Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Bayangan di Balik Jubah Biru
Pria berjubah biru itu kini terlihat berdiri di tepi arena tanpa ikut bersorak.
Ia tidak berada di tribun utama, tidak pula bercampur dengan para petaruh atau pedagang senjata.
Posisi berdirinya setengah tersembunyi di bawah bayangan atap kayu, cukup jauh untuk tidak menarik perhatian, namun cukup dekat untuk melihat setiap gerakan di arena dengan jelas.
Sorot matanya tidak mengikuti jalannya pertarungan secara umum, melainkan terus tertuju pada satu sosok yaitu Yuda.
Tatapan itu bukan tatapan kagum, bukan pula kebencian.
Lebih tepatnya, tatapan seseorang yang sedang menilai barang, seolah seperti menimbang kegunaan, potensi, dan harga yang pantas dibayar.
Yuda menyadarinya sejak sosok itu sempat menghampirinya sebentar.
Ada sesuatu yang terasa mengganggu di tengkuknya, perasaan seperti sedang diawasi oleh mata yang tidak berkedip.
Ia sudah terbiasa ditatap dengan niat membunuh, tapi tatapan ini berbeda.
“Bocah itu lagi yang kau perhatikan?” bisik seseorang di samping pria berjubah biru.
Orang itu berwajah tirus dengan jubah cokelat kusam, jelas bukan petarung arena.
“Ia masih belum matang,” jawab pria berjubah biru tanpa mengalihkan pandangan. “Tekniknya terlalu kasar, dan aliran tenaganya juga belum stabil.” lanjutnya.
“Lalu kenapa kau bisa tertarik dengannya?” tanya pria berjubah coklat kembali.
Pria berjubah biru itu hanya tersenyum tipis.
“Karena tubuhnya terlalu menarik.” jawabnya kemudian.
Orang di sampingnya mengernyit, jelas tidak memahami maksud kalimat itu.
Yuda duduk di sudut arena kecil yang disediakan untuk petarung.
Bangku kayu di bawahnya dingin dan lembap, dengan bau keringat, darah, dan tanah bercampur menjadi satu.
Ia membalut ulang lengannya dengan kain kasar, menariknya erat agar luka lamanya tidak terbuka kembali.
Napasnya pun terlihat belum sepenuhnya stabil.
Dua pertarungan beruntun membuat tenaga dalamnya bergejolak.
Sedangkan aliran napasnya naik turun tidak teratur, seolah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang terus menuntut untuk selalu bergerak.
“Hei bocah bebal, berhentilah menatap ke sana,” suara Tara terdengar pelan dari bawah bangku.
Kucing putih kecil itu melingkar santai, namun ekornya bergerak perlahan, tanda kewaspadaan.
“Kau terlihat seperti kambing yang menunggu disembelih, Meoww-..” lanjutnya.
“Aku hanya memastikan dia masih di sana,” jawab Yuda tanpa menoleh dan dengan wajah datar.
“Dia itu tidak akan pergi,” balas Tara.
“Orang seperti itu hanya mendekat jika sudah yakin mangsanya tidak bisa kabur lagi.” lanjut Tara menjelaskan.
Yuda pun terlihat hanya menghela napas pendek.
“Aku tidak merasa sedang terjebak.” ucap Yuda dengan datar kembali.
“Itu karena kau bodoh, dasar bocah bebal.” kata Tara datar.
Sebelum Yuda sempat membalas, lonceng arena saat ini terdengar sudah dibunyikan kembali.
Bunyi logamnya menggema, memantul di dinding kayu dan batu.
“Peserta berikutnya, naik!” teriak wasit dengan suara serak.
Nama Yuda pun disebut lagi.
Beberapa orang di tribun bersorak kecil, mengingat pertarungan sebelumnya.
Namun ada sebagian lainnya justru menggerutu kesal.
“Masih hidup juga bocah itu.” teriak penonton dengan wajah iri.
“Kenapa dia belum mati?” ucap penonton lainnya.
Yuda pun akhirnya berdiri dan berjalan memasuki arena kembali.
Bahunya terasa berat, dada masih nyeri, namun kakinya tetap melangkah menuju arena.
Lawan kali ini terlihat jelas berbeda.
Seorang pria bertubuh besar dengan bahu lebar dan lengan penuh bekas luka lama.
Di tangannya tergenggam sebuah gada besi tebal, ujungnya penuh penyok akibat menghantam tulang dan batu.
