Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Pagi itu bengkel belum terlalu ramai. Rolling door sudah terbuka penuh, cahaya masuk memantul di lantai yang masih sedikit basah bekas disiram semalam.
Danu sedang menyusun kunci pas ketika Jaki mendekat. Tangannya masih memegang busi yang baru dilepas dari motor pelanggan.
“Mas,” panggilnya.
“Iya?” Danu tidak langsung menoleh.
“Mas, nanti pas nikah jangan lupa traktir,” canda salah satu dari mereka. Canda Jaki sambil menutup kap motor bebek yang baru selesai diservisnya.
Anak-anak bengkel sudah tahu hari ini hari terakhir ia turun tangan penuh sebelum cuti.
Rian menyahut, “Jangan cuma traktir bakso pinggir jalan. Minimal nasi kebuli lah.”
Danu tersenyum tanpa mengangkat kepala dari motor yang sedang ia cek.
“Kerja yang bener dulu. Target hari ini selesai semua. Baru ngomongin traktiran.”
Jaki tertawa kecil. “Mas ini kalau mau nikah malah makin disiplin.”
Suasana sedikit berubah. Candaan masih ada, tapi nadanya lebih pelan.
Rian mengelap tangannya dengan lap kotor. “Mas serius ya mau lepas total beberapa hari?”
“Serius.”
“Takut ada yang salah nggak, Mas?” tanya Jaki, kali ini bukan bercanda.
Danu memandang mereka satu per satu.
“Kalau aku terus yang pegang semuanya, kalian nggak akan pernah yakin sama kemampuan sendiri.”
Rian mengangguk pelan.
“Bengkel ini bukan cuma punyaku,” lanjut Danu. “Ini tempat kalian juga cari makan. Jadi kalian harus tahu kenapa kita kerjakan sesuatu, bukan cuma bagaimana caranya.”
Jaki menatap meja kerja. “Mas… kalau ada pelanggan komplain gimana?”
“Dengerin dulu,” jawab Danu cepat. “Jangan langsung bela diri. Kadang orang cuma mau didengar.”
“Kalau dia marah-marah?” Rian bertanya.
“Jangan ikut naik. Suara kita jangan lebih tinggi dari suara dia. Kita kerja pakai tangan, bukan pakai emosi.”
Sunyi sesaat. Suara kipas angin tua berderit pelan.
Setelah semua selesai, ia berdiri di tengah bengkel yang mulai sepi. Lantai sudah disiram, alat-alat kembali ke tempatnya.
“Mas, jadi besok nggak ke sini?” tanya Rian lagi, memastikan.
“Nggak. Kalian yang pegang dulu. Kalau ada apa-apa, telepon.”
“Mas jangan tiba-tiba angkatnya lama ya. Takutnya lagi sibuk,” Jaki mencoba bercanda lagi.
Danu tersenyum tipis. “Kalau urgent, telepon dua kali. Berarti penting.”
Rian melangkah mendekat. “Mas.”
“Iya?”
“Kalau nanti sudah jadi suami… jangan lupa kita juga pernah jadi ‘anak-anak’ Mas di sini.”
Ada nada jujur di sana.
Danu menepuk bahu Rian. “Aku nggak ke mana-mana.”
“Takutnya prioritasnya pindah,” Jaki menimpali pelan.
Danu mengangguk. “Prioritas memang nambah. Tapi tanggung jawab nggak diganti. Cuma dibagi waktunya.”
“Berarti kami harus lebih mandiri ya,” kata Rian.
“Iya. Dan itu bagus.”
Jaki tersenyum tipis. “Mas ini kalau ngomong kayak lagi serah terima jabatan.”
Danu tertawa pelan. “Anggap saja latihan. Suatu hari nanti kalian juga punya hidup di luar bengkel yang harus diurus.”
Rian menghela napas. “Mas… nikah itu bikin orang berubah ya?”
Danu terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Harusnya bikin orang tumbuh.”
“Bedanya?”
“Kalau berubah bisa jadi menjauh. Kalau tumbuh, akarnya tetap sama. Cuma batangnya makin kuat.”
