NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Di Ujung Lorong

Napas Elara tersengal hebat, seolah paru-parunya dipenuhi serpihan kaca setiap kali ia mencoba menghirup udara lembap di lorong bawah tanah itu. Lantai keramik RSU Cakra Buana yang retak-retak terasa bergetar di bawah sol sepatunya, mengirimkan sinyal bahaya yang merambat naik hingga ke tulang belakang. Di belakang mereka, kegelapan tidak hanya sekadar diam, melainkan menggeliat hidup seperti ombak tinta hitam yang siap menelan apa saja yang tertinggal.

"Jangan menoleh ke belakang, Neng! Terus lari ke arah pintu hijau itu!" teriak Pak Darto dengan suara serak yang memecah keheningan mencekam koridor.

Elara memacu kakinya lebih cepat, mengabaikan rasa perih di betisnya yang kram akibat terus berlari menuruni tangga darurat sebelumnya. Dinding-dinding lorong itu tampak tak wajar, cat putih kusamnya melepuh dan bernapas, seakan bangunan kolonial ini memiliki detak jantungnya sendiri yang lambat dan mengerikan. Bau anyir darah bercampur formalin yang menyengat membuat perut Elara mual, namun adrenalin memaksanya untuk terus bergerak maju.

Pak Darto menyusul di sampingnya, tangan kanannya menggenggam erat sebuah bungkusan kain lusuh yang meneteskan butiran garam kasar di sepanjang jalur pelarian mereka. Pria tua itu tampak jauh lebih tua dari usianya malam ini, dengan keringat dingin membasahi seragam satpamnya yang kebesaran. Ia menendang pintu ganda berwarna hijau lumut di ujung lorong dengan sekuat tenaga hingga engselnya berderit protes.

"Masuk! Cepat masuk sebelum mereka menutup jalan ini!" perintah Pak Darto sambil mendorong bahu Elara kasar agar gadis itu segera melompat ke dalam ruangan.

Elara terhuyung masuk ke dalam ruangan gelap itu, kakinya tersandung tumpukan kardus berdebu hingga ia jatuh berlutut di lantai yang dingin. Suara debuman keras terdengar tepat di belakangnya saat Pak Darto membanting pintu menutup dan segera mengganjal pegangannya dengan tongkat besi yang ia bawa. Pria itu merosot ke lantai, napasnya memburu berat, sementara dari balik pintu terdengar suara cakaran-cakaran halus yang bikin merinding.

"Mereka... mereka tidak bisa masuk ke sini untuk sementara waktu," desis Pak Darto sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

Elara bangkit perlahan, matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya remang dari lampu jalan di luar yang menembus celah ventilasi tinggi. Ruangan itu ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan, dipenuhi oleh deretan rak besi berkarat yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Bau kertas lapuk dan debu tua mendominasi udara, menggantikan bau anyir yang tadi mengejar mereka di lorong.

"Ini di mana, Pak? Kenapa tempat ini terasa berbeda dari bagian rumah sakit lainnya?" tanya Elara dengan suara bergetar, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.

Pak Darto menyorotkan senter kecilnya ke arah salah satu rak, mengungkapkan tumpukan map tebal yang sudah menguning dimakan usia. Label-label pada map itu ditulis dengan mesin ketik model lama, beberapa bahkan menggunakan ejaan lama yang sudah tidak digunakan lagi. Suasana di dalam ruangan ini terasa berat, seolah ribuan rahasia yang terkubur di sini sedang menatap mereka dari balik bayang-bayang rak.

"Ini Ruang Arsip Patologi Lama, tempat yang bahkan direksi rumah sakit sekarang pun mungkin sudah lupa kalau pernah ada," jawab Pak Darto pelan, suaranya memantul lirih di antara lorong-lorong rak.

Elara mendekat ke salah satu meja kerja yang tertutup debu tebal, jarinya tanpa sadar menyentuh sebuah buku catatan besar yang tergeletak terbuka. Halaman-halamannya rapuh, namun tulisan tangan tegak bersambung di dalamnya masih bisa terbaca dengan jelas di bawah sorotan senter Pak Darto. Tanggal yang tertera di sudut kanan atas halaman itu membuat jantung Elara berdegup kencang: 12 Oktober 1958.

