Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Laporan Palsu
Sore itu, ruang tamu kediaman Raka berubah menjadi sarang polusi. Tiga pria berseragam, Raka, Putra, dan Dika. Mereka sedang menenggelamkan diri dalam obrolan maskulin yang dibumbui alkohol dan kepulan asap rokok. Di antara ketiganya, Dika adalah yang paling dominan. Suaranya lantang, penuh bual dan kebanggaan akan prestasi kelamnya di kepolisian.
"Gue sih sudah kenyang, Bang, makan asam garam di jalanan," cetus Dika sambil menuang minuman. "Dulu pas masih di Lantas, wah... duit panas mengalir terus. Dari sweeping mingguan, titip sidang, sampai urusan bikin SIM kilat. Tinggal main mata, dompet langsung tebal."
Putra terkekeh, meski matanya menatap Dika dengan pandangan menilai. "Terus kenapa lu minta geser ke Rutan? Bukannya di jalanan lebih basah?"
"Nah, itu dia! Di Rutan ternyata lebih gila lagi mainnya," Dika mendekat, merendahkan suara namun tetap terdengar bangga. "Sekarang gue pegang blok obat-obatan terlarang. Kasusnya rata-rata cuma pemakai yang ditahan buat formalitas. Tapi bandar aslinya? Wah, itu tambang emas, Bang. Kalau mereka mau tetap bebas atau dapat fasilitas enak di dalam, mereka harus setor ratusan juta. Kita peras habis-habisan sampai kering. Lebih aman, nggak kepanasan di lampu merah."
"Wah, oknum lu! Parah!" tuduh Putra sambil menunjuk-nunjuk wajah tengil Dika menggunakan puntung rokoknya yang masih menyala.
Raka, yang duduk di sofa tunggal, tampak masa bodoh. Telinganya sudah muak mendengar kisah itu ratusan kali. Wajahnya terlihat sangat tertekan, entah sudah berapa gelas alkohol yang melewati tenggorokannya sore itu. Ia hanya diam, menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap yang membumbung tinggi hingga menyelimuti sisi wajahnya yang kaku.
Suara klakson mobil memecah kebisingan internal mereka. Mobil tersebut masuk langsung ke dalam garasi, namun ketiga pria itu hanya melirik sekilas tanpa niat untuk bangkit menyambut.
Beberapa saat kemudian, ketukan sepatu hak tinggi milik Melani memecah keheningan rumah. Ia melangkah masuk dengan dagu terangkat, seolah tidak ada beban yang baru saja ia tinggalkan di basement hotel pagi tadi. Namun, di belakangnya, Bela tampak tersiksa. Begitu pintu terbuka, kepulan asap rokok yang terjebak di dalam ruangan luas itu seolah menyerbu indra penciumannya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Bela terbatuk hebat, matanya perih terkena sisa-sisa pembakaran tembakau yang memenuhi udara.
"Hadeh! Kalian ini pencuri atau apa, sih?!" gerutu Melani kesal. Ia berjalan cepat menuju sudut ruangan, menyambar remote, dan mengaktifkan ventilasi atap.
"Memangnya nggak bisa buka pintu lebar-lebar kalau mau merokok? Setidaknya nyalain ventilasi! Rumah ini bukan asbak!"
"Oh my eyes!" seru Dika tiba-tiba dengan wajah berbinar, mengabaikan omelan Melani.
Putra pun tidak kalah takjub. Mereka yang tadinya sibuk membicarakan uang sogokan, kini terpaku melihat sosok gadis cantik yang berdiri canggung di dekat pintu masuk. Bela, yang sadar dirinya menjadi pusat perhatian dua pria asing berseragam itu, langsung menunduk dan menyapa dengan suara pelan.
"Gue mau bicara, Bel. Ayo ikut."
Perintah itu keluar dari mulut Raka dengan nada dingin. Ia mematikan puntung rokoknya dengan cara menginjaknya kasar ke lantai, lalu berdiri dan berjalan menuju tangga tanpa menoleh. Ia bicara seolah tidak membutuhkan persetujuan dari siapa pun.
Jantung Bela berdegup kencang, nyaris melompat dari tempatnya. Ini adalah pertama kalinya Raka memintanya bicara empat mata secara formal di rumah ini. Perasaan waswas seketika menyergapnya.
"Sorry? Dia asisten gue!" bantah Melani dengan wajah menantang. Ia tidak suka melihat cara Raka memerintah Bela seperti budak pribadi.
Raka berhenti di tengah anak tangga, berbalik setengah badan dengan tatapan yang tajam menusuk. "Kita sudah buat kesepakatan, right?"
Kalimat itu singkat, tapi mengandung ancaman yang hanya dipahami oleh Melani. Melani terdiam, rahangnya mengeras, namun ia tak mampu membalas. Raka kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
Bela berjalan perlahan, menghampiri Melani dengan ragu. "Bagaimana, Bu?"
"Ya sudah, ikut saja sana," ucap Melani pasrah, meski kekesalan jelas terpancar dari guratan wajahnya.
Begitu Raka dan Bela menghilang di balik pintu lantai atas, Dika buru-buru mendekati Melani dengan rasa penasaran yang meluap. "Itu siapa sih, Kak Melani? Cantik banget anjay! Kok abang gue galak banget sama dia?" soraknya.
