NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 - jejak darah di bawah bendera Kekaisaran

Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika Qing Lin membuka matanya.

Napasnya teratur, denyut jantungnya stabil, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya. Bukan rasa sakit, bukan juga euforia. Lebih seperti… ketenangan yang dingin, seolah darahnya telah belajar mengalir tanpa suara.

Ia duduk bersila di sudut penginapan reyot yang ia sewa semalam. Lantai kayu berderit pelan. Di luar, suara pedagang pagi dan roda kereta mulai memenuhi jalanan kota kecil yang berada di perbatasan Kekaisaran Tianlu.

Qing Lin menutup mata.

Di dalam dantiannya, Sutra Darah Sunyi berputar perlahan, jauh lebih rapi dibanding beberapa bulan lalu. Energi merah pucat itu tidak lagi liar. Ia seperti benang tipis—halus, tajam, dan sabar.

Aku… lebih kuat lagi.

Kesadaran itu muncul tanpa kebanggaan.

Ia ingat jelas apa yang terjadi semalam. Tiga bandit yang mencoba merampok penginapan. Gerakannya singkat. Tidak ada teriakan. Tidak ada pertarungan panjang. Hanya satu tusukan cepat, satu patahan leher, dan satu ayunan senyap.

Darah mereka menghilang sebelum menyentuh lantai.

Dan setelah itu, Sutra Darah Sunyi menyerap sisa-sisa kehidupan mereka—bukan dengan rakus, melainkan seperti seorang petani memanen hasil yang tak bisa dihindari.

Qing Lin membuka mata.

“Ini… bukan perasaan yang menyenangkan,” gumamnya pelan.

Namun juga tidak menjijikkan.

Ia berdiri, mengenakan jubah abu-abu kusamnya, lalu menyandang pedang pendek yang kini sudah penuh bekas goresan. Pedang itu bukan senjata istimewa. Tapi di tangannya, ia cukup.

Hari ini, ia harus masuk lebih dalam ke wilayah kekaisaran.

Kota kecil itu bernama Heishui.

Bukan kota besar, tapi cukup ramai karena menjadi jalur suplai antara ibu kota kekaisaran dan wilayah sekte-sekte kecil di barat. Bendera Kekaisaran Tianlu berkibar di gerbang—kain hitam dengan lambang naga perak bermata satu.

Qing Lin menatap bendera itu sejenak.

Ada tekanan samar yang terpancar darinya.

Formasi.

Bukan kuat, tapi cukup untuk menghalangi kultivator tingkat rendah berbuat sembarangan.

Ia berjalan masuk tanpa masalah.

Di dalam kota, ia langsung merasakan perubahan. Aura manusia di sini lebih “tajam”. Banyak yang bukan rakyat biasa—pengawal, tentara, kultivator bayaran, bahkan mata-mata.

Qing Lin menurunkan keberadaannya, membiarkan Sutra Darah Sunyi bersembunyi rapat di dantiannya. Teknik ini kini ia kuasai secara naluriah.

Sejak Bab 8, ia belajar satu hal penting:

Semakin ia tidak terlihat, semakin ia hidup lebih lama.

Ia berhenti di papan pengumuman.

Beberapa kertas misi tertempel.

Membasmi monster liar di Pegunungan Utara

Mengawal karavan garam

Menangkap buronan kekaisaran

Matanya berhenti pada satu nama.

Wei Shun.

Buronan tingkat rendah. Mantan tentara kekaisaran yang membelot dan membantai satu desa kecil. Hadiah: 30 keping perak dan satu pil pemulihan tingkat dasar.

Qing Lin menatap tulisan itu lama.

Bukan karena hadiahnya.

Melainkan karena deskripsi singkat di bawahnya:

Menguasai teknik pembantaian medan perang. Kejam. Tidak ada saksi hidup.

Tangannya mengepal pelan.

Ia teringat desa pertamanya. Darah di tanah. Tangisan yang terpotong.

“Aku tidak bisa membiarkan orang seperti itu berkeliaran,” katanya dalam hati.

Dan… ada dorongan lain yang tak ia sangkal.

Wei Shun kuat.

Jejak Wei Shun mudah ditemukan.

Ia tidak bersembunyi dengan baik. Mungkin karena terlalu percaya diri, atau mungkin karena sudah terbiasa hidup dari darah orang lain.

Qing Lin menemukannya di pinggiran kota, di sebuah gudang tua dekat sungai.

Malam telah turun.

Qing Lin berdiri di atap gudang, menahan napas. Dari celah kayu, ia melihat sosok besar dengan bekas luka di wajah, sedang tertawa kasar bersama dua anak buahnya.

“Aku bilang, kalau kekaisaran kirim anjing lagi, potong kepalanya dan pajang,” kata Wei Shun sambil meneguk arak.

Qing Lin turun tanpa suara.

Tidak ada teriakan.

Anak buah pertama mati bahkan sebelum menyadari ada orang lain di ruangan itu. Yang kedua mencoba berteriak—tapi tenggorokannya sudah robek.

Wei Shun berdiri, wajahnya berubah marah.

“Siapa kau?!”

Qing Lin tidak menjawab.

Pedang mereka bertemu.

DENTANG!

Wei Shun kuat. Jauh lebih kuat dari bandit biasa. Gerakannya efisien, penuh niat membunuh. Setiap ayunan membawa pengalaman medan perang.

Namun Qing Lin… sudah berubah.

Ia tidak lagi menghindar panik. Ia membaca alur darah. Membaca niat.

Sutra Darah Sunyi bergetar.

Dalam satu momen singkat, Qing Lin membiarkan serangan Wei Shun mendekat—lalu bergeser setengah langkah.

Pedangnya menembus jantung.

Wei Shun terbatuk darah, matanya membelalak.

“A…pa…”

Qing Lin menahan tubuh itu agar tidak jatuh keras.

Darah mengalir.

Diserap.

Dan untuk pertama kalinya… Qing Lin merasakan sesuatu yang berbeda.

Bukan kekuatan mentah.

Melainkan pemahaman.

Teknik bertarung Wei Shun—gerak, naluri, pengalaman—tertinggal samar di dalam Sutra Darah Sunyi.

Qing Lin terdiam lama.

Jadi… bukan hanya energi.

Ia menutup mata.

Ia semakin kuat.

Namun wajahnya tidak berubah senang.

Keesokan paginya, di bawah cahaya matahari, Qing Lin berdiri di gerbang Heishui.

Hadiah sudah ia terima. Pil pemulihan ia simpan. Perak ia gunakan secukupnya.

Di kejauhan, bendera kekaisaran berkibar.

Qing Lin menoleh sekali lagi ke kota itu.

Ia tahu satu hal sekarang.

Semakin ia melangkah ke dalam dunia ini, semakin darah akan mengikutinya.

Namun selama darah itu milik orang-orang yang pantas…

ia akan terus berjalan.

Dan jauh di dalam kekaisaran,

sesuatu mulai memperhatikannya.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!