Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 Mulai Belajar Ngaji.
Setelah memberikan martabak itu, Zaki mengantar Anisa tepat di depan pagar rumah majikannya, dari situ ada senyum puas yang dirasa oleh lelaki berumur 25 tahun itu.
"Sudah sampai," ucap Zaki.
"Makasih ya," sahut Anisa.
Keduanya saling tersenyum meskipun masih menjaga jarak, Zaki terlihat gugup ingin mengucapkan sesuatu namun tertahan di bibirnya.
"Nis," panggilnya pelan.
Anisa mulai mengangkat alisnya. "Iya kenapa?"
"Besok-besok kalau aku ajak keluar lagi mau gak," kata Zaki memberanikan diri.
Anisa terdiam beberapa detik. "Kalau hari libur kaya gini saja ya," ujar Anisa pelan.
Entah kenapa mendengar jawaban Anisa, wajah Zaki langsung berubah menjadi sumringah. "Makasih banyak ya," ucapnya akhirnya.
"Sama-sama, aku juga makasih banyak, sudah diajak jalan-jalan," kata Anisa.
Zaki pun hanya tersenyum, ia membiarkan Anisa masuk ke halaman rumah itu, menatapnya hingga tubuh Anisa menghilang dibalik pintu rumah utama.
Dan setelah memastikan Anisa masuk ia pun mulai pergi meninggalkan rumah majikan Anisa dengan langkah yang cukup pelan, seolah hal yang barusan terjadi tidak ingin berakhir begitu saja.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya, saat ini Zaki sedang berada di rumahnya yang cukup besar, mewah. Namun entah kenapa di dalam rumah sebesar ini hatinya merasa kosong, teringat akan beberapa chatnya bersama dengan Anisa.
Gadis itu sempat berpamitan shalat, di tengah-tengah percakapan chatnya, dan itu membuat hati Zaki tersentuh, selama ini ia hidup dalam berkecukupan, tapi ia lupa dengan yang membuat hidup, berbeda dengan Anisa yang selalu rutin menjaga shalatnya di tengah-tengah tumpukan kerja yang melelahkan.
"Selama ini aku jauh, dengan Tuhanku, berbeda dengan Anisa," gumamnya pelan.
Dan entah kenapa tangannya refleks memegang handphone lalu menghubungi Anisa.
Zaki: Assalamualaikum Nis...
Pesan sudah terkirim centang dua tapi belum berwarna biru, Zaki hanya menunggunya sambil tersenyum menatap layar handphone.
Tapi beberapa menit berikutnya pesan mulai dibaca, dan terlihat dari layar Anisa sedang mengetik.
Anisa: Maaf ya aku selesai shalat dan ngaji sebentar tadi.
Balas Anisa, dan itu membuat hati Zaki semangat untuk belajar mengaji pada gadis itu.
Zaki: Nis kamu bisa ngaji.
Kata Zaki di dalam pesan tersebut.
Anisa mengangguk, ia pun langsung membalas dengan cepat.
Anisa: Bisa sedikit.
Zaki langsung membalasnya lagi.
Zaki: Boleh gak aku belajar ngaji.
Pertanyaan itu membuat Anisa mengerutkan dahinya, ia membaca ulang pesan itu berkali-kali. Dalam pikirannya, Zaki adalah laki-laki dengan keturunan Arab, keluarga berada, hidup berkecukupan. Ia tak menyangka pertanyaan itu keluar darinya.
Anisa: Kamu belum bisa?
Zaki: Dulu pernah. Tapi lama gak dipakai.
Sekarang banyak yang lupa.
Tidak ada kata gengsi, pemuda itu berkata jujur dan tidak membela dirinya, karena memang ini fakta yang ada, ia hanya mencoba jujur dalam hal yang menurutnya intim.
Sementara Anisa menimbang sebentar, ia sempat ragu, takut, tidak sesuai ekspektasi Zaki.
Anisa: Kalau salah-salah nanti jangan marah ya.
Balasan Zaki datang cepat.
Zaki: Justru aku yang takut salah.
Anisa: Gak apa-apa salah, kita belajar bareng-bareng.
Kata-kata Anisa sampai di layar handphone, Zaki menerimanya dengan hati yang adem, tidak ada sedikit menggurui dalam perkataan itu, Anisa bukan hanya sosok cantik yang sederhana, namun ketenangan dalam berbicara dan itu justru membuat Zaki harus mempertahankan gadis itu.
"Dia tidak boleh di sia-siakan," gumam Zaki akhirnya.
Setelah membahas jadwal mengaji lewat online, Zaki pun merasa tenang, dan membiarkan gadisnya itu untuk beristirahat, ia pun mulai keluar dari kamarnya dengan wajah yang berseri-seri layaknya seorang pemuda yang sedang kasmaran. Dan hal itu tak luput dari perhatian ibudannya.