"Eksperimen Sanctum Somnium tahap ketiga. Subjek menunjukkan resistensi terhadap sedatif, namun koneksi dengan entitas berhasil dibangun," baca Elara lirih, mengeja kata-kata yang terasa asing namun mengerikan.

Pak Darto mendekat, wajahnya terlihat muram saat melihat buku catatan itu, seolah ia sudah mengetahui isinya sejak lama namun berusaha menyangkalnya. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat dengan penyesalan dan ketakutan yang telah dipendam selama bertahun-tahun menjaga gedung tua ini. Tangan keriputnya gemetar saat menyentuh tepi meja.

"Itulah sebabnya Dr. Arisandi sangat ingin kau pergi dari sini, Neng. Dia tidak ingin ada orang luar yang mengungkit kembali dosa-dosa masa lalu RSU Cakra Buana," ujar Pak Darto dengan nada pahit.

Tiba-tiba, lampu neon di langit-langit berkedip-kedip liar, mengeluarkan suara dengungan listrik yang menyakitkan telinga sebelum akhirnya mati total. Kegelapan total menyelimuti mereka selama beberapa detik, sebelum cahaya merah remang-remang mulai merembes masuk dari celah bawah pintu yang tadi diganjal Pak Darto. Suara cakaran di pintu berubah menjadi gedoran keras yang membuat debu-debu di langit-langit berjatuhan.

"Dia tahu kita ada di sini! Arisandi tahu!" pekik Elara, mundur menjauhi pintu yang kini tampak melengkung ke dalam akibat tekanan dari luar.

Pak Darto segera menarik lengan Elara, menyeretnya menjauh dari pintu utama menuju bagian belakang ruangan arsip yang penuh dengan tumpukan peralatan medis bekas. Mereka berlari di antara labirin rak besi, sementara suara logam yang beradu dan kayu yang patah terdengar dari arah pintu masuk. Sesuatu yang sangat kuat sedang memaksa masuk, dan penghalang tongkat besi itu tidak akan bertahan lama.

"Kita tidak bisa kembali ke atas, jalan satu-satunya adalah turun lebih dalam," kata Pak Darto sambil menggeser sebuah lemari arsip berat yang menyembunyikan sebuah pintu besi kecil di dinding belakang.

Elara menatap pintu besi itu dengan ragu, karat yang menutupi permukaannya membuatnya terlihat seperti mulut gua yang siap menelan mangsa. Namun, suara engsel pintu utama yang jebol di kejauhan membuatnya sadar bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti penjaga tua ini. Rasa takutnya kini bercampur dengan rasa ingin tahu yang berbahaya tentang apa sebenarnya Sanctum Somnium itu.

"Turun ke mana, Pak? Basement Level 4 sudah cukup mengerikan, apa ada yang lebih buruk dari ini?" tanya Elara panik saat Pak Darto memutar roda pengunci pintu besi itu dengan susah payah.

Pintu besi itu terbuka dengan suara berdecit yang menyayat hati, mengungkapkan sebuah tangga spiral sempit yang menuju ke kegelapan pekat di bawah sana. Angin dingin yang berbau tanah basah dan bunga kamboja berhembus naik dari lubang itu, membelai wajah Elara dengan sentuhan yang terasa seperti jari-jari mayat. Ini bukan sekadar ruang bawah tanah biasa; ini adalah jalan menuju jantung misteri kota Arcapura.

"Ke tempat di mana perjanjian itu dibuat, Neng. Ke pusat dari segala mimpi buruk yang menghantui kota ini," jawab Pak Darto sambil memberi isyarat agar Elara masuk lebih dulu.

