Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Atas Mimbar
Aula besar Akademi Sakura kini telah bertransformasi menjadi sebuah auditorium yang megah namun terasa menyesakkan. Cahaya lampu gantung yang besar diredupkan, menyisakan lampu sorot yang terarah tajam ke tengah panggung, di mana sebuah mimbar kayu jati berdiri dengan kokoh. Ribuan pasang mata kini tertuju ke depan, menciptakan sebuah tekanan kolektif yang bisa dirasakan melalui udara yang terasa menipis.
Aku duduk di barisan belakang, menyandarkan tubuhku pada kursi beludru merah. Dari posisi ini, aku bisa melihat segalanya secara objektif—seperti seorang sutradara yang mengawasi panggung dari balik layar. Di barisan paling depan, sosok Haruno Yukinoshita tampak sangat mencolok. Ia mengenakan blus putih yang elegan dengan rambut hitamnya yang berkilau di bawah lampu, sesekali ia berbisik pada Yukino yang duduk kaku di sampingnya.
[Status Pekerjaan: Penulis Novel (Master)]
[Keahlian Analitis: Aktif]
[Variabel Terdeteksi: Ketegangan Panggung Tinggi. Ambang Batas Emosional Terlampaui.]
Saat pembawa acara memanggil nama kelompok mereka, jantung aula seolah berhenti berdetak sejenak. Kelima gadis Nakano melangkah keluar dari balik tirai hitam. Mereka tidak mengenakan seragam seperti biasa; mereka telah menambahkan aksen unik yang mencerminkan identitas individu masing-masing, sesuatu yang kami diskusikan dalam sesi pengeditan terakhir.
Miku berjalan paling depan, memeluk naskah "Lima Kelopak yang Bergetar" seolah itu adalah perisai terakhirnya. Di belakangnya, Nino berjalan dengan dagu terangkat, mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya. Itsuki, Ichika, dan Yotsuba mengikuti dengan ritme yang terjaga.
Saat mereka berdiri berjajar di depan mimbar, keheningan yang panjang dan berat menyelimuti ruangan. Detik-detik berlalu, dan untuk sejenak, aku melihat Miku membeku di depan mikrofon. Matanya membelalak, menatap lautan wajah yang asing baginya.
Aku menutup mata sejenak, mengirimkan sebuah gelombang ketenangan melalui "Intuisi Kreatif" yang baru saja kubuka. 'Ingat naskahnya, Miku. Ingat bahwa kau tidak menulis untuk mereka, tapi untuk dirimu sendiri.'
Seolah mendengar suaraku di kepalanya, Miku menarik napas dalam. Suara napasnya yang masuk ke mikrofon terdengar jelas di seluruh aula. Ia membuka halaman pertama.
"Kami..." suaranya gemetar, namun segera menguat. "Kami sering disebut sebagai satu entitas. Kembar lima yang identik. Namun, di dalam naskah ini, kami ingin menunjukkan bahwa identitas bukanlah tentang kesamaan wajah, melainkan tentang perbedaan luka yang kami simpan."
Miku mulai membacakan bab pertama. Suaranya yang melankolis namun jujur mulai mengalir, menceritakan tentang perasaan "menjadi bayangan" yang ia tulis di perpustakaan bersamaku. Aku melihat beberapa siswi di barisan depan mulai menundukkan kepala, tersentuh oleh kejujuran yang mentah itu.
Nino mengambil alih bab kedua. Berbeda dengan Miku, Nino membacanya dengan nada yang menantang namun penuh kerinduan. Ia menceritakan tentang ketakutannya akan perubahan. Saat ia membacakan kalimat, "Aku ingin mengunci waktu agar kita tidak pernah menjadi orang asing," aku melihat Haruno di barisan depan sedikit menegakkan duduknya. Senyum misteriusnya memudar, digantikan oleh tatapan yang lebih serius.
[Analisis Narasi: Resonansi Audiens Mencapai 85%]
[Status: Karakter 'Haruno Yukinoshita' Menunjukkan Ketidaksenangan Intelektual]
Pembacaan terus berlanjut hingga mencapai bab terakhir yang ditulis oleh Itsuki. Suasana aula telah berubah total. Tidak ada lagi bisikan atau tawa meremehkan. Yang tersisa hanyalah kekhidmatan dari sebuah pengakuan kolektif yang sangat berani.
