Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan Yang Abu abu
Herman tidak pernah marah tanpa arah.
Kegagalan anak buahnya di halaman rumah itu memang membuatnya murka. Tapi ia bukan tipe orang yang mengulang kesalahan dengan cara yang sama.Jika jalan depan tertutup, ia mencari pintu samping.Dan kali ini, pintu itu bukan rumah.
Melainkan perusahaan.
Di sebuah ruangan redup, Herman berdiri menghadap jendela besar. Kota terlihat tenang dari atas. Lampu-lampu gedung menyala rapi, seolah tidak ada yang terguncang.
“Dia muncul di rapat direksi,” lapor salah satu anak buahnya.Herman tersenyum tipis.
“Artinya dia masih peduli pada bisnisnya.”
“Ya, Tuan.”“Bagus.”Ia berbalik pelan.
“Kalau seseorang masih peduli pada sesuatu, berarti itu titik lemahnya.”Anak buahnya saling pandang.“Kita serang perusahaannya, Bos ?”
Herman menggeleng.“Tidak menyerang. Menekan.”
Perbedaan itu jelas di kepalanya.Menyerang membuat orang bersiap melawan.Menekan membuat orang perlahan kehilangan pijakan.
Keesokan harinya, di kantor pusat, Bintang menerima kabar yang tidak biasa.
Salah satu investor utama tiba-tiba menunda komitmen pendanaan.Alasannya tidak jelas.
“Katanya ada pertimbangan ulang risiko,” ujar manajer keuangan dengan wajah bingung.
Bintang mengernyit. “Risiko apa?”
“Tidak disebutkan.”
Belum selesai ia mencerna itu, laporan lain masuk.
Dua vendor besar menunda distribusi.
Satu kontrak cabang dipermasalahkan ulang secara hukum.Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Bintang langsung menghubungi Rahman.
“Man.”
“Ada apa?”
“Ada yang mengganggu aliran dari dalam.”
Sunyi sebentar.
“Tekanan?”
“Ya. Halus. Tapi sistematis.”
Rahman tidak perlu waktu lama untuk mengerti.
“Herman.”
“Masuk akal.”
Sore itu, Rahman bertemu Aroel.
“Dia pindah jalur,” kata Rahman langsung.
Aroel duduk tenang, membaca laporan yang baru dikirim Bintang.“Bukan fisik lagi.”
“Bisnis.”Aroel mengangguk pelan.
“Dia tahu aku tidak akan terpancing dengan cara lama.”
Rahman menatapnya. “Kita balas?”
“Belum.”
Jawaban itu membuat Rahman sedikit mengernyit.
“Kita lihat dulu sejauh mana dia berani masuk.”
Aroel berdiri dan berjalan ke jendela.
“Serangan fisik itu kasar. Mudah dibaca. Tapi tekanan bisnis… itu permainan sabar.”
“Kamu siap?”
Aroel tersenyum tipis.
“Dia pikir perusahaan ini titik lemahku.”
Rahman diam.
“Padahal,” lanjut Aroel pelan, “ini justru tempat aku paling kuat.”
Sementara itu, di tempat lain, Herman menerima laporan perkembangan.
“Investor itu sudah ragu. Dua vendor juga mulai menjauh.”Herman duduk santai.
“Bagus. Jangan hancurkan. Buat goyah.”
“Kalau dia melawan?”
Herman tersenyum.
“Dia pasti melawan. Dan saat dia fokus menyelamatkan bisnisnya…”
Ia berhenti sebentar.
“…dia akan kehilangan fokus di tempat lain.”
Anak buahnya mengangguk, meski tidak sepenuhnya memahami arah pikiran Bosnya.
Di sisi lain kota, bocah itu duduk di tepi jendela kamarnya.Ia tidak tahu apa yang sedang dimainkan orang dewasa di luar sana.
Ia hanya merasakan sesuatu yang tidak tenang.
Angin malam menyentuh wajahnya.
Entah kenapa, dadanya terasa berat.
Seolah ada dua dunia yang perlahan bergerak menuju tabrakan.
Malam itu, Aroel menerima satu pesan anonim.
Tidak ada nama.Tidak ada nomor yang bisa dilacak.Hanya satu kalimat.
“Kita lihat seberapa lama kau bisa menjaga semuanya tetap utuh.”
Aroel membaca pesan itu dua kali.Lalu menghapusnya.Ia tidak terlihat marah.
Tidak juga panik.
Tapi sorot matanya berubah.
Lebih tajam.
Rahman memperhatikan.
“Dia mulai terang-terangan.”
Aroel mengangguk.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Artinya dia tidak sabar.”Rahman tersenyum tipis.
Permainan sudah resmi dimulai.
Dan kali ini bukan tentang pukulan atau kejar-kejaran.Ini tentang siapa yang lebih tahan tekanan.Herman tidak lagi menyerang tubuh.
Ia menyerang fondasi.
Dan Aroel tahu… ini baru awal.
Bersambung .....