Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - MAKAN MALAM BERBAHAYA
LIMA HARI KEMUDIAN - RESTORAN ITALIANO
Akselia datang tepat waktu, pukul tujuh malam. Restoran mewah di kawasan Senayan dengan suasana redup dan musik jazz lembut. Dia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam tidak terlalu formal, juga tidak terlalu santai.
Kevin sudah menunggu di meja pojok, mengenakan kemeja biru navy tanpa dasi. Saat melihat Akselia, dia berdiri, tersenyum lebar.
"Kamu datang, sempat kukira kamu akan batalkan di menit terakhir."
"Saya bukan tipe orang yang ingkar janji," jawab Akselia sambil duduk. "Tapi ini bukan kencan, cuma makan malam biasa."
"Tentu, makan malam biasa." Kevin duduk kembali, masih tersenyum. "Kamu mau pesan apa? Pasta di sini enak sekali."
"Saya bisa pesan sendiri." Akselia mengambil menu, memilih tanpa banyak pertimbangan. "Aglio olio dan air mineral."
Kevin memesan steak dan anggur merah. Setelah pelayan pergi, dia bersandar di kursi menatap Akselia dengan tatapan menilai.
"Kamu tahu, aku sudah lama tidak bertemu perempuan sepertimu."
"Seperti apa?"
"Tidak butuh siapa-siapa, mandiri dan kuat." Kevin memutar gelas anggurnya. "Kebanyakan perempuan yang kutemui, mereka tertarik pada uangku, jabatanku, statusku. Tapi kamu? Kamu seperti tidak peduli sama sekali."
"Karena memang tidak peduli," sahut Akselia datar.
Kevin tertawa. "Jujur sekali, aku suka itu."
Makanan datang, mereka makan dalam diam beberapa saat. Akselia sengaja membuat jeda, membiarkan Kevin yang mulai bicara. Orang suka bicara kalau merasa nyaman, dan Kevin tipe orang yang suka jadi pusat perhatian.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Kevin akhirnya memecah keheningan.
"Silakan."
"Kenapa kamu kerja untuk Arjuna? Maksudku dengan kemampuanmu, kamu bisa kerja di mana saja. Bahkan buka usaha sendiri."
Akselia menelan pastanya, memikirkan jawaban yang aman tapi meyakinkan. "Karena Arjuna menghargai saya, dia tidak meremehkan saya cuma karena saya perempuan. Dia bayar saya sesuai kemampuan, bukan sesuai gender."
"Aku juga bisa bayar lebih dari Arjuna," kata Kevin cepat. "Dua kali lipat, bahkan tiga kali kalau kamu mau."
"Uang bukan segalanya, Tuan Pratama."
"Kevin, panggil aku Kevin!" Dia meletakkan garpu, menatap Akselia serius. "Dan kamu benar, uang bukan segalanya. Tapi kenyamanan? Keamanan? Kesempatan berkembang? Itu penting, dan aku bisa kasih semua itu padamu."
Akselia menatapnya tajam. "Kenapa Anda, Kevin... begitu tertarik pada saya? Kita baru bertemu beberapa kali, dan Anda sudah bertunangan."
Kevin terdiam sebentar Lalu dia tersenyum, senyum yang terlihat... tulus? Atau hanya akting yang bagus?
"Karena kamu mengingatkanku pada seseorang."
Jantung Akselia berhenti sedetik. "Siapa?"
"Seseorang yang pernah kukenal, lama sekali." Kevin menatap gelas anggurnya, seolah sedang mengingat. "Dia juga kuat, keras kepala, tidak mau mengalah. Tapi..." dia menghela napas, "...aku bodoh, aku lepaskan dia."
Akselia meremas serbet di pangkuannya. Dia bicara tentangnya, tentang Akselia. Tapi... dia menyesal?
"Kenapa dilepas kalau disayang?" tanyanya, suara sedikit bergetar meski dia coba kontrol.
"Karena waktu itu aku pikir ada yang lebih penting, keluarga, bisnis, reputasi." Kevin tersenyum pahit. "Ternyata semua itu tidak sepenting yang kukira. Sekarang aku terjebak dalam pertunangan yang tidak kucintai, dengan perempuan yang juga tidak mencintaiku. Semua demi bisnis."
Akselia ingin tertawa sinis, ingin bentak Kevin... "Kamu yang pilih! Kamu yang buang aku!" Tapi dia tahan, ini bukan waktunya.
"Lalu kenapa tidak batalkan pertunangan?" tanyanya pelan.
"Karena sudah terlalu jauh, keluarga sudah sepakat, media sudah tahu. Kalau aku batalkan sekarang..." Kevin menatap Akselia, "...aku butuh alasan yang sangat kuat."
"Dan saya bukan alasan itu."
"Belum tahu." Kevin tersenyum lagi. "Mungkin kamu bisa jadi alasan itu."
Akselia menarik napas dalam. Ini bahaya, Kevin bermain perasaan lagi. Sama seperti dulu, tapi kali ini dia punya Karina, punya Bella, dan mungkin perempuan-perempuan lain.
"Saya tidak tertarik jadi pelakor, Kevin," katanya tegas. "Dan saya tidak percaya pada pria yang selingkuh dari tunangannya."
