Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Pintu kayu jati itu tetap bergeming, tertutup rapat seolah-olah memang dirancang untuk menguji kesabaran Araluna. Di luar, udara malam mulai menusuk kulit bahunya yang terbuka karena balutan dress. Luna mendengus, membayangkan wajah Galaksi yang tadi sepanjang jalan terus-menerus melontarkan tebakan garing yang sama sekali tidak lucu.
"Hih, Galaksi malesin banget orangnya. Jokes-nya receh, terus dia juga nggak sefrekuensi sama gue," gumam Luna pelan sambil mengerucutkan bibirnya. Rasanya ia ingin segera masuk, mencuci muka dari makeup yang terasa berat, dan kembali menjahili objek favoritnya: Arsen Sergio.
Luna mencoba memutar kenop pintu sekali lagi. Tetap terkunci. Ia tahu ini adalah balasan dendam dari sang kakak tiri yang kaku dan menyebalkan.
"KAK ARSEN! Tolong bukain dongs! Adek lo yang paling cantik se-komplek pulang nih!" teriak Luna sambil menggedor pintu dengan ritme yang berisik. "Kak! Jangan jadi kakak tiri jahat ya, nanti gue laporin Papa kalau lo nelantarin gue di luar!"
Interogasi di Balik Pintu
Setelah gedoran kelima, terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu terbuka sedikit, hanya menyisakan celah sempit di mana mata tajam Arsen mengintip dengan sorot dingin. Cowok itu masih mengenakan kaos hitam polos yang sama dengan tadi sore, tapi auranya terasa berkali-kali lipat lebih mengintimidasi.
"Baru jam berapa ini? Jam tujuh lewat sepuluh menit," ucap Arsen datar. Suaranya rendah, menunjukkan bahwa ia sedang dalam mode serius yang kaku.
"Cuma lewat sepuluh menit, Kak! Tadi macet karena Kak Galaksi bawa motornya kayak siput," rengek Luna sambil mencoba menyelipkan tubuhnya masuk, namun Arsen tetap menghalangi jalan dengan lengannya yang kekar.
"Gimana kencannya? Seru?" tanya Arsen lagi, kali ini ia membuka pintu lebih lebar tapi tetap berdiri di tengah jalan, mengunci tatapan mata Luna.
Luna mendengus kencang, sengaja menunjukkan wajah masamnya. "Seru apanya? Gue berasa lagi ikut lomba dengerin bapak-bapak ronda ngelawak. Gak asik banget! Masih mending dijahilin lo daripada dengerin dia curhat soal koleksi batunya."
Mendengar itu, rahang Arsen yang tadi mengeras perlahan sedikit rileks. Namun, sifat kakunya tetap mendominasi. Arsen melipat tangannya di depan dada, memperhatikan dress yang dikenakan Luna dari atas sampai bawah.
"Lain kali kalau pergi sama cowok, nggak usah dandan kayak mau ke kondangan. Norak," ketus Arsen. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ia merasa terancam melihat betapa cantiknya Luna malam ini.
Luna yang menyadari Arsen mulai bereaksi, langsung melancarkan aksi "cegil"-nya. Bukannya masuk ke dalam rumah, ia justru maju satu langkah mendekati Arsen hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Bau parfum maskulin Arsen yang akrab di penciumannya langsung membuat Luna merasa tenang.
"Kok lo peduli banget gue dandan kayak gimana? Jangan-jangan lo takut ya kalau gue beneran kecantol sama cowok lain?" goda Luna sambil memainkan kerah kaos Arsen dengan jarinya yang lentur.
Arsen tersentak, ia mundur satu langkah untuk menjaga jarak, tapi Luna terus mendesak. Sifat kaku Arsen membuatnya sulit merespons godaan terang-terangan seperti ini.
"Gue... gue cuma nggak mau lo bikin malu nama keluarga kalau pulang-pulang nangis karena diputusin cowok kayak Galaksi," dalih Arsen, meski suaranya sedikit goyah.
Luna tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat puas. "Gue nggak akan pernah nangis karena cowok lain, Kak. Gue cuma bakal nangis kalau lo yang ninggalin gue. Jadi, mending sekarang lo akuin aja kalau lo cemburu setengah mati pas liat gue pergi sama Kak Galaksi tadi."
"Nggak usah halu, Bocil," sahut Arsen cepat, ia membalikkan badan dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, mencoba mengalihkan perhatian dari wajah Luna yang terlalu dekat.
Luna mengekor di belakang, langkahnya riang. Ia tahu, meskipun Arsen adalah sosok yang kaku, benteng pertahanan kakaknya itu perlahan mulai retak oleh kegilaannya yang konsisten.
"Oh ya, Kak," panggil Luna saat mereka di dapur. "Besok anterin gue ke kampus ya. Jangan berangkat duluan lagi kayak tadi pagi. Kalau lo ninggalin gue lagi, gue bakal telepon Galaksi buat jemput gue pake mobil, biar lo makin panas!"
Arsen yang sedang minum hampir saja tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan dentuman keras ke meja. "Terserah lo! Tapi awas ya kalau gue liat lo centil lagi sama dia di kampus!"
Luna tersenyum lebar di balik punggung Arsen. Misi hari ini sukses total. Bukan hanya ia berhasil membuat Arsen cemburu, tapi ia juga berhasil membuktikan bahwa bagi Arsen Sergio, Araluna bukan sekadar "bocil" rumah biasa.