"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 - Pengkhianat
"Maksud kamu apa, Zahra?!" teriak Aura. Ia meringis, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Zahra yang terasa kian menjepit tulang pergelangan tangannya. "Lepasin, Zah! Sakit!" pinta Aura memohon, matanya mulai berkaca-kaca menahan perih.
Zahra, gadis dengan rambut kecokelatan yang biasanya tampak ceria itu, kini menatap Aura dengan kobaran api kemarahan. Tanpa kata, ia menyentak tangan Aura hingga terlepas, lalu merogoh tasnya dengan kasar. Ia menyodorkan layar ponsel tepat di depan wajah Aura.
Di sana, terpampang pengumuman kelulusan seleksi beasiswa London atas nama Zahra.
Aura tertegun. Karena terlalu larut dalam duka menunggu Arfan di ICU, ia sampai lupa bahwa hari ini adalah hari penentuan masa depannya. Dengan tangan bergetar, Aura merogoh ponsel dari saku roknya. Ia membuka kotak masuk email dengan napas yang memburu.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca kalimat pembukanya: “We regret to inform you...”
Aura dinyatakan tidak lolos dengan alasan yang sangat janggal, kesalahan data yang tidak akurat pada dokumen pendukung.
"Lo nggak lolos, kan? Sementara gue lolos!" cecar Zahra. suaranya bergetar menahan amarah yang meluap. "Kita ngerjain semuanya bareng-bareng, Ra! Gue saksinya, gue yang cek semua data lo berkali-kali dan semuanya sempurna! Nggak mungkin ada data yang salah kalau nggak ada yang sengaja ngutak-atik sistemnya!"
Air mata Aura menetes pelan, membasahi layar ponsel yang masih menampilkan berita kegagalannya. Tubuhnya mendadak lemas, seolah seluruh tenaganya dihisap habis oleh lantai rumah sakit.
"Dan lo tahu siapa satu-satunya orang yang punya akses ke laptop lo selain gue?" tanya Zahra dengan nada rendah yang mematikan. "Orang yang sekarang lagi lo tangisin di dalem ruang ICU itu, Ra! Arfan!"
"Engga mungkin Zah, kita juga ga bisa asal nuduh orang kalau belum ada bukti nyata," telak Aura yang merasa tidak percaya dengan perkataan Zahra.
Zahra memegang dahinya, ia bingung harus berkata apa kepada Aura, karena menurut Zahra semua sudah sangat jelas jika Arfan pelakunya.
"Buka mata lo Ra, bukaaa! Ini semua janggal, aneh dan ga bisa masuk secara logika!"
"Ga ada yang janggal, mungkin memang aku teledor, salah ketik atau salah masukin data," ucap Aura dengan yakin.
Aura menghapus air matanya, kepalanya terasa pusing karena masalah silih berganti tanpa permisi kepadanya. Aura menarik nafas dalam, ia menengadahkan kepalanya.
Ya Allah, kuatkan hati hamba. Jika memang belum rezeki hamba kuliah di London, tolong ikhlaskan hamba, batin Aura.
"Sekarang lebih baik kita pergi Ra, gue ga mau lo terperangkap penjara Arfan!"
"Ga mau Zah! Kak Arfan yang udah rela berkorban mempertaruhkan nyawanya cuman demi nyelamatin gue!" tegas Aura, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu berada di isi Arfan, "Gue punya hutang nyawa sama dia, jadi gue ga akan ninggalin dia sebelum Kak Arfan sembuh!"
Zahra tersenyum miring, lalu ia bertepuk tangan pelan. Bunyi tepukan itu menggema di lorong rumah sakit yang sunyi, terasa menyayat hati dan penuh ejekan.
"Hebat! Luar biasa!" Zahra tertawa hambar, matanya menatap Aura dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kasihan dan muak. "Hutang nyawa, Ra? Lo beneran mau tukar masa depan lo, mimpi lo ke London, cuma buat nungguin cowok yang bahkan sengaja bikin lo gagal?"
"Zah, berhenti!" bentak Aura, suaranya parau karena isak tangis.
