NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Enam bulan telah berlalu sejak malam di paviliun keluarga Al-Gazhi, malam yang mengubah seluruh garis hidup Dayana. Jakarta masih sama sibuk, bising, dan penuh polusi, namun dunia di dalam dada Dayana telah berganti musim. Tidak ada lagi Dayana yang hobi memadupadankan pakaian minim, kini yang ada adalah seorang gadis dengan tatapan teduh, yang setiap paginya menghabiskan waktu di depan cermin untuk memastikan jilbabnya terjuntai sempurna menutupi dada, persis seperti yang diajarkan oleh Bunda Ameera.

Keputusannya untuk memeluk Islam dan berhijrah bukan tanpa tantangan, namun Dayana beruntung. Kedua orang tuanya, yang lama menetap di luar negeri, adalah tipe pemikir terbuka. Mereka melihat perubahan drastis pada putri mereka, Dayana menjadi lebih tenang, lebih santun, dan tidak lagi terjebak dalam pusaran drama remaja yang melelahkan. Bagi mereka, selama Dayana menemukan kedamaian, mereka akan berdiri paling depan untuk mendukungnya.

Pagi itu, udara di SMA High School terasa penuh ketegangan sekaligus kelegaan. Ini adalah hari terakhir ujian akhir bagi angkatan mereka. Lembar-lembar kertas ujian yang penuh dengan angka dan teori telah terkumpul. Di luar jendela kelas, bangku-bangku universitas bergengsi sudah menanti untuk diperebutkan. Ada yang mengincar kedokteran, hukum, hingga teknik di luar negeri.

Aydan tetaplah Aydan. Ia duduk di barisan belakang dengan ketenangan yang mengintimidasi. Namun, jika diperhatikan dengan sangat saksama, ada sesuatu yang berbeda dari sang Silent King. Tatapannya tidak lagi sepenuhnya terkunci pada buku filsafat atau sketsa mesin motor.

Sesekali, saat pengawas ujian sedang lengah, mata tajam Aydan akan bergerak secara refleks ke barisan depan. Di sana, punggung Dayana yang terbalut seragam putih bersih dan jilbab senada tampak tegak. Aydan memperhatikan bagaimana tangan gadis itu bergerak lincah mengisi lembar jawaban.

Sejak kejadian enam bulan lalu, Aydan adalah orang yang paling keras menjaga jarak, namun ia juga orang yang paling rajin mendoakan. Setiap kali melihat Dayana tetap teguh dengan jilbabnya meski banyak teman sosialitanya dulu yang mencibir, Aydan merasakan sebuah kebanggaan yang aneh di dalam dadanya.

Bel akhir ujian berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya masa tiga tahun mereka di seragam putih abu-abu. Kelas pecah dalam sorak-sorai. Di kantin mewah sekolah yang menjadi saksi bisu debat hebat mereka dulu, para siswa berkumpul untuk merayakan kebebasan sementara.

Aydan duduk bersama Kay dan Leo di meja pojok favorit mereka. Di atas meja, Leo sibuk bercerita tentang rencana kuliahnya di Australia, namun Aydan tampak tidak menyimak sepenuhnya.

Matanya sedang tertuju pada sebuah meja di tengah kantin. Dayana sedang duduk di sana bersama Sarah, tertawa kecil sambil menikmati segelas jus jeruk. Jilbabnya tertiup angin dari pendingin ruangan, membingkai wajahnya yang kini terlihat jauh lebih bercahaya tanpa make-up berlebihan.

"Woi, Dan! Lo denger nggak sih?" Leo menepuk meja, membuyarkan lamunan Aydan.

"Dengar," jawab Aydan singkat, meski bohong.

"Dengar apanya? Mata lo tuh, Dan... dari tadi nggak lepas dari Dayana," bisik Kay sambil terkekeh jahil. "Enam bulan lo jaga jarak, gue kira lo udah nggak ada rasa. Ternyata makin parah curi-curinya."

