Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Air Susu di Tengah Peluru
Hutan di lereng pegunungan Apennine terasa seperti labirin hijau yang tak berujung. Suara helikopter polisi masih terdengar sayup-sayup di kejauhan, membelah langit malam yang pekat. Dante bergerak seperti bayangan, napasnya memburu namun langkahnya tetap stabil. Di pelukannya, ia menggendong tas bayi taktis yang sudah dimodifikasi, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat pergelangan tangan Aruna.
"Cepat, Aruna! Kita tidak bisa berhenti di sini!" desis Dante. Ia menarik Aruna melewati semak berduri yang merobek gaun hitam mewahnya.
Aruna tersandung, kakinya yang hanya beralaskan sepatu flat kini lecet dan berdarah. "Dante, pelan sedikit... aku tidak bisa... napasku..."
Tiba-tiba, sebuah suara yang paling ditakuti Aruna pecah di keheningan hutan.
Oeee... Oeee...
Leonardo terbangun. Tangisannya yang melengking memecah sunyi, bergema di antara pepohonan. Aruna membeku. Tangisan itu dalam situasi ini adalah seperti suar cahaya bagi para pengejar mereka.
"Ssttt... Leo, sayang, diamlah..." Aruna segera mengambil tas bayi itu dari tangan Dante, mendekap Leonardo di dadanya. Namun tangisan bayi itu justru semakin kencang. Leonardo lapar, lelah, dan ketakutan karena guncangan selama pelarian.
"Sialan," kutuk Dante pelan. Ia menoleh ke belakang, melihat cahaya lampu senter dari pasukan pengejar yang mulai mendekat di bawah bukit. "Dia harus diam, Aruna! Sekarang!"
"Dia lapar, Dante! Dia tidak makan sejak kita meninggalkan pemakaman!" Aruna menatap Dante dengan mata berkaca-kaca. "Aku harus menyusuinya!"
"Tidak di sini! Kita terbuka di sini!" Dante menarik mereka menuju sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik air terjun kecil yang mengalir dari celah batu.
Begitu mereka masuk ke dalam kegelapan gua yang lembap dan dingin, Dante segera menekan tubuhnya ke dinding batu, senjatanya mengarah ke luar. Aruna merosot ke lantai gua yang berbatu. Ia gemetar hebat, namun insting keibuannya mengambil alih. Dengan tangan yang masih kotor oleh tanah dan debu, ia membuka kancing pakaiannya.
"Leo, tenanglah... ini Ibu..." bisik Aruna.
Begitu Leonardo mencium aroma tubuh Aruna dan merasakan kehangatannya, tangisannya mereda menjadi isakan kecil. Bayi itu segera menyusu dengan rakus. Di tengah kegelapan gua, hanya terdengar suara air terjun dan bunyi napas pendek Leonardo yang sedang minum.
Dante menurunkan senjatanya sejenak. Ia menatap Aruna yang sedang menyusui di bawah cahaya rembulan yang masuk sedikit dari celah gua. Pemandangan itu begitu kontras—seorang wanita cantik yang sedang memberikan kehidupan, sementara di luar sana, puluhan pria bersenjata sedang mencari mereka untuk memberikan kematian.
"Kau membenciku, bukan?" tanya Dante tiba-tiba. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara air.
Aruna tidak mendongak. Ia terus mengelus pipi lembut Leonardo. "Aku membencimu karena kau menyeretku ke neraka ini. Tapi aku membencimu lebih lagi karena kau membuat bayi ini menjadi yatim piatu di dunia yang ingin membunuhnya."
"Dia tidak yatim piatu selama aku masih bernapas," sahut Dante. Ia mendekat, berlutut di samping Aruna. Ia mengulurkan tangan, menyentuh rambut Leonardo yang halus. "Kau tahu kenapa aku membawamu lari bukannya menyerahkanmu pada polisi? Karena Leo tidak akan bertahan satu hari pun tanpa dirimu. Kau adalah nyawanya."
"Dan kau?" tanya Aruna, matanya kini menatap Dante. "Apakah aku hanya botol susu yang bernapas bagimu?"
Dante terdiam. Tangannya beralih ke pipi Aruna, mengusap noda tanah di sana. "Kau jauh lebih dari itu, Aruna. Kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku tidak meledakkan tempat ini dan semua orang di dalamnya tadi. Kau memberikan sesuatu yang tidak pernah aku miliki: sebuah alasan untuk tidak menjadi monster sepenuhnya."
Tiba-tiba, Leonardo melepaskan hisapannya. Ia bersendawa kecil dan kembali tertidur pulas dalam dekapan Aruna. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sedetik.
KRETEK.
Suara ranting patah di depan gua.
Dante secepat kilat berdiri, menutupi tubuh Aruna dan Leonardo dengan tubuh besarnya. Ia mengangkat pistolnya, jarinya sudah berada di pelatuk.
"Jangan bergerak," sebuah suara yang familiar terdengar dari luar.
