NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis itu melambaikan tangannya dan muncul pedang

Tuan putri mengangkat tangannya yang dingin dan memperlihatkan dagunya yang ramping.

Angin berhembus menerbang rambutnya. Dia menatap burung besar di depannya saat ini tanpa kedua pelayannya. Dia tidak tahu di mana mereka dan bagaimana keadaannya, serta Chen Li.

Menatap pedang putih dengan ganggang hiasan bunga di tangannya, dia merasa bangga memegangnya dan pedang ini juga pemberian gurunya.

Burung itu menatap tajam dan segera tubuhnya berputar-putar, melesat ke langit dengan cepat dan berhenti hingga ketinggian tertentu.

Tuan putri hanya seperti titik dari ketinggian itu.

Burung itu mengepakkan sayapnya, bulu-bulunya berguguran dan berteriak nyaring yang membengkakan telinga. Beruntung Tuan putri bukan orang biasa sehingga dapat menahannya.

Lalu suara gadis tertawa bergema di langit sembari berseru, “Yang mulia... Siapa yang akan menolongmu sekarang?”

Burung besar itu diam sebentar dan tuan putri hanya diam saja. Memicingkan matanya dia tiba-tiba tertawa.. “Aku ingin lihat apa yang bisa tuan putri kerajaan lakukan di hadapan maut!”

Burung itu segera menurunkan kepalanya dan menarik kedua sayapnya ke atas. Segera dia menukik ke bawah seperti meteor ke arah Tuan putri. Lebih cepat dan tambah cepat. Sekarang monster itu seperti meteor warna-warni yang menghantam bumi.

Tuan putri memandangnya serius. Tangannya memegang erat gamang pedangnya, sementara kakinya sudah di siapkan untuk melakukan apa saja.

Ketika burung itu semakin dekat dan lebih dekat, pelindung di sekitar tuan putri bergetar dan perlahan-lahan retak. Kemudian hancur dan angin panas menyembur menerpa wajahnya yang cantik. Perlahan-lahan rambut hitamnya mulai terbakar.

Sekarang Burung itu terlihat raksasa di depannya dan kecepatannya mengesankan. Sangat dekat!

Tuan putri mengambil ancang-ancang dan ingin melompat, namun tiba-tiba gravitasi yang sangat kuat muncul dan menekan tubuhnya hingga tidak bisa bergerak. Gadis itu mengertakan giginya dan berusaha mengangkat kakinya di bawah tekanan gravitasi, tapi burung itu sudah sangat dekat. Tuan putri tidak sempat menghindar. Rambutnya pun perlahan-lahan menjadi debu.

Dia tidak punya pilihan lain; Qi di tubuhnya keluar dan membuat pedang di genggamnya bercahaya.

Lalu suara tawa muncul lagi. “Yang mulia, dengan tingkat kultivasimu saat ini, kamu tidak akan bisa melakukan apa pun!”

Tuan putri tidak menjawab, mengertakan giginya dan menekan kakinya ke bawah segera mengayunkan pedangnya ke langit.

Tebasan putih muncul dan melesat ke langit. Itu seperti kilat guntur; bumi dalam sekejap berkedip.

Ledakan!!

Api warna-warni meledak dan angin kencang berhembus cepat.

Perlahan-lahan serangan tuan putri menghilang dan burung itu melesat dari sisa-sisanya tanpa terluka sedikit pun sembari berseru, “Mati!!”

Keringat mulai muncul di pelipisnya dan dia memandang intes burung besar di depannya. Perlahan-lahan pakaiannya yang selembut salju mulai terbakar memperlihatkan kulitnya yang putih dan kakinya yang merasakan tanah terbakar.

Asap samar-samar muncul dari tanah dan warnanya juga mulai hitam kecoklatan. Sementara air di sungai terus terbakar dan menyusut.

Tuan putri mengertakan giginya. Dia mengerahkan seluruh tubuhnya untuk mengeluarkan kekuatannya. Dia merasa tidak bisa melakukannya dan burung itu akan menghancurkan tubuhnya dengan cepat. Dia tidak bisa menghindar.

Dia hanya bisa menghela nafas dan mengambil sesuatu di lengan bajunya.

