NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS FINIS TIDAK MENUNGGU

CHAPTER 13

Sirkuit terakhir selalu terasa berbeda.

Bukan karena aspalnya.

Bukan karena tikungannya.

Tapi karena semua yang tidak sempat kau katakan…

menumpuk di sana.

Julian berdiri di paddock lebih awal dari siapa pun. Helm masih tergantung di tangannya. Mesin belum dinyalakan. Ia hanya memandang lintasan yang sebentar lagi akan menentukan satu musim—bahkan mungkin satu hidup.

Satu balapan.

Ia memimpin klasemen, tapi selisihnya tipis. Satu kesalahan kecil, satu kehilangan traksi, satu keputusan bodoh—semuanya bisa berbalik.

Noah Van der Meer berada tepat di belakangnya.

Mereka tidak berbicara hari itu.

Tidak perlu.

Cuaca tidak membantu.

Awan menggantung rendah. Aspal sedikit lembap. Bukan hujan—tapi cukup untuk membuat grip menjadi tidak konsisten.

Ini jenis kondisi yang tidak memaafkan pembalap yang ragu.

Di briefing terakhir, Marco hanya berkata satu kalimat:

“Balapan ini akan menguji kepala, bukan tanganmu.”

Julian mengangguk.

Kepalanya… sudah lama diuji.

Grid start.

Lampu menyala satu per satu.

Julian menarik napas dalam-dalam.

Di antara suara mesin dan jantungnya sendiri, satu suara lama muncul—suara Michael, dari kehidupan sebelumnya.

Jangan mati bodoh.

Julian tersenyum kecil di balik helm.

“Aku tidak akan,” jawabnya dalam hati.

Lampu padam.

Start bersih.

Julian tidak memaksakan holeshot. Ia membiarkan motor menemukan grip, menjaga ban belakang dari spin berlebihan. Di kondisi lembap seperti ini, membuka gas terlalu cepat sama dengan bunuh diri.

Noah justru agresif.

Ia mengambil posisi dua sejak tikungan pertama.

Pemimpin awal bukan Julian.

Dan itu… disengaja.

Lap demi lap, Julian menjaga jarak.

Ia tidak menempel terlalu dekat. Ia tahu: di kondisi seperti ini, aerodynamic wash dari motor depan bisa mengurangi grip ban depan. Ia menjaga jarak setengah detik—cukup untuk melihat, cukup untuk aman.

Noah memimpin rombongan kecil.

Ia cepat. Sangat cepat.

Tapi Julian memperhatikan detail kecil:

Cara Noah mengoreksi setang di tengah tikungan.

Cara gasnya sedikit tersendat di exit.

Ban belakangnya bekerja terlalu keras.

Masuk lap ke-8, hujan tipis turun.

Tidak cukup untuk flag.

Cukup untuk mengacaukan insting.

Di pit wall, tim menahan napas.

Julian tidak mengubah gaya.

Ia masuk tikungan dengan lean angle sedikit lebih kecil, tapi menambah kecepatan masuk. Teknik ini mengorbankan sudut ekstrem, tapi menjaga ban tetap “tenang”.

Motor terasa… hidup.

Lap ke-11.

Noah membuat kesalahan kecil di tikungan cepat—hanya satu derajat terlalu rebah.

Motor bergoyang.

Julian melihat celah.

Bukan dive bomb.

Bukan pengereman gila.

Ia mengambil outside line, jalur yang jarang dipilih saat lembap. Lebih panjang, tapi lebih bersih.

Ia membuka gas lebih awal.

Dua motor sejajar.

Penonton berdiri.

Di sinilah segalanya melambat.

Julian merasakan waktu seperti ditarik.

Ia ingat ibunya di kehidupan lama.

Ia ingat kamar sempit.

Ia ingat kecelakaan.

Dan ia ingat rumah besar di Inggris.

Orang tua yang menunggu.

Hidup kedua yang diberi bukan untuk dihabiskan dengan penyesalan.

Ia tidak menekan lebih keras.

Ia menekan lebih tepat.

Julian keluar tikungan lebih cepat.

Posisi satu.

Dua lap tersisa.

Noah menempel.

Sangat dekat.

Di tikungan terakhir sebelum lap penentu, Noah mencoba segalanya—pengereman terlambat, sudut ekstrem.

Julian tidak menutup jalur.

Ia membiarkan Noah masuk… lalu memotong exit.

Teknik cross-over exit—berisiko, tapi mematikan jika berhasil.

Noah terjebak di sudut mati.

Lap terakhir.

Julian memimpin.

Tapi ia tidak melihat ke belakang.

Ia hanya mendengar mesin.

Setiap tikungan ia lalui seperti meditasi.

Rem.

Rebah.

Gas.

Tegak.

Tidak ada hero moment.

Hanya kesempurnaan yang tenang.

Garis finis mendekat.

Julian melintas.

Juara.

Tidak ada teriakan.

Ia hanya menurunkan kepala di atas tangki motor, menutup mata sejenak.

Bukan karena lelah.

Karena… selesai.

Di parc fermé, Noah menghampirinya.

“Kau pantas,” katanya singkat.

Julian mengangguk. “Kau memaksaku jadi lebih baik.”

Itu bukan basa-basi.

Di podium, Julian berdiri paling tinggi.

Sorak membanjiri udara.

Tapi di dalam dirinya… ada keheningan yang damai.

Michael akhirnya bisa melepaskan kemudi.

Julian kini utuh.

Malam itu, ia berdiri sendirian di balkon hotel.

Angin dingin menyentuh wajahnya.

Dua kehidupan.

Satu garis finis.