Sesosok pria muncul dari balik bayang-bayang air terjun. Cahaya bulan menyinari wajahnya. Itu adalah Marco. Bajunya berlumuran darah, dan bahu kirinya tampak terluka.
"Marco?" Aruna terkesiap.
Dante tidak menurunkan senjatanya. "Kau mengkhianatiku, Marco. Kau memberikan posisi kami pada Luciano."
"Aku memberikan posisi Luciano pada polisi, Dante. Itu berbeda," Marco terengah, memegangi bahunya. "Luciano sudah tertangkap. Tapi anak buahnya yang fanatik masih memburu kalian. Mereka tidak ingin kode itu jatuh ke tangan pemerintah. Mereka lebih suka melihat kalian mati."
"Kenapa kau kembali?" tanya Dante curiga.
"Karena bayi itu tidak bersalah," Marco menatap Leonardo yang tertidur di pelukan Aruna. "Dan karena aku berhutang nyawa pada ayahmu. Dante, ada jalan setapak menuju dermaga tua di sisi timur. Sebuah kapal nelayan sudah menunggu. Tapi kalian harus berangkat sekarang sebelum anjing-anjing Luciano menutup jalurnya."
Aruna menatap Marco, lalu menatap Dante. "Dante, kita harus percaya padanya. Kita tidak punya pilihan lain. Leo tidak bisa bertahan di hutan ini lebih lama lagi. Suhu udara mulai turun."
Dante menatap mata Aruna. Ia melihat keteguhan seorang ibu yang bersedia melakukan apa saja demi anaknya. Perlahan, Dante menurunkan senjatanya.
"Jika ini jebakan, Marco, aku akan memastikan kau mati terakhir," ujar Dante.
"Saya tahu, Tuan."
Mereka mulai bergerak lagi menembus kegelapan. Aruna menggendong Leonardo dengan sangat hati-hati, membungkus bayi itu dengan jubah taktis milik Dante agar tetap hangat. Setiap kali Leonardo bergerak, jantung Aruna berdegup kencang, takut bayi itu akan menangis lagi.
Di tengah perjalanan, mereka harus melewati sungai kecil yang airnya setinggi pinggang.
"Berikan Leo padaku," perintah Dante. "Kau tidak akan kuat menahan arusnya sambil menggendongnya."
Aruna ragu. "Tidak, dia butuh aku."
"Berikan padaku, Aruna! Percayalah padaku kali ini saja!"
Aruna akhirnya menyerahkan Leonardo. Dante mengangkat tas bayi itu tinggi-tinggi di atas kepalanya saat mereka menyeberangi air yang sedingin es. Aruna berjuang melawan arus, tubuhnya mati rasa, namun ia terus menatap tas bayi itu.
Saat mereka mencapai seberang, Aruna segera mengambil Leonardo kembali. Ia memeriksa denyut jantung bayi itu, memastikan Leo tidak kedinginan. Leonardo hanya menggeliat kecil, merasa aman karena aroma susu dan ibunya masih ada di dekatnya.
Mereka akhirnya sampai di dermaga tua. Sebuah kapal kayu kecil dengan mesin yang sudah menyala menunggu di sana.
"Pergilah," ujar Marco, berdiri di tepi dermaga. "Aku akan menahan mereka di sini sebentar."
Dante melompat ke atas kapal, lalu mengulurkan tangannya pada Aruna. Saat Aruna naik, ia menatap Marco. "Terima kasih, Marco."
Marco hanya mengangguk kecil.
Saat kapal mulai menjauh dari pantai, Dante duduk di samping Aruna. Aruna segera membuka jaketnya untuk memberikan kehangatan skin-to-skin pada Leonardo. Bayi itu merapatkan tubuhnya ke dada Aruna, mencari sumber kehidupannya.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Aruna, suaranya parau.
"Ke suatu tempat di mana tidak ada yang mengenal nama Valerius," jawab Dante. Ia memeluk Aruna dan Leonardo sekaligus, sebuah pelukan yang melindungi mereka dari angin laut yang tajam. "Tempat di mana kau bisa menjadi ibu, dan Leonardo bisa menjadi anak biasa."
"Dan kau?" Aruna menatap mata Dante yang kini tampak lebih lembut. "Siapa kau di tempat itu?"
Dante mengecup kening Aruna, lalu kening Leonardo. "Aku adalah pria yang akan memastikan kalian tidak pernah lapar dan tidak pernah takut lagi."
Namun, di saku celana Dante, sebuah ponsel satelit bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:
"Kunci itu tetap aktif, Dante. Luciano hanya awal. Sekarang, seluruh konsorsium mafia dunia tahu tentang bayi itu. Selamat bersembunyi."
Dante menutup ponselnya, tidak membiarkan Aruna melihatnya. Ia tahu, pelarian mereka baru saja dimulai. Dan selama Leonardo masih membutuhkan air susu Aruna untuk tumbuh, mereka akan selalu menjadi target yang paling berharga di dunia bawah tanah.