Namun, tepat saat Itsuki menutup naskah itu dan keheningan kembali merayap, sebuah suara tepuk tangan tunggal bergema dari barisan depan. Bukan tepuk tangan apresiasi, melainkan tepuk tangan yang ritmis dan penuh nada sarkastik.
Haruno Yukinoshita berdiri dari kursinya.
"Sungguh pertunjukan yang emosional," ujar Haruno, suaranya yang merdu namun dingin bergema ke seluruh aula tanpa butuh bantuan mikrofon. Ia melangkah perlahan menuju tangga panggung, menarik perhatian semua orang. "Narasi yang luar biasa jujur. Tapi, sebagai seseorang yang memahami struktur cerita, aku punya satu pertanyaan untuk kalian—atau mungkin untuk 'editor' misterius yang membimbing kalian di balik layar."
Haruno berhenti di anak tangga pertama, matanya yang tajam langsung menyapu barisan belakang, tepat ke tempatku duduk.
"Apakah naskah ini benar-benar suara kalian? Ataukah ini hanyalah sebuah eksperimen sosial dari seorang murid pindahan yang ingin membuktikan bahwa ia bisa memanipulasi emosi siapa saja hanya dengan sebuah pena?"
Suasana aula mendadak menjadi sangat dingin. Tuduhan Haruno bukan sekadar pertanyaan; itu adalah sebuah serangan langsung terhadap kredibilitas karya mereka—dan keberadaanku. Aku melihat Nino menggenggam pinggiran mimbar dengan kuat, wajahnya memerah karena amarah yang kembali tersulut.
Aku berdiri dari kursiku, membiarkan bunyi derit kursi kayu menjadi jawaban pertamaku. Semua mata kini beralih ke belakang, ke arahku.
"Manipulasi adalah kata yang kasar untuk sebuah bimbingan menuju kejujuran, Haruno-san," ujarku dengan suara yang tenang namun berwibawa, memecah ketegangan yang ia bangun. "Sastra tidak memanipulasi emosi; sastra hanya menyediakan cermin. Jika kau merasa terganggu oleh pantulannya, mungkin itu karena kau terlalu lama bersembunyi di balik topengmu sendiri."
Aula besar itu kini terasa seperti sebuah arena gladiator modern, di mana kata-kata adalah pedang dan logika adalah perisainya. Langkah kakiku yang tenang menuruni tangga selasar aula menciptakan irama yang kontras dengan detak jantung para siswa yang tertahan. Aku tidak terburu-buru. Setiap langkah adalah bagian dari narasi yang sedang kupimpin.
Haruno Yukinoshita masih berdiri di anak tangga panggung, memiringkan kepalanya dengan senyum yang tampak seperti luka terbuka—indah namun berbahaya. Di atas panggung, kembar lima Nakano berdiri membeku. Nino tampak siap meledak, sementara Miku mencengkeram naskah itu begitu erat hingga kertasnya sedikit tertekuk.
Aku berhenti tepat di samping Haruno. Jarak kami cukup dekat hingga aku bisa merasakan aura dingin yang dipancarkannya, sebuah variabel predator yang terbiasa mengendalikan mangsanya melalui tekanan psikologis.
"Eksperimen sosial, katamu?" Aku mengulang kalimatnya dengan nada yang hampir meremehkan. Aku berbalik menghadap audiens, namun mataku tetap melirik Haruno dari sudut penglihatanku. "Haruno-san, kau melihat dunia ini sebagai papan catur di mana semua orang adalah bidak yang bisa digerakkan. Jadi, saat kau melihat kejujuran yang murni, pikiranmu secara otomatis mencari 'tangan' yang mengaturnya karena kau sendiri tidak mampu memahami ketulusan tanpa motif."
Haruno terkekeh, suaranya jernih namun kering. "Dan kau ingin aku percaya bahwa lima gadis yang bahkan kesulitan lulus ujian matematika ini tiba-tiba bisa menulis prosa sedalam ini tanpa 'campur tangan' mekanis darimu, Ren Saiba? Aku mengenal Yukino, dan aku tahu betapa sulitnya menggali kebenaran. Kau tidak membimbing mereka; kau mendikte mereka."
