Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Kaca
Pengunduran diri tiga anggota dewan diumumkan dua hari kemudian.
Resmi. Singkat. Tanpa detail.
Media menyebutnya sebagai “langkah pembersihan internal” yang berani. Investor merespons positif. Saham Ardhana Aurora Group justru naik tipis sebuah sinyal kepercayaan bahwa perusahaan ini serius dengan transparansi.
Namun Alina tahu, setiap keputusan besar selalu meninggalkan retakan.
Dan retakan tidak selalu terlihat dari luar.
Pagi itu, saat ia memasuki kantor, suasana terasa berbeda. Tidak tegang seperti sebelumnya, tapi juga tidak sepenuhnya lega.
Beberapa karyawan menyapanya dengan lebih hormat. Beberapa lainnya dengan kehati-hatian baru.
Kekuasaan memang mengubah cara orang memandangmu.
Di ruang kerjanya, Arsen sudah menunggu dengan tablet di tangan.
“Ada sesuatu yang harus kau lihat,” katanya pelan.
Alina duduk di kursinya.
Di layar terpampang artikel anonim yang beredar di forum bisnis internasional.
Judulnya tajam:
Apakah Ardhana Aurora Benar-Benar Bersih?
Ia membaca cepat. Artikel itu menuduh bahwa langkah audit hanyalah strategi pencitraan. Bahwa Alina sebenarnya memanfaatkan situasi untuk menyingkirkan lawan politik dalam perusahaan.
Ada insinuasi bahwa konflik lama dengan Aurora dimanfaatkan untuk balas dendam pribadi.
Alina tersenyum tipis.
“Cepat sekali,” gumamnya.
Arsen menatapnya. “Ini bukan kebetulan.”
“Tentu saja tidak.”
Artikel anonim seperti itu jarang muncul tanpa dorongan.
“Menurut tim IT, sumbernya sulit dilacak. Tapi kemungkinan berasal dari jaringan internal lama Aurora,” lanjut Arsen.
Alina menyandarkan punggung.
“Orang yang kehilangan posisi jarang pergi dengan diam,” katanya tenang.
“Kita perlu merespons?”
Alina berpikir sejenak.
Jika ia membalas, rumor itu akan semakin besar.
Jika ia diam, orang bisa menganggapnya menghindar.
“Tidak sekarang,” jawabnya akhirnya. “Kita biarkan hasil kerja yang berbicara.”
Arsen mengangguk pelan.
Namun sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang tidak ia ucapkan.
Beberapa hari berikutnya, tekanan meningkat.
Seorang investor besar meminta pertemuan pribadi.
Alina datang sendiri ke ruang konferensi kecil di lantai atas.
Pria paruh baya itu dikenal sebagai pihak yang selalu berhitung dingin.
“Saya mendukung transparansi,” katanya langsung. “Tapi pasar tidak menyukai ketidakpastian.”
“Ketidakpastian selalu ada dalam perubahan besar,” jawab Alina.
“Betul. Tapi reputasi adalah aset paling mahal.”
Alina menatapnya tanpa ragu.
“Dan itulah mengapa kami membersihkan struktur lama.”
Investor itu terdiam sejenak.
“Ada anggapan Anda terlalu agresif.”
Alina tersenyum tipis.
“Agresif dalam membersihkan praktik yang salah?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Beberapa orang melihat ini sebagai konsolidasi kekuasaan.”
Alina menyilangkan tangan dengan tenang.
“Saya tidak membutuhkan kekuasaan tanpa kepercayaan. Jika pasar tidak percaya pada kami, merger ini tidak akan bertahan lama.”
Keheningan beberapa detik terasa panjang.
Akhirnya pria itu mengangguk.
“Saya akan tetap mendukung untuk sekarang.”
Alina berdiri.
“Terima kasih atas kepercayaan Anda.”
Namun ia tahu, dukungan seperti itu selalu bersyarat.
Malam itu, di rumah, suasana jauh lebih sunyi dari biasanya.
Alina duduk di ruang makan, dokumen masih terbuka di depannya, tapi pikirannya melayang.
Arsen memperhatikannya dari seberang meja.
“Kau memikirkan artikel itu?” tanyanya lembut.
“Bukan hanya itu.”
Ia menutup dokumen perlahan.