Dan untuk pertama kalinya, ia tahu…

Ia tidak lagi berlari dari apa pun.

Ia melaju menuju dirinya sendiri.

.

.

.

.

CHAPTER 14

Trofi itu dingin saat disentuh.

Bukan karena bahannya—

tapi karena kenyataan yang datang bersamanya.

Julian Ashford, juara dunia Moto3, kini berdiri di ruang yang lebih sunyi dari yang ia bayangkan. Tidak ada sorakan. Tidak ada kamera. Hanya koper, helm lama, dan satu kontrak baru di atas meja.

Moto2.

Berat motornya saja sudah berbeda.

Tenaganya kasar.

Dan kesalahan kecil… tidak lagi dimaafkan.

Marco menutup map kontrak itu pelan. “Selamat datang di kelas di mana bakat saja tidak cukup.”

Julian mengangguk. Ia sudah menduganya.

Tes pertama Moto2 terasa seperti dihantam kenyataan.

Motor terasa liar.

Bukan karena tidak patuh—tapi karena ia jujur. Tidak menyaring kesalahan. Tidak menutupi input kasar. Setiap tarikan gas terlalu cepat, motor akan menampar balik lewat ban belakang.

Julian keluar pit, masuk tikungan pertama, dan langsung sadar:

Ini bukan Moto3.

Di Moto3, ia bisa bermain dengan momentum.

Di Moto2, ia harus mengendalikan massa.

Motor lebih berat berarti inersia lebih besar. Pengereman harus lebih awal, tapi lebih kuat. Salah satu teknik favorit Julian—braking lurus lalu rebah—masih bisa dipakai, tapi margin kesalahannya menyempit drastis.

Ia mencoba satu lap cepat.

Masuk tikungan terlalu percaya diri.

Ban depan mengeluh.

Setang bergetar.

Julian langsung berdiri dari gas.

Ia tidak jatuh.

Tapi pesan itu jelas:

Jangan sok pintar.

Di pit, mekanik saling pandang.

“Dia cepat,” kata salah satu.

“Tapi motornya belum ‘percaya’ sama dia,” jawab yang lain.

Clara—yang kini resmi menjadi bagian tim analis—memperhatikan grafik.

“Input gasnya terlalu halus untuk Moto2,” katanya. “Motor ini butuh komando, bukan permintaan.”

Julian mendengarnya.

Dan itu… menyentuh egonya sedikit.

Malam itu, Julian duduk sendiri.

Tangannya terasa berat.

Punggungnya pegal.

Tubuh barunya—yang selama ini ia latih untuk Moto3—harus dibangun ulang.

Lebih banyak otot inti.

Lebih banyak kekuatan bahu.

Lebih banyak daya tahan.

Ia tersenyum tipis.

Jadi beginilah rasanya mulai dari nol lagi.

Balapan debut Moto2 datang terlalu cepat.

Grid terasa… dewasa.

Wajah-wajah keras.

Tatapan dingin.

Julian tidak lagi dianggap “bakat muda”.

Ia adalah rookie yang harus bertahan hidup.

Start dimulai.

Dan chaos langsung terjadi.

Lap pertama brutal.

Motor-motor saling menekan di pengereman. Tidak ada ruang sopan. Tidak ada “silakan dulu”.

Julian hampir tersingkir di tikungan kedua—seorang pembalap memotong jalur dengan kasar.

Ia menghindar… nyaris kehilangan keseimbangan.

Jantungnya berdentum.

Michael di dalam dirinya berbisik: ini salah satu cara mati.

Julian menelan napas.

Ia menurunkan ritme.

Bukan menyerah—

tapi bertahan.

Di Moto2, balapan bukan soal siapa paling cepat di awal. Tapi siapa yang masih punya tubuh di akhir.

Ia mulai mengubah tekniknya.

Lebih banyak engine braking, memanfaatkan kompresi mesin untuk memperlambat motor sebelum rem penuh. Ini mengurangi beban ban depan—krusial di kelas ini.

Ia juga menunda rebah sepersekian detik, memastikan motor benar-benar stabil sebelum masuk sudut.

Hasilnya?

Ia memang tidak menyalip banyak.

Tapi ia hidup.

Lap demi lap, pembalap lain mulai membuat kesalahan.

Ban habis.

Lengan lelah.

Kepala panas.

Julian justru mulai naik posisi—pelan, hampir tak terlihat.

Dari P18 ke P14.

Lalu P12.

Bukan hasil heroik.

Tapi hasil cerdas.

Finish line.

Julian menyelesaikan balapan di posisi 10.

Tidak ada podium.

Tidak ada wawancara besar.

Tapi di dalam helmnya…

ia tersenyum lebar.

Di paddock, seorang pembalap senior menepuk bahunya.

“Kau tidak bodoh,” katanya singkat. “Itu langka di rookie.”

Julian tertawa kecil. “Aku sudah pernah mati sekali.”

Pembalap itu mengernyit. “Apa?”

“Bercanda,” jawab Julian.

Tidak sepenuhnya.

Malam itu, Julian menelepon rumah.

“Aku tidak menang,” katanya jujur.

Richard tertawa kecil. “Kami tidak menunggu kemenangan. Kami menunggu kau pulang utuh.”

Eleanor menambahkan lembut, “Dan kau terdengar… bahagia.”

Julian menatap langit malam.

“Iya,” katanya pelan. “Aku belajar lagi.”

Moto2 tidak menyambutnya dengan karpet merah.

Tapi ia tidak datang untuk disambut.

Ia datang untuk bertahan, beradaptasi, dan tumbuh.

Dan jauh di dalam dirinya, Michael akhirnya sepenuhnya diam—bukan karena hilang…

Tapi karena percaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!