Aydan terdiam, memutar botol air mineral di tangannya. Ia tidak membantah. Untuk apa membantah kebenaran yang sudah ia akui di hadapan Tuhannya setiap sujud terakhir?

Jujur saja, bagi Aydan, masa enam bulan ini adalah ujian kesabaran yang paling berat. Bukan karena godaan dunia luar, tapi karena memori satu malam di depan paviliun tamu itu tidak pernah benar-benar pergi.

Setiap kali ia melihat Dayana, ingatannya secara otomatis memutar kembali momen singkat saat bibir lembut gadis itu menyentuh pipinya. Ia ingat aroma parfum Dayana yang bercampur dengan udara malam, ia ingat detak jantungnya yang seolah berhenti, dan ia ingat rasa hangat yang tertinggal di sana, rasa hangat yang kini ia jaga agar tidak menjadi api yang salah.

Sampai hari ini, kecupan itu belum hilang dari pikiran Aydan. Hal itulah yang membuatnya semakin protektif dalam diam. Ia merasa bertanggung jawab atas hidayah Dayana. Ia ingin menjaga gadis itu tetap suci, tetap berada di jalur yang benar, bahkan jika itu berarti ia harus terus menelan rasa rindu dan menahan diri untuk tidak mendekat.

Aydan kembali mencuri pandang. Kali ini, Dayana sedang merapikan jilbabnya yang sedikit tertiup angin. Gerakan tangan Dayana yang anggun itu membuat Aydan tersenyum tipis, senyum yang sangat rahasia.

Dayana tiba-tiba menoleh ke arah meja Aydan. Mata mereka bertemu sejenak di tengah keramaian kantin yang bising. Dayana tidak lagi membuang muka dengan marah, ia justru memberikan anggukan kecil dan senyum yang penuh rasa hormat.

Dayana tahu Aydan memperhatikannya. Ia bisa merasakannya. Dan bagi Dayana, perhatian diam-diam dari Aydan jauh lebih berharga daripada semua pujian yang pernah ia terima dari pria-pria di Eropa. Aydan adalah kompasnya, orang yang memberinya tamparan logika hingga ia menemukan Tuhan.

"Dia makin cantik ya, Dan?" gumam Leo, kali ini dengan nada serius. "Berubah total. Kayak beda orang."

"Dia bukan makin cantik," sapa Aydan pelan, akhirnya bersuara. "Dia makin bernilai. Karena sekarang dia tahu siapa pemilik kecantikannya yang sebenarnya."

Aydan berdiri, mengambil tasnya. "Gue duluan. Mau ke ruang guru, ada berkas universitas yang harus diurus."

Saat berjalan melewati meja Dayana, Aydan tidak berhenti. Ia hanya berjalan lurus dengan langkah tegap khas seorang Al-Gazhi. Namun, saat tepat berada di samping Dayana, ia berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain.

"Selamat atas ujian terakhirmu, Dayana. Sampai jumpa di babak selanjutnya."

Dayana tertegun, tangannya yang memegang gelas sedikit bergetar. Kalimat itu bukan sekadar ucapan selamat. Bagi Dayana, itu adalah sebuah janji tersirat. Sebuah isyarat bahwa perjuangan mereka atau mungkin hubungan mereka, tidak akan berakhir di gerbang SMA ini.

Aydan terus berjalan menuju pintu keluar kantin, meninggalkan Dayana yang menatap punggungnya dengan mata berbinar. Di dalam hati, Aydan membisikkan sebuah doa yang sama dengan yang pernah dibisikkan ayahnya, Liam, kepada ibunya, Ameera:

"Ya Allah, jika dia memang Alif yang Kau tuliskan untukku, jagalah dia sampai aku siap untuk menjemputnya di depan saksi-Mu."

Masa depan di universitas mungkin akan memisahkan jarak fisik mereka, namun setelah apa yang mereka lalui selama enam bulan ini, Aydan tahu bahwa beberapa nama telah tertulis begitu dalam di hati, hingga waktu dan jarak pun takkan sanggup menghapusnya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!