“Aku tahu ini akan terjadi. Tapi tetap saja rasanya… melelahkan.”
Arsen bangkit dan duduk di kursi sebelahnya.
“Kau baru saja mengguncang struktur lama. Orang-orang yang kehilangan kendali tidak akan tinggal diam.”
Alina menatap meja kayu di depannya.
“Apa aku terlalu keras?”
Pertanyaan itu keluar lebih lirih dari yang ia maksudkan.
Arsen terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Kau keras pada sistem yang salah. Itu berbeda dengan keras pada orang yang tidak bersalah.”
Alina menoleh padanya.
“Aku tidak ingin menjadi pemimpin yang ditakuti.”
“Kau bukan ditakuti,” jawab Arsen pelan. “Kau dihormati. Dan kadang orang mencampuradukkan keduanya.”
Keheningan itu terasa lebih lembut.
Alina menyandarkan kepalanya di bahu Arsen.
“Kadang aku merindukan masa ketika masalahku hanya tentang bagaimana menyelamatkan perusahaan ayahku,” katanya.
Arsen tersenyum kecil. “Dan sekarang kau menyelamatkan industri.”
Ia tertawa pelan.
“Berlebihan.”
“Tidak.”
Keesokan paginya, sebuah kejutan lain datang.
Daniel meminta bertemu.
Bukan sebagai CEO. Bukan sebagai lawan.
Sebagai individu.
Alina menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya menyetujui pertemuan singkat di sebuah kafe privat.
Daniel tampak berbeda.
Tidak lagi mengenakan jas mahal dengan aura percaya diri berlebihan.
Ia terlihat lebih ringan, entah karena beban sudah dilepas atau karena kehilangan sudah diterima.
“Kau melakukan apa yang tidak bisa kulakukan,” katanya tanpa basa-basi.
“Apa itu?”
“Membersihkan tanpa takut kehilangan posisi.”
Alina menatapnya hati-hati.
“Aku tidak melakukannya untuk menjatuhkanmu.”
Daniel tersenyum samar.
“Aku tahu sekarang.”
Keheningan sejenak terjadi.
“Aku hanya ingin mengatakan satu hal,” lanjut Daniel. “Orang-orang yang dulu mendorong strategi agresif itu… mereka tidak akan berhenti hanya karena keluar dari dewan.”
Alina mengernyit.
“Maksudmu?”
“Mereka punya jaringan. Pengaruh. Dan dendam.”
Alina terdiam.
Jadi artikel anonim itu mungkin baru awal.
“Kenapa kau memberitahuku?” tanyanya.
Daniel menatapnya lurus.
“Karena untuk pertama kalinya, aku melihat perusahaan ini bisa dipimpin dengan cara berbeda.”
Kalimat itu terasa jujur.
Dan anehnya, Alina tidak merasakan permusuhan lagi.
Hanya pengakuan bahwa mereka pernah berada di sisi yang salah dari sejarah yang sama.
Sore itu, saat kembali ke kantor, Alina berdiri di depan jendela besar ruangannya.
Kota di bawahnya bergerak seperti biasa.
Namun ia tahu, di balik permukaan tenang, arus bawah masih kuat.
Arsen masuk tanpa mengetuk.
“Bagaimana pertemuannya?”
Alina menoleh.
“Dia memperingatkan kita.”
Arsen menghela napas pelan.
“Jadi ini belum selesai.”
Alina mengangguk.
“Tapi kali ini kita tahu siapa yang kita hadapi.”
Ia berjalan mendekat ke meja, menatap logo perusahaan baru yang terukir di dinding.
Ardhana Aurora Group.
Nama yang lahir dari konflik.
Dan kini diuji oleh bayangan yang tersisa.
Alina menatap Arsen dengan keyakinan yang tidak goyah.
“Mereka mungkin mencoba meretakkan kaca dari luar,” katanya pelan. “Tapi selama fondasinya kuat, retakan itu tidak akan membuatnya runtuh.”
Arsen tersenyum tipis.
“Dan fondasinya?”
Alina menggenggam tangannya.
“Bukan hanya bisnis.”
Di tengah ancaman yang masih samar, satu hal kini jelas perang mungkin berubah bentuk.
Tapi Alina tidak lagi takut pada bayangan.
Karena ia sudah berdiri di bawah cahaya pilihannya sendiri.
(BERSAMBUNG)