Langkahnya terlihat sangat mantap dan napasnya pun terlihat tenang.
“Hei bocah, menyerah lah sekarang,” katanya singkat tanpa nada menghina.
“Aku tidak dibayar untuk membunuh anak setengah jadi, hahaha.." lanjutnya dengan tawa mengejek.
Mendengar itu, Yuda pun tidak menjawab, ia hanya diam mengamati musuhnya.
Ia menurunkan pusat berat tubuhnya, menyesuaikan posisi kaki seperti yang diajarkan gurunya dulu.
Ia juga menahan keinginan untuk langsung menyerang.
Dari luar arena, Tara berbisik cepat.
"Meoww-.. Meoww-.." teriaknya yang terdengar di telinga orang lain.
Sedangkan di telinga Yuda, Tara mengatakan..
“Dia lambat, tapi sekali kena, tulangmu bisa langsung remuk, jadi jangan adu tenaga.” ucap Tara.
Mendengar teriakan dari kucingnya, Yuda pun mengangguk tipis mengerti.
Gong akhirnya dipukul.
Suara besi menghantam besi bergema keras.
Gada itu menghantam tanah lebih dulu.
Setelah itu, terlihat debu dan kerikil terlempar ke udara.
Yuda pun mundur setengah langkah, hampir terpeleset, lalu memutar ke samping untuk menghindari ayunan lanjutan dari musuhnya.
Serangan kedua datang lebih cepat.
Dan Ia terlambat untuk menghindar, sehingga serangan lawan mengenainya.
Ujung gada besar itu langsung menghantam bahunya dengan tepat.
Rasa nyeri seketika menjalar dari bahu ke dada, membuat pandangannya bergetar dan sedikit kabur.
Yuda pun langsung terhuyung seperti akan jatuh, sehingga itu membuat sorak penonton berubah menjadi teriakan.
“Berdiri!” teriak Tara dengan suara tajam.
Yuda hanya terlihat menggertakkan giginya dengan keras.
Ia memaksakan aliran tenaga dalamnya mengalir ke kaki, menahan rasa sakit dengan napas yang pendek dan teratur.
Alih-alih mundur, ia justru bergerak mendekat.
Membuat lawannya itu terkejut sesaat.
Seketika, terlihat siku Yuda yang secara tiba-tiba menghantam perut lawan, entah sejak kapan ia bergerak, bahkan para penonton tidak menyadarinya.
Setelah itu disusul dengan pukulan pendek ke tulang rusuk lawannya.
Pukulan itu tidak keras dan tidak indah, namun sangat tepat sasaran, seolah Yuda sangat tahu setiap titik struktur tubuh manusia.
Pria besar itu seketika langsung terbatuk, kehilangan napasnya sepersekian detik.
Namun Yuda tidak memberi waktu untuk lawannya.
Ia kembali menyapu kaki lawan dengan gerakan rendah, sehingga membuat tubuh besar itu jatuh menghantam tanah arena dengan suara yang berat.
Dan sebelum gada terangkat kembali, Yuda terlihat sudah menekan leher lawan dengan lutut, menahan titik napasnya.
Wasit seketika melompat masuk.
“Cukup!” teriaknya menghentikan pertarungan.
Arena pun langsung berubah sunyi sejenak, dan beberapa detik kemudia kembali terdengar sorak sorak penonton yang mulai riuh
Melihat kejadian itu, pria berjubah biru terlihat sedang tersenyum tipis dari kejauhan.
“Sekarang aku akhirnya yakin dengan bocah itu," gumamnya lirih.
Ia akhirnya berbalik lalu pergi dengan langkahnya yang tenang, seolah hasil pertarungan itu sudah lama ia ketahui.
Di bawah bangku, Tara menatap punggung jubah biru yang mulai menjauh, membuat bulu di tengkuknya sedikit berdiri.
“Ini adalah sebuah masalah,” katanya pelan.
Yuda di arena akhirnya menarik napas panjang sambil berdiri di tengah arena.
Ia menang lagi.
Namun untuk pertama kalinya, ia akhirnya sadar, bahwa pertarungan di arena ini bukan lagi soal menang atau kalah.
Karena sudah ada seseorang yang telah melihatnya, bahkan juga menilainya.
Dan mungkin setelah ini, orang-orang itu akan mulai menyiapkan langkah mereka untuk menyeretnya ke permainan yang jauh lebih besar.
......................