Mata Kevin menyipit. "Selingkuh? Dari mana kamu tahu..."
"Saya punya mata dan telinga." Akselia bersandar di kursi, menatap Kevin dengan tatapan menantang. "Bella, kan? Model muda yang baru kontrak dengan agensi Karina? Kalian cukup dekat."
Kevin terdiam, wajahnya berubah dari terkejut jadi... menilai. "Kamu selidiki aku?"
"Saya cuma dengar gosip. Dunia orang kaya itu sempit, kabar menyebar cepat."
Kevin tertawa kecil, tapi tidak terdengar geli. Lebih ke... kagum? "Kamu memang luar biasa, tidak heran aku tertarik."
"Berhenti bicara seolah saya spesial, Kevin. Saya tahu tipe Anda. Anda suka tantangan, suka perempuan yang tidak mudah didapat. Begitu dapat, Anda akan bosan dan cari yang baru."
"Kamu salah." Kevin menatapnya tajam. "Aku tidak mudah bosan, aku cuma... belum ketemu orang yang tepat."
"Dan Anda pikir saya orang yang tepat?"
"Mungkin."
Akselia menatapnya lama. Di dalam dada, amarah dan kepuasan bercampur jadi satu. Kevin terjerat, tepat seperti rencana Diana. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu di tatapan Kevin yang terasa... tulus?
Tidak... Tidak mungkin, ini Kevin Pratama. Pria yang membuangnya seperti sampah, pria yang bilang dia cuma hiburan.
"Saya harus pergi," kata Akselia tiba-tiba, berdiri. "Terima kasih untuk makan malamnya."
"Tunggu..." Kevin ikut berdiri. "Aku belum selesai..."
"Tapi saya sudah selesai." Akselia mengambil tasnya. "Dan Kevin, jangan hubungi saya lagi untuk hal-hal seperti ini. Saya tidak tertarik jadi bagian dari permainan Anda."
Dia berjalan keluar restoran tanpa menoleh. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tercekat.
Di luar, udara malam dingin menyentuh kulit. Akselia bersandar di dinding, menarik napas panjang.
Ponselnya bergetar, pesan dari Kevin. [Aku tidak main-main, Selia. Aku serius dan aku akan buktikan.]
Akselia menatap pesan itu, lalu menutup ponsel.
"Buktikan sebanyak yang kamu mau, Kevin," bisiknya pada malam. "Karena semakin kamu jatuh, semakin keras kamu akan hancur."
***
DI DALAM RESTORAN
Kevin masih berdiri di meja, menatap pintu yang baru saja dilalui Akselia. Pelayan mendekat.
"Tuan, mau saya siapkan tagihan?"
"Ya." Kevin duduk kembali, meneguk anggurnya habis. Di wajahnya... senyum tipis yang berbahaya.
Dia mengeluarkan ponsel, menelepon seseorang.
"Halo? Iya, ini aku. Cari tahu semua tentang Selia Ananta, semuanya! Dari lahir sampai sekarang, aku mau tahu siapa dia sebenarnya."
Dia menutup telepon, menatap gelas kosongnya.
"Kamu menarik sekali, Selia," gumamnya. "Terlalu menarik untuk menjadi orang biasa. Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu, dan aku akan cari tahu apa itu."
***
TENGAH MALAM - KAMAR KOS BELAKANG DOJO
Akselia berbaring di kasur, menatap langit-langit. Ponselnya bergetar, panggilan dari Diana.
"Halo?"
"Selia! Bagaimana makan malamnya? Kamu dapat sesuatu?" suara Diana bersemangat.
"Dia... dia bilang dia menyesal lepaskan seseorang di masa lalu. Seseorang yang mirip dengan aku."
Hening sebentar. "Maksudmu... dia bicara tentangmu? Tentang Akselia?"
"Aku pikir begitu, tapi dia tidak menyebut nama."
"Astaga, berarti Kevin masih ingat kamu, masih menyesal." Diana tertawa kecil. "Ini sempurna, Selia! Ini berarti dia punya titik lemah, kita bisa pakai ini!"
Tapi Akselia tidak merasa senang, justru merasa... bingung.
"Diana, dia selidiki aku. Dia minta orang cari tahu tentang Selia Ananta."
"Apa?!" Diana terdengar panik. "Sejak kapan?"
"Tadi, aku dengar dia telepon seseorang."
"Sial... Identitas palsumu harus kuat. Aku akan pastikan semua jejak digital aman. Jangan khawatir."
"Diana..." Akselia menarik napas, "...apa kita sudah terlalu jauh? Maksudku, kalau Kevin tahu siapa aku sebenarnya..."
"Dia tidak akan tahu, percaya padaku." Suara Diana tegas. "Dan meski dia tahu, itu tidak masalah. Kita sudah punya cukup bukti untuk hancurkan dia. Rekaman, foto, semuanya. Dia tidak akan bisa lari."
Akselia menutup mata. "Oke. Aku percaya padamu."
Setelah menutup telepon, Akselia memeluk bantal, merasakan lelah yang bukan cuma fisik tapi mental.
Bermain dengan api itu melelahkan.
Dan dia baru menyadari, dia tidak cuma membakar Kevin. Dia juga membakar dirinya sendiri.
Pelan-pelan.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?