"Nggak akan! Lo bilang dia rela berkorban? Lo tahu nggak, korban yang paling gede di sini itu lo, Aura! Dia pahlawan? Bukan, Ra. Dia itu sutradara! Dia bikin skenario kecelakaan itu supaya lo merasa jadi orang paling berdosa kalau ninggalin dia!" Zahra maju satu langkah, menekan setiap kata-katanya.
Aura menutup telinganya dengan kedua tangan. "Cukup, Zahra! Pergi kamu! Pergi!"
Zahra tertawa sinis, langkahnya yang hendak menjauh tiba-tiba terhenti. Ia berbalik lagi, menatap Aura dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya.
"Lo mau gue pergi? Oke, gue pergi. Tapi lo harus tahu satu hal lagi biar lo nggak makin kelihatan bodoh di sini," Zahra mendekat, membisikkan kata-kata yang terasa seperti belati yang menusuk jantung Aura. "Orang yang selama ini lo sebut sahabat, yang sok suci, yang selalu pakai gamis itu... Mawar. Dia itu pacar kesayangan Arfan, Ra. Mereka sering jalan berdua di belakang lo. Jadi sekarang lo paham kan, kenapa sikap Mawar aneh? Karena mereka berdua sama-sama penghianat!"
Aura ternganga. Jantungnya terasa berhenti berdetak. "Nggak mungkin... Mawar nggak mungkin kayak gitu..."
"Gue bakal berangkat ke London sendirian," ucap Zahra, suaranya tiba-tiba merendah, terdengar kecewa yang luar biasa. Ia merapikan tasnya, menatap Aura untuk terakhir kalinya. "Inget satu hal, Ra. Saat lo sadar nanti kalau Arfan itu monster dan Mawar itu ular, jangan cari gue. Karena saat itu, lo udah bener-bener sendirian di dalam penjara yang lo kunci sendiri."
Zahra berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Aura yang jatuh terduduk di lantai dingin koridor rumah sakit, sendirian di antara kegagalan beasiswanya, pengkhianatan sahabatnya, dan pintu ICU yang masih tertutup rapat.
Saat di lorong rumah sakit, Zahra berpapasan dengan Mawar. Zahra berhenti tepat di hadapan Mawar dengan kedua tangan yang dilipat di dada dan tatapan mengejek yang tajam.
"Wah, Ustadzah Mawar mau jenguk pacarnya, ya?" sindir Zahra, bibirnya melengkung sinis. "Tapi sayang, masih ada sahabat kamu di sana. Nanti ketahuan kalau kamu itu... pengkhianat bermuka dua, gimana?"
Mawar tertegun, langkahnya terhenti seketika. Wajahnya yang semula pucat kini semakin memutih mendengar tuduhan itu. "Zahra, jaga bicara kamu. Aku ke sini cuma mau—"
"Mau apa? Mau nangisin Arfan lagi?" potong Zahra dengan tawa hambar. "Gila ya, hebat banget akting lo. Di depan Aura sok jadi malaikat pelindung, tapi di belakang... lo main rahasia-rahasiaan sama Arfan. Apa pesantren Abah kamu nggak ngajarin cara menghargai persahabatan?"
Mawar mengepalkan tangannya di balik gamis pink-nya. Dadanya terasa sesak. "Kamu nggak tau apa-apa tentang apa yang aku dan Kak Arfan bicarakan, Zah. Tolong, jangan bawa-bawa Abah aku."
"Gue nggak butuh tau detailnya buat tau kalau lo itu jahat, War," bisik Zahra tepat di telinga Mawar, suaranya dingin dan penuh penekanan. "Aura baru aja kehilangan beasiswanya gara-gara Arfan, dan lo? Lo malah sibuk jadi pelindung buat monster itu. Cocok sih, yang satu manipulator, yang satu ratu drama penjaga rahasia."
Zahra sengaja menabrak bahu Mawar dengan keras saat melangkah pergi, meninggalkan Mawar yang mematung di tengah lorong dengan air mata yang hampir jatuh lagi.
Bersambung......
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