Elara melangkah masuk ke dalam lorong tangga itu, kakinya terasa berat seolah gravitasi di tempat ini bekerja dua kali lebih kuat. Di belakangnya, Pak Darto menyusul masuk dan menutup kembali pintu besi itu tepat saat bayangan hitam besar menerjang masuk ke dalam ruang arsip, menghancurkan rak-rak besi seperti mainan kertas. Guncangan keras terasa hingga ke tangga tempat mereka berdiri, namun setidaknya mereka aman untuk beberapa saat.

Mereka menuruni tangga spiral itu dalam diam, hanya ditemani oleh suara langkah kaki mereka sendiri yang bergema di dinding batu yang lembap. Semakin dalam mereka turun, semakin aneh struktur bangunan di sekitar mereka; dinding beton modern perlahan berganti menjadi bata merah kuno, dan akhirnya menjadi dinding gua alami yang kasar. Air menetes dari stalaktit kecil di langit-langit gua, menciptakan irama monoton yang hipnotis.

"Pak, saya melihat nama Dr. Arisandi di buku tadi, tapi tahunnya 1958. Itu tidak mungkin dia, kan? Dia terlihat baru berusia empat puluhan," bisik Elara, memecah keheningan yang menyesakkan.

Pak Darto berhenti sejenak, cahaya senternya menyorot ke arah lukisan dinding purba yang menggambarkan sosok manusia yang sedang menyerahkan jantungnya kepada makhluk bayangan. Wajah Pak Darto terlihat pucat di bawah sorotan cahaya pantulan, matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam akan kebenaran yang ia ketahui.

"Di tempat ini, waktu tidak berjalan lurus seperti di dunia atas, Neng. Mereka yang mengikat janji dengan 'Penunggu' tidak akan dimakan usia, tapi sebagai gantinya, mereka kehilangan kemanusiaan mereka sedikit demi sedikit," jelas Pak Darto dengan suara berbisik.

Elara merinding mendengar penjelasan itu, potongan teka-teki tentang RSU Cakra Buana mulai tersusun di kepalanya menjadi sebuah gambar yang mengerikan. Dr. Arisandi bukan sekadar dokter korup atau psikopat biasa; dia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih tua dan jahat. Dan sekarang, Elara telah masuk terlalu jauh ke dalam wilayah kekuasaannya.

Tiba-tiba, tangga spiral itu berakhir di sebuah ruangan gua yang luas, diterangi oleh pendaran lumut fosfor yang tumbuh di dinding-dindingnya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah danau bawah tanah kecil dengan air yang tenang dan hitam pekat seperti cermin obsidian. Di tengah danau itu, berdiri sebuah altar batu kuno yang dikelilingi oleh peralatan medis modern yang tampak sangat kontras dan tidak pada tempatnya.

"Selamat datang di Sanctum Somnium yang sesungguhnya, Elara," sebuah suara bariton yang halus namun dingin menggema dari segala arah, membuat darah Elara membeku seketika.

Dari balik bayang-bayang stalagmit raksasa di seberang danau, sosok Dr. Arisandi melangkah keluar dengan jas putihnya yang bersih tanpa noda, kontras dengan lingkungan gua yang kotor dan lembap. Ia tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya yang hitam legam tanpa pupil. Di tangannya, ia memegang sebuah skalpel bedah yang berkilauan memantulkan cahaya lumut.

"Kau telah berlari cukup jauh, tikus kecil. Tapi sayangnya, semua jalan di rumah sakit ini pada akhirnya bermuara ke sini," ucap Dr. Arisandi sambil merentangkan tangannya, seolah menyambut tamu agung.

Pak Darto segera berdiri di depan Elara, mengacungkan tongkat besinya dengan tangan gemetar namun penuh tekad untuk melindungi. "Lari, Neng! Cari jalan keluar di seberang sana! Biar Bapak yang hadapi iblis ini!" serunya tanpa menoleh.

Elara terpaku di tempatnya, kakinya seolah terpaku ke lantai batu saat melihat bayangan Dr. Arisandi yang memanjang di permukaan air danau, berubah bentuk menjadi sesuatu yang mengerikan dengan banyak lengan dan cakar. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup; ini adalah perang antara kewarasan dan kegilaan yang telah mengakar di bawah kota Arcapura.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!