Jaki menunduk, mencerna.
“Iya, Mas. Tenang aja.”
Sore itu bengkel benar-benar lebih sepi dari biasanya. Motor terakhir sudah diambil pemiliknya. Lantai disiram, alat-alat kembali ke tempatnya, suara kompresor dimatikan.
Danu berdiri di tengah ruangan, memandangi tempat yang sudah seperti rumah keduanya.
Ia menepuk tangannya sekali.
“Sudah, kumpul sebentar.”
Jaki dan Rian saling pandang. “Wah, ini pasti pidato perpisahan,” gumam Rian pelan.
Danu menggeleng kecil. “Nggak ada pidato. Cuma mau bilang makasih.”
Sunyi sebentar.
“Beberapa hari ke depan kalian yang pegang. Aku percaya.”
Jaki mengangguk, kali ini tanpa bercanda. “Siap, Mas.”
Danu merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet, lalu menarik beberapa lembar uang.
“Nih.”
Jaki mengerutkan dahi. “Apa, Mas?”
“Katanya mau traktir?”
Rian langsung berseru, “Wah, beneran?!”
Danu tersenyum tipis. “Bukan yang mewah. Tapi makan yang kenyang. Jaki, kamu yang beli. Biasanya kamu paling tahu porsi paling banyak di mana.”
Jaki menerima uang itu dengan raut wajah campur aduk antara senang dan terharu.
“Mas serius?”
“Serius. Tapi jangan dihabisin buat jajan sendiri.”
Rian menepuk bahu Jaki. “Kalau kurang nanti nombok pakai uang kamu.”
Jaki tertawa kecil, lalu berkata lebih pelan, “Mas… makasih.”
“Bukan soal makannya,” jawab Danu. “Ini cuma… sebelum aku fokus beberapa hari.”
Rian menyandarkan punggungnya ke meja kerja. “Mas, nanti kalau sudah nikah jangan lupa tetap begini ya.”
“Begini gimana?”
“Masih duduk bareng kita, masih ngomel kalau kerjaan nggak rapi.”
Danu tersenyum. “Kalau kalian kerjaan rapi, aku nggak perlu ngomel.”
Jaki sudah bersiap mau berangkat membeli makanan, tapi ia berhenti di ambang pintu.
“Mas.”
“Iya?”
“Deg-degan nggak sih?”
Pertanyaan itu muncul lagi, tapi kali ini di antara mereka, bukan lewat layar ponsel.
Danu tidak langsung menjawab. Ia menatap jalanan yang mulai berubah jingga.
“Iya,” katanya jujur.
“Takut?” Rian menimpali.
“Iya.”
Jaki tersenyum kecil. “Tapi tetap jalan?”
Danu mengangguk. “Tetap.”
“Kenapa?” tanya Rian.
Danu menatap mereka, lalu berkata pelan, “Karena ada hal-hal yang nggak perlu hilang takutnya. Cukup diyakinin aja.”
Jaki mengangguk pelan, seolah menyimpan kalimat itu untuk dirinya sendiri suatu hari nanti.
“Ya sudah. Saya beli dulu sebelum warungnya tutup,” katanya akhirnya.
Tak lama kemudian, Jaki kembali dengan beberapa bungkus nasi dan plastik minuman dingin. Mereka duduk melingkar di lantai bengkel, tanpa meja, hanya beralas kardus bekas.
Tidak ada musik. Tidak ada perayaan besar.
Hanya suara sendok beradu dengan kotak nasi, dan sesekali tawa kecil.
Rian mengangkat gelas plastiknya.
“Untuk Mas Danu.”
Jaki ikut mengangkat minumannya. “Semoga lancar sampai hari H.”
Danu tersenyum, sedikit malu tapi hangat.
“Doain saja,” katanya pelan.
Mereka makan sampai kenyang. Tidak banyak bicara lagi setelah itu, tapi suasananya penuh.
Sebelum pulang, Danu berdiri di ambang pintu bengkel sekali lagi.
