, Aris merasa lega. Ia memang menikmati waktu bersama Fela, tapi ia masih punya batasan sendiri.

Ia menginginkan Fela sebagai istrinya kelak, bukan hanya sebagai pelampiasan sesaat.

1
Desi Belitong
aku suka dia melawan bukan hanya bisa nangis💪💪
Aisyah Sabilla
THOR KAPAN UPDATE
Iry: kemungkinan bsk aku update langsung banyak yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!