Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutup Utara Di Al-Azhar
Perubahan sikap Zayn terjadi dalam semalam. Mengikuti perintah Abinya untuk menjaga jarak demi menghindari fitnah, Zayn bertransformasi kembali menjadi "Pangeran Es" yang jauh lebih dingin dan tak tersentuh daripada saat pertama kali mereka bertemu.
Sudah tiga hari Abigail merasa seperti sedang bicara dengan tembok. Setiap kali ia berusaha menyapa atau sekadar lewat di depan Zayn, pria itu bahkan tidak melirik sedikit pun. Jika sebelumnya Zayn selalu menyahut meski ketus, kini Zayn benar-benar menganggap Abigail tidak ada.
Sore itu, di koridor kelas, Abigail sengaja menunggu Zayn lewat. Ia ingin menunjukkan kemajuannya dalam menghafal juz amma.
"Gus Zayn! Lihat, aku udah hafal surat Al-Asr tanpa salah satu huruf pun!" seru Abigail dengan mata berbinar, mencoba menghalangi jalan Zayn.
Zayn berhenti, tapi matanya tetap lurus menatap lantai di depannya. Tidak ada lagi tatapan tajam yang biasanya membuat jantung Abigail berdebar. Hanya ada kehampaan.
"Setorkan pada Ustadzah Aisyah. Saya sedang sibuk," jawab Zayn pendek. Suaranya datar, tanpa emosi sama sekali.
Abigail tersentak. "Tapi Gus, biasanya kan.."
"Tolong minggir, Abigail. Kamu menghalangi jalan," potong Zayn dingin. Ia melangkah melewati Abigail begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Abigail terpaku. Rasanya lebih sakit daripada saat ia dihukum menyikat lantai. Di kejauhan, ia melihat Ustadzah Najwa sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum kemenangan. Najwa sengaja berjalan mendekati Abigail dengan gaya anggunnya.
"Sudah kubilang, kan? Kamu itu cuma gangguan sementara," bisik Najwa di samping telinga Abigail. "Gus Zayn sudah sadar siapa yang sebenarnya pantas ada di sampingnya. Jangan terlalu percaya diri hanya karena dia pernah memberimu sedikit perhatian."
Abigail meremas buku Iqra-nya. "Dia bukan orang kayak gitu, Najwa. Pasti ada yang salah."
"Yang salah itu kamu, Abigail. Kamu yang nggak tahu diri," sahut Najwa sebelum berlalu pergi.
Malamnya, Abigail hanya duduk diam di pojok tempat tidur. Ia tidak selera makan, bahkan es sirup pemberian Umi Khadizah pun tidak ia sentuh.
"Abby, kamu kenapa sih? Sejak tadi siang bengong terus," tanya Sarah khawatir.
"Sar... apa aku bener-bener seburuk itu sampai Gus Zayn bahkan nggak mau liat mukaku?" suara Abigail bergetar. "Kemarin dia baik banget, dia nolongin aku, dia ngasih peniti... tapi sekarang dia kayak orang asing. It hurts, Sar. More than I thought it would."
Sarah menghela napas, ia tahu apa yang terjadi tapi tidak berani bicara banyak. "Mungkin Gus Zayn lagi banyak pikiran, Abby. Atau mungkin... dia lagi menjaga kamu dari omongan orang-orang."
Abigail menggeleng. "Nggak. Dia bener-bener beda. Matanya... kayak benci banget liat aku."
Tanpa Abigail tahu, di seberang sana, di balkon ndalem, Zayn sedang berdiri menatap asrama putri dengan tatapan pedih. Di tangannya, ia meremas tasbih dengan kuat hingga buku jarinya memutih.
"Maafkan saya, Abigail," bisik Zayn pada angin malam. "Ini satu-satunya cara agar namamu tetap baik di sini. Biarlah saya yang terlihat jahat, asal kamu tidak jadi bahan fitnah."
Zayn memejamkan mata, teringat bagaimana Abigail tersenyum saat pamer hafalan tadi. Rasanya ia ingin sekali memuji gadis itu, tapi ia harus menahan diri. Baginya, menjauh dari Abigail adalah hukuman paling berat yang pernah ia jalani, jauh lebih berat daripada saat ia harus bertobat dulu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍😍😍😍