"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPALA ATAU TANGAN ?
BAB 16
Tiga hari berlalu namun Alisya masih diam merahasiakan kehamilannya, ragu untuk bicara pada Tama, Alisya hanya khawatir Tama belum bisa menerima anak yang dia kandung. Mengingat Tama memang melarang keras sang Istri untuk hamil.
“Sayang?”
Pagi – pagi sekali Tama sudah nge bucin, pagi ini Tama tidak kekantor entahlah Pria itu merasa malas untuk berangkat, Al hasil Alisya yang menjadi Bahan bermanja Suaminya.
“Mas, Kamu tidak berangkat?”
“Aku masuk siang Sayang..” Alisya mendelik, masuk siang? Sejak kapan suaminya kerja berwaktu begitu.
“Memangnya kamu pegawai Pabrik ada Shift Mas?” Tama tertawa, Istrinya ini sangat lucu dan sangat mudah di goda
“YA kamu juga nanyanya aneh..”
“Bukannya aneh Mas, kan biasanya juga pagi – pagi sekali kamu sudah berangkat.”
Tama menarik tangan sang istri sehingga Si cantik itu bersandar pada Dada Tama.
“Sayang, kamu lupa kalau aku ini yang punya Perusahaan? Aku ini CEOnya sayang, jadi ya terserah aku mau berangkat atau tidak.”
“Kemarin Manager sekarang CEO, yang benar yang mana sih Mas? Alisya kesal dan langsung mencubit pipi sang Suami.
“Bukan karena kamu pemiliknya lalu kamu bisa seenaknya Mas, justru karena kamu CEOnya kamu harus bisa mencontohkan sesuatu yang baik untuk karyawan kamu..”
“Sayang, kerjaan aku itu tergantung Selin, kalau dia sudah menghubungiku dan memintaku untuk datang baru deh aku beranjak..”
“Memangnya Selin itu Bos kamu?”
“Sayang.. percayalah Selin itu sudah handal, dia bisa menggantikan aku..”
“Sehandal itu?” Tama mengangguk, baru saja dia ingin mencium sang istri ponselnya bergetar.
Nama Selin sudah terpampang jelas di layar ponsel Tama.
“Nah kan? Baru di omongin Selin sudah menghubungi kamu Mas..” Alisya tertawa si tampan itu langsung memejamkan matanya.
“Kamu angkat saja Sayang.”
“Loh kok gitu?”
“Ngga bisa liat aku senang kayanya dia!”
Alisya menggelengkan kepala tak lama dia mengangkat sambungan itu dan tak lupa mengaktifkan pengeras suara.
“Tama? Kamu masih di rumah?”
“Hmm, Why?”
Dengan nada malas Tama yang menjawab, dan tentu saja Alisya mendengarnya.
“Tama, mau jam berapa kamu ke kantor?”
“Aku hari ini tidak ingin kemana – mana Sein, Please handle semua urusan kantor..”
“Oh No! Pak Cahyo menunggu kamu Tama,”
“Berikan alasan yang masuk di akal..” Ucap Tama dengan malas, lelaki itu masih memeluk Istrinya dengan erat.
“Aku sudah menyuruhnya berangkat Sel, tapi Bosmu ini yang susah di bilangin.”
Selin menghembuskan nafas memang bosnya ini Random sekali.
“Tenang saja Sel, aku akan membujuknya agar berangkat..”
“Thank you Alisya, kepalaku sudah ingin pecah rasanya.”
Selin mematikan sambungan telepon dan Tama yang tau detik selanjutnya dia akan di marahi hanya diam menatap.
“Sayang percayalah,, aku sedang malas ke kantor..” Tama berucap dengan nada malasnya tapi nyatanya hal itu tidak membuat Alisya tersentuh.
“Mas, kamu tidak kasihan dengan Selin? Pekerjaannya jadi terhambat karena dia mempunyai Bos yang seperti kamu ini..”
“Astaga!! salah lagi aku..”
“Memang kamu salah Mas!”
Baiklah Tama hanya bisa mengalah saja, karena di depannya ini adalah satu – satunya wanita yang tidak bisa dia bantah.
“Kasih aku cium dulu, aku butuh amunisi pagi ini..”
Alisya menghembuskan nafasnya setelah bermanja ria akhirnya Tama menurut dan berangkat kekantor.
Menempuh waktu lima belas menit Tama tiba di kantor, sesuai harapan dia langsung menemui Sekretaris handalnya.
“Apa lagi sih masalahnya? Kenapa tidak bisa kamu membiarkan aku tenang sehari saja?”
