Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Langkah kaki Adnan yang mantap bergema di sepanjang selasar kantor guru.
Begitu ia melewati pintu jati besar ruang guru, suasana yang tadinya riuh rendah oleh obrolan pagi mendadak senyap.
Beberapa ustaz dan ustazah segera menunduk, pura-pura sibuk dengan tumpukan kitab atau jadwal pelajaran, namun sudut mata mereka tetap mencuri pandang ke arah Adnan.
Suara bisik-bisik halus seperti desis angin terdengar di pojok ruangan.
"Benarkah dia membawa wanita itu ke kamar pribadinya?"
"Bagaimana dengan marwah pondok kita jika dipimpin oleh orang yang berkompromi dengan maksiat?"
Adnan tidak mempercepat langkahnya. Ia meletakkan tas berisi kitabnya di atas meja kerja dengan tenang.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa ruang itu kini dipenuhi dengan prasangka yang lebih pekat dari asap kopi pagi.
"Ehem!"
Adnan berdehem cukup keras hingga semua aktivitas pura-pura di ruangan itu terhenti total.
Ia berdiri tegap, melipat tangannya di dada, lalu menatap satu per satu rekan sejawatnya dengan pandangan yang teduh namun berwibawa.
"Assalamu'alaikum semuanya," sapa Adnan tenang.
"Saya rasa, bisik-bisik di belakang punggung bukanlah ciri seorang penuntut ilmu yang beradab. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati Bapak dan Ibu sekalian mengenai pernikahan saya semalam, silakan sampaikan sekarang."
Ia menjeda sejenak, memberikan ruang bagi keberanian mereka untuk muncul.
"Jangan biarkan fitnah tumbuh di hati kalian hanya karena ketidaktahuan. Silakan, langsung saja bertanya pada saya. Saya di sini untuk menjawabnya," tegas Adnan sambil tersenyum tipis.
Seorang ustaz senior, Ustaz Khalid, akhirnya berdehem dan memberanikan diri angkat bicara.
"Ustadz Adnan, kami hanya khawatir. Pesantren ini dibangun dengan tetesan keringat dan air mata Kyai Mansyur untuk menjaga kesucian. Apakah tidak ada wanita lain yang lebih 'layak' untuk bersanding dengan Anda selain dia yang... kita tahu sendiri latar belakangnya?"
Adnan mengangguk pelan, menghargai kejujuran pertanyaan itu.
Adnan menarik napas panjang, membiarkan keheningan sejenak merajai ruangan sebelum ia memberikan jawaban.
Ia menatap Ustaz Khalid dan para guru lainnya dengan tatapan yang tidak menyalahkan, melainkan mendidik.
"Ustaz Khalid, dan Bapak Ibu sekalian yang saya hormati," suara Adnan mengalun rendah namun bertenaga.
"Jika kita menganggap pesantren ini hanya layak dihuni oleh mereka yang sudah suci, lalu di mana tempat bagi mereka yang sedang berlumur dosa namun rindu pada jalan pulang? Kalian bertanya tentang 'kelayakan'. Apakah kita lupa bahwa Ibunda kita, Siti Khadijah, adalah seorang janda yang mulia, namun di zamannya banyak yang meragukan? Apakah kita lupa bahwa banyak sahabat Nabi yang dulunya adalah penyembah berhala dan pelaku maksiat sebelum cahaya Islam menyentuh hati mereka?"
Adnan menjeda, matanya kini berkilat penuh ketegasan.
"Wanita yang saya nikahi semalam adalah seorang yatim piatu yang tersesat karena dunia tidak memberinya pilihan lain. Namun, di tengah kegelapannya, ia memiliki kejujuran untuk mengembalikan amanah milik almarhumah ibu saya. Jika Allah saja sudi menggerakkan hatinya untuk jujur, lalu siapakah saya—siapakah kita—yang berani menutup pintu rahmat-Nya?"
