Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Lydia baru turun dari mobil saat sebuah tangan memegang cincin terulur di hadapannya. Ia pikir, Marvin masih belum menyerah, jadi ia langsung mengambil cincin itu dan melemparkannya ke sembarangan arah.
"Apa masih kurang jelas? Aku tidak mau memperbaiki hubungan yang sudah hancur di antara kita!" bentaknya tanpa benar-benar melihat siapa yang memberinya cincin.
Ia tidak sadar sudah salah membentak orang karena terbawa emosi. Orang yang barusan menyodorkan cincin sebenarnya adalah Arion.
"Kamu-" ucapan Lydia tertahan saat bertatapan dengan mata Arion.
"A-arion?" pekiknya terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya. Ia tidak menyangka dirinya baru saja membentak keponakan mantan bosnya.
"Maaf, saya tidak tahu kalau itu Anda. Saya pikir tadi Marvin," hanya itu yang bisa Lydia katakan setelah membentak Arion. Lagipula, ia juga melakukannya tanpa sengaja.
Mata Arion mengerjap, terkejut setelah dibentak oleh Lydia. Tadinya, ia berniat mengembalikan cincin Lydia karena mengira perempuan itu akan mencarinya setelah berbaikan dengan Marvin. Tidak disangka Lydia justru marah dan membentaknya.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu meminta maaf," ucap Arion sambil menarik tangannya yang masih terulur di depan Lydia.
Seumur hidupnya, baru kali ini Arion dibentak, tapi entah kenapa ia tidak bisa marah. Justru sebaliknya, ia lega melihat Lydia bisa menunjukkan emosinya.
"Cincinnya..." Lydia melihat ke tempat ia melemparkan cincin tadi.
Ia tidak melihat dengan jelas cincin yang barusan ia buang, bagaimana kalau ternyata cincin itu cincin berlian milik keluarga Adhivara?
"Itu cincin kamu. Saya hanya ingin mengembalikan cincin itu pada pemiliknya," jawab Arion mengikuti arah pandangan Lydia.
"Oh, syukurlah," ucap Lydia lega sambil mengusap dadanya.
Arion tampak heran melihat respon Lydia setelah mengetahui cincin siapa itu. Bukankah seharusnya Lydia kelabakan mencarinya?
"Saya pikir saya membuang harta Adhivara Grup," Lydia terkekeh setelah kalimatnya berakhir.
Arion terdiam memandangi Lydia. Tiba-tiba perkataan pamannya kembali terlintas di pikirannya. Ia ingin menyangkal, tapi ia sendiri bingung dengan perasaannya.
Sebelum mereka berada di sini sekarang, Arion melihat Lydia bersama Marvin di coffeeshop. Ada perasaan tidak suka muncul di hatinya saat melihatnya. Lalu tadi, ia juga senang saat Lydia membuang cincinnya dan terlihat tidak menginginkan cincin itu.
"Kamu tidak mau mencari cincin kamu? Mau saya bantu carikan?" tanya Arion memastikan bahwa Lydia tidak menginginkan cincinnya.
"Tidak usah, cincin itu memang sudah seharusnya dibuang," jawab Lydia cepat, sebelum Arion benar-benar membantunya mencari cincin.
Sebenarnya, ia kurang nyaman berinteraksi dengan Arion. Apalagi setelah Calvin dan Aletta melihatnya dipeluk oleh laki-laki itu. Saat masih bekerja di Adhivara Grup juga ia hanya berinteraksi seperlunya dengan Arion.
Bukan apa-apa, Arion adalah pewaris dari dua keluarga yang memiliki nama besar. Ia tidak ingin orang lain menganggapnya sengaja mendekati Arion demi sebuah kepentingan.
"Maaf, saya duluan," ucap Lydia setelah mereka terdiam cukup lama.
Sebelum Lydia sempat melangkahkan kakinya, tangan Arion menahan pergelangan tangannya dan membuat pergerakan perempuan itu terhenti.
Ia khawatir ada orang yang melihat mereka di sana, tapi ia juga tidak bisa menepis tangan Arion seperti yang ia lakukan pada Marvin.
"Kenapa kamu menolak kembali bekerja?" tanya Arion, masih dengan tangannya yang memegang pergelangan tangan Lydia.
Lydia berdeham pelan. Tubuhnya yang mendadak kaku menoleh ke arah Arion dan menatap wajah laki-laki itu. Kalau boleh jujur, Arion masuk ke dalam daftar laki-laki tampan yang wajahnya ia kagumi.
Lydia tidak memiliki perasaan terhadap Arion, ia hanya pengagum pria-pria tampan, dan Arion salah satunya. Ia tidak cukup berani menaruh hati pada orang dengan latar belakang kuat seperti Arion.