Lampu dimatikan satu per satu.
Rolling door diturunkan perlahan. Suara besi bergesek panjang, lalu berhenti dengan dentum pelan.
Selesai.
Danu berdiri beberapa detik di depan bengkel yang sudah tertutup. Lampu luar masih menyala, menerangi plang yang mulai pudar warnanya. Tempat itu tampak sama seperti sore-sore sebElumnya.
Tapi baginya, sore ini berbeda.
“Mas, hati-hati ya,” kata Rian sambil memasang helm.
“Iya. Kalian juga.”
Jaki menyalakan motornya. “Mas, jangan mikir kerjaan terus pas cuti.”
Danu tersenyum. “Kalian jangan bikin aku kepikiran.”
Mereka tertawa kecil, lalu satu per satu pergi ke arah berbeda.
Danu menyalakan motor pribadinya. Suara mesin halus. Tangannya refleks memeriksa gas, rem, lampu—kebiasaan yang tak pernah hilang.
Ia melaju pelan meninggalkan bengkel.
Angin sore menyentuh wajahnya. Jalanan ramai seperti biasa. Lampu-lampu toko mulai menyala. Orang-orang pulang kerja, membawa lelah masing-masing.
Di lampu merah, ia berhenti.
Tatapannya kosong beberapa detik.
Beberapa hari lagi.
Akad jam sembilan tepat.
Ia membayangkan duduk bersila. Tangannya mungkin sedikit berkeringat. Suara wali mengucap ijab. Semua orang menahan napas.
Dan dirinya—
Satu tarikan napas.
Satu kalimat.
Lampu berubah hijau. Ia menarik gas lagi.
Sampai di depan rumah, ia mematikan mesin. Tidak langsung turun. Hanya duduk, memegang setang, membiarkan detak jantungnya kembali stabil.
Rumah itu sederhana. Cat dinding sedikit mengelupas di beberapa bagian. Tapi di sanalah ia dibesarkan.
Ia masuk, melepas sepatu.
Ibunya muncul dari dapur. “Sudah pulang?”
“Iya, Bu.”
“Capek?”
“Lumayan.”
Ibunya menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Besok sudah mulai nggak ke bengkel?”
“Iya. Anak-anak yang pegang dulu.”
Ibunya mengangguk pelan. “Bagus. Belajar percaya.”
Danu tersenyum tipis. Kalimat itu terasa mirip dengan yang ia katakan pada Jaki tadi.
Ia mandi, membiarkan air mengalir lebih lama dari biasanya. Seolah ingin membersihkan bukan hanya keringat dan oli, tapi juga sisa-sisa gelisah yang masih menempel.
Setelah itu ia duduk di kamar. Lampu redup. Suasana tenang.
Ponselnya bergetar.
Ara: Sudah pulang?
Danu tersenyum kecil.
Danu: Sudah. Tadi habis makan bareng anak-anak bengkel.
Ara: Wah traktir ya?
Danu: Iya. Biar mereka semangat.
Ara: Baik banget calon suamiku.
Danu membaca kalimat itu pelan.
Calon suamiku.
Dada kirinya terasa hangat.
Danu: Kamu lagi apa?
Ara: Lagi lipat-lipat baju yang mau dibawa nanti.
Danu: Banyak?
Ara: Nggak juga. Cuma rasanya aneh.
Danu: Kenapa?
Ara: Kayak… ini beneran ya aku bakal pindah fase hidup.
Danu menatap langit-langit kamarnya.
Danu: Aku juga tadi kepikiran begitu.
Ara: Takut?
Danu: Iya. Tapi bukan mau mundur.
Ara: Sama.
Hening sebentar di antara dua layar.
Ara: Mas.
Danu: Iya?
Ara: Nanti pas kamu duduk di depan wali, jangan lihat ke mana-mana dulu.
Danu tersenyum. “Kenapa?”
Ara: Takut kamu makin deg-degan.
Danu: Terus aku harus lihat apa?
Danu terdiam cukup lama.
Danu: Siap.