Itu adalah liontin perak pemberian ibunya. Segera menggigit ibu jarinya dan menjatuhkan setetes darah, tiba-tiba suara dengungan muncul dan liontin itu bercaya kemudian melesat lalu meledak. Mahkluk berbulu keluar dan tubuhnya sangat besar. Dua sayapnya lebar dan lehernya panjang. Itu adalah seekor angsa dengan bulu-bulunya yang lembut. Berteriak nyaring dan mengepalkan kedua sayapnya.

Tanah bergetar dan area di sekitar tuan putri menjadi jauh lebih ringan dan tekanan gravitasi turun drastis. Bahkan memperbaiki pakaian tuan putri.

Angsa itu memandang burung di langit yang sudah sangat dekat. Segera dia melesat ke langit, meninggalkan angin kecang di belakangnya.

Ledakan!!!

Angin berhembus kencang dan energi meledak.

Tuan putri berusaha menjaga tubuhnya dan menatap ke langit.

Burung phonix itu tertawa. “Menarik! Menarik! Kamu juga punya hewan seperti ini. Aku akan membunuhnya!”

Ledakan demi ledakan bermunculan di langit. Dua burung itu saling menggigit, menabrakan diri dan menyerang.

Tuan putri menghela nafas. Seharunya dia menggunakan pemberian ibunya ketika dua pelayannya tidak bisa menangani musuh-musuhnya bukan di saat seperti ini. Sepertinya musuhnya telah membagi kekuatannya hingga seperti ini.

Tingkat kultivasinya masih rendah dan dia pasti kesulitan melawan burung besar di depannya saat ini.

Dia menatap pedangnya dan tidak tahu harus melakukan apa. Sebenarnya di bandingkan bela diri, dia lebih berpengalaman dalam dunia politik dan memang kehidupannya sebagai tuan putri lebih dominan ke sana. Namun bukan berarti dia mengabaikan kultivasinya. Tapi karena lebih ke sana, kultivasi dan pengalaman bertarungnya tidak akan memiliki banyak pengalaman.

Melihat ke langit, Angsa putih berteriak nyaring dan mengibas-ngibaskan sayapnya yang lebar, mengirim bulu-bulunya ke depan dan menjadi puluhan kepingan es. Sementara burung phonix membuka mulutnya untuk menyemburkan api.

Keduanya bertarung sengit di langit, menciptakan angin kencang dan api dan membuat tanah semakin hancur dan air sungai menipis.

Setelah tiga puluh serangan, Angsa putih jelas lebih lemah dan bulu-bulunya yang putih telah dipenuhi darah. Ekspresi kesakitan bisa di lihat dari matanya. Namun dia punya tugas melindungi tuan putri dan segara dengan tatapan kebencian menyerang burung itu lagi.

Tuan putri tidak akan pernah tega melihatnya terluka dan hatinya dipenuhi kecemasan. Wajahnya yang lembuat berkerut seperti telapak meja indah yang tiba-tiba di injak. Dia tahu burung itu tidak akan bisa menandingi burung itu. Walaupun seperti itu, dia juga telah menguras tenaga burung itu dan menyebabkan luka membuat burung phonix itu mengutuk beberapa kali di langit.

Pada puncaknya, akhirnya burung putih itu tidak kuat menahan tubuhnya dan terjatuh menghantam tanah, menciptakan cekungan yang dalam.

Tuan putri segera mendekat. Dia menyentuh burung itu dan Qi hijau menyelimutinya. Lalu Angsa itu lenyap dan kembali menjadi liontin. Tuan putri mengambilnya.

Lalu tidak lama burung phonix di langit mendarat di depannya lalu berseru, “Selanjutnya giliran anda, tuan putri!”

Tuan putri tidak bisa mengelak lagi dan mengeluarkan pedangnya. Ia menatap burung itu tanpa ekspresi dan mengayunkan pedangnya.

Burung itu memperhatikan kedua matanya lalu segera melesat ke langit, berputar-putar dan menjadi ribuan cahaya warna-warni lalu berubah menjadi seorang gadis memakai gaun merah muda. “Yang mulia, karena anda bersedia bertarung, maka aku akan menggunakan wujud manusiaku.”

Gadis itu melambaikan tangannya dan muncul pedang di tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!