NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:61.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambisi Ares di balik kemewahan

​Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang kerja Nyonya Besar, menciptakan garis-garis emas di atas meja marmer yang dipenuhi dokumen legal. Suasananya hening, hanya terdengar suara pena yang menggores kertas. Namun, keheningan itu pecah ketika Ares melangkah masuk dengan langkah mantap. Ia tidak datang untuk membahas laporan bulanan perusahaan, melainkan untuk sebuah agenda yang sudah ia matangkan di kepalanya sejak melihat Gia melukis di taman belakang kemarin.

​Nyonya Besar mengangkat wajahnya, melepas kacamata bacanya

"Kamu jarang sekali masuk ke sini tanpa mengetuk, Ares. Ada hal mendesak?"

​Ares duduk di hadapan ibunya, menyandarkan punggung dengan santai namun matanya memancarkan ketegasan.

"Ada sesuatu yang ingin Aku sampaikan mengenai masa depan Gia, Ma"

​Nyonya Besar menaikkan sebelah alisnya karena belum mengerti apa maksud Ares.

"Masa depan? Bukankah masa depannya sudah jelas sebagai istrimu? Mama lihat dia sudah mulai terbiasa dengan etika rumah ini"

​"Bukan itu maksud Ares," Sela Ares tenang.

"Gia punya potensi yang selama ini dipadamkan oleh keluarga Sarah. Dia cerdas, dan dia punya bakat seni yang luar biasa. Ares ingin dia melanjutkan pendidikannya. Ares akan mendaftarkannya ke universitas semester depan"

​Ruangan itu mendadak sunyi. Nyonya Besar meletakkan penanya, menatap putranya dengan pandangan menyelidik.

"Kuliah? Ares, dia adalah Nyonya Ardiansyah sekarang. Fokusnya seharusnya adalah menjaga martabat keluarga dan mendampingimu. Kuliah akan memakan waktu dan perhatiannya. Apa kamu sudah memikirkan risikonya? Media akan menggoreng berita ini sebagai tanda bahwa dia tidak kompeten menjadi istrimu!"

​"Justru sebaliknya, Ma" Balas Ares dengan nada suara yang berwibawa.

"Gia akan menjadi sasaran empuk jika dia tidak punya bekal intelektual. Ares ingin dia berdiri di samping Ares bukan sebagai hiasan, tapi sebagai wanita yang berpendidikan dan mandiri. Dengan gelar itu, tidak akan ada lagi orang yang bisa menyebutnya anak haram yang tidak berpendidikan. Dia akan punya identitasnya sendiri. Bukannya Mama juga bilang kalau dia harus bisa melawan orang yang menindasnya? Aku yakin dengan pendidikan yang tinggi, itu bisa meningkatkan kepercayaan dirinya untuk melawan orang-orang itu!"

​Nyonya Besar terdiam cukup lama. Ia melihat binar tekad di mata putranya, binar yang sama dengan mendiang suaminya ketika memperjuangkan sesuatu.

"Dan jika dia gagal? Jika dia tidak bisa menyeimbangkan perannya di rumah ini?"

​"Aku yang akan menjaminnya, Ma. Aku akan mengatur segalanya agar dia tetap bisa menjalankan tugasnya di sini tanpa kehilangan mimpinya"

​Setelah helaan napas panjang, Nyonya Besar akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah. Jika itu maumu. Tapi ingat, jangan sampai dia berbuat ulah di luar sana yang merugikan kita!"

​"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Ma. Terima kasih sudah mengerti!"

​Begitu keluar dari ruang kerja ibunya, Ares segera menuju kamar utama. Ia telah menyiapkan sebuah kejutan besar untuk istrinya. Ketika ia membuka pintu, ia mengamati Gia sedang merapikan beberapa kuas lukisnya yang baru.

​"Gia" panggil Ares lembut.

​"Iya, Mas? Tadi Mas dari ruang kerja Mama?" Gia menoleh memberikan senyum tulusnya.

​Ares tidak menjawab, ia justru meraih tangan Gia dan menuntunnya menuju ruang ganti yang terletak di balik pintu di dalam kamar mereka. Begitu pintu itu terbuka, mata Gia terbelalak. Ruangan itu telah berubah. Di satu sisi, terdapat deretan lemari kaca baru yang berisi koleksi tas bermerek dengan desain yang elegan namun tetap terlihat muda. Di sisi lain, rak-rak sepatu berjajar rapi, mulai dari heels kristal hingga sneakers mewah yang nyaman.

​Namun yang paling mencolok adalah deretan# pakaian baru yang tidak lagi bergaya formal kaku ala Nyonya Besar. Ada banyak blazer modern, rok pleated yang manis, hingga gaun-gaun santai namun berkelas.

