NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33: Tunjukan Siapa Bosnya

Vanya mengira ia sudah menang. Ia pikir Aira hanya wanita biasa—desainer kampungan yang tak pernah mencicipi glamornya dunia korporat. Ia pikir dengan kecantikan, kecerdasan, dan kelicikannya, ia bisa merebut Raka dengan mudah.

Ia salah.

Hari itu, Vanya menerima undangan. Bukan undangan biasa, tapi undangan gala dinner tahunan perusahaan teknologi se-Asia Tenggara. Acara bergengsi yang dihadiri para CEO, investor, dan pejabat tinggi. Raka akan hadir, tentu saja. Dan Vanya, sebagai direktur pemasaran, juga diundang.

Ia melihat ini sebagai kesempatan emas. Di acara seperti ini, dengan gaun mahal dan pesona yang ia miliki, ia bisa menunjukkan pada Raka siapa yang lebih pantas di sampingnya. Bukan wanita desainer yang hanya bisa jahit-menjahit.

"Aira, acara ini formal sekali. Kau pasti bete," kata Vanya suatu kali, pura-pura peduli.

Aira tersenyum. "Oh, aku sudah biasa, Vanya. Dulu sering mendesain baju untuk acara-acara seperti ini."

Vanya tertawa kecil. "Mendesain baju berbeda dengan menghadiri, Bu Aira. Tapi tak apa, saya paham."

Aira tak menjawab. Hanya tersenyum.

 

Malam gala itu tiba. Hotel berbintang di kawasan Thamvar dipadati para elite. Lampu gantung berkilauan, meja-meja ditata dengan kristal dan bunga segar, para tamu datang dengan busana terbaik mereka.

Vanya tiba lebih awal. Ia memilih gaun merah marun dengan belahan tinggi, rambut tergerai indah, riasan sempurna. Ia berkeliling, menyapa para petinggi, menunjukkan pesonanya. Beberapa pria menoleh, kagum.

"Vanya, malam ini kamu luar biasa," puji seorang kolega.

Vanya tersenyum manis. "Terima kasih. Kita lihat nanti siapa yang lebih luar biasa."

Matanya mencari Raka. Belum datang.

 

Di luar hotel, sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan pintu. Raka turun lebih dulu, mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran dalam dongeng. Tapi semua mata tertuju pada wanita yang turun setelahnya.

Aira.

Dunia seolah berhenti.

Gaun yang ia kenakan adalah karya terbaiknya sendiri. Bukan gaun desainer terkenal, bukan merek mahal. Tapi ia mendesainnya sendiri, menjahitnya sendiri, dengan detail yang sempurna. Warna biru dongker yang elegan, jatuh lembut di tubuhnya, dengan belahan di bagian paha yang pas—tak vulgar, tapi menggoda. Rambutnya disanggul sedikit, membiarkan beberapa helai jatuh di wajah. Kalung mutiara sederhana di leher. Sepatu hak tinggi yang membuatnya berjalan dengan anggun.

Tapi yang paling memukau bukan gaunnya. Bukan rambutnya. Bukan riasannya.

Tapi matanya.

Mata itu, yang biasanya teduh dan lembut, kini menyala dengan kepercayaan diri yang tak pernah terlihat sebelumnya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang berkata: Aku di sini. Aku pemiliknya. Jangan coba-coba.

Raka tertegun. Ia memandangi istrinya seperti baru pertama kali melihat.

"Aira... kau..."

Aira tersenyum. "Tutup mulut, Sayang. Nanti lalat masuk."

Raka tertawa. "Kau... kau luar biasa."

Mereka masuk bergandengan. Semua mata tertuju pada mereka. Aira berjalan dengan anggun, menyapa para tamu dengan senyum hangat, berbicara dengan percaya diri.

 

Vanya melihatnya dari kejauhan. Tangannya yang memegang gelas champagne hampir terlepas.

Itu Aira?

Wanita yang biasa ia remehkan, yang ia anggap hanya desainer kampungan, kini berdiri di tengah para elite dengan pesona yang membakar. Bukan hanya kecantikan fisik—tapi aura. Aura seorang ratu yang tahu dirinya ratu.

Vanya merasa kecil. Gaun merah mahalnya tiba-tiba terasa murahan. Riasan sempurnanya terasa palsu.

Raka dan Aira berjalan melewatinya. Aira menoleh, tersenyum. Senyum yang manis, tapi matanya... matanya tajam.

"Vanya, selamat malam," sapa Aira hangat.

Vanya berusaha tersenyum. "Selamat malam, Bu Aira. Gaunnya... cantik."

Aira tersenyum. "Terima kasih. Saya buat sendiri. Tapi gaun Anda juga cantik. Merah, ya? Warna favorit saya dulu."

Dulu. Kata itu menusuk. Seperti Aira bilang, ia sudah melewati fase itu. Vanya hanya di fase yang sudah Aira tinggalkan.

Raka memegang pinggang Aira dengan lembut. "Sayang, kita harus menyapa Pak Menteri. Beliau di sana."

Aira mengangguk. "Tentu, Sayang."

Mereka berlalu. Vanya hanya bisa mematung.

 

Sepanjang malam, Aira jadi pusat perhatian. Bukan karena ia berusaha, tapi karena ia hadir sepenuhnya. Ia bicara dengan para pebisnis tentang industri kreatif, dengan para politisi tentang pemberdayaan UMKM, dengan para diplomat tentang seni dan budaya.