Para guru tertegun. Beberapa dari mereka mulai menundukkan kepala, merasa tersindir oleh kesombongan spiritual yang tanpa sadar mereka pelihara.
"Jika kehadiran istri saya dianggap mengotori pesantren ini, maka ketahuilah, yang mengotori sebuah tempat suci bukanlah pakaian seseorang yang belum sempurna, melainkan hati yang penuh dengan rasa ujub dan merasa lebih baik dari orang lain. Pesantren ini dibangun untuk mencetak hamba Allah, bukan untuk mencetak hakim-hakim yang gemar menghakimi masa lalu seseorang."
Adnan merapikan kitabnya di atas meja.
"Saya bertanggung jawab penuh atasnya. Saya yang akan membimbingnya mengenal Allah, mengenal sholat, dan mengenal hijab. Jika dalam satu tahun ia tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, silakan kalian pertanyakan kepemimpinan saya. Tapi sebelum itu terjadi, saya mohon, jangan jadikan lisan kalian sebagai duri yang melukai hati orang yang baru saja ingin belajar bersujud."
Ruang guru itu mendadak sunyi senyap. Tidak ada lagi bisik-bisik. Kata-kata Adnan bagaikan tamparan lembut namun telak yang menyadarkan mereka tentang esensi dakwah yang sesungguhnya.
"Sekarang, mari kita kembali ke tugas masing-masing. Santri-santri sudah menunggu bimbingan kita," tutup Adnan dengan senyum tipis yang penuh wibawa.
Adnan menutup kitabnya tepat saat azan Ashar berkumandang.
Setelah memimpin jemaah di masjid, ia segera melangkah menuju kediamannya.
Rasa lelah yang menghimpit bahunya seolah menguap begitu ia membayangkan wajah Kinan.
Saat pintu kamar dibuka, Adnan sedikit terkejut. Kinan tidak lagi berbaring lemas.
Ia duduk tegak di pinggir ranjang, wajahnya tampak lebih segar meskipun masih ada gurat pucat.
Yang membuat Adnan tertegun adalah tangan kiri Kinan yang kini sudah bebas, tidak ada lagi selang infus yang menempel di sana.
"Jadi jalan-jalan?" tanya Kinan langsung, matanya menatap Adnan dengan binar harap yang tak bisa disembunyikan.
Adnan tertawa kecil saat mendengar perkataan dari istrinya.
Tawanya renyah, meruntuhkan sisa-sisa ketegangan yang ia bawa dari ruang guru tadi.
"Assalamualaikum, Kinan. Semangat sekali ya sepertinya," goda Adnan sambil melangkah masuk.
"Waalaikumsalam, Mas," jawab Kinan pelan, pipinya sedikit bersemu merah karena menyadari dirinya terlalu antusias.
Adnan meletakkan tas kitabnya di atas meja. Rasa penat setelah seharian menghadapi kitab dan perdebatan batin para guru membuatnya menghela napas panjang.
Ia menatap ranjang yang tampak sangat mengundang.
"Suamimu istirahat sebentar ya. Lima menit saja untuk meluruskan punggung," ucap Adnan.
Tanpa menunggu jawaban, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tepat di samping tempat Kinan duduk.
Ia memejamkan matanya sambil menikmati empuknya kasur dan aroma kamar yang menenangkan.
Melihat suaminya berbaring, Kinan merasa canggung.
Ia merasa tidak enak hati dan berniat bangkit untuk memberikan ruang atau mungkin mengambilkan air minum untuk Adnan.
"Aku ambilkan air dulu ya, Mas..." Kinan mulai beranjak.
Namun, belum sempat kaki Kinan menyentuh lantai, tangan Adnan bergerak cepat.
Ia meraih pergelangan tangan Kinan—bukan dengan paksaan, melainkan dengan kelembutan yang menahan.
Adnan membuka satu matanya, menatap Kinan yang terpaku.