"Ah, itu... Saya hanya sedang menikmati hidup sebagai pengangguran," jawabnya sedikit bercanda.
"Bukan karena saya?" Arion kembali melempar pertanyaan, karena merasa bukan itu alasan Lydia menolak kembali bekerja.
Lydia terkekeh, meski tidak ada hal lucu sekarang. Lalu ia dengan asal berkata, "Sebenarnya saya sudah lelah bekerja dan ingin menikahi duda kaya untuk membiayai hidup saya."
Arion terdiam seketika. Tangannya yang memegang tangan Lydia terlepas begitu saja. Ada yang mengganggu hatinya saat mendengar perempuan itu ingin mencari duda kaya untuk dinikahi.
"Oke. Baguslah kalau bukan saya alasannya,* ujarnya sebelum pergi meninggalkan Lydia.
Lydia kembali terkekeh seperti orang bodoh. Ia tidak mengerti apa yang salah dengan perkataannya, tapi ia sadar ada yang berbeda dari Arion setelah ia mengatakan itu.
"Iya, duda. Tapi duda tanpa anak. Aku tidak terlalu suka dengan anak kecil," gumamnya entah pada siapa. Ia takut perkataannya tadi dikabulkan tuhan dan menjadi kenyataannya.
***
Hari demi hari berlalu dengan cepat, dan sudah terhitung dua bulan Lydia menghabiskan waktunya sebagai pengangguran.
Setiap kali bosan, ia hanya pergi ke coffeeshop untuk meminum secangkir kopi. Seperti hari ini, ia duduk di meja paling pojok sambil menikmati latte.
"Boleh saya bergabung?" tanya Jevan menghampiri meja Lydia.
Lydia tiba-tiba saja teringat ucapannya pada Arion saat melihat Jevan berdiri di depannya. Jevan adalah duda kaya yang dapat membiayai hidup siapapun yang menjadi pasangannya.
"Lydia," tegur Jevan melihat Lydia terdiam.
Lydia berdeham dan menepis pikirannya. Ia hanya asal bicara waktu itu, dan ia tidak butuh duda kaya untuk bisa menunjang hidupnya. Ia bisa menghasilkan uangnya sendiri.
"Silakan, pak," ucap Lydia akhirnya mengizinkan Jevan bergabung di mejanya.
Entah kenapa, ia lebih nyaman berinteraksi dan duduk berdua dengan Jevan dibandingkan Arion. Ia juga tidak tahu kenapa dirinya terus memikirkan Arion sekarang.
"Ada apa?" tanya Jevan saat Lydia tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya seolah ada sesuatu yang sedang perempuan itu tepis di pikirannya.
"Tidak apa-apa, Pak. Aman," sahut Lydia cepat disertai senyuman.
Tepat saat itu, seseorang baru saja memasuki coffeeshop dan orang tersebut menyaksikan Lydia tersenyum pada Jevan.
"Sudah dapat duda yang bisa membiayai hidup, ya?" tanya orang yang berdiri di depan pintu coffeeshop, Arion.
Ia tidak terlalu suka minum kopi, tapi ia pergi ke sana karena di sana ia bisa melihat Lydia. Lagipula, coffeeshop tidak hanya menjual kopi, meskipun namanya terdengar seperti tempat untuk orang-orang menikmati kopi.
"Kenapa harus duda, dan kenapa harus Paman Jevan?" jeritnya dalam hati. Entah kenapa ia merasa tidak terima melihat Lydia dekat dengan Jevan.
Sampai saat ini, Arion masih menyangkal bahwa dirinya memiliki perasaan atau sekadar tertarik pada Lydia. Namun, ia juga tidak mengerti alasan hatinya tidak menyukai pemandangan di depannya.
"Malas sekali aku harus melihat mereka," gumamnya, lalu berjalan keluar dari coffeeshop.
Ia ke sana karena hatinya senang berada di sana, tapi kesenangan itu telah lenyap setelah melihat kedekatan Lydia dan Jevan.
Sementara itu, di dalam coffeeshop, Lydia menyadari kehadiran Arion. Bahkan, ia tahu jika Arion sering datang ke sana beberapa hari terakhir. Hal yang tidak ia mengerti adalah Arion pergi dari coffeeshop tanpa memesan sesuatu.
"Kenapa Arion tidak jadi masuk?" batinnya bingung.
Jevan yang sadar Lydia melihat sesuatu, atau mungkin seseorang, mengikuti arah pandangan perempuan itu. Namun, tidak ada siapa pun yang bisa ia lihat di sana.
"Apa kamu melihat sesuatu?" ucap Jevan, mengungkap apa yang menjadi pertanyaannya.
Lydia hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia tidak mungkin bicara jujur tentang dirinya yang melihat Arion pergi.