NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 Istiqamah

Istiqamah bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu memilih bangkit di jalan yang sama.

—Celine Chadia Cendana—

Subuh baru saja berlalu ketika Celine membuka jendela apartemennya. Udara pagi menyusup masuk, dingin dan lembut seperti tangan tak terlihat yang menyentuh pipinya dengan penuh kasih. Langit masih berwarna abu kebiruan, seolah dunia belum sepenuhnya bangun dari tidur panjangnya.

Ia berdiri cukup lama di sana, memeluk dirinya sendiri. Hijab yang kini selalu melingkari kepalanya terasa seperti pelindung sekaligus pengingat—pengingat bahwa ia sedang berjalan menuju versi dirinya yang baru.

Namun pagi itu, hatinya terasa berat.

Bukan karena ia ingin menyerah.

Bukan karena ia menyesali keputusannya.

Tetapi karena ia sadar, istiqamah jauh lebih sulit daripada memulai.

Memulai adalah ledakan semangat, seperti api yang berkobar terang di malam gelap. Sedangkan istiqamah adalah bara yang harus dijaga agar tidak padam—diam, kecil, tetapi membutuhkan perhatian tanpa henti.

Celine menutup mata, menarik napas panjang.

“Ya Allah… jangan biarkan aku kembali menjadi diriku yang dulu tanpa arah.”

Suara azan subuh yang tadi berkumandang masih terasa bergema di hatinya, seperti lonceng lembut yang mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini.

Hari itu, ia memutuskan untuk pergi sendiri ke taman kota. Sudah lama ia tidak berjalan tanpa tujuan selain menenangkan pikiran.

Langkahnya pelan, seperti seseorang yang takut mengganggu ketenangan pagi. Embun masih menempel di ujung daun, berkilau seperti butiran kaca kecil yang jatuh dari langit.

Ia duduk di bangku taman.

Beberapa orang berlari kecil, beberapa ibu berjalan santai sambil bercakap, beberapa anak kecil tertawa tanpa beban.

Celine memperhatikan semuanya dengan tenang.

Dulu, ia selalu berada di tengah keramaian. Sorotan, kamera, undangan, pesta. Hidupnya seperti panggung yang lampunya tak pernah padam.

Kini, ia menikmati kesunyian.

Kesunyian yang dulu terasa menakutkan, sekarang justru seperti pelukan hangat.

Ia mengeluarkan tasbih kecil dari saku tasnya. Butirannya bergerak di antara jemarinya seperti aliran waktu yang tak pernah berhenti.

Subhanallah…

Alhamdulillah…

Allahu Akbar…

Setiap lafaz terasa seperti air yang membasuh hatinya dari debu dunia.

Namun di sela dzikir itu, bayangan masa lalu kembali muncul. Kenangan tentang dirinya yang dulu—bebas, berani, tetapi juga rapuh tanpa ia sadari.

“Apa aku benar-benar berubah?” bisiknya pada diri sendiri.

Angin pagi menjawab dengan hembusan lembut, menggoyangkan daun-daun seperti bisikan yang tak bisa ditangkap kata.

Di sisi lain kota, Aldivano sedang berada di kantor. Namun pikirannya tidak sepenuhnya pada pekerjaan.

Sejak Celine memilih tinggal sementara di apartemen, ia tahu perempuan itu sedang melalui proses yang tidak mudah.

Ia tidak ingin menekan. Tidak ingin terlalu sering datang. Tidak ingin membuat Celine merasa diawasi.

Tetapi ia juga tidak ingin terlalu jauh.

Cinta yang dewasa, menurutnya, seperti bayangan pohon di siang hari—tidak selalu terlihat jelas, tetapi selalu ada melindungi.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Celine.

“Aku di taman dekat apartemen.”

Hanya itu.

Namun Aldivano memahami. Itu bukan sekadar informasi lokasi. Itu adalah undangan tanpa kata.

Ia membalas singkat.

“Tunggu di sana.”

Celine tidak terkejut saat melihat sosok tinggi itu berjalan mendekat dari kejauhan. Langkahnya tenang, mantap, seperti seseorang yang tahu ke mana ia akan menuju.

Aldivano duduk di sampingnya tanpa banyak kata.

Beberapa saat mereka hanya diam, memandangi pohon besar di depan mereka. Daunnya rimbun, akarnya kokoh, batangnya penuh guratan usia.

“Pohon itu sudah tua,” kata Aldivano pelan.

Celine menoleh. “Iya.”

“Tapi lihat… dia tetap berdiri. Padahal sudah diterpa hujan, panas, angin, mungkin juga petir.”

Celine mengikuti arah pandangnya.

“Akar yang kuat,” lanjutnya, “tidak terlihat dari luar.”

Kalimat itu terasa seperti kunci yang membuka sesuatu di hati Celine.