"Kinan, duduk dan temani aku di sini," ucap Adnan lirih, suaranya sedikit serak karena lelah namun terdengar sangat tulus.
"Jangan ke mana-mana. Mas cuma ingin kamu ada di samping Mas sebentar saja sebelum kita berangkat."
Kinan kembali duduk perlahan. Ia bisa merasakan hangatnya tangan Adnan.
Di ruangan itu, untuk pertama kalinya, Kinan merasa bahwa ia bukan sekadar wanita yang diselamatkan, tapi ia adalah rumah tempat seorang lelaki hebat seperti Adnan ingin melepas lelah.
Cahaya matahari sore yang hangat mulai meredup, menyelinap masuk melalui celah gorden kamar yang tersingkap sedikit.
Di atas tempat tidur, Adnan masih berbaring miring, menatap Kinan yang duduk tegak di sampingnya.
Keheningan itu terasa nyaman, bukan lagi kecanggungan yang menyesakkan seperti malam pertama mereka.
Kinan tampak gelisah, jemarinya meraba-raba sesuatu di balik bantal.
Tak lama, ia mengeluarkan sebuah dompet kecil yang permukaannya sudah agak usang.
Dengan gerakan ragu, ia membuka dompet itu, mengambil selembar uang berwarna biru yang tampak sudah lecek, lalu menyodorkannya kepada Adnan.
"Ini, Mas..." bisik Kinan pelan.
Adnan mengernyitkan dahi, namun ia tetap meraih lembaran uang itu.
"Apa ini, Kinan?"
"Ini uang lima puluh ribu. Sisa uangku yang tersisa di dompet," jawab Kinan dengan nada yang sangat tulus, hampir seperti anak kecil yang memberikan harta karunnya.
"Nanti untuk beli mukena ya, Mas. Aku tidak mau memberatkan Mas terlalu banyak. Aku tahu aku sudah merepotkan sejak semalam."
Adnan terdiam. Ia bangkit dari posisi berbaringnya, lalu duduk bersila menghadap istrinya.
Ia menatap lembaran uang lima puluh ribu di tangannya, lalu beralih menatap wajah polos istrinya yang masih menyimpan guratan pucat.
Adnan tertawa kecil sambil menggenggam tangan istrinya.
Ia tidak segera mengembalikan uang itu, tapi justru menggenggam tangan Kinan bersama uang tersebut.
"Kinan," panggil Adnan lembut.
"Kamu tahu tidak? Dalam agama kita, saat aku mengucap 'Qobiltu' semalam, saat itu juga seluruh kebutuhanmu—mulai dari sepotong roti yang kamu makan sampai selembar benang yang menutupi auratmu—menjadi tanggung jawabku."
Kinan menunduk. "Tapi aku malu, Mas. Aku datang tanpa membawa apa-apa, malah membawa masalah."
"Simpan uang ini," Adnan melipat kembali uang itu dan memasukkannya ke tangan Kinan.
"Gunakan untuk kebutuhanmu yang lain nanti. Untuk mukena pertama yang akan kamu pakai bersujud, izinkan Mas yang membelikannya. Mas ingin itu menjadi hadiah pertama dari seorang suami untuk istrinya yang sedang menjemput hidayah."
Adnan mengusap puncak kepala Kinan yang tertutup kerudung.
"Lima puluh ribu ini sangat berharga bagi Mas karena ini bukti kejujuranmu. Tapi sore ini, biarkan suamimu ini yang memanjakanmu. Mengerti?"
Kinan perlahan mengangguk, matanya kembali berkaca-kaca. Ia merasa begitu dihargai.
Di tempat lamanya, uang adalah segalanya, namun di sini, di samping Adnan, niat baik ternyata jauh lebih bernilai dari sekadar angka.
"Ayo, siap-siap. Keburu toko mukenanya tutup," ajak Adnan sambil berdiri dan membetulkan letak sarungnya.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