"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Robot yang Bernapas
BAB 7: Robot yang Bernapas
Waktu adalah pencuri yang paling kejam. Bagi sebagian orang, tiga bulan mungkin terasa singkat, sebuah kedipan mata di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Namun bagi Rangga, setiap detik dari sembilan puluh hari terakhir terasa seperti tetesan air yang jatuh di atas batu—pelan, konsisten, dan perlahan-lahan menghancurkan kewarasannya.
Di lantai dua puluh dua gedung perkantoran mewah di kawasan Sudirman, Jakarta, suasana terasa mencekam. Jam dinding digital sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB. Sebagian besar staf sudah pulang ke rumah masing-masing, namun lampu di ruang manajer pemasaran masih menyala terang benderang. Di dalam ruangan yang didominasi interior kayu gelap dan kaca itu, Rangga duduk dengan kemeja hitam yang lengannya disingsingkan hingga siku.
Wajahnya telah kehilangan kehangatan yang dulu menjadi ciri khasnya. Rahangnya tampak lebih tegas, tulang pipinya lebih menonjol, dan matanya... mata itu kini terlihat seperti telaga yang beku. Dingin dan tak tersentuh. Rangga bukan lagi pemuda yang sering tertawa saat makan siang bersama rekan kerjanya. Kini, ia dikenal sebagai "Sang Robot"—manajer pemasaran yang tidak mengenal lelah, tidak mengenal belas kasihan, dan hanya peduli pada angka serta target.
Ia sedang menatap tumpukan dokumen evaluasi proyek properti di depannya, namun pikirannya sebenarnya sedang melayang ke tempat yang jauh. Ke sebuah tempat yang ia sendiri tidak tahu di mana.
Pintu ruangan diketuk pelan. Maya, sekretarisnya, masuk dengan langkah yang sangat hati-hati, seolah takut jika suaranya akan memicu ledakan dari sang manajer.
"Pak Rangga, ini laporan riset pasar yang Bapak minta tadi sore. Saya sudah merapikannya sesuai standar yang Bapak mau," ujar Maya dengan suara lirih.
Rangga tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan baris terakhir di komputernya, baru kemudian mendongak. Tatapannya begitu tajam hingga Maya refleks menunduk.
"Letakkan di sana, Maya. Kenapa kamu belum pulang?" tanya Rangga datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Saya... saya menunggu Bapak selesai. Tadi Ibu Sarah menelepon lagi ke telepon kantor. Beliau bilang Anda sudah hampir seminggu tidak mampir ke rumah dan selalu pulang lewat tengah malam. Beliau sangat khawatir dan berpesan agar Bapak—"
"Maya," potong Rangga, suaranya rendah namun penuh dengan getaran yang mengancam. "Sejak kapan gajimu dibayar oleh Ibuku? Tugasmu di sini adalah menjadi sekretaris manajer pemasaran, bukan menjadi kurir pesan pribadi dari keluargaku. Jika sekali lagi kamu membawa urusan luar ke dalam jam kerjaku, silakan serahkan surat pengunduran dirimu besok pagi."
Maya gemetar, wajahnya memucat seketika. "Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud... saya pamit dulu."
Begitu pintu tertutup, Rangga menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mahal. Ia memejamkan mata dan menarik napas panjang. Rasa pusing yang kronis mendadak menghantam kepalanya lagi. Itu bukan lagi pusing biasa; itu adalah rasa sakit yang menjalar dari leher hingga ke belakang matanya, sebuah pengingat fisik dari stres dan kerinduan yang ia tekan kuat-kali selama ini.
Ia membuka laci meja pribadinya yang terkunci rapat. Di sana, tergeletak sebuah ponsel lama dengan layar yang sudah retak, serta sebuah foto Arini yang ia ambil diam-diam setahun yang lalu. Dalam foto itu, Arini sedang berdiri di bawah pohon kamboja, tertawa lepas karena Rangga baru saja menceritakan lelucon bodoh. Rambut panjangnya yang hitam berkilau tertiup angin.
Rangga mengusap permukaan foto itu. Jemarinya yang biasanya tegas saat menandatangani kontrak miliaran rupiah, kini gemetar hebat.
"Tiga bulan, Rin. Sembilan puluh hari aku mencari kamu seperti orang gila," bisiknya pada keheningan ruangan. "Aku membayar detektif, aku mendatangi setiap rumah sakit di Jawa, aku mengecek setiap daftar kematian... tapi kamu hilang seperti ditelan bumi. Apakah kamu sejahat itu? Menghukumku dengan ketidaktahuan?"
Kemarahan dan kesedihan berperang di dalam dadanya. Rangga benci pada Arini yang tega meninggalkannya, tapi ia jauh lebih benci pada dirinya sendiri yang gagal menjaga wanita itu. Ia tahu ibunya terlibat, namun sang Ibu tetap bungkam seribu bahasa, bersikap seolah-olah ia melakukan segalanya demi kebaikan Rangga.
Tiba-tiba, ponsel pribadinya yang ia letakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari nomor yang tidak dikenal masuk.
“Ada seorang wanita dengan kondisi sangat lemah di Klinik Medika Sejahtera, pelosok Bogor. Dia datang tanpa identitas yang jelas, tapi semalam saat dia kritis, dia terus menggumamkan nama 'Rangga'. Di dalam tas lusuhnya, ada sebuah foto kecil pria yang mirip dengan Anda. Datanglah sebelum semuanya benar-benar terlambat.”
Dunia Rangga seolah berhenti berputar. Oksigen di paru-parunya mendadak habis. Ia membaca pesan itu berulang-ulang hingga matanya terasa perih. Hati kecilnya berteriak bahwa ini mungkin jebakan atau kesalahan, tapi instingnya—insting seorang pria yang sudah kehilangan segalanya—mengatakan bahwa ini adalah jawaban dari doa-doa gelapnya setiap malam.
Tanpa berpikir dua kali, Rangga menyambar jasnya. Ia berlari keluar ruangan, mengabaikan lampu-lampu kantor yang masih menyala. Ia tidak menunggu lift; ia menuruni tangga darurat dengan langkah seribu, napasnya memburu, jantungnya berdegup seperti genderang perang.
Di tempat parkir, ia melompat ke dalam mobil hitamnya. Ia mengerang saat menghidupkan mesin, lalu menginjak pedal gas hingga ban mobilnya mencicit keras di atas lantai semen.
Hujan deras mulai mengguyur Jakarta, seolah langit ingin merintangi perjalanannya. Petir menyambar, menerangi wajah Rangga yang kini penuh dengan tekad yang mengerikan. Ia memacu mobilnya membelah kemacetan, melanggar batas kecepatan, dan mengabaikan semua lampu lalu lintas.
"Tunggu aku, Rin... kumohon jangan menyerah dulu," rintihnya di balik kemudi. "Aku sudah menjadi apa yang kamu mau. Aku sudah sukses, aku sudah punya segalanya. Sekarang, kembalilah dan lihat apa yang sudah kamu lakukan padaku."
Perjalanan dari Jakarta menuju pinggiran Bogor yang seharusnya memakan waktu dua jam, ia tempuh hanya dalam satu jam sepuluh menit. Rangga mengemudi seperti orang gila, menantang maut di tengah jalanan yang licin dan jarak pandang yang minim.
Pikiran Rangga melayang pada kemungkinan terburuk. Bagaimana jika ia hanya menemukan raga tanpa nyawa? Bagaimana jika pesan itu dikirim oleh orang yang ingin memerasnya? Namun, semua keraguan itu sirna saat ia melihat papan nama kayu yang sudah kusam di pinggir jalan terpencil: KLINIK MEDIKA SEJAHTERA.
Ia mengerem mobilnya dengan mendadak, membuat mobil itu tergelincir sedikit di atas aspal yang basah. Rangga keluar tanpa memedulikan hujan yang langsung membasahi jas mahalnya hingga kuyup. Ia berlari masuk ke dalam bangunan klinik yang tampak seperti rumah tua itu.
"Di mana dia?!" teriak Rangga saat baru saja melewati pintu depan.
Seorang perawat yang sedang berjaga malam tersentak, hampir menjatuhkan berkas yang ia pegang. "Maksud Bapak... pasien di kamar 09?"
Rangga tidak butuh jawaban lebih lanjut. Ia melihat angka-angka di pintu kayu yang berjejer di koridor yang remang-remang. Matanya menangkap angka '09' di ujung lorong.
Langkahnya melambat. Rasa pusing di kepalanya mendadak hilang, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa dingin. Ia berdiri di depan pintu itu, tangannya yang gemetar menyentuh gagang pintu yang berkarat.
Di dalam sana, mungkin ada akhir dari pencariannya. Atau mungkin, awal dari sebuah kehancuran yang lebih besar. Rangga memejamkan mata sejenak, membisikkan satu nama yang menjadi napasnya selama ini, lalu memutar gagang pintu itu perlahan.
"Arini..."
Dan di balik pintu itu, bau antiseptik yang tajam serta bunyi napas yang tersengal dari balik selang oksigen menyambutnya. Itulah awal dari babak baru dalam hidup Rangga—babak di mana ia akan bertaruh segalanya untuk membalas dendam pada takdir yang telah mencuri wanitanya.