"Kau salah," suara itu bukan datang dariku.
Nino Nakano melangkah maju ke depan mikrofon. Wajahnya yang tadi memerah kini tampak pucat namun matanya menyala dengan api yang belum pernah kulihat sebelumnya—sebuah api yang lahir dari penghinaan terhadap identitasnya.
"Saiba memang editor yang menyebalkan," ujar Nino, suaranya bergema ke seluruh sudut aula, membuat Haruno sedikit terkejut. "Dia merobek draf kami, dia mengejek keraguan kami, dan dia memaksa kami melihat bagian dari diri kami yang paling ingin kami sembunyikan. Tapi dia tidak pernah menuliskan satu kata pun untuk kami. Kalimat tentang 'ketakutan akan perpisahan' itu adalah milikku. Rasa sesak yang dirasakan Miku adalah miliknya. Kami menulis ini dengan darah dan air mata kami sendiri karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak melihat kami sebagai 'kembar lima yang identik', tapi sebagai manusia yang berbeda."
Miku ikut melangkah maju, berdiri di samping Nino. "Jika ini adalah manipulasi, maka kami bersyukur telah dimanipulasi untuk menjadi jujur. Daripada hidup dalam kebohongan yang kau tawarkan sebagai 'struktur cerita', Haruno-san."
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Variabel 'Identitas Mandiri' Kembar Lima Terkunci]
[Analisis Dampak: Haruno Yukinoshita kehilangan kendali atas argumen publik]
Suasana aula mendadak dipenuhi oleh gumaman kagum. Tekanan yang dibangun Haruno mulai runtuh, tersapu oleh gelombang keberanian yang baru saja ditunjukkan oleh para gadis itu. Aku menatap Haruno, memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan analitis.
"Kau dengar itu, Haruno-san? Sastra bukan tentang siapa yang memegang pena, tapi tentang siapa yang memiliki ceritanya. Dan hari ini, cerita ini adalah milik mereka. Kau hanyalah penonton yang mencoba masuk ke dalam naskah yang bukan milikmu."
Haruno terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat retakan nyata di topeng sempurnanya. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan senyumnya kembali—namun kali ini senyum itu membawa rasa hormat yang terpaksa.
"Menarik," bisik Haruno hanya padaku saat ia mulai turun dari tangga panggung. "Kau benar-benar berhasil mengubah mereka menjadi variabel yang tidak stabil, Ren. Tapi ingat, variabel tidak stabil bisa menghancurkan penciptanya sendiri. Aku akan menantikan bagaimana kau menangani 'monster kejujuran' yang baru saja kau ciptakan ini."
Ia berjalan pergi melewati kerumunan, meninggalkan aula dengan keanggunan seorang antagonis yang mengakui kekalahan di bab ini.
Aku naik ke atas panggung. Kelima gadis itu menatapku. Yotsuba tampak ingin melompat memelukku namun ia menahan diri karena protokol panggung. Itsuki menghapus air matanya dengan cepat, sementara Ichika memberikan kedipan mata yang penuh arti.
Aku berdiri di tengah-tengah mereka, menghadap audiens yang kini mulai berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah—kali ini tepuk tangan yang tulus.
"Tugas selesai," bisikku pada mereka berlima.
[Status Pekerjaan: 100% - LEGENDARY COMPLETION]
[Hubungan Kolektif: Kelompok Nakano (Ikatan Tak Terputuskan)]
[Status Sistem: Sinkronisasi Dunia Selesai. Selamat, Ren Saiba.]
Di barisan kursi guru, aku melihat Shizuka Hiratsuka berdiri paling depan, bertepuk tangan dengan bangga dan tatapan yang seolah mengatakan, "Kau benar-benar melakukannya, kau pria gila." Sementara itu, di pojok ruangan, Kato Megumi hanya mengangguk kecil dengan senyum tipisnya yang hampir tak terlihat, seolah ia sudah tahu bahwa inilah akhir yang akan terjadi.
Festival ini belum berakhir, namun bagiku dan kembar lima, sejarah baru telah dipahat di dinding Akademi Sakura.