​"Mas, apa ini semua? Kenapa banyak sekali baju baru? Apa ini sebenernya punya Kak Siska?" Tanya Gia gagap.

​Ares berdiri di belakangnya, merangkul bahu Gia sambil menatap pantulan mereka di cermin besar.

"Ini adalah semua milikmu Gia, bukan milik Siska atau orang lain. Ini semua perlengkapan perang untukmu. Tapi bukan perang di meja makan atau acara gala!"

"Maksud Mas?" Gia mengerutkan dahi, bingung.

​Ares membalik tubuh Gia agar kembali menghadapnya.

"Mas sudah bicara dengan Mama. Semester depan, kamu akan mulai kuliah, Gia. Mas sudah mendaftarkanmu di Akademi Seni Internasional. Semua baju, tas, dan sepatu ini disiapkan khusus untuk gaya hidupmu sebagai mahasiswi seni yang terhormat!"

​Gia merasa jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia sulit bernapas.

"Kuliah? Jadi Mas serius dengan ucapan Mas waktu itu? Tapi, saya kan lulusan SMA tiga tahun lalu, Mas. Saya sudah lama tidak belajar. Dan biayanya..."

​"Jangan pikirkan soal biaya itu lagi. Mas sudah katakan itu urusan Mas!" Potong Ares sambil mengusap pipi Gia.

"Soal otak, Mas tahu kamu mampu. Kamu hanya butuh kesempatan. Mas tidak mau kamu terus-menerus merasa rendah diri karena masa lalumu. Di kampus nanti, kamu bukan hanya Istri Aresta Ardiansyah, tapi kamu adalah Gia, sang calon pelukis hebat"

​Gia menyentuh salah satu tas ransel kulit berwarna cokelat tua yang sangat cantik di atas rak. Matanya mulai berkaca-kaca. Selama hidupnya, ia selalu diberitahu oleh Sarah bahwa perannya hanya untuk melayani dan membayar hutang. Tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa ia bisa duduk di bangku universitas.

​"Mas Ares, kenapa Mas begitu baik pada saya? Saya bahkan tidak tahu bagaimana cara membalas semua ini" Bisik Gia sambil terisak kecil.

​Ares menarik Gia ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin memberikan seluruh kekuatannya pada gadis itu.

"Kamu tidak perlu membalas apa pun, Gia. Cukup dengan menjadi bahagia dan terus berkembang. Melihat kamu berdiri tegak dan tidak lagi takut pada dunia adalah balasan yang paling berharga buat Mas"

​Ares kemudian melepaskan pelukannya dan mengambil sebuah kotak beludru kecil dari meja rias. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan mewah dengan desain minimalis namun sangat elegan. Ia melingkarkannya di pergelangan tangan Gia.

​"Ini untuk pengingat waktu kuliahmu nanti. Dan satu lagi," Ares mengambil kotak beludru yang lain.

"Maafkan Mas karena baru menyiapkan ini" Ares memakaikan cincin di jari manis Gia sebagai cincin pernikahan mereka. Cincin yang sebelumnya memang tidak Gia pakai karena cincin itu ukuran Siska jadi terlalu besar di jari kecil milik Gia.

"Ini bagus sekali Mas!" Gia terharu menatap cincin berlian di jari manisnya. Dia tak pernah menyangka jika bisa memakai cincin indah berharga fantastis seperti itu.

​Gia benar-benar kehilangan kata-kata. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi yang paling indah. Semua fasilitas ini, pakaian, tas, sepatu, pendidikan, bukan sekadar kemewahan materi bagi Gia. Itu adalah simbol dari kepercayaan dan martabat yang diberikan Ares kepadanya.

​"Terima kasih Mas, terima kasih banyak!" Gia menghambur ke pelukan Ares kembali, kali ini dengan rasa syukur yang meluap-luap.

​Di tengah kebahagiaan itu, Ares tetap waspada. Ia tahu bahwa pemberian fasilitas ini akan memicu kecemburuan baru dari pihak Siska dan Sarah. Namun, ia telah bertekad, sebelum mereka melakukan sesuatu yang membuat Gia terpuruk, Ares akan memastikan Gia sudah memiliki tameng yang kuat, baik secara mental maupun status sosial. Bagi Ares, investasi terbaiknya bukan lagi pada saham perusahaan, melainkan pada senyum dan masa depan istrinya.

1
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
Maharani Rani
lanjutt❤️❤️❤️❤️❤️
Nar Sih
punya suami yg baik perhatian nya yg kelwatan posesif tpi ngk mengekang bersyukur ya gia untung kmu dpt suami seprti ares
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!