Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"Kamu terlalu banyak pakai makeup."
Arabelle menoleh. "Kenapa?"
"Karena kamu cantik tanpa itu semua." Lorenzo menyentuh pipinya sebentar, lalu kembali menatap jalan.
Arabelle tidak menjawab, tapi sesuatu di dadanya bergerak hangat.
**
Gedung itu berdiri di ujung jalan dengan cara yang mengatakan ia tahu persis seberapa mewahnya dirinya. Lorenzo memarkir mobil, dan mereka berjalan ke arah pintu masuk bersama.
"Aku gila dengan kecantikanmu malam ini," bisiknya di telinganya ketika mereka mendekat ke meja penerima tamu.
Arabelle melihat ke depan dan pura-pura tidak mendengar, tapi kulitnya sudah tidak bisa berbohong.
Perempuan di meja penerima tamu menyambut mereka dengan senyum profesional yang sedikit kaku. "Selamat malam. Ada reservasi?"
"Atas nama Lorenzo Devereaux," kata Lorenzo.
Sesuatu berubah di wajah perempuan itu, tidak dramatis, tapi Arabelle menangkapnya. Senyumnya tidak berubah, tapi postur tubuhnya sedikit lebih tegak.
"T-tentu, ikuti saya."
Lift membawa mereka ke lantai paling atas. Pintu terbuka dan pemandangan kota Roma malam menyambut dari balik dinding kaca yang membentang dari lantai ke langit-langit.
Mereka duduk berhadapan di meja yang terasa terlalu indah untuk disentuh, apalagi dimakan di atasnya.
Pelayan datang membawa menu, matanya singgah lebih lama dari perlu di wajah Arabelle sebelum kembali ke Lorenzo dengan ekspresi yang berbeda.
"Sudah ada pilihan?"
"Bistecca terbaik yang kalian punya, dengan insalata." Lorenzo meletakkan menu tanpa melihat. "Dan wine terbaik."
Pelayan mencatat. "Wine-nya seharga sembilan belas ratus euro--"
"Tidak ada masalah."
Arabelle menunggu sampai pelayan pergi. "Seribu sembilan ratus euro untuk wine."
"Ya."
"Kamu tidak perlu melakukan ini setiap kali kita keluar."
"Aku tahu." Lorenzo menyentuh punggung tangannya di atas meja. "Tapi aku ingin."
Arabelle menatapnya sebentar, lalu menyerah.
**
Makanan datang dengan cara yang terlalu artistik untuk sekadar disantap, tapi rasanya memang sepadan. Bistecca yang dipotong tipis dan sempurna, insalata caprese dengan tomat segar dan mozzarella, dan wine merah tua yang berbeda dari apa yang biasa ia minum di tempat manapun sebelumnya.
"Enak?" tanya Lorenzo.
"Kenapa kamu selalu tanya padahal wajahku sudah menjawab sendiri?"
Sudut bibirnya terangkat. "Karena aku ingin mendengarnya."
Mereka makan sambil berbicara, tentang hal-hal ringan, tentang tidak banyak hal, tapi tidak ada keheningan yang butuh diisi. Arabelle sempat mengirim pesan singkat ke Catherine, memastikan semua baik di seberang sana.
Setelah selesai, Arabelle meraih tasnya.
"Aku ikut bayar."
"Tidak."
"Lorenzo--"
"Masukkan kembali."
"Aku juga makan."
"Aku tahu." Ia sudah mengeluarkan uang. "Dan aku yang mengajakmu."
"Itu bukan alasan untuk--"
"Arabelle." Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk menutup percakapan.
Arabelle menyilangkan tangan. Dua ribu empat ratus euro dibayar dengan cara seseorang yang tidak perlu melihat jumlahnya dua kali.
Mereka keluar di bawah tatapan separuh ruangan.
**
Di dalam mobil, Lorenzo melonggarkan dua kancing kemejanya dan meletakkan blazer di jok belakang. Arabelle duduk dengan tangan menyilang, menatap jendela.
"Kamu kenapa diam?" tanya Lorenzo.
"Aku tidak diam." Suaranya keluar sedikit lebih tajam dari yang ia rencanakan.
"Kamu marah karena aku yang bayar."
"Aku tidak suka diperlakukan seperti aku tidak bisa melakukan apa-apa sendiri."
Lorenzo tidak langsung menjawab.
"Kamu ingin tidur di tempatku?" tanyanya akhirnya.
"Tidak. Antarkan aku pulang."