Putra, yang duduk tidak jauh dari sana, memasang telinga lebar-lebar.
"Asisten baru gue," jawab Melani pendek sambil mengikat rambutnya, lalu beranjak menaiki tangga menuju kamarnya sendiri, meninggalkan dua pria itu di ruang tamu.
Dika terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah tangga tempat Bela menghilang. "Tapi... kok gue kayak pernah lihat ya?" gumamnya sambil berpikir keras.
"Gue juga sih," celetuk Putra pelan, dengan kerutan di dahi yang sama dalamnya.
Raka tiba lebih dulu di balkon lantai dua, sebuah ruang terbuka yang menghadap langsung ke arah taman belakang yang mulai temaram. Ia berdiri di sana, menyandarkan sikunya di pagar pembatas besi yang dingin. Bela menyusul tepat di belakangnya dengan langkah ragu yang tertahan, seolah setiap pijakannya di atas lantai marmer itu bisa memicu ledakan.
"Gimana Bandung?" tanya Raka tanpa berbalik.
Suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada saat di bawah tadi, namun justru itu yang membuat Bela merasa terancam. Raka menoleh sedikit, mengukir senyuman tipis yang tampak ganjil saat menyuarakan pertanyaan basa-basi itu. Matanya yang memerah akibat pengaruh alkohol ikut menyipit seolah ikut tersenyum, namun sorotnya tetap tajam, menelanjangi kegugupan Bela.
Meski dengan banyak keraguan, Bela memberanikan diri mengangkat wajahnya sekilas, menangkap tatapan sepasang mata elang di hadapannya yang mulai meredup karena pengaruh alkohol. Bela meneguk ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa mencekik sebelum menjawab.
"Lancar, Pak. Kami melakukan observasi kafe yang baru buka sebulan lalu, riset makanan dengan para chef, dan ngobrol panjang mengenai visi misi dengan pihak manajer di sana," papar Bela. Ia mulai berani menatap Raka demi memberikan penjelasan formal, berharap profesionalitasnya bisa menjadi perisai dari kecurigaan pria itu.
Raka tidak menyahut. Ia seolah sama sekali tidak peduli pada rincian pekerjaan atau riset makanan yang dipaparkan Bela. Ia mengubah posisinya, kini bersandar pada besi pembatas balkon menggunakan punggung dan kedua sikunya. Pose itu menampilkan siluet maskulin yang dominan di bawah cahaya remang sore.
"Lu yakin kegiatan Melani cuma itu?" tanya Raka kembali.
Kali ini, ia melangkah mendekat. Sangat dekat, hingga Bela bisa merasakan hawa panas dan aroma alkohol yang menguar kuat dari napas pria itu. Ingatan Bela mendadak meluncur kembali ke ruang bawah tanah yang sunyi, ke sebuah mobil Fortuner yang bergoyang hebat di tengah kesunyian pagi. Detik itu, hati Bela berperang hebat. Haruskah ia terus terang? Untuk apa? Jika ia bicara, rumah tangga mereka yang baru seumur jagung ini pasti akan hancur lebur dalam sekejap.
"Saya yakin, Pak! Kami tidur di kamar yang sama," jawab Bela tegas, berusaha meyakinkan Raka dengan sebuah kebohongan yang ia bungkus serapi mungkin.
Mata mereka saling mengunci. Di sana, di balkon yang dingin itu, seolah terjadi perang batin antara dua orang yang saling membaca pikiran. Raka mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu, namun senyum sinis kembali terukir di sudut bibirnya.
Raka mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Bela yang bergetar.
"Lu tahu, Bel..." Raka memulai, suaranya berat dan rendah, "Dalam strategi militer, ada prinsip yang sangat tua. Seorang komandan bisa memaafkan kegagalan pasukannya di medan perang, tapi dia tidak akan pernah bisa memaafkan intelijen yang memberikan laporan palsu. Karena satu laporan bohong bisa menghancurkan seluruh pasukan dalam satu malam."
Raka menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membiarkan asapnya menari-nari di antara mereka. "Dulu, ada prajurit yang mencoba melindungi rekannya yang berkhianat dengan cara tutup mulut. Dia pikir dia sedang setia kawan. Tapi saat kebenaran terungkap, dia tidak dianggap sebagai teman yang setia, melainkan sebagai kaki tangan musuh. Dia kehilangan segalanya, kehormatan, jabatan, dan kepercayaan. Hanya karena berusaha menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya sudah membusuk."
Raka mengkatuk jari jemarinya ke besi pembatas balkon, menciptakan bunyi logam yang ritmis dan mengintimidasi.
"Kejujuran itu barang mahal, Bel. Sangat mahal sampai terkadang orang merasa lebih aman untuk berbohong. Tapi di dunia gue, sekali kepercayaan itu retak, lu nggak akan pernah punya kesempatan kedua untuk memperbaikinya. Gue lebih menghargai orang yang menusuk gue dari depan dengan kejujuran pahit, daripada orang yang memeluk gue sambil menyembunyikan belati kebohongan di belakang."
Raka menatap Bela dengan pandangan yang seolah bisa menembus tengkorak kepalanya.