NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Menemukan rahasia di balik rak buku ternyata jauh lebih mendebarkan daripada harus adu jotos di lapangan latihan. Aku berdiri mematung di depan rak nomor tujuh, sementara jemariku masih menempel pada permukaan kayu yang terasa bergetar halus. Ada semacam mekanisme magnetik yang bekerja di sana, sesuatu yang tidak akan bisa dirasakan oleh orang awam tanpa bantuan sensor dari sistem Atma-Mekanis di kepalaku.

Aku menoleh ke arah pintu paviliun yang sudah tertutup rapat. Tetua Lin sudah pergi, meninggalkan aku sendirian di tengah ribuan gulungan kertas yang seolah-olah sedang mengawasiku. Aku menarik napas panjang dan mulai menekan bagian pinggir rak tersebut sesuai petunjuk visual yang berkedip di sudut mataku.

Klik!

Suara logam yang saling mengunci terdengar sangat lirih. Rak kayu yang berat itu bergeser beberapa inci ke samping, memperlihatkan sebuah celah sempit yang hanya cukup untuk dimasuki satu tangan. Di dalamnya, sebuah buku kecil dengan sampul kulit berwarna hitam pekat tergeletak begitu saja.

[Analisis objek dimulai. Judul: Catatan Terlarang – Fragmen Penciptaan Atma. Status: Terenkripsi dengan segel darah klan Han.]

"Jadi klan ini benar-benar menyembunyikan sesuatu yang besar," gumamku takjub.

Aku meraih buku itu dengan hati-hati. Saat kulit bukunya bersentuhan dengan telapak tanganku, sistem Atma-Mekanis mendadak bergejolak. Barisan kode merah muncul di penglihatanku, menandakan adanya benturan energi antara teknologi di tubuhku dengan segel darah yang terpasang pada buku tersebut.

[Peringatan! Mencoba memecah segel tanpa otorisasi darah murni. Memulai prosedur kloning identitas biologis.]

"Lakukan saja, jangan banyak tanya," sahutku ketus dalam hati.

Aku merasakan sensasi panas di ujung jariku. Sistem sepertinya sedang memanipulasi susunan partikel energinya agar menyerupai frekuensi darah klan Han yang dibutuhkan. Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, cahaya merah yang menyelimuti buku itu perlahan memudar dan menghilang.

Aku membuka halaman pertama dan langsung disuguhi oleh diagram yang sangat rumit. Ini bukan sekadar teknik bela diri biasa. Ini adalah peta anatomi manusia yang digabungkan dengan sirkuit mekanis.

"Klan Han tidak menemukan kekuatan ini, mereka justru mencoba menirunya," simpulku penuh selidik.

Ternyata, ratusan tahun yang lalu, leluhur klan Han menemukan reruntuhan kuno yang berisi teknologi Atma. Mereka tidak bisa mengoperasikannya sepenuhnya, jadi mereka mencoba menyuntikkan partikel tersebut ke dalam tubuh manusia secara paksa. Hasilnya? Banyak yang menjadi monster atau tewas dengan tubuh hancur.

Aku membalik halaman berikutnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di sana tertulis nama ibuku, Han Seo-yun.

[Data terdeteksi. Han Seo-yun: Subjek nomor 09. Status: Pelarian dengan membawa Inti Atma yang tidak stabil.]

"Jadi Ibu kabur karena dia dijadikan kelinci percobaan?" tanyaku penuh amarah.

Fakta ini membuat kepalaku terasa ingin pecah. Ibuku yang lembut itu ternyata menyimpan beban sejarah yang begitu kelam. Pantas saja dia selalu melarangku menonjolkan diri. Dia tidak ingin aku berakhir di meja operasi para tetua klan yang haus kekuasaan.

Tiba-tiba, telingaku menangkap suara langkah kaki yang mendekat dari luar koridor paviliun. Langkahnya berat dan sangat berirama, menunjukkan bahwa orang itu memiliki tingkat kultivasi yang jauh di atas murid biasa.

"Sial, ada yang datang," cetusku panik.

Aku segera mengembalikan buku itu ke dalam celah rak dan mendorong raknya kembali ke posisi semula. Gerakanku harus sangat cepat dan presisi agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Aku baru saja berhasil berdiri tegak saat pintu paviliun terbuka dengan suara dentuman pelan.

Seorang pria paruh baya dengan jubah berwarna emas gelap melangkah masuk. Wajahnya kaku dengan janggut pendek yang rapi. Matanya yang tajam langsung tertuju padaku, memberikan tekanan yang membuat pundakku terasa berat.

"Apa yang dilakukan seorang murid rendahan di Paviliun Pustaka selarut ini?" tanya pria itu dengan nada bicara yang sangat menekan.

"Saya mendapatkan izin dari Tetua Lin untuk belajar di sini, Tetua Agung," jawabku sembari menundukkan kepala sedalam mungkin.

Pria itu, yang ternyata adalah Tetua Agung klan Han, berjalan mendekatiku. Setiap langkahnya membuat lantai kayu di bawah kakiku berderak pelan. Dia berhenti tepat di depanku dan mulai mengamati rak nomor tujuh dengan mata yang menyipit.

"Tetua Lin terlalu banyak memberikan kelonggaran akhir-akhir ini," timpal Tetua Agung dengan suara yang berat dan dingin.

Dia mengulurkan tangannya menuju rak tempat aku menyembunyikan buku tadi. Jantungku berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dada. Jika dia menemukan mekanisme itu sekarang, tamatlah riwayatku.

"Apa kau menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya kau sentuh, Jin-woo?" tanya Tetua Agung sembari menatapku dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkorakku.

[Peringatan! Deteksi niat membunuh tingkat rendah. Sistem pertahanan otomatis bersiaga.]

"Saya hanya membaca gulungan teknik dasar di rak sebelah sana," sahutku berusaha tenang meskipun keringat dingin mulai membasahi punggung.

Tetua Agung tidak menjawab. Tangannya kini sudah menyentuh bagian kayu yang merupakan tuas mekanisme rahasia tersebut. Aku hanya bisa mengepalkan tangan di balik jubah, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika dia memutuskan untuk menggeledah tempat ini lebih dalam.

Tepat saat jarinya hendak menekan mekanisme itu, sebuah suara teriakan terdengar dari arah luar paviliun.

"Tetua Agung! Ada laporan darurat dari gerbang depan!" teriak seorang penjaga dengan nada suara yang sangat panik.

Tetua Agung menarik tangannya kembali dan mendengus gusar. Dia memberikan tatapan terakhir yang sangat tajam kepadaku sebelum akhirnya berbalik menuju pintu.

"Kita akan bicara lagi nanti, Jin-woo. Jangan berani-berani meninggalkan paviliun ini sebelum aku kembali," perintahnya tegas.

Dia pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan aku yang nyaris jatuh terduduk karena lega. Namun, rasa tenang itu hanya bertahan sedetik. Sistem di kepalaku tiba-tiba memberikan notifikasi baru dengan warna ungu gelap.

[Mendeteksi sinyal energi yang identik dengan subjek Han Seo-yun di gerbang depan klan. Status: Terluka parah.]

"Ibu?" gumamku tak percaya.

Aku segera berlari menuju jendela paviliun, mengabaikan perintah Tetua Agung tadi. Di kejauhan, aku melihat kepulan asap hitam membumbung tinggi dari arah gerbang klan Han.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!