"Zaki, mau kemana Nak," suara Uminya begitu lembut.
"Zaki mau ke dapur Mi, laper," sahut anaknya itu sambil memegangi perutnya.
"Sudah makan sana," kata Umi.
Namun saat Zaki melangkah pergi, wanita paruh baya itu merasa ada yang berbeda dari anaknya, entah kenapa ia melihat ada yang berubah dari Zaki.
"Dia kenapa ya, gak biasanya," gumamnya pelan.
Ia meletakkan buku bacaannya diatas meja, ada rasa keingintahuan di dalam hati yang tak bisa ia bendung begitu saja. "Aku harus menyelidiki," ucapnya akhirnya.
Ghina melangkah ke ruang makan dilihatnya sang anak sudah selesai dengan isi perutnya, wanita itu mendekat mencoba bertanya pelan-pelan terhadap sang anak.
"Zaki," panggilnya pelan.
"Iya Mi, ada apa?" sahut Zaki.
"Kamu lagi dekat dengan seseorang?" tanya Uminya langsung menebak.
Zaki tersenyum kecil, ia seperti orang yang sedang malu-malu. "He he ... menurut Umi?"
Ghina menanggapi hal itu penuh pengertian, namun ia harus memastikan gadis yang ditaksir oleh anaknya, harus yang setara antara bobot bebet dan bibitnya.
"Dia kuliah dimana?" tanyanya pelan tapi penuh tekanan bagi Zaki.
"Maksud Umi?" tanya Zaki memastikan.
"Iya dia kuliah di mana, dan keturunan marga apa?" ulang Ghina mempertegas ucapannya.
Deg!
Dunia Zaki seakan berhenti, berputar, ia tidak pernah menyangka jika sang ibu menginginkan menantu yang setara dan sekelas dengannya, sementara gadis yang dipilih oleh Zaki, merupakan gadis sederhana yang bekerja sebagai ART.
"Mi, memang gadis pilihan Zaki harus setara?" tanya Zaki kembali.
"Iya dong," sahutnya cepat. "Zaki kita ini dari keluarga berada, Umi dan Abi, kenapa bisa bersatu dan direstui keluarga, karena kita memang setara," jelas Ghina.
Zaki terdiam sepersekian detik, bukan karena ia takut, namun karena ia memilah kata-kata yang tepat agar Uminya tidak tersinggung.
"Eeeemb begini Umi," ucap Zaki akhirnya. "Gadis pilihan Zaki, tidak dari kalangan yang setara, tapi Zaki yakin dia wanita baik-baik Umi," lanjutnya.
Ghina tercengang matanya spontan melotot ke arah Zaki. "Apa kamu bilang, sederhana," kata Ghina menekankan di kalimat akhir.
"Tidak Zaki, tidak semudah itu," sahut Ghina dengan cepat.
"Kenapa Mi, Zaki cinta sama dia, dan Zaki harap Umi tidak menghalangi Zaki," tandas Zaki lalu meninggalkan uminya yang masih berdiri di ruang makan.
"Zaki... Umi belum selesai bicara!" teriak Ghina tapi Zaki tidak menggubris.
Di dalam kamarnya Zaki benar-benar frustasi ia mengepalkan kedua tangannya seolah tidak terima dengan prinsip orang tuanya yang jelas berbeda dengan dirinya.
"Tidak ... aku tidak mau melepaskan Anisa, dia gadis yang baik dan terjaga," ucapnya sambil terus meyakinkan hatinya, jika Anisa memang benar-benar pilihannya.
Zaki tidak pernah gentar dengan pilihannya sendiri, sementara di ruang keluarga tanpa Zaki tahu kedua orang tuanya tengah membicarakan sesuatu terhadap dirinya.
"Abi, gimana anak kita Zaki, sudah mulai jatuh cinta, dan gadis yang dia pilih bukan dari kalangan kita," jelas Ghina.
"Maksud Umi?" tanya Khalid sambil mencerna perkataan istrinya.
"Dia mencintai gadis sederhana," sahut Ghina.
Khalid spontan mengeraskan rahangnya, mata besarnya melotot seolah tidak merestui dengan pilihan anaknya.
"Ini tidak boleh terjadi," tandas Khalid dengan nada datar tapi menakutkan.
"Aku sudah bilang, tapi nampaknya anak kita keras kepala," sahut Ghina.
Khalid mencoba untuk tenang meskipun dalam hati diliputi amarah, namun ia sangat hafal jika sang anak tidak akan mungkin bisa bertahan tanpa dirinya.
"Jika dia tidak bisa dinasehati, kita lihat saja kedepannya," ungkapnya dengan seringai licik di wajahnya.
Bersambung ....
Selamat Pagi Kak ...
Semoga suka ya ...