Raka tak bisa berhenti tersenyum. Istrinya, wanita yang ia cintai, bersinar di tengah gemerlap. Dan ia yang paling beruntung bisa memilikinya.

Di sela acara, Aira mendekati Vanya. Vanya sedang sendiri di dekat jendela, memandangi langit malam.

"Sendiri, Vanya?"

Vanya menoleh. "Bu Aira."

Aira berdiri di sampingnya. "Pemandangan indah, ya? Lampu-lampu Jakarta."

Vanya mengangguk. Tak tahu harus berkata apa.

"Vanya, aku ingin bicara jujur."

Vanya menatapnya. Aira melanjutkan.

"Aku tahu apa yang kau lakukan. Aku tahu kau ingin merebut Raka. Dan aku tahu kau pikir aku wanita lemah yang mudah dikalahkan."

Vanya tersentak. "Bu Aira, saya—"

"Tolong, jangan sanggah. Aku sudah lama di dunia ini. Aku tahu kapan seseorang tulus dan kapan bermain sandiwara."

Aira tersenyum. Bukan senyum manis, tapi senyum percaya diri.

"Tapi aku ingin kau tahu satu hal, Vanya. Raka bukan sekadar suamiku. Ia ayah dari anak-anakku. Ia rumahku. Dan aku... aku adalah wanita yang pernah kehilangan segalanya, lalu bangkit lagi. Aku bukan wanita yang takut kehilangan, karena aku sudah pernah kehilangan. Tapi aku juga wanita yang akan berjuang sampai titik darah terakhir untuk mempertahankan milikku."

Vanya diam. Lidahnya kelu.

"Kau boleh mencoba, Vanya. Tapi ingat, aku punya senjata yang tak akan pernah kau miliki."

"Apa itu?"

Aira tersenyum. "Cinta tulus Raka padaku. Dan cintaku padanya. Kau bisa memikatnya dengan kecantikan, dengan kecerdasan, dengan rayuan. Tapi cinta sejati... cinta sejati tak bisa dibeli atau direbut. Ia hadir karena dua hati memilih untuk saling memiliki."

Vanya menunduk. Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah.

 

Raka datang mendekat. "Sayang, acara mau selesai. Kita pulang?"

Aira mengangguk. "Iya, Sayang."

Sebelum pergi, Aira menoleh sekali lagi pada Vanya.

"Vanya, suatu hari nanti kau akan temukan cinta sejati. Bukan dengan merebut milik orang lain, tapi dengan menemukan milikmu sendiri. Semoga cepat."

Mereka pergi. Vanya tinggal sendiri di dekat jendela.

Ia memandangi langit Jakarta. Lampu-lampu berkelap-kelip. Tapi hatinya gelap.

Ia salah. Ia salah memilih lawan.

Aira bukan wanita biasa. Ia singa betina yang menyembunyikan cakarnya. Dan malam ini, ia menunjukkan bahwa cakar itu masih tajam.

 

Di mobil, Raka menggenggam tangan Aira.

"Aira, malam ini kau luar biasa. Aku bangga."

Aira tersenyum. "Aku hanya melakukan yang seharusnya."

"Apa yang kau bicarakan dengan Vanya tadi?"

Aira menatap Raka. Lembut.

"Aku bilang padanya, kalau dia boleh mencoba. Tapi dia tak akan pernah menang."

Raka mengernyit. "Aira..."

"Karena kau milikku, Raka. Dan aku milikmu. Dan tak ada seorang pun yang bisa mengubah itu."

Raka tersenyum. Mencium keningnya. "Kau benar, Sayang. Tak ada seorang pun."

Mobil melaju di tengah malam Jakarta. Aira menyender di bahu Raka. Matanya terpejam.

Ia bukan wanita sempurna. Tapi ia cukup. Cukup untuk dirinya. Cukup untuk keluarganya. Cukup untuk cintanya.

Dan itu lebih dari cukup.

 

Di apartemen, Arka dan Pelangi sudah tidur. Ibu Rosmini menunggu dengan teh hangat.

"Gimana acaranya, Neng?"

Aira tersenyum. "Seru, Bu. Banyak belajar."

Ibu Rosmini memandangnya bangga. "Neng hebat. Ibu yakin Neng jadi pusat perhatian."

Aira tertawa kecil. "Ah, Ibu lebay."

"Bukan lebay. Neng itu memang hebat. Ibu tahu dari dulu."

Malam itu, Aira tidur dengan damai. Untuk pertama kalinya dalam minggu-minggu terakhir, ia tak dilanda kecemasan.

Karena ia tahu, siapa dirinya. Dan ia tahu, apa yang ia miliki.

 

1
falea sezi
suka deh endingnya g ada cerita lagi kah Thor karena bagus q ksih hadiah
Q. Zlatan Ibrahim: makasihh...udah tamat..membuat novel drama romansa lebih sulit dibanding yg lain.
total 1 replies
falea sezi
lanjut klo aaja raka tergoda vanya berarti dia goblokkk buang berlian demi batu kali
Amy
ayo beraksi aira, laki-laki kalau cuma di ingatkan tdak akan berhasil, mreka harus liat bukti bahwa merek itu kadang cuma di manfaatkan
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Q. Zlatan Ibrahim: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!