“Aku merasa… imanku seperti tanaman kecil,” ucapnya lirih. “Baru tumbuh. Mudah goyah.”

Aldivano tersenyum tipis. “Semua pohon besar juga pernah jadi tunas kecil.”

Ia menunduk, memandangi tangannya.

“Aku takut suatu hari aku lelah… lalu berhenti.”

“Kalau kamu berhenti sejenak untuk bernapas, itu bukan kegagalan.”

Celine menatapnya.

“Yang penting kamu tidak berbalik arah.”

Hati Celine terasa hangat seperti disinari matahari pagi.

Mereka berjalan pelan mengelilingi taman. Jarak di antara mereka tetap terjaga, namun kehadiran Aldivano terasa menenangkan—seperti payung yang tidak menghalangi hujan, tetapi melindungi dari derasnya.

Seorang anak kecil berlari melewati mereka, tertawa riang seperti burung yang baru belajar terbang. Ibunya mengejar sambil memanggil.

Celine tersenyum melihatnya.

“Lucu ya.”

Aldivano mengangguk. “Anak kecil tidak takut jatuh. Karena mereka tahu akan ada yang menangkap.”

Celine terdiam.

Kalimat itu sederhana, namun menyentuh sesuatu yang dalam.

“Mungkin aku juga harus begitu,” katanya pelan. “Percaya bahwa Allah akan menangkapku jika aku hampir jatuh.”

Aldivano tidak menjawab, tetapi senyumnya cukup sebagai jawaban.

Menjelang siang, matahari mulai tinggi. Cahaya terang jatuh di tanah seperti lembaran emas.

Celine merasa dadanya lebih ringan.

Seperti seseorang yang baru saja melepaskan beban berat dari punggungnya.

“Terima kasih sudah datang,” ucapnya.

Aldivano menatapnya lembut. “Aku tidak pernah benar-benar pergi.”

Jawaban itu membuat matanya berkaca-kaca.

Ia sadar, hubungan mereka kini bukan lagi tentang romansa yang menggebu. Bukan tentang kata-kata manis yang memenuhi udara.

Melainkan tentang ketenangan.

Tentang kehadiran yang tidak memaksa.

Tentang dua orang yang berjalan di jalan yang sama, meski kadang langkahnya tidak sejajar.

Malam harinya, Celine kembali ke apartemen. Ia membuka sajadah, berdiri untuk shalat Isya.

Gerakannya pelan, khusyuk, seperti tarian yang penuh makna.

Saat sujud, air matanya jatuh lagi.

Namun kali ini bukan karena sedih.

Melainkan karena lega.

“Ya Allah… jika aku lemah, kuatkan aku. Jika aku goyah, teguhkan aku. Jika aku tersesat, kembalikan aku.”

Doanya mengalir seperti sungai yang menemukan jalannya menuju laut.

Setelah salam, ia tetap duduk di atas sajadah. Hening malam terasa seperti ruang suci yang memeluknya.

Ia menyadari sesuatu.

Istiqamah bukan tentang tidak pernah merasa lelah.

Bukan tentang selalu kuat setiap saat.

Bukan tentang menjadi sempurna di mata manusia.

Istiqamah adalah keputusan kecil yang diulang setiap hari.

Memilih shalat meski malas.

Memilih sabar meski emosi.

Memilih taat meski tidak ada yang melihat.

Seperti matahari yang tetap terbit setiap pagi tanpa perlu disuruh.

Celine tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi takut pada masa depan.

Karena ia tahu, selama ia terus melangkah—meski pelan—ia tidak akan tersesat.

Di luar, langit malam dipenuhi bintang. Mereka kecil, jauh, namun tetap bersinar.

Seperti iman.

Mungkin tidak selalu terasa besar.

Mungkin kadang redup.

Namun selama tidak padam, ia tetap menunjukkan arah.

Celine memeluk dirinya sendiri, bukan karena kesepian, tetapi karena damai.

Perjalanannya masih panjang.

Ia mungkin akan jatuh lagi.

Ia mungkin akan menangis lagi.

Ia mungkin akan ragu lagi.

Namun kini ia tahu—

istiqamah bukan tentang menjadi kuat sendirian.

Ia tentang terus kembali kepada Allah, lagi dan lagi, seperti ombak yang tak pernah lelah mencium pantai.

Dan di suatu tempat di kota yang sama, Aldivano juga menengadah setelah shalatnya, memanjatkan doa yang hampir serupa.

Tanpa mereka sadari, dua hati itu sedang tumbuh dalam arah yang sama.

Pelan.

Tenang.

Namun pasti.

Seperti dua bintang yang mungkin berjauhan, tetapi tetap berada dalam langit yang satu.

Dan selama langit itu bernama iman, mereka tidak akan pernah benar-benar kehilangan arah.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!