"Kenapa?"
"Karena aku masih kesal padamu."
Ia menoleh sekilas. "Kesal yang kecil sekali itu."
"Tidak kecil."
"Terlihat kecil."
"Lorenzo--" Nada suaranya naik. "Jangan--"
"Turunkan nada bicaramu." Suaranya berubah tenang tapi berberat. "Aku bukan orang yang bisa kamu bicara seperti itu."
"Dan kamu juga tidak perlu berteriak balik."
"Aku tidak berteriak."
"Kamu hampir."
Mobil berhenti, di tengah jalan, dengan klakson mulai berbunyi dari belakang. Tangan Lorenzo memegang wajah Arabelle, memaksanya menatapnya langsung. Beberapa tetes jatuh di pipinya sebelum ia sempat mencegahnya.
"Aku bukan sampah siapapun," katanya pelan. Amarahnya masih ada, tapi di ujungnya ada sesuatu yang lain. "Termasuk kamu. Mengerti?"
Arabelle mengangguk.
Ia melepaskan. Mobil melaju kembali, tapi ke arah yang salah.
"Ini bukan jalan ke rumahku."
Lorenzo tidak menjawab.
Gerbang hitam terbuka. Penjaga mengambil alih mobil. Dan sebelum Arabelle sempat menyusun argumen baru, ia sudah berjalan masuk ke rumahnya.
Arabelle menyusul.
**
Di kamar, Lorenzo membuka lemari dan menyerahkan hoodie dan boxer tanpa banyak kata.
"Ganti. Aku di balkon."
Arabelle masuk ke kamar mandi, melepas pakaiannya, dan mengenakan hoodie Lorenzo kainnya besar dan jatuh sampai separuh pahanya, membawa aroma yang sudah terlalu ia kenal. Boxer dipasang. Riasan dihapus dengan tisu misel yang ada di rak.
Ia keluar.
Lorenzo berdiri di balkon, membelakangi pintu, memandang ke arah laut Mediterania yang gelap. Tanpa kemeja. Asap tipis mengepul dari sela jarinya.
Arabelle berdiri di sampingnya.
Di bawah, lampu-lampu kota Roma berpencar sampai ke garis horizon. Laut di kejauhan tampak hitam dan tenang. Angin malam membawa udara yang dingin dan sedikit asin khas pesisir Italia yang tidak pernah benar-benar hangat setelah matahari terbenam.
Lorenzo menoleh ke arahnya.
"Lebih bagus dari yang tadi," katanya, matanya menelusuri penampilannya sebentar.
Arabelle mencegah senyum yang hampir lolos.
Ia membuang puntung rokok ke asbak di sudut balkon, lalu berbalik sepenuhnya ke arah Arabelle dan dalam satu gerakan yang tidak terburu-buru, tangannya mengangkat wajahnya dan menciumnya. Pelan. Seperti ia punya semua waktu di dunia.
Tangannya kemudian bergerak ke pinggang Arabelle, menariknya lebih dekat sampai tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Arabelle merasakan napasnya di kulitnya ketika bibirnya berpindah ke lehernya.
"Aku mencintaimu," bisik Arabelle.
Ia bisa merasakan senyumnya.
Mereka kembali ke dalam.
**
Di atas kasur, dengan lampu yang sudah dimatikan dan hanya cahaya kota Roma yang masuk dari celah tirai balkon, Arabelle melihat mata Lorenzo dari jarak yang sangat dekat.
"Aku siap," katanya.
Ia berhenti. "Yakin?"
"Ya."
Ia memandanginya sebentar, benar-benar memandangi, bukan memperhatikan lalu mengangguk pelan.
Apa yang terjadi selanjutnya tidak perlu kata-kata. Tangannya bergerak dengan hati-hati, bibirnya berbicara di kulit lebih banyak dari yang bisa disampaikan suara, dan Arabelle menemukan bahwa ada hal-hal yang terasa paling nyata justru ketika tidak ada yang diucapkan.
Semuanya terasa hangat. Lambat. Dan lebih dari yang pernah ia bayangkan.
Ketika malam akhirnya diam sepenuhnya, keduanya berbaring dalam gelap napas yang baru kembali teratur, kulit yang masih terasa hangat dari yang baru saja berlalu.
Tidak ada yang bicara.
Tidak perlu.
Lorenzo menarik selimut, dan Arabelle memejamkan mata dengan tangannya yang masih menggenggam tangannya dalam gelap.
Dan mereka tidur.