Selin mendelik dengan kedua tangan melipat di dada, Gadis cantik berambut ikal itu melemparkan satu map merah dan Tama langsung membacanya.
“Dua ribu unit?” Tama bertanya dengan nada tingginya, namun Selin hanya bisa mengangguk.
“Sekarang katakan! Apa aku bisa tenang dan diam saja saat tau Gudang Milik Pak Cahyo di sabotase? Dan kerugiannya mencapai miliaran Tama!!”
Tama mengepalkan tangannya, sungguh kabar yang dia ketahui ini di luar prediksinya.
“Kamu tau ini ulah siapa?”
Selin memperhatikan tiga jejak rekaman CCTV yang ada di beberapa sudut jalan, dan semua kejahatan terekam disana.
“Kamu yakin ini akurat?”
“Aku yakin seribu persen!”
Tama memanggil beberapa anak buahnya, dia mau malam ini semua masalah yang ada bisa berakhir dan tidak menimbulkan ke gaduhan, Tama mau semua terselesaikan dengan sangat rapi.
“Menurut nomer polisi yang tertangkap kamera CCTV, mobil yang di gunakan atas nama Indah Pertiwi, dan aku sudah membawa orangnya.”
“Sekarang?”
“Tentu!”
Tama tersenyum, gerakan asistennya ini benar lebih cepat dari kilat yang menyambar, Tama saja sampai tidak kepikiran kesana.
“Bawa orang itu ke depanku, aku ingin bertanya langsung..”
Usai bicara dan menginterogasi ahirnya Tama bisa mendapatkan sedikit pencerahan.
“Kamu yakin?”
“Saya sangat yakin Pak!”
Wanita berkerudung biru itu berucap dengan nada yang sangat tenang, terlihat sangat tidak mencurigakan.
“Saya sangat yakin kalau mobil dengan nomer polisi itu hanya keluar di malam yang sama, dan saya sangat ingat dengan wajah orang itu. Saya sangat yakin.”
Tama memberikan data pada dua anak buahnya yang selalu di tugaskan untuk melacak sesuatu.
Dan..
Ketemu!!
Satu nama muncul di permukaan.
“Buana Dirayuda..”
Deg!
Tama menoleh bahkan dengan kedua mata yang sudah mendelik.
“Yuda?”
“Benar Pak!”
Tama meremas kepalanya, lagi dan lagi dia kecolongan oleh salah satu musuhnya.
“Hubungi Argo dan Gani, saya akan keluar malam ini.”
“Baik Pak.”
Selin langsung bergerak cepat, jika bosnya ini sudah dalam mode waspada itu berarti keadaanya sudah tidak baik – baik saja.
Dan benar saja saat ini waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, bukannya pulang kerumah dan bertemu dengan sang Istri, Tama malah memberanikan diri mengunjungi musuhnya di tengah malam, Argo dan Gani sudah Standby dengan pakaian hitamnya, Selin ikut dengan Tama, Gadis itu tidak mau ketinggalan sang Bos. Sedangkan Bayu di tugaskan untuk menjaga nona mudanya, Alisya pasti menghawatirkan Suaminya.
“Sebenarnya Mas Tama kemana Bay?”
“Saya tidak tau persis kemana Bapak pergi bu, yang saya tau ini soal pekerjaan..” Alisya hanya mengangguk, wanita cantik itu tetap kekeh ingin menunggu sang suami pulang, walaupun sampai jam berapa kepulangannya itu.
“Tama?”
“Hmmm?” Tak menjawab Tama masih diam dengan memejamkan matanya.
“Bisa kamu tenangkan dulu dirimu? Wajahmu sangat merah dan aku tau kamu sedang memendam amarah.”
Tama masih diam, walaupun terlihat marah tapi Tama masih bisa terlihat tenang.
“Tama kamu dengar aku?” Ucap lagi Selin yang masih terlihat cemas.
“Hhmmm?”
Selin menggelengkan kepala entahlah Bosnya ini memang sangat menyebalkan.
“Jangan melakukan hal yang fatal yang nantinya bakan membahayakan dirimu sendiri Tama..”
“Ingatlah kemungkinan besar ini adalah salah satu pancingan agar kamu bisa keluar dan bergerak secara langsung..”
“Dan aku takut kamu kenapa – kenapa..”
“Kan ada kamu..” disaat Selin sudah sangat cemas Namun Tama masih terlihat santai.
“Dani bisa saja nekat Tama..”
Selin terus mengoceh sedangkan Yang di oceh hin masih diam dengan memejamkan matanya.
“Sein?”
“Iya?”
“Mana dulu menurutmu? Kepala? Atau tangan?”
Deg!
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya