Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Hangat Sherly
Mobil Hiace berwarna putih metalik itu sudah terparkir gagah di halaman depan. Namun, ini bukan Hiace biasa.
Begitu pintu geser otomatisnya terbuka, semua orang dibuat terpana oleh interior yang sangat megah. Kursi-kursinya adalah tipe pilot seat berbalut kulit premium yang dilengkapi dengan fitur kursi pijat otomatis di setiap sisinya.
Ruang kakinya begitu lega sehingga tidak ada kesan berhimpitan sama sekali.
"Wah, ini sih bukan mobil perjalanan, tapi hotel bintang lima berjalan!" seru Siska sambil langsung mencoba fitur pijat di kursinya.
Rian sudah duduk di kursi kemudi dengan seragam rapi, sementara Juna duduk di kursi pendamping untuk membantu navigasi dan melayani kebutuhan penumpang di kabin belakang.
Aurora memastikan orang tua dan nenek Adrian mendapatkan posisi paling nyaman di baris tengah yang guncangannya paling minim.
"Silakan ayah ibu Nenek. Kursinya bisa direbahkan kalau mau istirahat, dan ada tombol di samping untuk mengaktifkan pijatannya kalau pinggang terasa pegal," ujar Aurora ramah sambil membantu neneknya mengenakan sabuk pengaman.
"Terima kasih ya, Ra. Kamu benar-benar memikirkan kenyamanan kami sampai sedetail ini," jawab Ayah Adrian sambil mencoba menyandarkan kepalanya ke headrest yang sangat empuk.
Di baris belakang, Adrian duduk bersandar sambil terus memperhatikan pergerakan di dalam kabin.
Ia berharap Aurora akan duduk di dekatnya, namun harapannya sedikit pupus saat melihat Firan dengan santai mengambil posisi di kursi yang berseberangan dengan Aurora di area tengah.
"Dri, sini! Cobain fiturnya, keren banget!" panggil Rico yang duduk di barisan paling belakang bersama Siska dan Sherly.
Adrian hanya mengangguk kaku dan duduk di kursinya.
Sementara itu, Sherly yang masih menyimpan dongkol karena masalah kalung emas tadi, memilih untuk memakai earphone besar dan memalingkan wajah ke arah jendela, tidak mau bicara pada siapa pun.
"Semua sudah siap?" tanya Rian dari depan setelah memastikan semua pintu tertutup rapat.
"Siap, Rian! Kita berangkat!" komando Aurora.
Mesin mobil menderu sangat halus, nyaris tak terdengar. Perjalanan menuju dataran tinggi Berastagi pun dimulai.
Di dalam kabin, suasana sangat sejuk dengan aroma terapi yang menenangkan.
Juna mulai membagikan botol-botol air mineral dingin dan handuk kecil hangat kepada para penumpang, sementara layar televisi besar di depan mulai memutar video dokumentasi keindahan Danau Toba sebagai pengantar perjalanan mereka.
"Ra, kopinya masih hangat di dalam tumbler kalau kamu mau," suara Firan terdengar tenang di tengah suara musik instrumen yang lembut.
"Terima kasih, Firan. Nanti saja setelah kita melewati jalur berkelok di Sibolangit," balas Aurora dengan senyum manis yang langsung ditangkap oleh radar kecemburuan Adrian lewat spion tengah.
Mobil Hiace itu melaju stabil menanjak menuju dataran tinggi.
Di dalam, suasana sangat cair.
Suara gelak tawa Nenek dan Ibu Adrian yang sedang asyik mendengarkan cerita Bram tentang asal-usul nama "Berastagi" memenuhi kabin.
"Jadi benar, Bram? Namanya dari 'Beras' dan 'Stagi'?" tanya Nenek penasaran.
"Betul, Nek. Dulu ini pusatnya beras yang paling bagus di tanah Karo," jawab Bram sembari sesekali melirik Adrian yang tampak masih berusaha memperbaiki mood-nya.
Tanpa terasa, kabun tipis mulai menyelimuti kaca mobil saat mereka tiba di kawasan Penatapan. Rian memarkirkan mobil di salah satu warung yang memiliki balkon luas menghadap langsung ke lembah hijau yang dalam.
"Wah, dinginnya! Juna, tolong bantu bawa kotak dimsum dan sandwich-nya ya," pinta Aurora sembari merapatkan cardigan-nya.
Begitu duduk di bangku kayu panjang warung tersebut, suasana mendadak unik. Sherly, yang sejak tadi pagi memasang wajah masam, tiba-tiba berubah drastis. Ia mendekat ke arah Aurora dengan senyum yang dipaksakan terlihat tulus.
"Ra, sini aku bantu buka kotaknya. Wah, kamu hebat banget ya jam tiga subuh sudah masak sebanyak ini. Aku aja yang cuma liat capek, apalagi kamu. Kamu baik banget deh," ujar Sherly dengan nada bicara yang dibuat-buat lembut, seolah ia adalah sahabat karib Aurora.
Bram yang duduk tepat di sebelah Firan langsung menyenggol lengan sahabatnya itu menggunakan siku. "Fir, lihat tuh. Ada yang lagi audisi jadi wanita salihah," bisik Bram sangat pelan.
Firan hanya menahan senyum tipis, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Kamuflase tingkat tinggi, Bram. Kita tonton saja dramanya," balas Firan dengan nada bicara yang nyaris tak terdengar.
Aurora yang menyadari perubahan sikap Sherly hanya menanggapi dengan elegan. "Terima kasih, Sher. Tidak apa-apa, aku sudah biasa bangun pagi. Kamu mau coba dimsum kejunya? Mumpung masih hangat."
"Mau dong! Eh, Adrian, kamu mau juga kan? Sini, aku ambilkan," tawar Sherly sembari melirik Adrian, mencoba menarik perhatian mantan kekasihnya itu di depan semua orang.
Adrian hanya bergumam pendek, "Ya, taruh saja di piring." Matanya justru terus melirik ke arah Firan yang sedang sibuk menuangkan teh manis hangat untuk Aurora tanpa diminta.
Sementara itu, di ujung balkon, Rico dan Siska sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Rico mengeluarkan kamera mirrorless keluaran terbaru dengan lensa panjang yang mengkilap.
"Siska! Geser ke kiri dikit! Nah, pas... latar belakangnya lembah itu gila banget! Kamu kelihatan kayak selebgram papan atas!" seru Rico penuh semangat.
"Mana lihat? Ih, Rico! Ini pipiku kelihatan tembem! Ulangi, pakai angle dari atas!" protes Siska sambil tertawa heboh.
"Duh, cerewet ya. Sudah syukur difoto pakai kamera mahal begini. Ayo, satu, dua... senyum!"
Gelak tawa Rico dan Siska menjadi musik latar yang menyenangkan, menutupi kecanggungan antara Adrian dan Firan.
Para pedagang jagung bakar mulai mengantarkan pesanan mereka.
Aroma jagung yang dibakar dengan mentega dan saus pedas manis pun seketika menguasai indra penciuman mereka.
"Jagungnya manis sekali, Ra! Benar kata Bram tadi," seru Ibu Adrian sembari menikmati jagungnya dengan lahap.
"Iya, Tante. Ini memang jagung khas sini. Oh iya, Firan, tolong ambilkan saus sambalnya untuk Om," ucap Aurora lembut.
Firan dengan sigap melayani. "Ini Om. Hati-hati, masih sangat panas."
Adrian yang melihat betapa "masuk"-nya Firan ke dalam lingkungan keluarganya hanya bisa menggigit jagungnya dengan perasaan campur aduk.
Adrian melihat celah untuk merebut panggung.
Saat melihat Firan menyodorkan teh manis hangat kepada Aurora, Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyiratkan "aku lebih tahu".
"Maaf, Firan," sela Adrian dengan nada yang sangat sopan namun tegas.
"Sekadar memberi tahu, Aurora sebenarnya kurang suka teh manis kalau di tempat sedingin ini. Biasanya, kalau lagi di pegunungan begini, dia lebih memilih rebusan jahe merah pakai susu putih hangat. Itu minuman wajibnya supaya tidak masuk angin, kan Ra?"
Aurora sempat tertegun, lalu mengangguk pelan dengan canggung. "Ah, iya. Kamu masih ingat saja, Dri."
Firan terdiam sejenak.
Tangannya yang memegang cangkir teh masih menggantung di udara.
Untuk pertama kalinya, ada rasa sesak yang aneh di dadanya—rasa insecure yang jarang ia rasakan.
Ditambah lagi memori tentang pengakuan Aurora soal pelukan kemarin sore, Firan merasa posisinya sedikit goyah.
"Oh, benarkah?" tanya Firan tenang, meski dalam hatinya ia mencatat detail itu sebagai 'kekalahan' kecil.
Bram yang duduk di sebelah mereka bukannya menolong Firan, malah menambah suasana semakin panas dengan tawa renyahnya.
"Betul banget, Fir! Dulu waktu kita masih sering kumpul, kalau nggak ada jahe susu, Aurora bisa mogok makan jagung bakarnya. Dia memang penggemar berat rempah kalau kena udara dingin."
Kalimat Bram seolah menjadi stempel validasi bahwa Adrian dan masa lalunya memiliki informasi yang belum Firan kuasai.
Firan merasa dirinya tidak seperfect yang ia kira dalam mengenal wanita yang dicintainya itu.
Namun, Firan bukanlah pria sembarangan. Kecerdasan emosionalnya langsung bekerja. Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum sangat tulus—bukan senyum sinis.
"Wah, terima kasih banyak informasinya, Dri, Bram. Aku baru tahu soal jahe susu itu," ujar Firan sambil terkekeh ringan, seolah hal itu bukan masalah besar.
"Ternyata aku masih harus banyak belajar ya soal selera 'ratu' kita ini. Juna! Tolong pesankan satu jahe susu hangat yang paling enak di sini untuk Kak Aurora, ya."
Ketegangan itu mencair begitu saja berkat sikap elegan Firan. Tak lama setelah menghabiskan jagung, suasana beralih menjadi lebih santai.
Ketiga pria itu—Firan, Bram, dan Adrian—akhirnya berjalan menuju meja paling pinggir yang menghadap langsung ke lembah hijau yang tertutup kabut tipis.
Mereka duduk berdampingan, seolah persaingan memperebutkan hati Aurora sejenak diletakkan di bawah meja.
"Vape, Dri?" tawar Firan sambil menyodorkan alat vape miliknya setelah ia menyesapnya sekali.
Adrian menggeleng sopan sambil mengeluarkan miliknya sendiri. "Makasih, Fir. Aku pakai yang ini saja."
Asap putih yang harum aroma buah menguar di antara mereka, berpadu dengan udara dingin Penatapan.
"Tapi jujur ya, pemandangan di sini nggak pernah ngebosenin," ujar Bram memecah keheningan sembari menatap lembah.
"Sejauh-jauhnya kita pergi ke luar negeri, Medan dan sekitarnya tetap punya magnet sendiri."
"Setuju," sahut Adrian, suaranya kini lebih rileks.
"Terutama jalurnya. Menantang tapi seru kalau dibawa santai begini."
Firan terkekeh.
"Apalagi kalau sopirnya Rian, kita tinggal duduk manis sambil pijat di kursi Hiace itu, kan?"
Mereka bertiga tertawa bersama.
Dari kejauhan, Aurora memperhatikan mereka dengan tatapan lega.
Ia senang melihat ketiga pria itu bisa berinteraksi selayaknya teman akrab tanpa harus ada adu urat syaraf yang kentara.
Asap vape mengepul di antara mereka, menciptakan tirai tipis yang seolah menyamarkan persaingan dingin di bawah meja.
Bram, dengan gaya santainya yang khas, menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap awan yang bergerak pelan di atas lembah.
"Tapi serius, ya," ujar Bram sambil menoleh ke arah Firan dan Adrian.
"Aurora itu wanita paling tangguh yang pernah aku kenal. Aku bangga banget sama dia. Padahal dia itu dinginnya minta ampun, tapi anehnya, setiap kali aku bawakan bucket Tumbelina atau bantuan kecil di kantor, dia selalu terima dengan baik. Itu saja sudah buat aku merasa menang banyak."
Firan tertawa renyah, sebuah tawa yang menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah pemilik sah hati Aurora.
"Wah, kalau dia sampai mau menerima pemberianmu, berarti kamu memang punya tempat khusus di matanya, Bram. Tidak semua orang bisa menembus dinding es dia, kan?"
Adrian mendengus pelan, namun bukan dengan nada benci, melainkan lebih ke arah mengenang. "Dinding es? Itu mungkin karena kalian belum lihat sisi lainnya. Aurora itu kalau sudah nyaman, manjanya minta ampun. Dia bisa cerewet cuma karena rasa kopinya kurang pas atau kalau kakinya pegal minta dipijat. Itu sisi yang nggak akan dia tunjukkan ke sembarang orang."
Bram menaikkan alisnya, tampak terkejut.
"Manja? Aurora? Rasanya aku nggak bisa bayangkan dia manja. Kamu serius, Dri?"
"Serius. Tapi ya itu, hanya untuk orang-orang tertentu," jawab Adrian sambil melirik Firan, seolah ingin memamerkan bahwa ia memegang kunci yang tidak dimiliki Bram.
Firan hanya tersenyum tipis.
Ia tahu persis bagaimana manjanya Aurora—bahkan mungkin lebih dari yang Adrian tahu—tapi ia tetap menjaga rahasia backstreet mereka dengan sangat rapi.
"Yah, setiap orang memang punya sisi yang berbeda di mata orang yang berbeda juga. Kita semua di sini sepertinya sedang mengagumi 'mutiara' yang sama dengan cara masing-masing."
Ketiganya tertawa bersama, sebuah momen persahabatan yang janggal namun terasa hangat.
Tak lama kemudian, tatapan Bram beralih ke bahu Adrian yang tampak sedikit kaku saat bergerak.
"Eh, Dri," pancing Bram, suaranya berubah menjadi lebih serius.
"Gimana punggungmu? Luka karena benturan batu pas penelitian hari kedua kemarin masih sakit? Itu benturannya lumayan keras lho pas kamu lindungi Aurora dari insiden kemarin itu."
Firan juga mencondongkan tubuhnya, menatap Adrian dengan sorot mata peduli yang tulus.
"Iya, Dri. Aku baru dengar detailnya dari Aurora tadi pagi. Katanya kamu benar-benar pasang badan ya? Sudah diobati dengan benar? Jangan sampai infeksi, lho."
Adrian terdiam sejenak, merasa sedikit tersentuh karena ternyata rival-rivalnya ini peduli pada kondisinya.
"Masih agak nyeri kalau buat gerak tiba-tiba, tapi sudah mendingan. Kemarin sudah dibersihkan sama Aurora juga, kok. Ya... refleks saja sih. Siapa juga yang tega lihat dia terluka?"
"Jiwa pahlawanmu boleh juga," puji Bram sambil menepuk pelan bahu Adrian yang tidak sakit.
"Tapi tetap saja, jaga kesehatan. Kita mau seru-seruan di Danau Toba, jangan sampai kamu cuma bisa tiduran di villa nanti."
"Betul kata Bram," timpal Firan.
"Nanti sampai di hotel di Parapat, kalau butuh salep khusus atau kompres hangat, bilang saja. Aku bawa kotak P3K lengkap di tas."
Adrian tersenyum canggung. "Makasih, Fir." ucap adrian sembari menghisap vape miliknya.
Momen kontemplatif ketiga pria itu seketika pecah berkeping-keping saat suara teriakan melengking Sherly terdengar dari arah balkon utama.
"Rico! Lepasin nggak! Ih, kamu apa-apaan sih, jangan ditarik-tarik!" teriak Sherly dengan wajah memerah, berusaha melepaskan lengannya dari tarikan Rico yang bertenaga namun penuh canda.
Rico, dengan kamera yang menggantung di leher dan wajah tanpa dosa, terus menarik Sherly menuju sudut balkon yang paling menjorok ke arah lembah. "Ayo dong, Sher! Ini momen langka. Kamu harus foto bareng keluarga asli kamu di sini. Mumpung alamnya lagi mendukung, mumpung suasananya vibes banget!"
"Keluarga asli apa sih? Mama sama Papa kan nggak ikut ke sini!" protes Sherly sambil merapikan bajunya yang berantakan.
Siska yang berdiri di samping mereka sudah menutup mulut menahan tawa, sementara Aurora dan Ibu Adrian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Rico.
"Bukan mereka, Sher. Sini lihat dulu!" Rico menunjuk ke arah sekelompok monyet liar yang sedang asyik bertengger di pagar balkon, ada yang sedang mengupas kacang, ada juga yang sedang memanjat tiang warung.
"Nah, itu mereka! Lihat, yang di ujung itu mirip banget sama kamu kalau lagi ngambek pagi-pagi. Ayo, satu frame ya!"
"RICOOO! KURANG AJAR KAMU YA!" jerit Sherly sambil mencoba memukul bahu Rico, namun Rico dengan lincah menghindar sambil terus membidikkan kameranya.
Tawa Adrian meledak seketika. Ia sampai harus memegang perutnya karena melihat wajah Sherly yang sangat kesal bersanding dengan wajah datar seekor monyet di belakangnya.
"Hahaha! Rico, ampun deh kelakuanmu! Tapi kalau dilihat-lihat... iya juga sih, Sher, mirip sedikit!" goda Adrian.
Bram dan Firan pun tidak sanggup menahan tawa. Bram tertawa hingga bahunya berguncang hebat.
"Aduh, Rico... kamu ini benar-benar ya. Bisa-bisanya kepikiran menyatukan Sherly sama mereka."
Firan, yang biasanya sangat menjaga imej elegan, kali ini tertawa lepas hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Rico, tolong fotonya disimpan ya. Itu bakal jadi aset berharga buat kenang-kenangan perjalanan kita."
"Tenang, Pak Firan! Sudah masuk memori, resolusi tinggi pula!" sahut Rico bangga sambil menunjukkan hasil jepretannya ke arah Siska yang langsung tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.
"Ih, kalian jahat banget sih!" Sherly menghentakkan kakinya ke lantai kayu warung, lalu berbalik membelakangi mereka dengan wajah cemberut.
Namun, melihat semua orang tertawa bahagia—bahkan Aurora pun ikut tertawa kecil sambil menutup mulut—kemarahan Sherly perlahan memudar, berganti dengan rasa malu yang menggelitik.
"Sudah, sudah, jangan digodain terus Sherly-nya," sela Aurora mencoba menengahi meski sisa tawa masih ada di suaranya.
"Rico, mending sekarang kamu fotoin Nenek sama Om dan Tante mumpung cahayanya lagi bagus."
"Siap, Bos!" Rico kembali beraksi, menarik perhatian seluruh rombongan untuk berpose bersama.
Di tengah sejuknya angin Penatapan siang itu, ketegangan yang sempat menyelimuti antara Adrian dan Firan seolah mencair habis terbawa tawa.
Mereka semua berkumpul, bersenda gurau tanpa sekat, menikmati momen kebersamaan yang jujur sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Danau Toba.
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...